Khutbah Jum'at
 

Prof DR H Ahmad Zahro, MA

Hikmah Memperingati Hari Pahlawan

13-11-2012 | 15:57:54

Sekitar 67 tahun yang lalu, di hari seperti sekarang ini, Surabaya sedang bergolak. Dan puncaknya pada tanggal 10 November. Terjadi perang besar, antara kekuatan semangat “Jihad” melawan tentara dengan peralatan modern dan lengkap. Sungguh kita wajib melanjutkan apa yang telah dirintis oleh pahlawan kita. Dan memperingari hari pahlawan, merupakan bagian dari upaya meneladani mereka, melanjutkan perjuangan mereka dan upaya mengenang mereka.

Namun, yang terjadi amat disayangkan dalam tulisan-tulisan sejarah, ada distorsi informasi. Bahwa kemenangan bangsa Indonesia, yang mayoritas umat Islam, semangat “Allahu Akbar” yang dikumandangkan Bung Tomo, tentara hizbullah serta pasukan Kiyai dan santri seluruh Jawa, bermuara pada keputusan Pimpinan NU, pada tanggal 22 November, yang terkenal dengan Resolusi Jihad. Sehingga bisa dikatakan, tanpa adanya resolusi itu, sepertinya mustahil arek-arek Suroboyo punya keberanian, melawan kekuatan dahsyat, tentara Inggris. Karena dengan resolusi jihad yang isi intinya mewajibkan setiap umat Islam untuk melawan penjajah. Nah, dengan resolusi jihad inilah yang membakar semangat para kiai, santri, para pemuda, dan seruluruh komponen umat Islam berbondong-bondong menuju Surabaya yang kemudian disebut dengan Arek-arek Suroboyo, walaupun sesungguhnya bukan hanya orang Surabaya.

Kebenaran sejarah seperti ini harus dijelaskan kepada generasi, bahwa semangat 10 November tidak boleh dipisah dengan Resolusi Jihad yang dikobarkan oleh NU. Dan pada pada pertempuran itu, gugurlah sekitar 60.000 syuhada’. Namun, tentara Inggris berhasil dilumpuhkan, bahkan dua jenderal bisa dibunuh, dan kemenangan dapat diraih. Dan dari peristiwa inilah kemerdekaan bisa dipertahankan. Andaikata bangsa Indonesia kalah saat pertempuran 10 November itu, proklamasi kemerdekaan akan lenyap juga, dan kita akan terjajah lagi. Sehingga, keikutsertaan para Kiai, para santri dalam melaksanakan Resolusi Jihad, tidak boleh dianggap remeh, dan tidak boleh dikecilkan, apalagi dihilangkan dalam catatan sejarah.

Peristiwa ini juga akan sama dengan peristiwa G 30 S PKI tahung 1965. Memang, korban pertama peristiwa ini adalah para Jenderal, tetapi ternyata setelah banyak dokumen ditemukan bahwa, para kiai juga termasuk target mereka. Hal ini dibuktikan di Kanigoro Kediri, yang menjadi korban adalah para kiai. Peristiwa tahun 1948 di Madiun, para korbanya mayoritas juga kiai. Dalam perspektif ajaran Islam, Bughot (pemberontakan terhadap negara), harus dilawan dan harus diperangi. Maka ketika pemerintah melawan pemberontak PKI, umat Islam ikut bangkit. Karena nasib agama dan umat Islam di Indonesia akan lenyap, jika pemberontakan PKI sukses menguasai Indonesia. Atas dasar pertimbangan itu, maka dikomandokan juga Jihad. Maka Pemuda Anshor, Banser, Kiai, semua bergerak untuk melawan pemberontak PKI. Tanpa keterlibatan mereka, saya tidak yakin ABRI akan mampu menghadapi pemberontakan PKI.

