Khutbah Jum'at
 

Ir H Misbahul Huda, M.Sc

Membentuk Muslim Unggul

18-12-2013 | 16:55:33

Bagaimana menjadi muslim yang unggul? Jawabanya adalah firman Allah dalam surah al Ankabut : 69 yang maknanya : Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.

Pertama, fiinaa (orang-orang yang di jalan Allah). orang-orang yang memanfaatkan nikmat kehidupannya untuk kemerdekaan dan keimanannya. Nikmat yang paling rendah adalah nikmat kehidupan, yang diberikan kepada semua makhluk hidup, termasuk manusia. Kemudian di atasnya nikmat kemerdekaan, yang hanya sebagian yang memiliki. Dan yang paling tinggi adalah nikmat iman. Muslim yang unggul manakala memanfaatkan, bahkan jika perlu mengorbankan nikmat kehidupan, atau bahkan nikmat kemerdekaannya, untuk mempertahankan nikmat imannya. Orang-orang yang demikian ini disebut manusia yang unggul. Sebutan yang pantas untuk mereka adalah pahlawan, syuhada’, ‘aliim dsb. Sebaliknya, orang-orang yang mengorbankan imannya untuk kehidupan keduniaannya, maka dia disebut oportunis/ pengkhianat. (lihat QS. Al Qoshosh : 77).

Makna sekedarnya bukan harus miskin. Malah justeru harus kaya, tetapi sekedarnya, karena kekayaan itu diorientasikan untuk akhirat, untuk ketaatannya kepada Allah SWT. Dan kalau miskin, jangan takut tidak bahagia. The new economic poundation, melakukan penelitian. Membuat ranking IPB (Indeks Prestasi Bahagia) 180 negara. Negara mana yang paling bahagia. Dan diduga negara-negara kayalah yang paling bahagia. Ternyata, hasilnya mengejutkan. Yang paling bahagia adalah negara Vanuatu, negara kepulauan Pasifik Selatan. Hidup dari pertanian dan pariwisata skala kecil. Ketika ditanya, mengapa mereka bahagia? Jawabannya : “Kami terbisa hidup ala kadarnya, tidak ada permusuhan, hidup kami saling tolong menolong, saling membantu, tidak ada yang menakutkan kami, kecuali angin topan dan bencana alam lainnya”. Sedangkan Indonesia ranking ke-24. Betapa beliau-beliau yang terhormat yang tersandung kasus korupsi itu unggul dalam intelektual, finansial dan kekuasaan, tetapi tidak unggul dalam aspek spiritual. Seakan Allah mengingatkan, bahwa anda boleh kuat secara fisik, boleh matang secara emosional, boleh kaya secara financial, boleh pintar secara intelektual, tetapi kalau tidak matang secara spiritual, maka anda tidak bisa melampaui krisis kehidupan. Hidup ini bisa terasa berat, bisa juga terasa penuh masalah, tetapi tidak terlalu bagi orang-orang yang mission oriented dari pada commission oriented, yang mendahulukan spiritual ketimbang yang lainnya.

Kedua, jaahadu (sungguh-sungguh). Sungguh-sungguh yang dimaksud adalah pertama, professional. Artinya menguasai masalah. Tidak oportunis. Kalau pengusaha mengurusi pengusaha, jangan mengurusi politik. Professional ini Allah menegaskan dalam Al Qur’an surah Az Zumar : 39, yang maknanya : Katakanlah: "Hai kaumku, Bekerjalah sesuai dengan keadaanmu, Sesungguhnya aku akan bekerja (pula), Maka kelak kamu akan mengetahui, Kemampuan untuk mengeksplorasi, kemudian menjadi sesuatu yang unggul, dan berprestasi, maka itulah yang disebut syukur yang sebenarnya. Kebanyakan dari kita tidak unggul, karena gagal memahami potensi diri. Potensi itu posisinya terpendam. Karena terpendam, maka kemudian tidak serta merta kelihatan, butuh rangsangan. Setelah ketemu, baru didorong, untuk menjadi prestasi. Ketika muslim, maka di situlah muslim yang unggul.

