Khutbah Jum'at
 

KH Mu'ammal Hamidy, Lc

Sillaturrahim Dalam Lebaran

21-08-2013 | 14:52:56

Idul Fitri, di kalangan kita dikenal dengan lebaran. Berasal dari kata 'lebar', (bahasa Jawa) berseri sudah, atau lebar, yang artinya luas. Maka, idul fitri disebut lebaran, karena usai melaksanakan puasa, dan atau lapang, artinya lapang dada. Karena itu dalam tradisi kita, lebaran diisi dengan bersilaturrahim dan saling minta ma'af atas segala kesalahan dan kekhilafan.

Hari Raya, atau 'Iedun itu sendiri dalam bahasa Arab artinya adalah bersenang-senang, bergembira ria. Dalam sebuah riwayat, dikatakan bahwa ada dua gadis (hamba sahaya) bernyanyi dan menabuh tabuhan di hadapan Nabi Saw, yang ketika itu adalah hari raya. Lalu Abu Bakar masuk, dan dilaranglah oleh Abu Bakar. Maka jawab Nabi Saw: " Biarkan, hai Abu Bakar, ini kan hari raya". Jadi, berarti hari raya itu adalah hari bersenang-senang. Dan karena Nabi Saw tidak menetapkannya apa bentuk bersenang-senang itu, maka boleh saja orang mengadakan bentuk bersenang-senang menurut seleranya, sepanjang tidak menyimpang dari ajaran Islam. Bersilaturahim, adalah salah satu bentuk bersenang-senang. Sekaligus salah satu bagian penting dalam ajaran Islam, dengan jaminan akan mendapatkan berbagai kebaikan, sebagaimana sabdanya Anas bin Malik meriwayatkan dari Rasulullah Saw, beliau berabda : " Barangsiapa yang ingin rezekinya diluaskan dan umurnya dipanjangkan, maka hendaklah dia bersilaturahim ". (HR Bukhari dan Muslim).

Dan kalau kemudian dihubungkan dengan 'minta ma'af' orang Jawa menyebutnya dengan keluputan, karena ada kaitannya dengan puasa, yang notabene untuk penghapusan dosa, baik dosa dengan Allah ataupun dosa dengan sesama manusia, agar tidak menjadi orang yang muflis seperti yang ditakutkan oleh Rasulullah Saw, dalam hadisnya : Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda : Taukah kalian siapakah orang yang bangkrut di kalangan kita ini ? Mereka menjawab : Orang yang bangkrut di kalangan kita yaitu orang yang tidak mempunyai uang dan barang sesuatu apapun. Lalu jawab beliau : Orang yang bangkrut di kalangan kita yaitu orang yang nanti menghadap Allah dengan membawa pahala shalat, pahala puasa dan pahala zakat, tetapi dia juga datang (dengan membawa dosa) karena mencacimaki ini dan menuduh ini, makan harta ini, menumpahkan darah ini dan memukuli ini, lalu yang ini diberi sebagian dari kebaikan-kebaikannya dan yang ini diberi dari sebagian kebaikan-kebaikannya, sehingga apabila kebaikan-kebaikannya itu habis sebelum terpenuhi apa yang menjadi tanggungannya, maka diambillah sebagian dari kejelekan-kejelekan orang yang disakitinya itu untuk dilemparkan kepadanya, kemudian dia dilempar ke neraka. (HR Muslim).

Dengan bersilaturrahim, kiranya segala kekurangan di atas itu dapat teratasi, yaitu dapat saling mema'afkan. Tidak saja itu, bahkan kesatuan dan persatuan akan terwujud dengan penuh kekuatan. Karena bersilaturrahim itu mempunyai daya ikat yang sangat kuat sekali. Kalau kondisi kita sekarang ini dalam ketertinggalan dalam berpacu dengan pihak lain, factor utamanya karena tidak adanya persatuan di kalangan kita, padahal silaturrahim itu amat sangat ditekankan dalam Islam, padahal amaliyah-amaliyah ibadah kita pun satu macam. Itu menggambarkan betapa persatuan dan kesatuan itu ditekankan dalam Islam. Barangkali ini penyebabnya karena kekurangan kita dalam bersilaturrahim, dalam arti yang sebenarnya. Atau karena salah ucap. Yaitu "silaturahmi" bukan "silaturrahim". Karena antara silaturahmi dan silaturrahim berbeda pengertiannya. Dalim kamus Munjid silaturahmi adalah "daun fir rahim" atau penyakit dalam rahim. Sedang silaturrahmi yaitu dua kata "silah" (menyambung) dan "rahim" yang berarti kasih sayang. Tempat kandungan disebut rahim, karena di tempat inilah rasa kasih sayang ibu terhadap anak tumbuh. Sehingga "silaturrahim" berarti menghubungi penyakit dalam rahim, karena anak-anak itu dari situ, maka anak-anak ini harus dihubungkan agar satu sama lain saling sayang menyayangi. Sehingga silaturrahim berarti hubungan keluarga dengan penuh rasa kasih sayang.

