Khutbah Jum'at
 

Prof. DR H. Ali Maschan Moesa, MSi

Tasamuh, Ta’awun dan Tadlomun

21-08-2013 | 14:54:55

Sosok manusia adalah makhluk yang penuh dengan kekurangan. Secara fisik memang Allah mengatakan fi ahsani taqwim (bentuk yang terbaik), bahkan ada yang memberi penafsiran bukan hanya secara fisik yang membedakan penafsiran fi ahsani taqwim dengan kejadian yang baik itu, karena manusia diberi akal oleh Allah SWT, di samping potensi-potensi yang lain. Tetapi apapun manusia mempunyai kekurangan dan kelemahan, bisa berbuat khilaf, bisa berbuat baik, tetapi terkadang juga semangat berbuat yang jelek yang prosentasinya hampir sama. Maka Allah menyatakan fa alhamahaa fujuurahaa wataqwaahaa. Jadi manusia memiliki dua kecenderungan yang relatif sama yaitu fujur (berbuat dosa yang jelek, yang tidak professional, yang kontra prodiktif, yang merugikan orang lain ataupun kepada dirinya sendiri). Tetapi juga kadang-kadang manusia semangat berbuat baik (wataqwaahaa ). Inilah yang menarik bahwa kadang-kadang orang berbuat baik kadang-kadang berbuat jelek, itu akhirnya tergantung lingkungannya. Dan kalaupun sampai manusia berbuat dengan kekurangan, di sinilah Allah memberikan contoh doa kepada kita (Ya Allah janganlah engkau menghukum kepada kami, kalau kami salah atau lupa). Bahkan kalau memang beban hidup ini makin berat, dan kita sudah tidak mampu, Allah juga memberi do’a kepada kita (Ya Allah janganlah engkau memberi beban, diluar kemampuan yang kami memang tidak kuat untuk menerimanya atau melakukannya).

Di sinilah secara horizontal manusia ada yang diberi kemampuan, ada yang tidak, baik kemampuan ilmu, kemampuan harta, kemampuan yang bersifat fisik maupun psikis. Di sebuah propinsi ada sebuah penelitian hasil sensus kesehatan nasional tahun 1998 menyebutkan bahwa karena penduduknya sakit terus, provinsi tersebut mengeluarkan harta untuk berobat sampai 90 milyard. Padahal anggaran pemerintah pusat untuk provinsi tersebut untuk kesehatan hanya sekitar 35 milyard, ternyata 1/3 dari pada PAD (Penghasilan Asli Daerah) tersebut. Ini menggambarkan betapa sering kali kalau orang itu tidak sehat akan menghabiskan uang banyak. Belum pengaruhnya terhadap usia, bisa saja orang kalau tidak sadar dengan kesehatan usianya relatif pendek. Hal ini bisa dibuktikan mengapa orang Jepang dan negara-negara yang lebih maju yang memahami kesehatan, sadar kesehatan, mayoritas umurnya lebih panjang dibanding negara–negara yang sedang berkembang semacm Indonesia. Artinya kita harus kembali kapada Allah, kita harus berikhtiar karena Allah tidak akan merubah nasib seseorang, nasib suatu kelompok, kalau dia tidak berusaha. Jadi sehat itu tidak semata-mata, memang hal ini tidak lepas dari adanya taqdir Allah, tetapi manusia juga diberi hak untuk berusaha.

Karena Allah memberikan manusia kekurangan, kelemahan, maka dalam Islam ada konsep yang disebut dengan ta’awun (tolong menolong) bagi mereka yang dalam keadaan lemah. Harus ada tasamuh (toleran) dalam perbedaan pendapat, karena kualitas orang tidak sama, bahkan cara dan kualitas belajar agamanya tidak sama sehingga kadang pendapatnya tidak sama, nah di situlah kita juga harus toleran. Di samping itu, dalam Islam ada juga konsep tadlamun (saling melindungi).