Kedua, sungguh-sungguh yang dimaksud adalah serius, fokus. Seringkali kekalahan kita dalam berekonomi atau berusaha adalah menyerah sebelum waktunya, menyerah sebelum injure time. Padahal, pertolongan Allah, selalu hadir pada injure time. Tetapi, kebanyakan kita buru-buru menyerah, bahkan kadang sebelum berkeringat sekalipun. Jangankan kita para nabi saja, perlu usaha mentok dulu, baru datang pertolongan Allah. Nabi Musa saat dikejar bala tentara Fir’aun, belum juga datang pertolongan Allah. Baru ketika sudah mentok, di hadapannya laut Merah, dan di belakangnya tentara Fir’aun. Baru saat itu muncul pertolongan dari Allah. Rasulullah SAW, ketika mengenalkan Islam pertama kali di Makkah, beliau disiksa, dicemooh, dihina, dicaci maki, dilempari dlsb. Bahkan malaikat saja sampai iba dan ingin membalas perlakuan mereka dengan melemparkan gunung. Abu Bakar, yang imannya lebih berat ketimbang imannya seluruh muslim sedunia, juga hampir menyerah. Hingga suatu malam ketika ada skenario pembunuhan terhadap Rasulullah, baru saat itu muncul pertolongan Allah, dengan datangnya perintah hijrah. Artinya, bahwa Rasulullah SAW yang dicintai Allah saja memerlukan usaha yang luar biasa, baru ada pertolongan Allah, apalagi kita yang bukan siapa-siapa. Belum injure time, belum berusaha maksimal, belum lagi berkeringat, kok sudah nagih, mana pertolongan Allah? Baru gagal bisnis 5 kali, nagih, mana pertolongan Allah? Apa gak malu?

Orang-orang yang sekarang kelihatan sukses, jangan dikira mereka tidak mengalami kegagalan-kegagalan sebelumnya. Gagalnya berkali-kali, ruginya milyaran rupiah. Kenapa tidak pernah terdengar kegagalannya? Karena kebanyakan mereka diminta bercerita hanya tentang keberhasilannya saja. Padahal, mereka pasti mengalami kegagalan-kegagalan, lalu menebusnya dengan keberhasilan-keberhasilannya. Manusia, kalau sudah kepepet, maka ada kekuatan yang luar biasa, di sinilah Allah akan memberikan pertolongannya. Untuk itu, kita dilarang untuk menyerah, apalagi putus asa. (lihat QS Yusuf : 87).

Taushiyah ba’da Jum’ah
Oleh : H Ahmad Al Habsyi, dari Jakarta

Ada tiga hal yang akan saya sampaikan pada kesempatan hari ini ; Pertama, ada orang yang bisa mendatangi surga yang jauh, tetapi tidak pernah ada waktu mengunjungi surga yang dekat. Ada seorang pengusaha dari Kalimantan, dia termasuk terkaya di daerah itu. Tiap tahun dia membiayai orang untuk Umroh gratis 600 orang menggunakan uang pribadi. Dia bisa pergi haji plus setiap tahun. Punya waktu pergi umroh berkali-kali. Setelah saya tanya tentang motivasi dia melakukan itu semua, dia menjawab dengan santai dan bangga dia mengatakan aku ingin masuk surga. Inilah bodohnya masa lalu saya dan anda. Surga yang jauh sibuk kita datangi, surga yang dekat tidak sempat diurusi dan dikunjungi. Siapa surga yang dekat itu? surga yang dekat itu adalah ayah dan ibu.

Saya juga pernah menegur anak-anak muda, rombongan yang sibuk mendatangi makam-makam keramat, tetapi keramat hidupnya tidak diurusi. Semua batu nisan keramat dicium-cium, tanahnya dikantongi, kuburannya ditiduri. Padahal yang berada di makam tidak ingin diperlakukan seperti itu. Itu sama saja mengejar surga yang jauh melupakan yang dekat. Urusi dulu keramat yang masih hidup, baru urusi keramat yang sudah mati. Sillaturahim kepada orang tua yang masih hidup, adalah keramat yang dekat. Sementara keramat yang jauh,apalagi sudah menginggal dunia, cukup didoakan. Buat apa cium batu nisan, lebih baik cium keringat orang tua kita, yang jelas-jelas, sejak kecil membiayai kita bermandikan keringat. Tidak sedikit orang tua bisa membuat menjadi orang, sebaliknya tidak sedikit anak menjadikan orang tua menjadi budak. Maka, saya sarankan, jangan peluk kuburan, peluklah ibumu, itu lebih afdhol (utama), jangan sibuk mencari keramat-keramat yang jauh, lalu melupakan keramat hidup yang Allah siapkan untuk kita.

