Khutbah Jum'at
 

DR H Imam Mawardi, MA

Cinta Allah Kepada Hambanya

24-09-2012 | 16:45:13

Allah cinta kepada hambaNya, bahkan segala yang Allah taqdirkan dan tetapkan untuk kita dalam kehidupan ini, adalah wujud cinta kita kepada Allah. Hanya saja banyak manusia yang tertutup hatinya untuk membaca dan merasakan cinta Allah. Ketika menghadapi kegelisahan dan persoalan hidup. Banyak manusia ketika ditimpakan persoalan hidup mengatakan : Ya Allah kenapa Engkau berikan ini kepadaku. Tanpa mencoba melihat hikmah di balik itu, tanpa mencoba merasakan kembali betapa cinta Allah kepada kita. Menurut logika, ketika seseorang membuat sesuatu dengan tangannya sendiri, maka yang dibuat oleh orang itu pasti disenangi oleh yang membuat. Kalau kita membuat sebuah karya, maka karya itu pasti akan kita cintai, dan ketika karya kita dihina oleh orang lain, tentu kita akan kecewa. Kita diciptakan oleh kekuasaan Allah, apa mungkin Allah tidak mencintai ciptaanNya sendiri? Logika menjawab ; tidak mungkin. Allah menciptakan kita dengan cinta, dan mengatur hidup kita dengan cinta. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surah Shaad : 75

75. Allah berfirman: "Hai iblis, Apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu (merasa) Termasuk orang-orang yang (lebih) tinggi?".

Kita diciptakan oleh Allah, maka pasti kita dicintai oleh Allah, tetapi kita tertutup membaca, merasakan cinta Allah dalam kehidupan ini. Sehingga dalam beribadah terasa berat, merasa ada beban. Ibadah tidak diniatkan sebagai bentuk syukur atas cinta yang Allah berikan kepada kita. Dari Al-Qur’an maupun Al Hadist, ada 8 dalil yang bisa kita renungkan pada hari ini sebagai wujud cinta Allah kepada kita.

Pertama, ‘adamu ta’jiilil ‘uquubah (menunda hukuman) kepada hambaNya yang punya niat berbuat kejelekan. Dalam hadis disebutkan, ketika seorang hamba berniat berbuat kebaikan, langsung ditulis oleh malaikat, tetapi ketika seorang hamba berniat melakukan kejelekan, belum ditulis, kecuali telah melakukannya. Apakah ini bukan wujud cinta dari Allah? Seorang yang berniat bebuat kebaikan walaupun tidak terlaksana, dia akan dicatat sebagai kebaikan, seeorang berniat berbuat kejelekan, jika tidak terlaksana, maka tidak dicatat sebagai kejelekan.

Kedua, Qaabilut taubah (Maha menerima taubat hambaNya). Ketika kita berbuat kesalahan, berbuat dosa. Allah tidak memberikan hukuman seketika, karena Allah Maha Menerima taubat kepada hambaNya. Sehingga jika dia berbuat salah, masih diberi kesempatan untuk bertaubat. Adakah orang yang senantiasa menerima permintaan maaf kita, ketika kita berbuat kesalahan yang berulang-ulang? Allah berfirman surah Ali Imron : 135

135. dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. 

53. Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

3. yang mengampuni dosa dan menerima taubat lagi keras hukuman-Nya. yang mempunyai karunia. tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. hanya kepada-Nyalah kembali (semua makhluk). Semua kita pasti memiliki dosa. Seiman-imannya kita pasti pernah berbuat salah kepada Allah. Allah berfirman dalam surah Al Anfaal : 4.

4. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezki (nikmat) yang mulia.

Kata “mendapatkan ampunan” bisa diartikan, bahwa orang yang beriman dengan haq, tetap masih punya dosa. Tetapi dengan cintaNya, Allah masih mau mengampuni dosa kita.