Ada sebuah riwayat yang diriwayatkan Ibnu Mas’ud, dia pernah marah mendengar khalifah yang ketiga Sayidina Utsman ketika di Mina pada saat menunaikan ibadah haji, beliau mengerjakan shalat tidak dijama’ dan tidak qashar, padahal menurut riwayat Nabi mengerjakan jamak qashar. Dia (Ibnu Mas’ud) semangat mendatangi Sayidina Utsman. Alhamdulillah, Sayidina Utsman waktu itu sembahyang dan Ibnu Mas’ud pun ikut sembahyang di belakangnya. Seperti biasa, Sayyidina Utsman sembahyang dengan tidak jamak dan tidak qashar. Ketika selesai para sahabat bertanya kepada Ibnu Ma’ud : Bukankah kamu tadi berniat ingin mengingatkan khalifah ?. Ibnu Mas’ud menjawab dengan singkat “ Bertengkar itu jelek”. Nah itulah sahabat-sahabat Nabi yang selalu memberi respon tentang keteladanan. Rasulullah sendiri memberi keteladanan. Saat itu setelah Dzuhur Rasulullah SAW memberangkatkan beberapa orang untuk datang ke kampung Bani Quraidlah untuk berdakwah. “ Berangkatlah kalian sekarang berdakwah ke Bani Quraidlah, pesan saya, jangan shalat Ashar sebelum sampai di Bani Quraidlah”. Namun ketika di tengah jalan dan belum sampai di kampung Bani Quaridlah, waktu Ashar akan habis, sehingga terjadilah perbedaan pendapat di antara mereka. Pendapat pertama, berargumentasi bahwa mereka harus shalat di perjalanan karena meyakini bahwa Rasul berpesan untuk tidak shalat di jalan itu kalau waktu Ashar masih ada. Tetapi pendapat separuh dari mereka tidak mereka tidak mau melakukan shalat di jalan karena yang dipegangi teks yang tersurat, Rasul kan menyatakan jangan sembahyang Ashar kalau belum sampai di kampung Quraidlah, terjadilah dua pendapat. Selesai berdakwah di kampung Quraidlah, rombongan ini pulang dang langsung menghadap Rasulullah SAW, dan mengadukan persoalan perbedaan pendapat yang dialami di perjalanan tersebut. Apa jawab Nabi ? Benar semua. Mengapa demikian? Karena Nabi kalau menjawab pertanyaan seseorang dilihat tingkat kemampuannya orang tersebut. Hinga beliau bersabda : Khatibu-an nas ‘ala qadri ‘uquulihim (Berbicaralah kepada manusia sesuai kemampuannya).

Jadi kalau berkata kepada masyarakat, dilihat dulu kemampuan ilmunya. Itulah yang pernah terjadi ketika seorang Arab dari desa ketika menghadap Nabi, tetapi masih di atas unta sudah berteriak memanggil Nabi : ”Hai Muhammad, Hai Muhammad, berilah pelajaran untuk saya”. Berkata seperti itu di hadapan seorang Nabi dalam keadaan masih di atas unta, hal ini tidak punya sopan-santun, sehingga Sayyidina Umar langsung menghunus pedang, sambil berkata : “Kamu di depan Nabi tidak sopan”. Tetapi apa reaksi Nabi? Beliau justeru mengingatkan Sayyidina Umar : ”Dia itu belum mendapatkan pelajaran akhlaq, Khatibu-an nas ‘ala qadri ‘uquulihim”. Itulah konsep Islam, kalau kita menjalankannya dengan baik, alangkah indahnya kehidupan bermasyarakat dan berbangsa dalam kontek nation state di Indonesia ini.