Hari-hari ini atas nama HAM, mulai ada pengungkitan. Warga NU akan dipersoalkan di PBB, terkait pemberontakan 30 S PKI. Andai itu terjadi, maka para kiai pasti akan memberi komando lagi, dan tentu Umat Islam akan siap Jihad lagi. Kita semua tahu bahwa mereka memberontak, lalu mengapa setelah banyak korban berjatuhan, atas nama HAM, mereka berbicara. Menurut logika, kalau mereka tidak mati, kita yang akan mati. Maka, hendaknya jangan main-main dengan umat Islam di Indonesia, karena sudah berkali-kali terjadi, kalau para kiai sudah mengomando Jihad, maka semua akan bergerak, karena Umat Islam menganggap bahwa, nyawa terlalu kecil dibandingakan dengan nilai jihad. Intinya umat Islam yang mayoritas Islam ini, “tidak takut mati”, kalau untuk mempertahankan agamanya. Dan hal ini telah terbukti, bahwa senjata apapun akan dilawan dengan semangat Jihad. Karena umat Islam yakin kalau berjuang di jalan Allah, maka malaikat akan mendukungnya. Di samping itu umat Islam yakin betul dengan keutamaan-keutamaan berjihad.

Untuk itu, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan berkaitan peringatan hari pahlawan 10 November ini : Pertama, siapapun yang menyelenggarakan Gerak Jalan Mojokerto-Surabaya, dalam rangka memperingati hari Pahlawan, saya ingatkan kembali, bahwa peserta jalan sehat, jangan sampai meninggalkan sholat. Dan sudah saya sampaikan kepada penyelenggara, bahwa jangan sampai menyebabkan umat Islam peserta gerak jalan meninggalkan shalat. Karena hal itu akan menjadikan peringatan yang salah kalau hanya demi gerak jalan, lalu meninggalkan shalat. Maka, pelaksanaannya harusnya setelah Dhuhur, sehingga bisa shalat Dhuhur jama’ taqdim dengan Ashar, dan nanti Maghribnya jama’ ta’khir dengan Isya’. Jangan sampai Allah SWT murka kepada bangsa yang mayoritas muslim ini, kemudian menyelenggarakan peringatan-peringatan demi hari pahlawan, tetapi dengan melanggar aturan Allah SWT.

Kedua, sebagai bangsa yang pandai berterima kasih kepada para pahlawan syuhada’ di negeri ini, khususnya mujtahiduun 10 November, kita setidaknya mewarisi semangat juangnya. Kita jangan menjadi bangsa yang gampang silau dengan bangsa lain. Bangsa yang besar ini bisa dipermalukan oleh negara yang kecil. Misalnya, para TKW kita jadi bahan ekploitasi. Maka, saya pernah mengatakan bahwa TKW itu hukumnya haram, jika tidak sangat darurat. Karena banyak aturan agama yang dilanggar. Dan nyatakan di negara tempatnya bekerja, juga banyak masalah, disiksa, dikurangi gajinya, bahkan tidak sedikit yang diperkosa. Sedarurat apapun kalau tidak mengancam nyawa, maka kewajiban pemerintah untuk menyejahterakannya dengan memberi pekerjaan. Devisa masuk, tetapi korban berjatuhan. Sekali lagi, hukum asal TKW adalah haram. Wanita keluar sendirian itu saja sudah di larang, tidak ijin suami, juga dilarang. Di tempat kerja yang banyak masalah, jelas terlarang, dar’ul mafaasid muqaddamun alaa jalbil mashoolih (menghindari bahaya, harus diutamakan daripada mencari keuntungan). Namun yang pasti, kita harus punya harga diri, di hadapan bangsa manapun, seperti pahlawan 10 November yang sebenarnya waktu itu tidak ada apa-apanya dibanding dengan kekuatan Inggris. Tetapi, demi harga diri, mereka maju melawan denan gagah berani.