Kedua, ada orang bisa menghormati surga di luar, tetapi tidak pandai memulyakan surganya yang di dalam. Orang lain di luar dihormati, orang tua yang di dalam dikurang ajari. Di luar selalu berucap “siap laksanakan”, tetapi di dalam rumah,kepada orang tua selalu ada pembangkangan. Saya pernah tabligh akbar, di suatu tempat. Begitu saya turun, saya dikerubuti ribuan anak-anak yang fanatic berebut untuk bersalaman,sambil dicium. Saya bertanya, kenapa adik-adik ini melakukan seperti itu? Jawabanya kami ingin masuk surga. Kemudian saya bertanya lagi, pernahkah kamu cium tangan ayahmu, seperti kamu mencium tangan orang lain? Pernahkan kamu memeluk ibumu seperti engkau bangga memeluk orang yang kamu cintai? Jawab mereka : “belum pernah”. Hormati orang tuamu, baru kamu cari kemulyaan di luar. Buat apa kamu mulya di luar, tetapi hina di mata orang tua. Lebih baik hina di luar, tetapi mendapat kemulyaan orang tua. Jangan mimpi mendapat ridho Allah, jika ridho yang Allah titipkan di lisan sang ayah ibu belum bisa kita dapatkan.

Ketiga, ada orang yang bisa membahagiakan surganya di luar, tetapi tidak bisa membangun surganya di dalam. Orang luar bisa dia bikin tersenyum, tetapi ayah ibunya dibikin meneteskan air mata. Orang-orang di luar bisa dia bikin bahagia, kenapa ayah dan ibunya dia bikin menderita. Itu namanya mengejar surga yang jauh, lupa yang dekat. Di kota ketiga, saya ketemu pemuda yang pinter, ganteng, tamat kuliah dari perguruan tinggi ternama dengan nilai cumloud. Pemuda tersebut menangis bersimpuh di kaki ibunya sambil berkata : “Ibu! Tolong doakan saya biar saya mendapat pekerjaan”.

Lalu ibunya setiap malam mendoakan dia. Nah, karena doa ibunya, anak muda ini mendapat pekerjaan. Satu bulan dia bekerja, dia dapat gaji pertama yang diberi adalah ibunya. Kalau kita melihat tingkah laku anak-anak sekarang, kalau mendapat gaji pertama, kalau mendapat kenikmatan yang diberitahu terlebih dahulu bukan ibunya, bukan pula ayahnya, tetapi teman dekatnya, kolega-koleganya. Padahal, kesuksesan apapun yang kita dapatkan hari ini, bukan karena kepintaran kita, bukan karena lobi-lobi kita, itu karena peran doa ayah ibu kita. Kalau kita hitung jasa orang tua kita, tidak bisa membayarnya dengan apapun yang kita miliki, bahkan nyawa sekalipun. Betapa banyak orang tua yang bisa membahagiakan tujuh anaknya, tetapi betapa banyak anak tujuh yang tidak bisa membahagiakan satu orang tua.

Khutbah sebelumnya :