Silaturrahim dalam Islam tidak sebatas antar keluarga yang ada keturunan darah, tetapi jauh lebih luas, antara sesama karyawan, sesama pegawai, sesama pimpinan instituisi, sesama jama'ah suatu jam'iyah, bahkan antara pimpinan lembaga. Dan semuanya itu harus dengan niat demi cinta dan kasih sayang, sebagai pencerminan dari ukhuwah, yang oleh al-Qur'an diibaratkan saudara sekandung. (Qs al-Hujurat 10). Maknanya : Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.

Ukhuuwah atau ikhwah. dalam hadis diibaratkan sebuah bangunan yang kompo-sisinya satu sama lain saling mengikat : Abu Musa meriwayatkan dari Nabi Saw beliau bersabda : Sesungguhnya seorang mukmin satu dengan mukmin lainnya itu bagaikan sebuah bangunan yang komponen satu mengikat komponen lainnya, sambil beliau menganyam jari jemarinya (HR Bukhari dan Muslim).

Atau seperti sebuah tubuh, yang apabla satu anggota terkena sakit yang lain ikut merasakan sakit juga : Nu'man bin Basyir mengatakan : Rasulullah Saw bersabda : " Perumpmaan orang-orang mukmin dalam hal kecintaan, kasih sayang dan belaskasihnya sesama sudaranya itu tak ubahnya sebuah tubuh, jika satu anggota sakit seluuruh tubuhnya turut merasakan tidak bisa tidur dan terasa demam ", (HR Ahmad dan Muslim ).

Silaturahim dengan perasaan seperti itulah, yang kini tidak ada pada jiwa kita, yang nampak hanya simbolis belaka. Sehingg kalau kita bertemu atau mengadakan pertemuan, termasuk bersliturrahim berkenaan dengan Hari Raua Fithri, lebih banyak simblis, atau basa basi.

Kalau ayat al-Qur'an surat Ali Imran 112 mengatakan, yang maknanya : Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. yang demikian itu karena mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh Para Nabi tanpa alasan yang benar. yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.

Maka ayat ini sebenarnya menyindir kita, Yakni kita kaum muslimin akan terhina, baik di hadapan Allah maupun di hadapan manusia, selama hubungan kita dengan Allah dan hubungan kita sesama manusia ini kurang baik. Bahkan murka Allah pun akan menimpa kita di mana saja kita berada, dan gejalanya sudah banyak. Justru itu kondisi seperti ini harus segera kita perbaiki. Salah satu caranya ialah dengan silaturrahim. Puasa Ramadhan.. yang baru saja kita lalui adalah media yang sangat efektif, tinggal diteruskan. Betapa tidak, dengan tradisi buka bersama di masjid, mushalla. Kantor, perushaan, antar anggota masyarakat dari yang kaya sampai dengan yang miskin, antara karyawan, bahkan antar aparat pemerintah dengan rakyat. Semua berjalan dengan baik, sehngga rasanya alangkah kalau sekiranya hal seperti itu terjadi setiap bulan. Yang dari berbuka bersama dapat dibcarakan berbagai permasalahan yang timbul. Masjid, juga tempat bersilaturrahim yang sangat efektif : (Qs al-Baqarah 125). Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. dan Jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud"

Mari kita jadikan masjid kita ini medan silaturrahim seperti yang digambarkan dalam ayat di atas.

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya Allah Ta'ala menciptakan makhluk sehingga setelah selesai menciptakan mereka, maka rahim berdiri dan berkata: Ini adalah kedudukan yang tepat bagi orang yang berlindung dari memutuskan hubungan silaturrahim, Allah Ta'ala berfirman: "Benar, bukankah engkau senang jika Aku menyambung orang yang menyambung silatur-rahim dan saya memutus orang yang memutuskan silaturrahim. Dia berkata: "Ya, Allah Ta'ala berfirman: "Itulah permohonanmu yang Aku kabulkan."

Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Bacalah jika kalian mau firman Allah Ta'ala (artinya): "Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?" (Muhammad: 22)

Imam Muslim meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu 'anha bahwa dia berkata bahwasanya Rasulullah SAW bersabda : "Rahim bergantung di 'Arsy, lalu berkata: "Barangsiapa yang menyambungku, maka Allah akan menyambungnya dan barangsiapa yang memutuskanku, maka Allah akan memutuskannya".

Sesungguhnya orang-orang yang berakal dan berfikir serta berhati yang jernih akan mampu mencerna makna nasihat kebenaran dan kemudian menjadi peringatan baginya.

Allah Ta'ala berfirman, (QS Ar-Ra'd: 21) maknanya : "Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan, dan mereka takut kepada Rabbnya dan takut kepada hari hisab yang buruk". (Ar-Ra'd: 21)

Inilah sifat seorang mukmin, setiap apa-apa yang diperintahkan Allah Ta'ala untuk menghubungkan, maka mereka pun menghubungkan. Mentaati secara sempurna dan istiqamah di atas kebenaran dan berjalan di Kitabullah dan sunnah Nabi SAW akan mampu menyelamatkan kita dari penyelewengan dan kesesatan. Semoga kita semua bisa melakukannya sebagai bentuk ketundukan kita kepada Allah Sang Pencipta alam semesta.

Khutbah sebelumnya :