Ketiga, I’thoouts tsawaab al katsiir lil asy yaa’ al qoliil(Allah memberi pahala yang banyak, untuk perbuatan yang banyak pula). Walaupun perbuatan itu sangat mudah. Seperti, dalam hadis dinyatakan : Barangsiapa membaca subhaanallah wabihamdih sebanyak 100 kali setiap hari, maka Allah akan menganaugerahkan seribu kebaikan untuk dirinya. Barang siapa yang puasa satu hari Arafah, maka dosanya setahun yang lalu dan setahun kemudian akan diampuni Allah. Barang siap yang dalam hidupnya, yang di waktu pagi dan sorenya membaca bismillahi laa yadhurru ma’asmihi syaiun fil ardhi wa laa fis samaa’I wa huwas samii’un aliim. Maka akan diamankan oleh Allah dari segenap musibah dan dalam bermacam-macam bencana dalam hidupnya. Barang siapa yang ketika menjelang shalat shubuh membaca Laailaaha illa anta subhaanaka innii kuntu minadhoolimiin. Maka Allah akan membimbing untuk bebas dari bencana. Barang siapa shalat sebelum Shubuh, maka akan diberi pahala seluas bumi dan langit beserta isinya. Barang siapa seorang suami membangunkan isterinya pada malam hari,kemudian keduanya shalat dua rakaat, maka Allah akan memberikan kasih sayangNya. Dan lain sebagainya. Adakah manusia yang memberikan kepada orang lain sebanyak Allah berikan kepada hambaNya?. Inilah bentuk kecintaan Allah kepada hambaNya. Tetapi mengapa kita lebih mencintai orang lain daripada Allah? Mengapa kita menaati orang lain, dan tidak menaati Allah? Mengapa kita selalu melupakan Allah dalam hidup, padahal Allah senantiasa mengatur kita dalam hidup ini.

Keempat, innal hasanaat bi’asyri amtsalihaa, wa innas sayyiaat bimitslihaa. (orang yang berbuat dibalas sepuluh, barang siapa yang berbuat satu kejelekan, maka dibalas satu). (al An’am : 160).

Kelima,dari 99 asmaaul husna, mayoritas mencerminkan cinta, daripada siksa. Misalnya Ar Rahmaan, Ar Rohiim, al Ghofuur dlsb. Sedang yang menunjukkan siksa misalnya al Muntaqiim, Al Jabbar yang jumlahnya amat sedikit.

Keenam, Tholabud du’aa’ (Allah meminta hambaNya untuk berdoa). Adakah menusia di dunia ini yang mengatakan memintalah kalian, maka senantiasa engkau aku berikan? Sifat manusia, bila diminta satu kali mungkin masih bisa senang hati dia memberi, dua kali bisa senang hati memberi, tetapi jika setiap kali diminta dan diminta, pasti dia jengkel. Tapi kalau Allah, akan selalu senang hati bila dimintai hambaNya, berapa kali pun.Allah berfirman dalam surah al Mukmin : 60 :

60. dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina". Bahkan ada hadis yang menyatakan, bahwa Allah merasa malu ketika ada hambaNya mengangkat tangannya, meminta kepadaNya, kemudian tidak memenuhinya permintaan tersebut. Rasulullah SAW bersabda : Allah akan marah ketika hambaNya tidak berdoa. Semakin banyak kita berdoa, semakin Allah cinta kepada kita.

Ketujuh, Allah selalu mendinginkan hati hambaNya, ketika hambaNya diberi musibah. Dia tidak membiarkannya. Allah berfirman dalam surah Al Insyirah : 6

6. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.

Surah Al Baqarah : 185

185. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.

Kedelepan, Allah menyediakan surga dengan DiriNya sendiri, bukan dengan malaikatNya. ‘adadtu bi ‘ibaadis shoolihiihin maala ‘ainun ro’at walaa uzunun samiat walaa khathara biqalbin basyar ( Aku yang menyiapkan surga untuk hamba-hambaKu yang sholih). Jadi, surga telah disiapkan oleh Allah untuk hambaNya yang sholih. Karena Allah mencintai hambaNya. Pertanyaan yang tentu mengusik kita, kalau memang Allah cinta, kenapa Allah berikan musibah? Jawabanya adalah, bagi mukmin sejati, di balik musibah terselip hikmah yang luar biasa. Musibah adalah pintu gerbang untuk mendapatkan kebahagiaan sejati. Bagi yang tidak mengenal Allah, dan tidak mengenal agama dalam hidupnya, kekayaan, kejayaan dan kebahagiaan sementara di dunia ini adalah pintu gerbang penderitaan yang sesungguhnya. Maka, jalani hidup ini dengan bahagia walaupun ada musibah.