Ketiga, sungguh kita harus belajar dengan sejarah. Ada ungkapan kata hikmah terbaru. Ada kata mutiara yang menurut sastrawan Arab terbaik di seluruh dunia setelah Al-Qur’an. Sampai-sampai pencetusnya disebut Amiirus Syu’araa’ (pangerannya para penyair). Bunyinya : Innamal umamul akhlaaquhu maa baqiyat, fain humu dhahabat ahklaaquhum dzahabuu (sungguh keberadaan suatu bangsa, terikat dengan akhlaknya, jika akhlaknya luntur, hancurlah umat itu). Dan rupanya, bangsa Indonesia sudah diambang itu. Dosa bangsa ini, sudah terlalu banyak. Oleh karena itu, mari kita serukan kepada diri, dan umat kita, lingkungan kita, harus taubat nasuha yang berskala nasional. Semoga para pemimpin kita menyadari, bahwa kita ini sudah terlalu banyak melakukan dosa, banyak penyimpangan, hukum-hukum Allah sudah banyak yang dilanggar dan banyak yang tidak diterapkan. Misalnya, mentolelir minuman keras, postitusi, pelacuran dlsb. Bahkan membuat hukum sendiri yang bertentangan dengan hukum Allah, hal ini harus kita hilangkan dan diganti dengan hukum Allah. Jika sudah taubat, maka pintu ke arah kesejahteraan akan terbuka.

Khutbah sebelumnya :

