Khutbah Jum'at
 

H Muammal Hamidy, Lc

Menggapai Puncak Keimanan

06-08-2012 | 17:07:20

Mu'adz bin Jabal menceritakan, katanya : Usai perang Tabuk kami bersama Rasulullah SAW, maka setelah aku tahu ada waktu senggang, kukatakan : Ya Rasulallah, beritahulah aku amalan yang dapat memasukkan aku ke surga. Jawab beliau : Hus!, kamu bertanya masalah besar, padahal sebenarnya mudah, bagi orang yang dimudahkan Allah. Yaitu : Lakukan shalat wajib, tunaikan zakat, dan bertamu Allah tanpa menyekutukan-Nya barang sedikitpun. Maukah kamu kutunjukkan pokok segala urusan, yaitu Islam, karena berangsiapa yang beragama Islam dijamin pasti selamat, kemudian tiangnya adalah shalat, sedang puncaknya adalah jihad di jalan Allah. Dan maukah kamu kutunjukkan pintu-pintu kebajikan ? Yaitu : Puasa adalah perisai, sadang sedekah dan shalat di tengah malam dapat menutupi segala dosa. Lalu beliau membaca ayat S.As-Sajdah ayat 16, yang maknanya : "Lambung-lambung mereka meninggalkan tempat tidur, untuk berdo'a kepada Allah dengan penuh rasa takut akan adzb-Nya dan rasa ingin mendapatkan Surga, serta mengiinfaqkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepadanya. (HR Ahmad).

Apakah Jihad Itu ?
Dalam hadis di atas menerangkan bahwa jihad dikatakan sebagai puncak iman. Lalu apakah yang dimaksud dengan jihad itu ? Ini sering dipertanyakan, karena sering kita dengar jihad itu identik dengan pembunuhan atau perang. Bahkan sikap kekerasan. Padahal bukan sesederhana itu pengertian jihad.

Jihad berasal dari akar kata juhdun yang artinya susah payah. Sedang secara harfiyah jihad itu berarti bersungguh-sungguh. Sehingga dari sini, jihad dapat diartikan : Berjuang dengan sungguh-sungguh dengan susah payah, memperjuangkan tegaknya kalimatullah atau Islam. Pengertian ini diambil dari sebuah riwayat : ‘an abii muusa qaala, suila Rasulullah Salallahu ‘alaihi wa salam. ‘anir rojuli yuqaalu syajaa’atan wa yuqoolu hamiyyatan wa yuqololu riyaan ayyu dzaalika fii sabiilillahi faqoola rasulullaahi shollallahu alaihi wa sallam, man qootala litakuuna kalimatu llohi hiyal ‘ulyaa fahuwa fii sabiilillah. Artinya : Abu Musa meriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW pernah ditanya tentang seseorang yang berperang karena keberaniannya, berperang karena fanatik daerahnya, dan karena ingin mendapatkan pujian (riya'), siapakah di antara mereka itu yang disebut fisabilillah ? Jawab Rasulullah SAW : " Barangsiapa berperang dengan niat agar kalimatullah itulah yang tegak berdiri, maka dia itulah yang disebut fisabilillah". (HR Muslim).

Jadi yang ditekankan dalam berperang adalah " 'ilai kalimatillah ", menegakkan hukum Allah. Sementara yang kita ketahui, baik di zaman Nabi SAW sendiri dan khulafaur rasyidin, terlaksananya syari'at tidak harus ada pembunuhan terlebih dahulu. Sehingga keberadaan orang kafir, tidak selamanya menghalang-halangi terlaksananya hukum Allah. Karena itu, lalu dalam pemerintahan Islam ada sebutan kafir dzimmi yaitu orang-orang kafir yang mendapat perlindungan, ada pula kafir a'hdi yaitu orang-orang kafir yang terikat oleh perjanjian perdamaian dengan kaum muslimin untuk tidak saling bermusuhan, dan sikafir itu berjanji tidak akan memusuhi Islam. Dari sinilah. maka jihad berarti berjuang menegakkan hukum Allah dengan penuh kesungguhan tanpa mengenal lelah. Dan untuk itu dapat ditempuh melalui pendidikan, pengajian, penulisan, diplomasi dsb. Syekh Said Hawa, dalam bukunya Jundullah Tsaqafatan wa akhlaqan ketika menafsiri firman Allah "jihad bilamwal" dan "jihad bilanfus", dalam Al-Quran surah At -Tubah 41 yang maknanya : Berangkatlah kamu baik dalam Keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.