Di balik musibah ada terselip hikmah yang besar. Kita menengok ke belakang, kita lihat ke masa lalu. Nabi Nuh, dipukul hingga pingsan oleh umatnya, diingkari umatnya, tetapi Nabi Nuh sabar. Dan akhirnya beliau selamat dengan perahunya. Nabi Ibrahim dibakar, tetapi dengan itu beliau menjadi kholilullah (nabi kekasih Allah). Nabi Ismail, ketika bersedia disembelih, dimuliakan oleh Allah. Nabi Yusuf, ketika masih kecil di lempar ke sumur, dimasukkan dalam penjara, setelah itu dianugerahi oleh Allah kekuasaan, ilmu ta’wil dll. Nabi Muhammad, sebelumnya dalam dakwahnya pernah dibaikot, dihina, dicaci, setelah itu menjadi sayyidul ambiyaa’ wal mursaliin. Dan Nabi Muhammad tidak akan pernah terhina, dengan hinaan siapapun, karena beliau pada hakekatnya memang mulia di sisi Allah.

Ketika kita mengisi hati dengan iman dan Islam, kitapun merupakan mutiara-mutiara kecil yang tidak pernah akan hina dan dihinakan, Allah akan menganugerahkan kebaikan-kebaikan ketika kita sabar. Al Baqarah : 156

156. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun".

Khutbah sebelumnya :