Dalam Islam ada konsep tasamuh, ukhuwah, tadlommun, apalagi sesama muslim yang mendapatkan kesulitan-kesulitan sebagaimana musibah yang akhir-akhir ini datang. Betapa besar penilaian dan apresiasi masyarakat terhadap musibah yang sampai hari ini makin besar. Ada yang sampai putus asa, sehingga untuk menghentikan musibah ini ia menghitung model klenik, kalau rumahnya menghadap ke timur, supaya selamat harus selamatan beras ketan (Jawa : ngetan). Kalau rumahnya menghadap ke barat harus ada kue kleponnya (Jawa : ngulon). Kalau menghadap ke selatan harus ada jenang gerendul (Jawa Ngidul). Itulah tingkatan dalam pengetahuan agama , bisa saja orang-orang yang punya keyakinan seperti ini memang belum ada penjelasan-penjelasan yang mencerahkan mereka. Itulah konsep tadlammun (melindungi) harus diterapakan bukan hanya memberi uang, paling tidak memberi pencerahan ilmu, pencerahan keyakinan, pencerahan terhadap keimanan. Hubungan ini adalah hubungan hablumminallah-hablummiannas (hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia) yang bisa dibedakan, tetapi tidak bisa dipisahkan.

Jangan sampai rutin bangun malam shalat lail, puasa setiap hari Senin Kamis, tetapi tetangga dalam keadaan sulit diam saja. Bahkan Rasulullah mengancam kalau ada orang di suatu malam perutnya dalam keadaan kenyang, sementara tetangganya dalam keadaan lapar, dia tahu, namun tidak mau membantu Nabi menyatakan orang semacam ini haram masuk surga. mengapa ? Karena tidak ada ta’awun, dan tadlammun dengan sesama.

Suatu ketika ada seorang sahabat datang kepada Rasulullah SAW. Kemudian ditanya : ”Kamu tadi naik apa?, ”Biasa ya Rasul naik onta” Jawabnya. ”Di mana onta kamu?” tanya. ”Sudah saya lepas, hilang atau tidak hilang saya tawakkal saja atas takdir Allah ya Rasul, saya kembalikan kepada Allah” jawabnya. Apa komentar Nabi, ”Kamu keliru, kamu belum ikhtiar, kamu tali dulu, kemudian baru tawakkal kepada Allah”. Manusia diberi kebebasan oleh Allah free will (kebebasan berkeinginan) dan free action (kebebasan untuk beraksi) atau berbuat. Memang keputusan final ada di tangan Allah, tapi manusia wajib berikhtiar.

Mungkin kita makin sulit, tapi kalau dengan sadar dan berusaha terus tidak mengenal putus asa, maka Allah meyakinkan kita inna ma’al ‘usri yusraa, (setiap kesulitan pasti ada kemudahan-kemudahan). Mari kita berusaha merubah cara berfikir kita. Orang sekarang berfikirnya hanya final logic, yang penting berhasil, proses menjadi berhasil ini baik atau tidak, terkadang tidak kita pikirkan. Yang penting kita tebangi hutan selesai, yang penting saya dapat uang, tapi tidak memikirkan apa akibatnya. Minyak, batu bara, emas, perak, kita eksplorasi, tanpa ada pikiran bagaimana eksesnya, apa akibatnya kita tidak perhatikan, yang penting berhasil, itulah yang disebut berpikir logika final. Itulah mengapa dalam Islam ada konsep fiddunya hasanah wafil akhirati hasanah. Tetapi kalau di dunia saja kita ngatur tidak professional, bagaimana kita mau ngatur urusan akhirat. Itu artinya apa? kalau kita ingin di akhirat baik, aturlah dunia dengan professional, jangan berfikir hati ini, kita berfikir untuk anak-anak keturunan kita juga.