  • Menjadi Umat yang Terbaik
  • Urgensi Pemurnian Aqidah Dalam Membangun Bangsa
  • Kejujuran Kunci Kesuksesan
  • Menjadi Umat Nabi Muhammad yang Hakiki
  • KERUKUNAN UMAT BERAGAMA, PILAR NEGARA RI
  • Menyelesaikan Perbedaan
  • Mengukur Kadar Keimanan
  • KH Agoes Ali Masyhuri
  • Ukhuwah Demi Muruu’ah (Martabat)
  • Kecerdasan Spiritual
  • Hijrah, Momentum Mempererat Persaudaraan
  • Refleksi 51 Tahun Pemberontakan G-30-S/PKI
  • Urgensi Tauhid dalam Mengangkat Derajat & Martabat Muslimin
  • Kecintaan Sesama, Bukti Cinta Kepada Allah
  • Syukur dan Bahagia
  • Singa dalam Senyap
  • Berteknologi Tanpa Iman
  • Hakekat Pahlawan
  • Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan
  • Menggapai Bahagia, Hubungkan Bumi dengan Langit
  • Kehidupan Dunia Sementara
  • Takabbur dan Tawadhu’
  • Pasar dalam Islam
  • Memberi Tanpa Menyakiti
  • Ramadhan, Bulan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
  • Hakikat Ibadah
  • Meraih Derajat Muttaqiin
  • Merindukan Ramadhan
  • Jihad Akbar Bukan Sembarang Jihad
  • Merajut Ukhuwah Islamiyah
  • Debu Takwa Pembebas Derita
  • Isra’ Mi’raj Momentum Evaluasi Shalat
  • Keutamaan Shadaqah
  • Ikhtiar, Do’a dan Tawakkal
  • Qanaah Bukti Keimanan Seseorang Kepada Allah
  • Mengemban Amanat Agama
  • Ujian, Bukti Cinta Allah kepada Hambanya
  • Menuju Kecintaan Kepada Allah Swt
  • Masa dan Manusia
  • Segera Bertaubat sebelum Terlambat
  • Kesehatan Jasmani dan Rohani
  • Memaafkan dan Mendamaikan
  • Mengungkap Hikmah Shabar
  • Membangun Bangsa dengan Imtaq dan Iptek
  • Meningkatkan Iman Dan Taqwa di Tahun 2016
  • Fadhilah Membahagiakan Orang Lain
  • Bukti Cinta Rasulullah Kepada Umatnya
  • Strategi Umat Islam Menghadapi Tantangan Global
  • Lemah Lembut dan Murah Hati
  • Keserasian Aqidah, Syariah dan Akhlak
  • Dzikirnya Orang yang Cerdik Cendikia
  • Budi Pekerti yang Luhur
  • Persatuan, Modal Kesuksesan Bangsa
  • Pentingnya Belajar dari Sejarah
  • Mewaspadai Golongan Ekstrim
  • Menemukan “Ibrahim” Era Baru
  • Amalan Subtansional
  • Bermuamalah dengan Non Muslim
  • Merdeka dalam Perspektif Islam
  • Mempertahankan Persaudaraan dalam Bingkai Iman
  • Petunjuk Allah dalam Menghadapi Cobaan Hidup
  • Amalan Penting Pasca Ramadhan
  • Wakaf dan Kesejahteraan Umat
  • Jiwa Yang Fitrah, Kunci Kebahagiaan Dunia Akhirat
  • 5 Wasiat Menuju Pribadi Unggul
  • Syawwal, Bulan Peningkatan
  • Puasa, Makna dan Filosofinya
  • Berbenah Diri Menyambut Bulan Suci
  • Konsep Beragama dalam Bingkai Nkri
  • Pedoman Pergaulan dalam Rumah Tangga
  • Makna Shalat, Historis dan Filosofis
  • Essensi Shalat dalam Kehidupan
  • Penghargaan untuk Merubah Masa Depan
  • Beri Upah Pekerja, Sebelum Keringat Menetes
  • Keseimbangan Materi dan Nurani
  • Orang-Orang yang Jauh dari Hidayah Allah
  • Ayat-ayat Allah di Alam Semesta
  • Islam Kaafah dalam Berbangsa dan Bernegara
  • Muslim yang Ikhlas
  • Ancaman Orang yang Mengabaikan Zakat
  • Dampak Kesehatan Jiwa Terhadap Kesehatan Jasmani
  • Urgensi Musyawarah dalam Setiap Urusan
  • Pedoman Memilih Pemimpin Menurut Pandangan Islam
  • Keluhuran Akhlak Jaminan Kejayaan Bangsa
  • Empat Pilar Akhlaq Mulia
  • Jihad Melawan Hawa Nafsu
  • Sifat Orang Kafir
  • Berhati-Hati dengan Tipudaya Dunia
  • Unjuk Rasa dalam Islam
  • Refleksi di Tahun Baru
  • Mengenal Hadis-Hadis Israiliyaat
  • Fleksibelitas dalam Hukum Islam
  • Teladan Rasulullah dalam Intrepreneurship
  • Mewujudkan Islam Kaaffah (Menyeluruh)
  • Membangun Masyarakat Bermartabat, Mewujudkan Negara Damai Sejahtera