  • Menjadi Umat yang Terbaik
  • Urgensi Pemurnian Aqidah Dalam Membangun Bangsa
  • Kejujuran Kunci Kesuksesan
  • Menjadi Umat Nabi Muhammad yang Hakiki
  • KERUKUNAN UMAT BERAGAMA, PILAR NEGARA RI
  • Menyelesaikan Perbedaan
  • Mengukur Kadar Keimanan
  • KH Agoes Ali Masyhuri
  • Ukhuwah Demi Muruu’ah (Martabat)
  • Kecerdasan Spiritual
  • Hijrah, Momentum Mempererat Persaudaraan
  • Refleksi 51 Tahun Pemberontakan G-30-S/PKI
  • Urgensi Tauhid dalam Mengangkat Derajat & Martabat Muslimin
  • Kecintaan Sesama, Bukti Cinta Kepada Allah
  • Syukur dan Bahagia
  • Singa dalam Senyap
  • Berteknologi Tanpa Iman
  • Hakekat Pahlawan
  • Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan
  • Menggapai Bahagia, Hubungkan Bumi dengan Langit
  • Kehidupan Dunia Sementara
  • Takabbur dan Tawadhu’
  • Pasar dalam Islam
  • Memberi Tanpa Menyakiti
  • Ramadhan, Bulan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
  • Hakikat Ibadah
  • Meraih Derajat Muttaqiin
  • Merindukan Ramadhan
  • Jihad Akbar Bukan Sembarang Jihad
  • Merajut Ukhuwah Islamiyah
  • Debu Takwa Pembebas Derita
  • Isra’ Mi’raj Momentum Evaluasi Shalat
  • Keutamaan Shadaqah
  • Ikhtiar, Do’a dan Tawakkal
  • Qanaah Bukti Keimanan Seseorang Kepada Allah
  • Mengemban Amanat Agama
  • Ujian, Bukti Cinta Allah kepada Hambanya
  • Menuju Kecintaan Kepada Allah Swt
  • Masa dan Manusia
  • Segera Bertaubat sebelum Terlambat
  • Kesehatan Jasmani dan Rohani
  • Memaafkan dan Mendamaikan
  • Mengungkap Hikmah Shabar
  • Membangun Bangsa dengan Imtaq dan Iptek
  • Meningkatkan Iman Dan Taqwa di Tahun 2016
  • Fadhilah Membahagiakan Orang Lain
  • Bukti Cinta Rasulullah Kepada Umatnya
  • Strategi Umat Islam Menghadapi Tantangan Global
  • Lemah Lembut dan Murah Hati
  • Keserasian Aqidah, Syariah dan Akhlak
  • Dzikirnya Orang yang Cerdik Cendikia
  • Budi Pekerti yang Luhur
  • Persatuan, Modal Kesuksesan Bangsa
  • Pentingnya Belajar dari Sejarah
  • Mewaspadai Golongan Ekstrim
  • Menemukan “Ibrahim” Era Baru
  • Amalan Subtansional
  • Bermuamalah dengan Non Muslim
  • Merdeka dalam Perspektif Islam
  • Mempertahankan Persaudaraan dalam Bingkai Iman
  • Petunjuk Allah dalam Menghadapi Cobaan Hidup
  • Amalan Penting Pasca Ramadhan
  • Wakaf dan Kesejahteraan Umat
  • Jiwa Yang Fitrah, Kunci Kebahagiaan Dunia Akhirat
  • 5 Wasiat Menuju Pribadi Unggul
  • Syawwal, Bulan Peningkatan
  • Puasa, Makna dan Filosofinya
  • Berbenah Diri Menyambut Bulan Suci
  • Konsep Beragama dalam Bingkai Nkri
  • Pedoman Pergaulan dalam Rumah Tangga
  • Makna Shalat, Historis dan Filosofis
  • Essensi Shalat dalam Kehidupan
  • Penghargaan untuk Merubah Masa Depan
  • Beri Upah Pekerja, Sebelum Keringat Menetes
  • Keseimbangan Materi dan Nurani
  • Orang-Orang yang Jauh dari Hidayah Allah
  • Ayat-ayat Allah di Alam Semesta
  • Islam Kaafah dalam Berbangsa dan Bernegara
  • Muslim yang Ikhlas
  • Ancaman Orang yang Mengabaikan Zakat
  • Dampak Kesehatan Jiwa Terhadap Kesehatan Jasmani
  • Urgensi Musyawarah dalam Setiap Urusan
  • Pedoman Memilih Pemimpin Menurut Pandangan Islam
  • Keluhuran Akhlak Jaminan Kejayaan Bangsa
  • Empat Pilar Akhlaq Mulia
  • Jihad Melawan Hawa Nafsu
  • Sifat Orang Kafir
  • Berhati-Hati dengan Tipudaya Dunia
  • Unjuk Rasa dalam Islam
  • Refleksi di Tahun Baru
  • Mengenal Hadis-Hadis Israiliyaat
  • Fleksibelitas dalam Hukum Islam
  • Teladan Rasulullah dalam Intrepreneurship
  • Mewujudkan Islam Kaaffah (Menyeluruh)
  • Membangun Masyarakat Bermartabat, Mewujudkan Negara Damai Sejahtera