Khutbah sebelumnya :

  • Menjadi Umat yang Terbaik
  • Urgensi Pemurnian Aqidah Dalam Membangun Bangsa
  • Kejujuran Kunci Kesuksesan
  • Menjadi Umat Nabi Muhammad yang Hakiki
  • KERUKUNAN UMAT BERAGAMA, PILAR NEGARA RI
  • Menyelesaikan Perbedaan
  • Mengukur Kadar Keimanan
  • KH Agoes Ali Masyhuri
  • Ukhuwah Demi Muruu’ah (Martabat)
  • Kecerdasan Spiritual
  • Hijrah, Momentum Mempererat Persaudaraan
  • Refleksi 51 Tahun Pemberontakan G-30-S/PKI
  • Urgensi Tauhid dalam Mengangkat Derajat & Martabat Muslimin
  • Kecintaan Sesama, Bukti Cinta Kepada Allah
  • Syukur dan Bahagia
  • Singa dalam Senyap
  • Berteknologi Tanpa Iman
  • Hakekat Pahlawan
  • Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan
  • Menggapai Bahagia, Hubungkan Bumi dengan Langit
  • Kehidupan Dunia Sementara
  • Takabbur dan Tawadhu’
  • Pasar dalam Islam
  • Memberi Tanpa Menyakiti
  • Ramadhan, Bulan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
  • Hakikat Ibadah
  • Meraih Derajat Muttaqiin
  • Merindukan Ramadhan
  • Jihad Akbar Bukan Sembarang Jihad
  • Merajut Ukhuwah Islamiyah
  • Debu Takwa Pembebas Derita
  • Isra’ Mi’raj Momentum Evaluasi Shalat
  • Keutamaan Shadaqah
  • Ikhtiar, Do’a dan Tawakkal
  • Qanaah Bukti Keimanan Seseorang Kepada Allah
  • Mengemban Amanat Agama
  • Ujian, Bukti Cinta Allah kepada Hambanya
  • Menuju Kecintaan Kepada Allah Swt
  • Masa dan Manusia
  • Segera Bertaubat sebelum Terlambat
  • Kesehatan Jasmani dan Rohani
  • Memaafkan dan Mendamaikan
  • Mengungkap Hikmah Shabar
  • Membangun Bangsa dengan Imtaq dan Iptek
  • Meningkatkan Iman Dan Taqwa di Tahun 2016
  • Fadhilah Membahagiakan Orang Lain
  • Bukti Cinta Rasulullah Kepada Umatnya
  • Strategi Umat Islam Menghadapi Tantangan Global
  • Lemah Lembut dan Murah Hati
  • Keserasian Aqidah, Syariah dan Akhlak
  • Dzikirnya Orang yang Cerdik Cendikia
  • Budi Pekerti yang Luhur
  • Persatuan, Modal Kesuksesan Bangsa
  • Pentingnya Belajar dari Sejarah
  • Mewaspadai Golongan Ekstrim
  • Menemukan “Ibrahim” Era Baru
  • Amalan Subtansional
  • Bermuamalah dengan Non Muslim
  • Merdeka dalam Perspektif Islam
  • Mempertahankan Persaudaraan dalam Bingkai Iman
  • Petunjuk Allah dalam Menghadapi Cobaan Hidup
  • Amalan Penting Pasca Ramadhan
  • Wakaf dan Kesejahteraan Umat
  • Jiwa Yang Fitrah, Kunci Kebahagiaan Dunia Akhirat
  • 5 Wasiat Menuju Pribadi Unggul
  • Syawwal, Bulan Peningkatan
  • Puasa, Makna dan Filosofinya
  • Berbenah Diri Menyambut Bulan Suci
  • Konsep Beragama dalam Bingkai Nkri
  • Pedoman Pergaulan dalam Rumah Tangga
  • Makna Shalat, Historis dan Filosofis
  • Essensi Shalat dalam Kehidupan