  • Hidup Mulia dengan Islam
  • Haji dan Perbaikan Moral Umat
  • Urgensi Bersahabat dengan Orang yang Shalih
  • Menyongsong Era Baru Kepemimpinan Nasional
  • Ekonomi Islam dan Konvensional
  • Menegakkan dan Memelihara Keutamaan Islam
  • Memupuk Jiwa Berkurban
  • Dunia Adalah Ladang Akhirat
  • Kemerdekaan yang Hakiki
  • Urgensi Mengajak Kepada Kebaikan
  • Manusia Adalah Makhluk Fitri
  • Dusta Merupakan Sumber Malapetaka
  • Mempersiapkan Diri Menghadapi Bulan Suci
  • Menjaga Diri Dengan Yang Halal
  • Menimba Hikmah Kisah Nabi Isa a.s.
  • Akibat Orang Yang Menukar Ayat-Ayat Allah
  • Manajemen Dakwah Efektif Aplikatif
  • Kedekatan Manusia di Sisi Allah Swt
  • Membangun Karakter Asmaul Husna
  • Keutamaan Jihad Dengan Harta
  • Keteladanan Rasulullah Saw
  • Kearifan Lokal Dalam Perspektif Islam
  • Mendalami Makna Ukhuwah
  • Peran Ulama’ Dalam Kehidupan Bernegara
  • Islam Agama Universal
  • Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an
  • Tugas Rasul Penyempurna Akhlak Manusia
  • Meneladani Figur Rosulullah SAW
  • Makna Muhasabah (Evaluasi Diri)
  • Petunjuk Rasulullah Tentang Alam Kubur
  • Islam Dan Terjaganya Perilaku
  • Membentuk Muslim Unggul
  • Ilmu Waris, Bagian Dari Agama dan Setengah Dari Ilmu
  • Menggapai Derajat Dengan Ilmu Pengetahuan
  • Upaya Mewujudkan Khoira Ummat (Umat Tebaik)
  • Amalan-Amalan Dalam Rangka Mengisi Tahun Baru Hijriyah
  • Syukur Menjadi Bangsa Indonesia
  • Spirit Tahun Baru Hijriyah
  • Indikator Haji yang Mabrur
  • Penerapan Nilai-Nilai Islam dalam Peradaban Masa Kini
  • Problematika Umat
  • Seputar Ibadah Haji dan Umrah
  • Kemiskinan dalam Pandangan Islam
  • Muslim Selektif Produktif
  • Syahadat, Makna dan Konsekuensinya
  • Menata Hidup dan Kehidupan Dalam Perspektif Islam
  • Urgensi Mempertahankan Kualitas Ibadah
  • Tasamuh, Ta’awun dan Tadlomun
  • Sillaturrahim Dalam Lebaran
  • Kewajiban Dakwah Dalam Berbagai Situasi dan Kondisi
  • Keluh Kesah Manusia Dalam Hidup
  • Amalan-Amalan Penguat Iman
  • Mempertahankan Aqidah di Tengah Benturan Budaya
  • Antara Hak dan Tanggung Jawab
  • Meyakini Kebenaran Ayat-Ayat Al Qur’an
  • Menjaga Diri dan Keluarga dari Api Neraka
  • Nilai Kehidupan
  • Konsep Islam Mengikis Korupsi
  • Shalat Kematian
  • Mempertanyakan Ukhuwah Kita
  • Tiga Faktor Utama Kebahagiaan
  • Menyelaraskan Perkataan Dengan Perbuatan
  • Mengenal Penyakit Hati
  • Pentingnya Menuntut Ilmu dan Kewajiban Mengamalkannya
  • Lezatnya Iman
  • Prinsip-Prinsip Universal Toleransi Antar Umat Beragama
  • Islam, Ya'luu Walaa Yu'laa 'Alaih
  • Islam, dan Ajaran Jihad
  • Kisah Teladan Sahabat Nabi Muhammad Saw
  • Membumikan Akhlak Mulia Dalam Kehidupan
  • Nabi Isa, Kisah dan Hikmahnya
  • Antara Iman dan Amal Sholih
  • Nabi Muhammad Saw, Figur Teladan Umat
  • Menggapai Derajat Siddiqin
  • Dahsyatnya Kiamat dan Tanda Kedatangannya
  • Makna Muhasabah (Evaluasi Diri)
  • Amalan Ahlus Sunnah Wal Jamaah
  • Berinvestasi Dengan Wakaf
  • Ilmu, Simbol Kejayaan Umat
  • Ijabah Do’a
  • Islam Dan Sistem Ekonomi
  • Menggapai Hidup Berkualitas
  • Muhasabah dan Muroqobah, Jalan Menuju Taqwa
  • Hikmah Memperingati Hari Pahlawan
  • Yang Diridhoi Dan Yang Dimurkai Allah
  • Hikmah Ibadah Haji
  • Esensi Haji Mabrur
  • Pola Hidup Sehat Menurut AlQur'an
  • Berdakwah Dengan Hikmah
  • Komunisme dan Bahaya Komunis
  • Cinta Allah Kepada Hambanya
  • Menjaga Diri Dari Makanan Dan Minuman Yang Haram
  • Wibawa Umat
  • Menuntut Ilmu Tanpa Batas
  • Rahasia Keberkahan Ramadhan