Mengatakan, bahwa jihad bil amwal (jihad dengan harta), : Bisa dilakukan dengan mendirikan masjid, madrasah, rumah sakit dsb. Sedang jihad bil anfus, (jihad dengan diri), dapat dilakuan dengan mengajar, menulis, ceramah dsb. Sehingga bagian zakat untuk sabilillah, dari delapan ashnaf mustahiquzzakah bisa dilakukan dengan mendirikan masjid, sekolah, penerbitan surat kabat, majalah, radio, TV dsb. Delapan ashnaf mustahiquzzakah tersebut adalah sebagaimana yang dimaksudkan dalam firman Allah SWT surah At Taubah : 60 yang maknanya : Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu'allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Yang berhak menerima zakat Ialah: 1. orang fakir: orang yang Amat sengsara hidupnya, tidak mempunyai harta dan tenaga untuk memenuhi penghidupannya. 2. orang miskin: orang yang tidak cukup penghidupannya dan dalam Keadaan kekurangan. 3. Pengurus zakat: orang yang diberi tugas untuk mengumpulkan dan membagikan zakat. 4. Muallaf: orang kafir yang ada harapan masuk Islam dan orang yang baru masuk Islam yang imannya masih lemah. 5. memerdekakan budak: mencakup juga untuk melepaskan Muslim yang ditawan oleh orang-orang kafir. 6. orang berhutang: orang yang berhutang karena untuk kepentingan yang bukan maksiat dan tidak sanggup membayarnya. Adapun orang yang berhutang untuk memelihara persatuan umat Islam dibayar hutangnya itu dengan zakat, walaupun ia mampu membayarnya. 7. pada jalan Allah (sabilillah): Yaitu untuk keperluan pertahanan Islam dan kaum muslimin. di antara mufasirin ada yang berpendapat bahwa fisabilillah itu mencakup juga kepentingan-kepentingan umum seperti mendirikan sekolah, rumah sakit dan lain-lain. 8. orang yang sedang dalam perjalanan yang bukan maksiat mengalami kesengsaraan dalam perjalanannya.

Jihad seperti itu begitu panting, karena tanpa jihad kebatilan akan melanda masyarakat, keonaran (fitnah) tidak terelakkan, dan aqidah akan hancur. Justru itu jihad harus berjalan simultan. Kata seorang budayawan Mesir Syauqi Bey : Qif duuna ra’yika fi hayaati mujaahidan. Innal hayaata aqiidatun wa jihaadun. (Pusatkan perhatianmu dalam hidup ini untuk berjihad. Karena hidup itu harus mempunyai aqidah dan berjihad).

Beda Jihad dengan Qital (Perang).
Jihad dalam pengertian di atas adalah sebuah perjuangan, sedang qital konotasinya adalah pembunuhan, karena kata qital baerasal dari kata qatala yang artinya membunuh.Dan qaatala dengan qaf panjang, adalah musyarakah yakni saling bunuh-membunuh. Maka dalam perang pasti ada pembunuhan. Sehingga seorang yang pergi ke medan perang harus siap mati, siap membunuh dan siap dibunuh. Berbeda dengan jihad dalam pengertian di atas, tidak tergambar adanya saling bunuh membunuh itu. Dan orang yang pergi ke lapangan jihad, semisal hendak bertabligh, mengajar dsb tidak harus siap mati, kendatipun kematian itu seiring dengan kehidupan. Kalau di sana ada kehidupan, maka di sana ada juga kematian. Secara tegas Allah berfirman dalam surah Ali Imron ayat 185 yang maknanya : Setiap orang pasti akan merasakan mati. dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakannya pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Sedangkan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. (Qs Ali Imran 185 )