  • Menjadi Umat yang Terbaik
  • Urgensi Pemurnian Aqidah Dalam Membangun Bangsa
  • Kejujuran Kunci Kesuksesan
  • Menjadi Umat Nabi Muhammad yang Hakiki
  • KERUKUNAN UMAT BERAGAMA, PILAR NEGARA RI
  • Menyelesaikan Perbedaan
  • Mengukur Kadar Keimanan
  • KH Agoes Ali Masyhuri
  • Ukhuwah Demi Muruu’ah (Martabat)
  • Kecerdasan Spiritual
  • Hijrah, Momentum Mempererat Persaudaraan
  • Refleksi 51 Tahun Pemberontakan G-30-S/PKI
  • Urgensi Tauhid dalam Mengangkat Derajat & Martabat Muslimin
  • Kecintaan Sesama, Bukti Cinta Kepada Allah
  • Syukur dan Bahagia
  • Singa dalam Senyap
  • Berteknologi Tanpa Iman
  • Hakekat Pahlawan
  • Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan
  • Menggapai Bahagia, Hubungkan Bumi dengan Langit
  • Kehidupan Dunia Sementara
  • Takabbur dan Tawadhu’
  • Pasar dalam Islam
  • Memberi Tanpa Menyakiti
  • Ramadhan, Bulan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
  • Hakikat Ibadah
  • Meraih Derajat Muttaqiin
  • Merindukan Ramadhan
  • Jihad Akbar Bukan Sembarang Jihad
  • Merajut Ukhuwah Islamiyah
  • Debu Takwa Pembebas Derita
  • Isra’ Mi’raj Momentum Evaluasi Shalat
  • Keutamaan Shadaqah
  • Ikhtiar, Do’a dan Tawakkal
  • Qanaah Bukti Keimanan Seseorang Kepada Allah
  • Mengemban Amanat Agama
  • Ujian, Bukti Cinta Allah kepada Hambanya
  • Menuju Kecintaan Kepada Allah Swt
  • Masa dan Manusia
  • Segera Bertaubat sebelum Terlambat
  • Kesehatan Jasmani dan Rohani
  • Memaafkan dan Mendamaikan
  • Mengungkap Hikmah Shabar
  • Membangun Bangsa dengan Imtaq dan Iptek
  • Meningkatkan Iman Dan Taqwa di Tahun 2016
  • Fadhilah Membahagiakan Orang Lain
  • Bukti Cinta Rasulullah Kepada Umatnya
  • Strategi Umat Islam Menghadapi Tantangan Global
  • Lemah Lembut dan Murah Hati
  • Keserasian Aqidah, Syariah dan Akhlak
  • Dzikirnya Orang yang Cerdik Cendikia
  • Budi Pekerti yang Luhur
  • Persatuan, Modal Kesuksesan Bangsa
  • Pentingnya Belajar dari Sejarah
  • Mewaspadai Golongan Ekstrim
  • Menemukan “Ibrahim” Era Baru
  • Amalan Subtansional
  • Bermuamalah dengan Non Muslim
  • Merdeka dalam Perspektif Islam
  • Mempertahankan Persaudaraan dalam Bingkai Iman
  • Petunjuk Allah dalam Menghadapi Cobaan Hidup
  • Amalan Penting Pasca Ramadhan
  • Wakaf dan Kesejahteraan Umat
  • Jiwa Yang Fitrah, Kunci Kebahagiaan Dunia Akhirat
  • 5 Wasiat Menuju Pribadi Unggul
  • Syawwal, Bulan Peningkatan
  • Puasa, Makna dan Filosofinya
  • Berbenah Diri Menyambut Bulan Suci
  • Konsep Beragama dalam Bingkai Nkri
  • Pedoman Pergaulan dalam Rumah Tangga
  • Makna Shalat, Historis dan Filosofis
  • Essensi Shalat dalam Kehidupan
  • Penghargaan untuk Merubah Masa Depan
  • Beri Upah Pekerja, Sebelum Keringat Menetes
  • Keseimbangan Materi dan Nurani
  • Orang-Orang yang Jauh dari Hidayah Allah
  • Ayat-ayat Allah di Alam Semesta
  • Islam Kaafah dalam Berbangsa dan Bernegara
  • Muslim yang Ikhlas
  • Ancaman Orang yang Mengabaikan Zakat
  • Dampak Kesehatan Jiwa Terhadap Kesehatan Jasmani
  • Urgensi Musyawarah dalam Setiap Urusan
  • Pedoman Memilih Pemimpin Menurut Pandangan Islam
  • Keluhuran Akhlak Jaminan Kejayaan Bangsa
  • Empat Pilar Akhlaq Mulia
  • Jihad Melawan Hawa Nafsu
  • Sifat Orang Kafir
  • Berhati-Hati dengan Tipudaya Dunia
  • Unjuk Rasa dalam Islam
  • Refleksi di Tahun Baru
  • Mengenal Hadis-Hadis Israiliyaat
  • Fleksibelitas dalam Hukum Islam
  • Teladan Rasulullah dalam Intrepreneurship
  • Mewujudkan Islam Kaaffah (Menyeluruh)
  • Membangun Masyarakat Bermartabat, Mewujudkan Negara Damai Sejahtera