  • Penghargaan untuk Merubah Masa Depan
  • Beri Upah Pekerja, Sebelum Keringat Menetes
  • Keseimbangan Materi dan Nurani
  • Orang-Orang yang Jauh dari Hidayah Allah
  • Ayat-ayat Allah di Alam Semesta
  • Islam Kaafah dalam Berbangsa dan Bernegara
  • Muslim yang Ikhlas
  • Ancaman Orang yang Mengabaikan Zakat
  • Dampak Kesehatan Jiwa Terhadap Kesehatan Jasmani
  • Urgensi Musyawarah dalam Setiap Urusan
  • Pedoman Memilih Pemimpin Menurut Pandangan Islam
  • Keluhuran Akhlak Jaminan Kejayaan Bangsa
  • Empat Pilar Akhlaq Mulia
  • Jihad Melawan Hawa Nafsu
  • Sifat Orang Kafir
  • Berhati-Hati dengan Tipudaya Dunia
  • Unjuk Rasa dalam Islam
  • Refleksi di Tahun Baru
  • Mengenal Hadis-Hadis Israiliyaat
  • Fleksibelitas dalam Hukum Islam
  • Teladan Rasulullah dalam Intrepreneurship
  • Mewujudkan Islam Kaaffah (Menyeluruh)
  • Membangun Masyarakat Bermartabat, Mewujudkan Negara Damai Sejahtera
  • Hidup Mulia dengan Islam
  • Haji dan Perbaikan Moral Umat
  • Urgensi Bersahabat dengan Orang yang Shalih
  • Menyongsong Era Baru Kepemimpinan Nasional
  • Ekonomi Islam dan Konvensional
  • Menegakkan dan Memelihara Keutamaan Islam
  • Memupuk Jiwa Berkurban
  • Dunia Adalah Ladang Akhirat
  • Kemerdekaan yang Hakiki
  • Urgensi Mengajak Kepada Kebaikan
  • Manusia Adalah Makhluk Fitri
  • Dusta Merupakan Sumber Malapetaka
  • Mempersiapkan Diri Menghadapi Bulan Suci
  • Menjaga Diri Dengan Yang Halal
  • Menimba Hikmah Kisah Nabi Isa a.s.
  • Akibat Orang Yang Menukar Ayat-Ayat Allah
  • Manajemen Dakwah Efektif Aplikatif
  • Kedekatan Manusia di Sisi Allah Swt
  • Membangun Karakter Asmaul Husna
  • Keutamaan Jihad Dengan Harta
  • Keteladanan Rasulullah Saw
  • Kearifan Lokal Dalam Perspektif Islam
  • Mendalami Makna Ukhuwah
  • Peran Ulama’ Dalam Kehidupan Bernegara
  • Islam Agama Universal
  • Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an
  • Tugas Rasul Penyempurna Akhlak Manusia
  • Meneladani Figur Rosulullah SAW
  • Makna Muhasabah (Evaluasi Diri)
  • Petunjuk Rasulullah Tentang Alam Kubur
  • Islam Dan Terjaganya Perilaku
  • Membentuk Muslim Unggul
  • Ilmu Waris, Bagian Dari Agama dan Setengah Dari Ilmu
  • Menggapai Derajat Dengan Ilmu Pengetahuan
  • Upaya Mewujudkan Khoira Ummat (Umat Tebaik)
  • Amalan-Amalan Dalam Rangka Mengisi Tahun Baru Hijriyah
  • Syukur Menjadi Bangsa Indonesia
  • Spirit Tahun Baru Hijriyah
  • Indikator Haji yang Mabrur
  • Penerapan Nilai-Nilai Islam dalam Peradaban Masa Kini
  • Problematika Umat
  • Seputar Ibadah Haji dan Umrah
  • Kemiskinan dalam Pandangan Islam
  • Muslim Selektif Produktif
  • Syahadat, Makna dan Konsekuensinya