Kata "jihad" dalam al-Qur'an, memang kadang-kadang identik dengan qital. Tetapi, setelah ada pembakuan ilmu, oleh para pakar Islam, lalu dibedakan pengertiannya dengan qital, seperti yang kita sebutkan di atas. Tak ubahnya dengan zakat, infaq dan shadaqah, semula tiga kata itu mempunyai pengertian yang sama. Tetapi, kemudian oleh para pakar Islam dibedakannya, sehingga masing-masing mempunyai pengertian tersendiri. Kata "shalat" dalam al-Qur'an juga asal artinya berdo'a. Tetapi seiring dengan pembakuan ilmu, lalu shalat diartikan dengan suatu gerakan dan bacaan tertentu, yang didahului dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Seperti itulah pengertian jihad ini. Karena itu dalam kontek kekinian, kalau kita berbicara tentang jihad atau mendengar kata jihad, haruslah diartikan dalam pengertian di atas, yaitu " Perjuangan menegakkan hukum Allah dengan penuh kesungguhan tanpa mengenal lelah, baik dengan lisan maupun tulisan".

Kiranya dengan demikian, maka jihad bukan momok, jihad bukan menakutkan. Tetapi jihad adalah indah dan menggiurkan. Selamat berjihad.

Khutbah sebelumnya :

