Detil Berita
 

[no: 161]

Kajian Dhuha : Ukhuwah Islamiyah, Wathoniyah, Basyariyah



UMAT Islam khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya, pada saat ini cukup memprihatinkan, karena banyak musibah yang menimpa. Di sisi lain sering terjadi keretakan-keretakan yang terkait dengan ukhuwah (persaudaraan), baik ukhuwah Islamiyah, wathoniyah, maupun basyariyah. Terjadinya keretakan ukhuwah ini sebenarnya berawal dari merasa gengsinya seseorang untuk meminta maaf kepada orang lain. Atau tidak mau mengakui bahwa dirinya bersalah. Berangkat dari situlah, MAS mengadakan Kajian Dhuha (27/4) yang bertema Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Wathoniyah. Bertempat di ruang Muzdalifah MAS, kajian ini diikuti oleh 500 jamaah. Sebagai pemateri Dr. H. Zainuddin MZ, Lc, MA. Beliau mengatakan bahwa jika kita sadar apa yang diajarkan Rasulullah SAW, maka kita melakukan hal utama ahli dunia dan akhirat, “Pertama, engkau mengadakan sillaturrahim kepada yang enggan menjalin hubungan denganmu. Kedua, memberikan kepada seseorang yang enggan memberikan sesuatu kepadamu. Ketiga, engkau memaafkan orang yang mendholimimu,” ujar Zainuddin. Dijelaskan pula bahwa berawal dari rasa gengsi, tidak mau minta maaf kepada orang lain inilah yang kemudian menimbulkan keretakan-keretakan antara satu dengan yang lain. Dalam Al-Qur’an katakata akhun (persaudaraan) disebut sebanyak 52 kali, ikhwatun sebanyak 7 kali. Di antaranya adalah surah al Hujurat ; 10 yang maknanya : Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. Sebab itu, damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. “Konsekuensi ukhuwah, adalah pertama, atta’aawun (saling menolong). Saling membantu jika mereka membutuhkan sedangkan kita mampu dan bisa. Kedua, at tanaashur (saling mendukung). Di saat mereka terkena musibah, mereka saling mendukung, siapapun mereka. Ketiga, at tasaamuh (saling toleransi). Tentu toleransi di sini dalam hal-hal seremonial, tidak dalam hal ritual. Karena dalam aqidah tidak boleh untuk dicampur adukkan. Karena iman harus murni, tidak tercampur dengan yang lain. Keempat, at taraahum (saling mengasihi). Saling menyayangi antara satu dengan yang lain. Rasulullah SAW bersabda, “Apabila umat ini menjalankan lima hal, maka mereka akan mendapatkan musibah, baik berupa angin merah (pagebluk, jenis penyakit), atau saling memusuhi, satu sama lain. Yaitu pertama, durhaka kepada kedua orang tua. Kedua, merebaknya perbuatan zina. Ketiga, banyaknya orang yang minum khomr. Keempat, pemimpin negara perempuan. Keempat, laki-laki menjadi penurut terhadap isterinya),” jelas Zainuddin. (fitri)


[no: 160]

Modal dan Tabungan Hari Tua untuk Karyawan MAS



MASJID Nasional Al Akbar Surabaya (MAS) terus meningkatkan layanan sosialnya melalui program LAZ MAS (Lembaga Amil Zakat MAS) yang secara kontinyu membantu perekonomian masyarakat Surabaya pada khususnya dan Jawa Timur pada umumnya. Yang terbaru program ini juga diberikan pada karyawan Masjid Al Akbar sendiri yang memiliki usaha kecil di rumah untuk dikembangkan. “Jika keluarga mereka sejahtera diharapkan mereka bisa melayani dan memberi kenyamanan jamaah MAS dengan maksimal” kata Drs. H. Endro Siswantoro, M.Si, Direktur Utama MAS Mereka yang mendapatkan bantuan modal dari LAZ MAS adalah karyawan bagian kebersihan halaman, tempat wudlu hingga security. Sebelumnya , LAZ MAS telah mencairkan dana untuk diberikan secara cuma-cuma kepada pelaku usaha kecil (warkop, usaha kue, peracangan, dll) sebagai tambahan modal (Zakat Maal Produktif). LAZ MAS juga- setiap tahunnya - mendistribusikan paket Al- Qur’an secara gratis untuk mushola, Masjid, lembaga pendidikan, dan panti asuhan yang membutuhkan. Maka dari itu MAS mencetak 1000 mushaf Al- Qur’an untuk kepentingan Wakaf Al-Qur’an tersebut. Selain itu untuk masa depan karyawan, manajemen MAS mengikutsertakan karyawannya dalam Asuransi Jiwasraya JS Siharta. Produk ini menjamin kesejahteraan di hari tua. Pertimbangannya setiap keluarga pasti merencanakan kebutuhan untuk persiapan dana untuk hari tua, persiapan dana untuk biaya pendidikan anak, untuk keperluan darurat dan tabungan biaya kesehatan hari tua. “Yang diikutkan adalah karyawan yang berusia maksimal 54 tahun, dengan cara menabung, “ Ujar H. Endro. Dengan JS Siharta ini, tabungan pasti terjamin untuk hari tua serta perlindungan ekonomi keluarga karena tertanggung meninggal dunia karena sakit atau kecelakaan.(hil)


[no: 159]

Muhibbah Dakwa Ke Tanah Toraja



MAJELIS taklim muslimah Surabaya yang tergabung dalam Pengajian Muslimah Al Akbar Surabaya (Pengamal), 2 – 5 Maret lalu melaksanakan program muhibah dakwah ke Tanah Toraja, Sulawesi Selatan. Program dakwah yang dipimpin Dr Hj Hasniah Hasan, Msi (Kabag Pembinaan Keluarga dan Kewanitaan) ini hasil kerjasama antara Majelis Ulama Kabupaten Tanah Toraja, tokoh agama, NU, Muhammadiyaah dan majelis taklim lainnya. Menurut Bunda Hasniah, panggilan akrabnya, Tanah Toraja adalah satu-satunya kabupaten di Propinsi Sulawesi Selatan yang sangat rendah pertumbuhan agama Islam sekitar 9,11 persen/tahun. Meski demikian, kegiatan dakwah di daerah ini bisa dijadikan motivasi bagi daerah lainnya untuk bangkit bersama demi tegaknya ajaran Islam di Indonesia “Saat ini mereka ingin membanguna 150 masjid, pusat dakwah, TPQ dan PAUD. Mereka rela menempuh jarak 5 – 10 KM untuk berdakwah meski ummatnya hanya 10 orang dan mayoritas muallaf,” ujar Bunda Hasniah. Salah satu hasil dakwah Pengamal, saat ini di Tanah Toraja akan digagas terwujudnya Pesantren Muallaf, yakni pesantren yang fokus pada pendidikan dasar agama Islam untuk muallaf, bukan pendidikan formal seperti halnya pesantren di Jawa. (*)


halaman [0][1][2][3][4][5][6][7][8][9][10][11][12][13][14][15][16][17][18][19][20][21][22][23][24][25][26][27][28][29][30][31][32][33][34][35][36][37][38][39][40][41][42][43][44][45][46][47][48][49][50][51][52][53][54][55][56][57][58][59][60][61][62][63][64][65][66][67][68][69][70][71][72][73][74][75][76][77]