  • Menata Hidup dan Kehidupan Dalam Perspektif Islam
  • Urgensi Mempertahankan Kualitas Ibadah
  • Tasamuh, Ta’awun dan Tadlomun
  • Sillaturrahim Dalam Lebaran
  • Kewajiban Dakwah Dalam Berbagai Situasi dan Kondisi
  • Keluh Kesah Manusia Dalam Hidup
  • Amalan-Amalan Penguat Iman
  • Mempertahankan Aqidah di Tengah Benturan Budaya
  • Antara Hak dan Tanggung Jawab
  • Meyakini Kebenaran Ayat-Ayat Al Qur’an
  • Menjaga Diri dan Keluarga dari Api Neraka
  • Nilai Kehidupan
  • Konsep Islam Mengikis Korupsi
  • Shalat Kematian
  • Mempertanyakan Ukhuwah Kita
  • Tiga Faktor Utama Kebahagiaan
  • Menyelaraskan Perkataan Dengan Perbuatan
  • Mengenal Penyakit Hati
  • Pentingnya Menuntut Ilmu dan Kewajiban Mengamalkannya
  • Lezatnya Iman
  • Prinsip-Prinsip Universal Toleransi Antar Umat Beragama
  • Islam, Ya'luu Walaa Yu'laa 'Alaih
  • Islam, dan Ajaran Jihad
  • Kisah Teladan Sahabat Nabi Muhammad Saw
  • Membumikan Akhlak Mulia Dalam Kehidupan
  • Nabi Isa, Kisah dan Hikmahnya
  • Antara Iman dan Amal Sholih
  • Nabi Muhammad Saw, Figur Teladan Umat
  • Menggapai Derajat Siddiqin
  • Dahsyatnya Kiamat dan Tanda Kedatangannya
  • Makna Muhasabah (Evaluasi Diri)
  • Amalan Ahlus Sunnah Wal Jamaah
  • Berinvestasi Dengan Wakaf
  • Ilmu, Simbol Kejayaan Umat
  • Ijabah Do’a
  • Islam Dan Sistem Ekonomi
  • Menggapai Hidup Berkualitas
  • Muhasabah dan Muroqobah, Jalan Menuju Taqwa
  • Hikmah Memperingati Hari Pahlawan
  • Yang Diridhoi Dan Yang Dimurkai Allah
  • Hikmah Ibadah Haji
  • Esensi Haji Mabrur
  • Pola Hidup Sehat Menurut AlQur'an
  • Berdakwah Dengan Hikmah
  • Komunisme dan Bahaya Komunis
  • Cinta Allah Kepada Hambanya
  • Menjaga Diri Dari Makanan Dan Minuman Yang Haram
  • Wibawa Umat
  • Menuntut Ilmu Tanpa Batas
  • Rahasia Keberkahan Ramadhan
  • Menggapai Puncak Keimanan
  • Mendalami Makna Ukhuwah
  • Amalan Penting Menyambut Bulan Ramadhan
  • Memurnikan Niat, Menyongsong Bulan Ramadhan
  • Menempuh Jalan Lurus, Dunia Hingga Akhirat
  • Makna Isra’ Mi’raj Dalam Kehidupan
  • Kiat Memperbaiki Moralitas Bangsa
  • Membumikan Akhlak Rasulullah Saw
  • Membangun Generasi Rabbany
  • Kisah Nabi Isa Dalam Al-Quran Dan Injil
  • Kepemimpinan Rabbani
  • Sufi Dan Sufisme Di Era Global
  • Menggapai Hidup Bahagia
  • Penyakit Hati Dan Obat Penawarnya
  • Peranan Masjid Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Umat
  • Batas-Batas Toleransi Antar Umat Beragama
  • Bulan Kemuliaan Antara Islam Dan Jawa
  • Politik, Antara Norma Dan Realita
  • Aqidah Dan Akhlaq Seorang Pemimpin
  • Rasulullah Tauladan Sepanjang Zaman
  • Mengapa Syi'ah Bermasalah
  • Keunggulan Syariat Allah Swt
  • Hikmah Dzikrul Maut