  • Menjadi Umat yang Terbaik
  • Urgensi Pemurnian Aqidah Dalam Membangun Bangsa
  • Kejujuran Kunci Kesuksesan
  • Menjadi Umat Nabi Muhammad yang Hakiki
  • KERUKUNAN UMAT BERAGAMA, PILAR NEGARA RI
  • Menyelesaikan Perbedaan
  • Mengukur Kadar Keimanan
  • KH Agoes Ali Masyhuri
  • Ukhuwah Demi Muruu’ah (Martabat)
  • Kecerdasan Spiritual
  • Hijrah, Momentum Mempererat Persaudaraan
  • Refleksi 51 Tahun Pemberontakan G-30-S/PKI
  • Urgensi Tauhid dalam Mengangkat Derajat & Martabat Muslimin
  • Kecintaan Sesama, Bukti Cinta Kepada Allah
  • Syukur dan Bahagia
  • Singa dalam Senyap
  • Berteknologi Tanpa Iman
  • Hakekat Pahlawan
  • Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan
  • Menggapai Bahagia, Hubungkan Bumi dengan Langit
  • Kehidupan Dunia Sementara
  • Takabbur dan Tawadhu’
  • Pasar dalam Islam
  • Memberi Tanpa Menyakiti
  • Ramadhan, Bulan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
  • Hakikat Ibadah
  • Meraih Derajat Muttaqiin
  • Merindukan Ramadhan
  • Jihad Akbar Bukan Sembarang Jihad
  • Merajut Ukhuwah Islamiyah
  • Debu Takwa Pembebas Derita
  • Isra’ Mi’raj Momentum Evaluasi Shalat
  • Keutamaan Shadaqah
  • Ikhtiar, Do’a dan Tawakkal
  • Qanaah Bukti Keimanan Seseorang Kepada Allah
  • Mengemban Amanat Agama
  • Ujian, Bukti Cinta Allah kepada Hambanya
  • Menuju Kecintaan Kepada Allah Swt
  • Masa dan Manusia
  • Segera Bertaubat sebelum Terlambat
  • Kesehatan Jasmani dan Rohani
  • Memaafkan dan Mendamaikan
  • Mengungkap Hikmah Shabar
  • Membangun Bangsa dengan Imtaq dan Iptek
  • Meningkatkan Iman Dan Taqwa di Tahun 2016
  • Fadhilah Membahagiakan Orang Lain
  • Bukti Cinta Rasulullah Kepada Umatnya
  • Strategi Umat Islam Menghadapi Tantangan Global
  • Lemah Lembut dan Murah Hati
  • Keserasian Aqidah, Syariah dan Akhlak
  • Dzikirnya Orang yang Cerdik Cendikia
  • Budi Pekerti yang Luhur
  • Persatuan, Modal Kesuksesan Bangsa
  • Pentingnya Belajar dari Sejarah
  • Mewaspadai Golongan Ekstrim
  • Menemukan “Ibrahim” Era Baru
  • Amalan Subtansional
  • Bermuamalah dengan Non Muslim
  • Merdeka dalam Perspektif Islam
  • Mempertahankan Persaudaraan dalam Bingkai Iman
  • Petunjuk Allah dalam Menghadapi Cobaan Hidup
  • Amalan Penting Pasca Ramadhan
  • Wakaf dan Kesejahteraan Umat
  • Jiwa Yang Fitrah, Kunci Kebahagiaan Dunia Akhirat
  • 5 Wasiat Menuju Pribadi Unggul
  • Syawwal, Bulan Peningkatan
  • Puasa, Makna dan Filosofinya
  • Berbenah Diri Menyambut Bulan Suci
  • Konsep Beragama dalam Bingkai Nkri
  • Pedoman Pergaulan dalam Rumah Tangga
  • Makna Shalat, Historis dan Filosofis
  • Essensi Shalat dalam Kehidupan
  • Penghargaan untuk Merubah Masa Depan
  • Beri Upah Pekerja, Sebelum Keringat Menetes
  • Keseimbangan Materi dan Nurani
  • Orang-Orang yang Jauh dari Hidayah Allah
  • Ayat-ayat Allah di Alam Semesta
  • Islam Kaafah dalam Berbangsa dan Bernegara
  • Muslim yang Ikhlas
  • Ancaman Orang yang Mengabaikan Zakat
  • Dampak Kesehatan Jiwa Terhadap Kesehatan Jasmani
  • Urgensi Musyawarah dalam Setiap Urusan
  • Pedoman Memilih Pemimpin Menurut Pandangan Islam
  • Keluhuran Akhlak Jaminan Kejayaan Bangsa
  • Empat Pilar Akhlaq Mulia
  • Jihad Melawan Hawa Nafsu
  • Sifat Orang Kafir
  • Berhati-Hati dengan Tipudaya Dunia
  • Unjuk Rasa dalam Islam
  • Refleksi di Tahun Baru
  • Mengenal Hadis-Hadis Israiliyaat
  • Fleksibelitas dalam Hukum Islam
  • Teladan Rasulullah dalam Intrepreneurship
  • Mewujudkan Islam Kaaffah (Menyeluruh)
  • Membangun Masyarakat Bermartabat, Mewujudkan Negara Damai Sejahtera