  • Menggapai Puncak Keimanan
  • Mendalami Makna Ukhuwah
  • Amalan Penting Menyambut Bulan Ramadhan
  • Memurnikan Niat, Menyongsong Bulan Ramadhan
  • Menempuh Jalan Lurus, Dunia Hingga Akhirat
  • Makna Isra’ Mi’raj Dalam Kehidupan
  • Kiat Memperbaiki Moralitas Bangsa
  • Membumikan Akhlak Rasulullah Saw
  • Membangun Generasi Rabbany
  • Kisah Nabi Isa Dalam Al-Quran Dan Injil
  • Kepemimpinan Rabbani
  • Sufi Dan Sufisme Di Era Global
  • Menggapai Hidup Bahagia
  • Penyakit Hati Dan Obat Penawarnya
  • Peranan Masjid Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Umat
  • Batas-Batas Toleransi Antar Umat Beragama
  • Bulan Kemuliaan Antara Islam Dan Jawa
  • Politik, Antara Norma Dan Realita
  • Aqidah Dan Akhlaq Seorang Pemimpin
  • Rasulullah Tauladan Sepanjang Zaman
  • Mengapa Syi'ah Bermasalah
  • Keunggulan Syariat Allah Swt
  • Hikmah Dzikrul Maut
  • Kiat Mengikis Tradisi Khurofat
  • Istiqomah Tahun 2012
  • Membangun Surga Dalam Keluarga
  • Menggapai Rahmat Allah
  • Hijrah, Upaya Mempertahankan Aqidah
  • Kewajiban Dakwah Bagi Setiap Muslim
  • Dakwah di Tengah Kemajemukan Umat
  • Islam Mengutamakan Kualitas Bukan Kuantitas
  • Menuju Arah Pendidikan Yang Ideal
  • Sucikan Harta Dengan Berderma
  • Terapi Penyakit Hati
  • Strategi Menghadapi Ghozwul Fikri
  • Hakekat Konsep Jihad Dalam Perspektif Islam
  • Urgensi Mengenal Produk Halal dan Baik
  • Mempertahankan Fithrah Manusia
  • Kembali Kepada Allah
  • Merenungi Alam Raya
  • Memperkokoh Ukhuwah Islamiyah
  • Merefleksikan Puasa Ramadhan
  • Tantangan Da'wah di Era Global
  • Kewajiban Memberantas Kemungkaran
  • Persiapan Menghadapi Puasa Ramadhan
  • Islam Agama Nasehat
  • Hak Terhadap Allah, Terhadap Diri Sendiri Dan Terhadap Sesama
  • Kontektualisasi Pemahaman Isra’ Mi’raj
  • Hidup Damai Dengan Islam
  • Doa, Senjata Orang Beriman
  • Kedudukan Wanita Dalam Perspektif Islam
  • Mengikis Budaya Korupsi
  • Cuci Otak
  • Menggapai Rahmat Dengan Taubat
  • Keseimbangan Investasi Dunia Akhirat
  • Urgensi Mendahulukan Kualitas Atas Kuantitas Dalam Beramal
  • Manusia-Manusia Unik Dalam Alqur’an
  • Amar Makruf Nahi Mungkar
  • Memupuk Kepedulian Sosial
  • Pilar-Pilar Kejayaan Islam
  • Keunggulan Ajaran Islam
  • Keagungan Akhlak Rasulullah Saw
  • Rasululloh Sebagai Uswah
  • Keteladanan Kisah Nabi Nuh As
  • Keutamaan Shalat Lail
  • Niat Pangkal Seluruh Aktivitas
  • Membentuk Keshalihan Ritual dan Sosial
  • Dunia Sebagai Ladang Akhirat
  • Muhasabah Tahun Baru
  • Batas-batas Toleransi Antar Umat Beragama
  • Do’a, Perisai Mukmin
  • Islam Agama Seluruh Nabi dan Rasul
  • Mengenang Kembali Makna Hijriyah
  • Risywah, Macam dan Bahayanya
  • Iman Sebagai Kekuatan Moral
  • Bahagia Saat Orang Lain Bahagia
  • Islam Kenikmatan Yang Agung dan Sempurna
  • Penyakit Sosial dalam Sorotan Syariat
  • Manusia Makhluk Fitri
  • Kiat Mencapai Derajat Taqwa
  • Riya’, Penyakit Amal Kebajikan
  • Membentuk Kesehatan Jasmani dan Rohani
  • Mengantisipasi Aliran Sesat
  • Urgensi Membaca dan mengamalkan Al-Qur’an
  • Musik Bata
  • Sedekah yang Barakah
  • Nilai Pendidikan Ramadhan
  • Dr. H. Imam Mawardi, MA
  • Nikah, Hakikat dan Urgensinya
  • Pengendalian Hawa Nafsu
  • Memberantas Kebodohan
  • Menggapai Hidup Barakah
  • Profil Manusia Bertaqwa
  • Akhlaq Mahmudah dan Akhlaq Madzmumah
  • Menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
  • Urgensi Ukhuwah Islamiyah
  • Syirik, Macam dan Bahayanya
  • Bersihkan Harta dan Hati untuk Bangun Negeri
  • Menghadapi Ujian Tahta Harta Dan Wanita