Detil Berita
 

[no: 122]

Kesulitan Disertai Kemudahan di Kajian Muslimah MAS



Problema hidup yang datang silih berganti, terpaan cobaan yang berdatangan tanpa henti, membuat manusia acap kali putus asa dan ragu akan pertolongan Allah. Banyaknya kasus bunuh diri amat memprihatinkan umat . Berangkat dari situlah, MAS mangadakan kajian rutin muslimah dengan tema Kesulitan Disertai Kemudahan (19/5).

Acara yang berlangsung di Ruang Aisyah Lantai Dasar Masjid Nasional Al Akbar ini dihadiri oleh 85 muslimah dari 12 majelis taklim yang tergabung dalam Pengamal (Pengajian Muslimah Masjid Al Akbar) di daerah Surabaya dan sekitarnya. Diantara majlis taklim yang mengikuti acara ini berasal dari Gayungan, Pagesangan, Wisma Bungurasih, Rumah susun, Karah, Jambangan, dan Ketintang.

“Nabi Muhammad dan para pengikutnya sangat menderita dikala mereka menjalani perjanjian hudaibiyah. Perjanjian ini membuat muslim kelaparan karena kekurangan bahan makanan. Bayangkan saja, mereka tidak boleh keluar Mekkah untuk memenuhi bahan makanan yang semakin menipis. Perjanjian ini berlangsung selama 10 tahun. Tetapi akhirnya Allah memberi kemenangan yang besar, seperti pada QS. Al-Fath: 1-4 yang artinya Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak). Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,” jelas Yunan Satriawan, M.PdI, selaku pembicara pada kajian ini. Beliau juga merupakan dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya.

“Sesungguhnya ujian yang paling berat adalah ujiannya para Nabi dan Rasul. Apakah kita masih mengklaim bahwa ujian hidup kita adalah paling berat? ” Tandas Yunan mengakhiri materi. (fitri)


[no: 121]

Kajian Dhuha : Santun Berbusana Muslim



Maraknya tren mode busana saat ini, khususnya perkembangan fashion muslim yang berkembang pesat, mengakibatkan pengaburan pandangan muslimah tentang bagaimana berbusana muslimah yang syar’i. Untuk itu Masjid Nasional Al Akbar Surabaya menggelar Kajian Dhuha yang bertema Santun Berbusana Muslim (19/5).

Bertempat di Ruang Muzdalifah MAS, kajian ini menghadirkan ustadz Drs.H.Athor S.Tohiri, beliau adalah salah satu Pengurus DMI Jawa Timur. Dengan lugas beliau mengatakan bahwa berbusana muslim yang syar’i adalah tidak transparan sehingga membentuk lekuk tubuh, dan tidak ketat, “ Mengikuti tren muslim sah-sah saja, hanya yang perlu dipegang teguh adalah tetap syar’i dalam berbusana dan juga mencerminkan identitas kita sebagai muslim. Untuk jilbab muslimah, syar’inya adalah yang menutupi dada dan berpakaian yang longgar sehingga tidak membentuk lekuk tubuh. Alqur’an telah mengatur dalam QS. Al Ahzab ayat 59 yang artinya : Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka“. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” ujar Athor.

Athor juga menjelaskan bahwa QS. Al Ahzab ayat 59 ini menunjukkan wajibnya jilbab bagi seluruh wanita muslimah. Ayat ini secara jelas menuntun/menuntut kaum Muslimah agar memakai pakaian yang membedakan mereka dengan yang bukan Muslimah yang memakai pakaian tidak terhormat lagi mengundang gangguan tangan atau lidah yang usil. Ayat ini memerintahkan agar jilbab yang mereka pakai hendaknya diulurkan ke badan mereka.

”Penjelasan serupa tentang pakaian ditemukan pada surat Al-Nur (24): 31, Katakanlah, kepada wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang tampak darinya. Hendaklah mereka mengulurkan/menutupkan kain kudung kedadanya dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau mertua mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara lelaki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan lelaki yang tidak mempunyai keinginan terhadap wanita, atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang yang beriman, supaya kamu beruntung,” jelas Athor menutup materi.

Kajian yang dihadiri 500 jamaah ini merupakan kajian rutin MAS setiap bulan sekali pada minggu keempat dengan topik bervariasi.


[no: 120]

Pahami Pasangan Melaui Kursus Catin MAS



Perceraian dalam suatu pernikahan yang marak terjadi akhir-akhir ini sangat mengkhawatirkan semua kalangan. Karena dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pasangan pasangan suami istri saja, namun juga oleh orang-orang di sekitar mereka. Untuk mencegah hal itu, salah satu upaya Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (MAS) adalah dengan mengadakan Kursus CATIN (Calon Pengantin) (19/5).

Kursus yang diadakan di Ruang Sunan Kalijaga MAS ini menyajikan beberapa materi, diantaranya Kesehatan Reproduksi (dr. Kartika, dari Dinas Kesehatan Kota Surabaya), Kewajiban dan Tanggung Jawab Suami (Drs. H. Ichsan Jusuf, H, M.Hum), Psikologi Keluarga Sakinah (dr. H. Ahmad Salim Sungkar, SpKj), Manajemen Keluarga Sakinah (Drs. H. Endro Siswantoro, M.Si, Direktur Utama MAS), Peranan Pendidikan Agama dalam Mempertahankan Sakinah, Mawaddah, Wa Rahmah (DR. Hj. Hasniah Hasan, M.Si, Kepala Bagian Pembinaan Keluarga dan Kewanitaan MAS), Anak Sebagai Sumber Kebahagiaan Keluarga (Ust. Thohir, Trainer Certified Griya Parenting).

DR. Hj. Hasniah Hasan, M.Si, selaku penanggung jawab acara mengatakan bahwa kegiatan yang berlangsung selama satu hari ini merupakan pembekalan bagi calon pengantin untuk dapat membina kehidupan berumah tangga dengan bersandarkan pada tuntunan Islam, sehingga terwujud Keluarga SAMARA (Sakinah, Mawaddah, Wa Rahmah). “Alhamdulillah, Masjid Nasional Al Akbar ikut andil dalam membina calon-calon pengantin yang akan melaksanakan suatu pernikahan. Dalam pernikahan dibutuhkan saling memahami dan menerima kelebihan sekaligus kekurangan masing-masing sehingga didapatkan ketentraman dalam rumah tangga. Mudah-mudahan kursus Catin ini dapat membantu membekali anak-anak kita yang akan membuka lembaran baru,” kata Hasniah. (fitri)


halaman [0][1][2][3][4][5][6][7][8][9][10][11][12][13][14][15][16][17][18][19][20][21][22][23][24][25][26][27][28][29][30][31][32][33][34][35][36][37][38][39][40][41][42][43][44][45][46][47][48][49][50][51][52][53][54][55][56][57][58][59][60][61][62][63][64][65][66][67][68][69][70][71][72][73][74][75][76][77]