  • Hidup Mulia dengan Islam
  • Haji dan Perbaikan Moral Umat
  • Urgensi Bersahabat dengan Orang yang Shalih
  • Menyongsong Era Baru Kepemimpinan Nasional
  • Ekonomi Islam dan Konvensional
  • Menegakkan dan Memelihara Keutamaan Islam
  • Memupuk Jiwa Berkurban
  • Dunia Adalah Ladang Akhirat
  • Kemerdekaan yang Hakiki
  • Urgensi Mengajak Kepada Kebaikan
  • Manusia Adalah Makhluk Fitri
  • Dusta Merupakan Sumber Malapetaka
  • Mempersiapkan Diri Menghadapi Bulan Suci
  • Menjaga Diri Dengan Yang Halal
  • Menimba Hikmah Kisah Nabi Isa a.s.
  • Akibat Orang Yang Menukar Ayat-Ayat Allah
  • Manajemen Dakwah Efektif Aplikatif
  • Kedekatan Manusia di Sisi Allah Swt
  • Membangun Karakter Asmaul Husna
  • Keutamaan Jihad Dengan Harta
  • Keteladanan Rasulullah Saw
  • Kearifan Lokal Dalam Perspektif Islam
  • Mendalami Makna Ukhuwah
  • Peran Ulama’ Dalam Kehidupan Bernegara
  • Islam Agama Universal
  • Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an
  • Tugas Rasul Penyempurna Akhlak Manusia
  • Meneladani Figur Rosulullah SAW
  • Makna Muhasabah (Evaluasi Diri)
  • Petunjuk Rasulullah Tentang Alam Kubur
  • Islam Dan Terjaganya Perilaku
  • Membentuk Muslim Unggul
  • Ilmu Waris, Bagian Dari Agama dan Setengah Dari Ilmu
  • Menggapai Derajat Dengan Ilmu Pengetahuan
  • Upaya Mewujudkan Khoira Ummat (Umat Tebaik)
  • Amalan-Amalan Dalam Rangka Mengisi Tahun Baru Hijriyah
  • Syukur Menjadi Bangsa Indonesia
  • Spirit Tahun Baru Hijriyah
  • Indikator Haji yang Mabrur
  • Penerapan Nilai-Nilai Islam dalam Peradaban Masa Kini
  • Problematika Umat
  • Seputar Ibadah Haji dan Umrah
  • Kemiskinan dalam Pandangan Islam
  • Muslim Selektif Produktif
  • Syahadat, Makna dan Konsekuensinya
  • Menata Hidup dan Kehidupan Dalam Perspektif Islam
  • Urgensi Mempertahankan Kualitas Ibadah
  • Tasamuh, Ta’awun dan Tadlomun
  • Sillaturrahim Dalam Lebaran
  • Kewajiban Dakwah Dalam Berbagai Situasi dan Kondisi
  • Keluh Kesah Manusia Dalam Hidup
  • Amalan-Amalan Penguat Iman
  • Mempertahankan Aqidah di Tengah Benturan Budaya
  • Antara Hak dan Tanggung Jawab
  • Meyakini Kebenaran Ayat-Ayat Al Qur’an
  • Menjaga Diri dan Keluarga dari Api Neraka
  • Nilai Kehidupan
  • Konsep Islam Mengikis Korupsi
  • Shalat Kematian
  • Mempertanyakan Ukhuwah Kita
  • Tiga Faktor Utama Kebahagiaan
  • Menyelaraskan Perkataan Dengan Perbuatan
  • Mengenal Penyakit Hati
  • Pentingnya Menuntut Ilmu dan Kewajiban Mengamalkannya
  • Lezatnya Iman
  • Prinsip-Prinsip Universal Toleransi Antar Umat Beragama
  • Islam, Ya'luu Walaa Yu'laa 'Alaih
  • Islam, dan Ajaran Jihad
  • Kisah Teladan Sahabat Nabi Muhammad Saw
  • Membumikan Akhlak Mulia Dalam Kehidupan
  • Nabi Isa, Kisah dan Hikmahnya
  • Antara Iman dan Amal Sholih
  • Nabi Muhammad Saw, Figur Teladan Umat
  • Menggapai Derajat Siddiqin
  • Dahsyatnya Kiamat dan Tanda Kedatangannya
  • Makna Muhasabah (Evaluasi Diri)
  • Amalan Ahlus Sunnah Wal Jamaah
  • Berinvestasi Dengan Wakaf
  • Ilmu, Simbol Kejayaan Umat
  • Ijabah Do’a
  • Islam Dan Sistem Ekonomi
  • Menggapai Hidup Berkualitas
  • Muhasabah dan Muroqobah, Jalan Menuju Taqwa
  • Hikmah Memperingati Hari Pahlawan
  • Yang Diridhoi Dan Yang Dimurkai Allah
  • Hikmah Ibadah Haji
  • Esensi Haji Mabrur
  • Pola Hidup Sehat Menurut AlQur'an
  • Berdakwah Dengan Hikmah
  • Komunisme dan Bahaya Komunis
  • Cinta Allah Kepada Hambanya
  • Menjaga Diri Dari Makanan Dan Minuman Yang Haram
  • Wibawa Umat
  • Menuntut Ilmu Tanpa Batas
  • Rahasia Keberkahan Ramadhan