  • Hidup Mulia dengan Islam
  • Haji dan Perbaikan Moral Umat
  • Urgensi Bersahabat dengan Orang yang Shalih
  • Menyongsong Era Baru Kepemimpinan Nasional
  • Ekonomi Islam dan Konvensional
  • Menegakkan dan Memelihara Keutamaan Islam
  • Memupuk Jiwa Berkurban
  • Dunia Adalah Ladang Akhirat
  • Kemerdekaan yang Hakiki
  • Urgensi Mengajak Kepada Kebaikan
  • Manusia Adalah Makhluk Fitri
  • Dusta Merupakan Sumber Malapetaka
  • Mempersiapkan Diri Menghadapi Bulan Suci
  • Menjaga Diri Dengan Yang Halal
  • Menimba Hikmah Kisah Nabi Isa a.s.
  • Akibat Orang Yang Menukar Ayat-Ayat Allah
  • Manajemen Dakwah Efektif Aplikatif
  • Kedekatan Manusia di Sisi Allah Swt
  • Membangun Karakter Asmaul Husna
  • Keutamaan Jihad Dengan Harta
  • Keteladanan Rasulullah Saw
  • Kearifan Lokal Dalam Perspektif Islam
  • Mendalami Makna Ukhuwah
  • Peran Ulama’ Dalam Kehidupan Bernegara
  • Islam Agama Universal
  • Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an
  • Tugas Rasul Penyempurna Akhlak Manusia
  • Meneladani Figur Rosulullah SAW
  • Makna Muhasabah (Evaluasi Diri)
  • Petunjuk Rasulullah Tentang Alam Kubur
  • Islam Dan Terjaganya Perilaku
  • Membentuk Muslim Unggul
  • Ilmu Waris, Bagian Dari Agama dan Setengah Dari Ilmu
  • Menggapai Derajat Dengan Ilmu Pengetahuan
  • Upaya Mewujudkan Khoira Ummat (Umat Tebaik)
  • Amalan-Amalan Dalam Rangka Mengisi Tahun Baru Hijriyah
  • Syukur Menjadi Bangsa Indonesia
  • Spirit Tahun Baru Hijriyah
  • Indikator Haji yang Mabrur
  • Penerapan Nilai-Nilai Islam dalam Peradaban Masa Kini
  • Problematika Umat
  • Seputar Ibadah Haji dan Umrah
  • Kemiskinan dalam Pandangan Islam
  • Muslim Selektif Produktif
  • Syahadat, Makna dan Konsekuensinya
  • Menata Hidup dan Kehidupan Dalam Perspektif Islam
  • Urgensi Mempertahankan Kualitas Ibadah
  • Tasamuh, Ta’awun dan Tadlomun
  • Sillaturrahim Dalam Lebaran
  • Kewajiban Dakwah Dalam Berbagai Situasi dan Kondisi
  • Keluh Kesah Manusia Dalam Hidup
  • Amalan-Amalan Penguat Iman
  • Mempertahankan Aqidah di Tengah Benturan Budaya
  • Antara Hak dan Tanggung Jawab
  • Meyakini Kebenaran Ayat-Ayat Al Qur’an
  • Menjaga Diri dan Keluarga dari Api Neraka
  • Nilai Kehidupan
  • Konsep Islam Mengikis Korupsi
  • Shalat Kematian
  • Mempertanyakan Ukhuwah Kita
  • Tiga Faktor Utama Kebahagiaan
  • Menyelaraskan Perkataan Dengan Perbuatan
  • Mengenal Penyakit Hati
  • Pentingnya Menuntut Ilmu dan Kewajiban Mengamalkannya
  • Lezatnya Iman
  • Prinsip-Prinsip Universal Toleransi Antar Umat Beragama
  • Islam, Ya'luu Walaa Yu'laa 'Alaih
  • Islam, dan Ajaran Jihad
  • Kisah Teladan Sahabat Nabi Muhammad Saw
  • Membumikan Akhlak Mulia Dalam Kehidupan
  • Nabi Isa, Kisah dan Hikmahnya
  • Antara Iman dan Amal Sholih
  • Nabi Muhammad Saw, Figur Teladan Umat
  • Menggapai Derajat Siddiqin
  • Dahsyatnya Kiamat dan Tanda Kedatangannya
  • Makna Muhasabah (Evaluasi Diri)
  • Amalan Ahlus Sunnah Wal Jamaah
  • Berinvestasi Dengan Wakaf
  • Ilmu, Simbol Kejayaan Umat
  • Ijabah Do’a
  • Islam Dan Sistem Ekonomi
  • Menggapai Hidup Berkualitas
  • Muhasabah dan Muroqobah, Jalan Menuju Taqwa
  • Hikmah Memperingati Hari Pahlawan
  • Yang Diridhoi Dan Yang Dimurkai Allah
  • Hikmah Ibadah Haji
  • Esensi Haji Mabrur
  • Pola Hidup Sehat Menurut AlQur'an
  • Berdakwah Dengan Hikmah
  • Komunisme dan Bahaya Komunis
  • Cinta Allah Kepada Hambanya
  • Menjaga Diri Dari Makanan Dan Minuman Yang Haram
  • Wibawa Umat
  • Menuntut Ilmu Tanpa Batas
  • Rahasia Keberkahan Ramadhan