  • Hidup Mulia dengan Islam
  • Haji dan Perbaikan Moral Umat
  • Urgensi Bersahabat dengan Orang yang Shalih
  • Menyongsong Era Baru Kepemimpinan Nasional
  • Ekonomi Islam dan Konvensional
  • Menegakkan dan Memelihara Keutamaan Islam
  • Memupuk Jiwa Berkurban
  • Dunia Adalah Ladang Akhirat
  • Kemerdekaan yang Hakiki
  • Urgensi Mengajak Kepada Kebaikan
  • Manusia Adalah Makhluk Fitri
  • Dusta Merupakan Sumber Malapetaka
  • Mempersiapkan Diri Menghadapi Bulan Suci
  • Menjaga Diri Dengan Yang Halal
  • Menimba Hikmah Kisah Nabi Isa a.s.
  • Akibat Orang Yang Menukar Ayat-Ayat Allah
  • Manajemen Dakwah Efektif Aplikatif
  • Kedekatan Manusia di Sisi Allah Swt
  • Membangun Karakter Asmaul Husna
  • Keutamaan Jihad Dengan Harta
  • Keteladanan Rasulullah Saw
  • Kearifan Lokal Dalam Perspektif Islam
  • Mendalami Makna Ukhuwah
  • Peran Ulama’ Dalam Kehidupan Bernegara
  • Islam Agama Universal
  • Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an
  • Tugas Rasul Penyempurna Akhlak Manusia
  • Meneladani Figur Rosulullah SAW
  • Makna Muhasabah (Evaluasi Diri)
  • Petunjuk Rasulullah Tentang Alam Kubur
  • Islam Dan Terjaganya Perilaku
  • Membentuk Muslim Unggul
  • Ilmu Waris, Bagian Dari Agama dan Setengah Dari Ilmu
  • Menggapai Derajat Dengan Ilmu Pengetahuan
  • Upaya Mewujudkan Khoira Ummat (Umat Tebaik)
  • Amalan-Amalan Dalam Rangka Mengisi Tahun Baru Hijriyah
  • Syukur Menjadi Bangsa Indonesia
  • Spirit Tahun Baru Hijriyah
  • Indikator Haji yang Mabrur
  • Penerapan Nilai-Nilai Islam dalam Peradaban Masa Kini
  • Problematika Umat
  • Seputar Ibadah Haji dan Umrah
  • Kemiskinan dalam Pandangan Islam
  • Muslim Selektif Produktif
  • Syahadat, Makna dan Konsekuensinya
  • Menata Hidup dan Kehidupan Dalam Perspektif Islam
  • Urgensi Mempertahankan Kualitas Ibadah
  • Tasamuh, Ta’awun dan Tadlomun
  • Sillaturrahim Dalam Lebaran
  • Kewajiban Dakwah Dalam Berbagai Situasi dan Kondisi
  • Keluh Kesah Manusia Dalam Hidup
  • Amalan-Amalan Penguat Iman
  • Mempertahankan Aqidah di Tengah Benturan Budaya
  • Antara Hak dan Tanggung Jawab
  • Meyakini Kebenaran Ayat-Ayat Al Qur’an
  • Menjaga Diri dan Keluarga dari Api Neraka
  • Nilai Kehidupan
  • Konsep Islam Mengikis Korupsi
  • Shalat Kematian
  • Mempertanyakan Ukhuwah Kita
  • Tiga Faktor Utama Kebahagiaan
  • Menyelaraskan Perkataan Dengan Perbuatan
  • Mengenal Penyakit Hati
  • Pentingnya Menuntut Ilmu dan Kewajiban Mengamalkannya
  • Lezatnya Iman
  • Prinsip-Prinsip Universal Toleransi Antar Umat Beragama
  • Islam, Ya'luu Walaa Yu'laa 'Alaih
  • Islam, dan Ajaran Jihad
  • Kisah Teladan Sahabat Nabi Muhammad Saw
  • Membumikan Akhlak Mulia Dalam Kehidupan
  • Nabi Isa, Kisah dan Hikmahnya
  • Antara Iman dan Amal Sholih
  • Nabi Muhammad Saw, Figur Teladan Umat
  • Menggapai Derajat Siddiqin
  • Dahsyatnya Kiamat dan Tanda Kedatangannya
  • Makna Muhasabah (Evaluasi Diri)
  • Amalan Ahlus Sunnah Wal Jamaah
  • Berinvestasi Dengan Wakaf
  • Ilmu, Simbol Kejayaan Umat
  • Ijabah Do’a
  • Islam Dan Sistem Ekonomi
  • Menggapai Hidup Berkualitas
  • Muhasabah dan Muroqobah, Jalan Menuju Taqwa
  • Hikmah Memperingati Hari Pahlawan
  • Yang Diridhoi Dan Yang Dimurkai Allah
  • Hikmah Ibadah Haji
  • Esensi Haji Mabrur
  • Pola Hidup Sehat Menurut AlQur'an
  • Berdakwah Dengan Hikmah
  • Komunisme dan Bahaya Komunis
  • Cinta Allah Kepada Hambanya
  • Menjaga Diri Dari Makanan Dan Minuman Yang Haram
  • Wibawa Umat
  • Menuntut Ilmu Tanpa Batas
  • Rahasia Keberkahan Ramadhan