  • Menggapai Puncak Keimanan
  • Mendalami Makna Ukhuwah
  • Amalan Penting Menyambut Bulan Ramadhan
  • Memurnikan Niat, Menyongsong Bulan Ramadhan
  • Menempuh Jalan Lurus, Dunia Hingga Akhirat
  • Makna Isra’ Mi’raj Dalam Kehidupan
  • Kiat Memperbaiki Moralitas Bangsa
  • Membumikan Akhlak Rasulullah Saw
  • Membangun Generasi Rabbany
  • Kisah Nabi Isa Dalam Al-Quran Dan Injil
  • Kepemimpinan Rabbani
  • Sufi Dan Sufisme Di Era Global
  • Menggapai Hidup Bahagia
  • Penyakit Hati Dan Obat Penawarnya
  • Peranan Masjid Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Umat
  • Batas-Batas Toleransi Antar Umat Beragama
  • Bulan Kemuliaan Antara Islam Dan Jawa
  • Politik, Antara Norma Dan Realita
  • Aqidah Dan Akhlaq Seorang Pemimpin
  • Rasulullah Tauladan Sepanjang Zaman
  • Mengapa Syi'ah Bermasalah
  • Keunggulan Syariat Allah Swt
  • Hikmah Dzikrul Maut
  • Kiat Mengikis Tradisi Khurofat
  • Istiqomah Tahun 2012
  • Membangun Surga Dalam Keluarga
  • Menggapai Rahmat Allah
  • Hijrah, Upaya Mempertahankan Aqidah
  • Kewajiban Dakwah Bagi Setiap Muslim
  • Dakwah di Tengah Kemajemukan Umat
  • Islam Mengutamakan Kualitas Bukan Kuantitas
  • Menuju Arah Pendidikan Yang Ideal
  • Sucikan Harta Dengan Berderma
  • Terapi Penyakit Hati
  • Strategi Menghadapi Ghozwul Fikri
  • Hakekat Konsep Jihad Dalam Perspektif Islam
  • Urgensi Mengenal Produk Halal dan Baik
  • Mempertahankan Fithrah Manusia
  • Kembali Kepada Allah
  • Merenungi Alam Raya
  • Memperkokoh Ukhuwah Islamiyah
  • Merefleksikan Puasa Ramadhan
  • Tantangan Da'wah di Era Global
  • Kewajiban Memberantas Kemungkaran
  • Persiapan Menghadapi Puasa Ramadhan
  • Islam Agama Nasehat
  • Hak Terhadap Allah, Terhadap Diri Sendiri Dan Terhadap Sesama
  • Kontektualisasi Pemahaman Isra’ Mi’raj
  • Hidup Damai Dengan Islam
  • Doa, Senjata Orang Beriman
  • Kedudukan Wanita Dalam Perspektif Islam
  • Mengikis Budaya Korupsi
  • Cuci Otak
  • Menggapai Rahmat Dengan Taubat
  • Keseimbangan Investasi Dunia Akhirat
  • Urgensi Mendahulukan Kualitas Atas Kuantitas Dalam Beramal
  • Manusia-Manusia Unik Dalam Alqur’an
  • Amar Makruf Nahi Mungkar
  • Memupuk Kepedulian Sosial
  • Pilar-Pilar Kejayaan Islam
  • Keunggulan Ajaran Islam
  • Keagungan Akhlak Rasulullah Saw
  • Rasululloh Sebagai Uswah
  • Keteladanan Kisah Nabi Nuh As
  • Keutamaan Shalat Lail
  • Niat Pangkal Seluruh Aktivitas
  • Membentuk Keshalihan Ritual dan Sosial
  • Dunia Sebagai Ladang Akhirat
  • Muhasabah Tahun Baru
  • Batas-batas Toleransi Antar Umat Beragama
  • Do’a, Perisai Mukmin
  • Islam Agama Seluruh Nabi dan Rasul
  • Mengenang Kembali Makna Hijriyah
  • Risywah, Macam dan Bahayanya
  • Iman Sebagai Kekuatan Moral
  • Bahagia Saat Orang Lain Bahagia
  • Islam Kenikmatan Yang Agung dan Sempurna
  • Penyakit Sosial dalam Sorotan Syariat
  • Manusia Makhluk Fitri
  • Kiat Mencapai Derajat Taqwa
  • Riya’, Penyakit Amal Kebajikan
  • Membentuk Kesehatan Jasmani dan Rohani
  • Mengantisipasi Aliran Sesat
  • Urgensi Membaca dan mengamalkan Al-Qur’an
  • Musik Bata
  • Sedekah yang Barakah
  • Nilai Pendidikan Ramadhan
  • Dr. H. Imam Mawardi, MA
  • Nikah, Hakikat dan Urgensinya
  • Pengendalian Hawa Nafsu
  • Memberantas Kebodohan
  • Menggapai Hidup Barakah
  • Profil Manusia Bertaqwa
  • Akhlaq Mahmudah dan Akhlaq Madzmumah
  • Menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
  • Urgensi Ukhuwah Islamiyah
  • Syirik, Macam dan Bahayanya
  • Bersihkan Harta dan Hati untuk Bangun Negeri
  • Menghadapi Ujian Tahta Harta Dan Wanita