  • Menggapai Puncak Keimanan
  • Mendalami Makna Ukhuwah
  • Amalan Penting Menyambut Bulan Ramadhan
  • Memurnikan Niat, Menyongsong Bulan Ramadhan
  • Menempuh Jalan Lurus, Dunia Hingga Akhirat
  • Makna Isra’ Mi’raj Dalam Kehidupan
  • Kiat Memperbaiki Moralitas Bangsa
  • Membumikan Akhlak Rasulullah Saw
  • Membangun Generasi Rabbany
  • Kisah Nabi Isa Dalam Al-Quran Dan Injil
  • Kepemimpinan Rabbani
  • Sufi Dan Sufisme Di Era Global
  • Menggapai Hidup Bahagia
  • Penyakit Hati Dan Obat Penawarnya
  • Peranan Masjid Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Umat
  • Batas-Batas Toleransi Antar Umat Beragama
  • Bulan Kemuliaan Antara Islam Dan Jawa
  • Politik, Antara Norma Dan Realita
  • Aqidah Dan Akhlaq Seorang Pemimpin
  • Rasulullah Tauladan Sepanjang Zaman
  • Mengapa Syi'ah Bermasalah
  • Keunggulan Syariat Allah Swt
  • Hikmah Dzikrul Maut
  • Kiat Mengikis Tradisi Khurofat
  • Istiqomah Tahun 2012
  • Membangun Surga Dalam Keluarga
  • Menggapai Rahmat Allah
  • Hijrah, Upaya Mempertahankan Aqidah
  • Kewajiban Dakwah Bagi Setiap Muslim
  • Dakwah di Tengah Kemajemukan Umat
  • Islam Mengutamakan Kualitas Bukan Kuantitas
  • Menuju Arah Pendidikan Yang Ideal
  • Sucikan Harta Dengan Berderma
  • Terapi Penyakit Hati
  • Strategi Menghadapi Ghozwul Fikri
  • Hakekat Konsep Jihad Dalam Perspektif Islam
  • Urgensi Mengenal Produk Halal dan Baik
  • Mempertahankan Fithrah Manusia
  • Kembali Kepada Allah
  • Merenungi Alam Raya
  • Memperkokoh Ukhuwah Islamiyah
  • Merefleksikan Puasa Ramadhan
  • Tantangan Da'wah di Era Global
  • Kewajiban Memberantas Kemungkaran
  • Persiapan Menghadapi Puasa Ramadhan
  • Islam Agama Nasehat
  • Hak Terhadap Allah, Terhadap Diri Sendiri Dan Terhadap Sesama
  • Kontektualisasi Pemahaman Isra’ Mi’raj
  • Hidup Damai Dengan Islam
  • Doa, Senjata Orang Beriman
  • Kedudukan Wanita Dalam Perspektif Islam
  • Mengikis Budaya Korupsi
  • Cuci Otak
  • Menggapai Rahmat Dengan Taubat
  • Keseimbangan Investasi Dunia Akhirat
  • Urgensi Mendahulukan Kualitas Atas Kuantitas Dalam Beramal
  • Manusia-Manusia Unik Dalam Alqur’an
  • Amar Makruf Nahi Mungkar
  • Memupuk Kepedulian Sosial
  • Pilar-Pilar Kejayaan Islam
  • Keunggulan Ajaran Islam
  • Keagungan Akhlak Rasulullah Saw
  • Rasululloh Sebagai Uswah
  • Keteladanan Kisah Nabi Nuh As
  • Keutamaan Shalat Lail
  • Niat Pangkal Seluruh Aktivitas
  • Membentuk Keshalihan Ritual dan Sosial
  • Dunia Sebagai Ladang Akhirat
  • Muhasabah Tahun Baru
  • Batas-batas Toleransi Antar Umat Beragama
  • Do’a, Perisai Mukmin
  • Islam Agama Seluruh Nabi dan Rasul
  • Mengenang Kembali Makna Hijriyah
  • Risywah, Macam dan Bahayanya
  • Iman Sebagai Kekuatan Moral
  • Bahagia Saat Orang Lain Bahagia
  • Islam Kenikmatan Yang Agung dan Sempurna
  • Penyakit Sosial dalam Sorotan Syariat
  • Manusia Makhluk Fitri
  • Kiat Mencapai Derajat Taqwa
  • Riya’, Penyakit Amal Kebajikan
  • Membentuk Kesehatan Jasmani dan Rohani
  • Mengantisipasi Aliran Sesat
  • Urgensi Membaca dan mengamalkan Al-Qur’an
  • Musik Bata
  • Sedekah yang Barakah
  • Nilai Pendidikan Ramadhan
  • Dr. H. Imam Mawardi, MA
  • Nikah, Hakikat dan Urgensinya
  • Pengendalian Hawa Nafsu
  • Memberantas Kebodohan
  • Menggapai Hidup Barakah
  • Profil Manusia Bertaqwa
  • Akhlaq Mahmudah dan Akhlaq Madzmumah
  • Menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
  • Urgensi Ukhuwah Islamiyah
  • Syirik, Macam dan Bahayanya
  • Bersihkan Harta dan Hati untuk Bangun Negeri
  • Menghadapi Ujian Tahta Harta Dan Wanita