  • Kiat Mengikis Tradisi Khurofat
  • Istiqomah Tahun 2012
  • Membangun Surga Dalam Keluarga
  • Menggapai Rahmat Allah
  • Hijrah, Upaya Mempertahankan Aqidah
  • Kewajiban Dakwah Bagi Setiap Muslim
  • Dakwah di Tengah Kemajemukan Umat
  • Islam Mengutamakan Kualitas Bukan Kuantitas
  • Menuju Arah Pendidikan Yang Ideal
  • Sucikan Harta Dengan Berderma
  • Terapi Penyakit Hati
  • Strategi Menghadapi Ghozwul Fikri
  • Hakekat Konsep Jihad Dalam Perspektif Islam
  • Urgensi Mengenal Produk Halal dan Baik
  • Mempertahankan Fithrah Manusia
  • Kembali Kepada Allah
  • Merenungi Alam Raya
  • Memperkokoh Ukhuwah Islamiyah
  • Merefleksikan Puasa Ramadhan
  • Tantangan Da'wah di Era Global
  • Kewajiban Memberantas Kemungkaran
  • Persiapan Menghadapi Puasa Ramadhan
  • Islam Agama Nasehat
  • Hak Terhadap Allah, Terhadap Diri Sendiri Dan Terhadap Sesama
  • Kontektualisasi Pemahaman Isra’ Mi’raj
  • Hidup Damai Dengan Islam
  • Doa, Senjata Orang Beriman
  • Kedudukan Wanita Dalam Perspektif Islam
  • Mengikis Budaya Korupsi
  • Cuci Otak
  • Menggapai Rahmat Dengan Taubat
  • Keseimbangan Investasi Dunia Akhirat
  • Urgensi Mendahulukan Kualitas Atas Kuantitas Dalam Beramal
  • Manusia-Manusia Unik Dalam Alqur’an
  • Amar Makruf Nahi Mungkar
  • Memupuk Kepedulian Sosial
  • Pilar-Pilar Kejayaan Islam
  • Keunggulan Ajaran Islam
  • Keagungan Akhlak Rasulullah Saw
  • Rasululloh Sebagai Uswah
  • Keteladanan Kisah Nabi Nuh As
  • Keutamaan Shalat Lail
  • Niat Pangkal Seluruh Aktivitas
  • Membentuk Keshalihan Ritual dan Sosial
  • Dunia Sebagai Ladang Akhirat
  • Muhasabah Tahun Baru
  • Batas-batas Toleransi Antar Umat Beragama
  • Do’a, Perisai Mukmin
  • Islam Agama Seluruh Nabi dan Rasul
  • Mengenang Kembali Makna Hijriyah
  • Risywah, Macam dan Bahayanya
  • Iman Sebagai Kekuatan Moral
  • Bahagia Saat Orang Lain Bahagia
  • Islam Kenikmatan Yang Agung dan Sempurna
  • Penyakit Sosial dalam Sorotan Syariat
  • Manusia Makhluk Fitri
  • Kiat Mencapai Derajat Taqwa
  • Riya’, Penyakit Amal Kebajikan
  • Membentuk Kesehatan Jasmani dan Rohani
  • Mengantisipasi Aliran Sesat
  • Urgensi Membaca dan mengamalkan Al-Qur’an
  • Musik Bata
  • Sedekah yang Barakah
  • Nilai Pendidikan Ramadhan
  • Dr. H. Imam Mawardi, MA
  • Nikah, Hakikat dan Urgensinya
  • Pengendalian Hawa Nafsu
  • Memberantas Kebodohan
  • Menggapai Hidup Barakah
  • Profil Manusia Bertaqwa
  • Akhlaq Mahmudah dan Akhlaq Madzmumah
  • Menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
  • Urgensi Ukhuwah Islamiyah
  • Syirik, Macam dan Bahayanya
  • Bersihkan Harta dan Hati untuk Bangun Negeri
  • Menghadapi Ujian Tahta Harta Dan Wanita