  • Menggapai Puncak Keimanan
  • Mendalami Makna Ukhuwah
  • Amalan Penting Menyambut Bulan Ramadhan
  • Memurnikan Niat, Menyongsong Bulan Ramadhan
  • Menempuh Jalan Lurus, Dunia Hingga Akhirat
  • Makna Isra’ Mi’raj Dalam Kehidupan
  • Kiat Memperbaiki Moralitas Bangsa
  • Membumikan Akhlak Rasulullah Saw
  • Membangun Generasi Rabbany
  • Kisah Nabi Isa Dalam Al-Quran Dan Injil
  • Kepemimpinan Rabbani
  • Sufi Dan Sufisme Di Era Global
  • Menggapai Hidup Bahagia
  • Penyakit Hati Dan Obat Penawarnya
  • Peranan Masjid Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Umat
  • Batas-Batas Toleransi Antar Umat Beragama
  • Bulan Kemuliaan Antara Islam Dan Jawa
  • Politik, Antara Norma Dan Realita
  • Aqidah Dan Akhlaq Seorang Pemimpin
  • Rasulullah Tauladan Sepanjang Zaman
  • Mengapa Syi'ah Bermasalah
  • Keunggulan Syariat Allah Swt
  • Hikmah Dzikrul Maut
  • Kiat Mengikis Tradisi Khurofat
  • Istiqomah Tahun 2012
  • Membangun Surga Dalam Keluarga
  • Menggapai Rahmat Allah
  • Hijrah, Upaya Mempertahankan Aqidah
  • Kewajiban Dakwah Bagi Setiap Muslim
  • Dakwah di Tengah Kemajemukan Umat
  • Islam Mengutamakan Kualitas Bukan Kuantitas
  • Menuju Arah Pendidikan Yang Ideal
  • Sucikan Harta Dengan Berderma
  • Terapi Penyakit Hati
  • Strategi Menghadapi Ghozwul Fikri
  • Hakekat Konsep Jihad Dalam Perspektif Islam
  • Urgensi Mengenal Produk Halal dan Baik
  • Mempertahankan Fithrah Manusia
  • Kembali Kepada Allah
  • Merenungi Alam Raya
  • Memperkokoh Ukhuwah Islamiyah
  • Merefleksikan Puasa Ramadhan
  • Tantangan Da'wah di Era Global
  • Kewajiban Memberantas Kemungkaran
  • Persiapan Menghadapi Puasa Ramadhan
  • Islam Agama Nasehat
  • Hak Terhadap Allah, Terhadap Diri Sendiri Dan Terhadap Sesama
  • Kontektualisasi Pemahaman Isra’ Mi’raj
  • Hidup Damai Dengan Islam
  • Doa, Senjata Orang Beriman
  • Kedudukan Wanita Dalam Perspektif Islam
  • Mengikis Budaya Korupsi
  • Cuci Otak
  • Menggapai Rahmat Dengan Taubat
  • Keseimbangan Investasi Dunia Akhirat
  • Urgensi Mendahulukan Kualitas Atas Kuantitas Dalam Beramal
  • Manusia-Manusia Unik Dalam Alqur’an
  • Amar Makruf Nahi Mungkar
  • Memupuk Kepedulian Sosial
  • Pilar-Pilar Kejayaan Islam
  • Keunggulan Ajaran Islam
  • Keagungan Akhlak Rasulullah Saw
  • Rasululloh Sebagai Uswah
  • Keteladanan Kisah Nabi Nuh As
  • Keutamaan Shalat Lail
  • Niat Pangkal Seluruh Aktivitas
  • Membentuk Keshalihan Ritual dan Sosial
  • Dunia Sebagai Ladang Akhirat
  • Muhasabah Tahun Baru
  • Batas-batas Toleransi Antar Umat Beragama
  • Do’a, Perisai Mukmin
  • Islam Agama Seluruh Nabi dan Rasul
  • Mengenang Kembali Makna Hijriyah
  • Risywah, Macam dan Bahayanya
  • Iman Sebagai Kekuatan Moral
  • Bahagia Saat Orang Lain Bahagia
  • Islam Kenikmatan Yang Agung dan Sempurna
  • Penyakit Sosial dalam Sorotan Syariat
  • Manusia Makhluk Fitri
  • Kiat Mencapai Derajat Taqwa
  • Riya’, Penyakit Amal Kebajikan
  • Membentuk Kesehatan Jasmani dan Rohani
  • Mengantisipasi Aliran Sesat
  • Urgensi Membaca dan mengamalkan Al-Qur’an
  • Musik Bata
  • Sedekah yang Barakah
  • Nilai Pendidikan Ramadhan
  • Dr. H. Imam Mawardi, MA
  • Nikah, Hakikat dan Urgensinya
  • Pengendalian Hawa Nafsu
  • Memberantas Kebodohan
  • Menggapai Hidup Barakah
  • Profil Manusia Bertaqwa
  • Akhlaq Mahmudah dan Akhlaq Madzmumah
  • Menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
  • Urgensi Ukhuwah Islamiyah
  • Syirik, Macam dan Bahayanya
  • Bersihkan Harta dan Hati untuk Bangun Negeri
  • Menghadapi Ujian Tahta Harta Dan Wanita