  • Menjadi Umat yang Terbaik
  • Urgensi Pemurnian Aqidah Dalam Membangun Bangsa
  • Kejujuran Kunci Kesuksesan
  • Menjadi Umat Nabi Muhammad yang Hakiki
  • KERUKUNAN UMAT BERAGAMA, PILAR NEGARA RI
  • Menyelesaikan Perbedaan
  • Mengukur Kadar Keimanan
  • KH Agoes Ali Masyhuri
  • Ukhuwah Demi Muruu’ah (Martabat)
  • Kecerdasan Spiritual
  • Hijrah, Momentum Mempererat Persaudaraan
  • Refleksi 51 Tahun Pemberontakan G-30-S/PKI
  • Urgensi Tauhid dalam Mengangkat Derajat & Martabat Muslimin
  • Kecintaan Sesama, Bukti Cinta Kepada Allah
  • Syukur dan Bahagia
  • Singa dalam Senyap
  • Berteknologi Tanpa Iman
  • Hakekat Pahlawan
  • Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan
  • Menggapai Bahagia, Hubungkan Bumi dengan Langit
  • Kehidupan Dunia Sementara
  • Takabbur dan Tawadhu’
  • Pasar dalam Islam
  • Memberi Tanpa Menyakiti
  • Ramadhan, Bulan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
  • Hakikat Ibadah
  • Meraih Derajat Muttaqiin
  • Merindukan Ramadhan
  • Jihad Akbar Bukan Sembarang Jihad
  • Merajut Ukhuwah Islamiyah
  • Debu Takwa Pembebas Derita
  • Isra’ Mi’raj Momentum Evaluasi Shalat
  • Keutamaan Shadaqah
  • Ikhtiar, Do’a dan Tawakkal
  • Qanaah Bukti Keimanan Seseorang Kepada Allah
  • Mengemban Amanat Agama
  • Ujian, Bukti Cinta Allah kepada Hambanya
  • Menuju Kecintaan Kepada Allah Swt
  • Masa dan Manusia
  • Segera Bertaubat sebelum Terlambat
  • Kesehatan Jasmani dan Rohani
  • Memaafkan dan Mendamaikan
  • Mengungkap Hikmah Shabar
  • Membangun Bangsa dengan Imtaq dan Iptek
  • Meningkatkan Iman Dan Taqwa di Tahun 2016
  • Fadhilah Membahagiakan Orang Lain
  • Bukti Cinta Rasulullah Kepada Umatnya
  • Strategi Umat Islam Menghadapi Tantangan Global
  • Lemah Lembut dan Murah Hati
  • Keserasian Aqidah, Syariah dan Akhlak
  • Dzikirnya Orang yang Cerdik Cendikia
  • Budi Pekerti yang Luhur
  • Persatuan, Modal Kesuksesan Bangsa
  • Pentingnya Belajar dari Sejarah
  • Mewaspadai Golongan Ekstrim
  • Menemukan “Ibrahim” Era Baru
  • Amalan Subtansional
  • Bermuamalah dengan Non Muslim
  • Merdeka dalam Perspektif Islam
  • Mempertahankan Persaudaraan dalam Bingkai Iman
  • Petunjuk Allah dalam Menghadapi Cobaan Hidup
  • Amalan Penting Pasca Ramadhan
  • Wakaf dan Kesejahteraan Umat
  • Jiwa Yang Fitrah, Kunci Kebahagiaan Dunia Akhirat
  • 5 Wasiat Menuju Pribadi Unggul
  • Syawwal, Bulan Peningkatan
  • Puasa, Makna dan Filosofinya
  • Berbenah Diri Menyambut Bulan Suci
  • Konsep Beragama dalam Bingkai Nkri
  • Pedoman Pergaulan dalam Rumah Tangga
  • Makna Shalat, Historis dan Filosofis
  • Essensi Shalat dalam Kehidupan
  • Penghargaan untuk Merubah Masa Depan
  • Beri Upah Pekerja, Sebelum Keringat Menetes
  • Keseimbangan Materi dan Nurani
  • Orang-Orang yang Jauh dari Hidayah Allah
  • Ayat-ayat Allah di Alam Semesta
  • Islam Kaafah dalam Berbangsa dan Bernegara
  • Muslim yang Ikhlas
  • Ancaman Orang yang Mengabaikan Zakat
  • Dampak Kesehatan Jiwa Terhadap Kesehatan Jasmani
  • Urgensi Musyawarah dalam Setiap Urusan
  • Pedoman Memilih Pemimpin Menurut Pandangan Islam
  • Keluhuran Akhlak Jaminan Kejayaan Bangsa
  • Empat Pilar Akhlaq Mulia
  • Jihad Melawan Hawa Nafsu
  • Sifat Orang Kafir
  • Berhati-Hati dengan Tipudaya Dunia
  • Unjuk Rasa dalam Islam
  • Refleksi di Tahun Baru
  • Mengenal Hadis-Hadis Israiliyaat
  • Fleksibelitas dalam Hukum Islam
  • Teladan Rasulullah dalam Intrepreneurship
  • Mewujudkan Islam Kaaffah (Menyeluruh)
  • Membangun Masyarakat Bermartabat, Mewujudkan Negara Damai Sejahtera
  • Hidup Mulia dengan Islam
  • Haji dan Perbaikan Moral Umat
  • Urgensi Bersahabat dengan Orang yang Shalih
  • Menyongsong Era Baru Kepemimpinan Nasional
  • Ekonomi Islam dan Konvensional
  • Menegakkan dan Memelihara Keutamaan Islam
  • Memupuk Jiwa Berkurban
  • Dunia Adalah Ladang Akhirat
  • Kemerdekaan yang Hakiki
  • Urgensi Mengajak Kepada Kebaikan
  • Manusia Adalah Makhluk Fitri
  • Dusta Merupakan Sumber Malapetaka
  • Mempersiapkan Diri Menghadapi Bulan Suci
  • Menjaga Diri Dengan Yang Halal
  • Menimba Hikmah Kisah Nabi Isa a.s.
  • Akibat Orang Yang Menukar Ayat-Ayat Allah
  • Manajemen Dakwah Efektif Aplikatif
  • Kedekatan Manusia di Sisi Allah Swt
  • Membangun Karakter Asmaul Husna
  • Keutamaan Jihad Dengan Harta
  • Keteladanan Rasulullah Saw
  • Kearifan Lokal Dalam Perspektif Islam
  • Mendalami Makna Ukhuwah
  • Peran Ulama’ Dalam Kehidupan Bernegara
  • Islam Agama Universal
  • Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an
  • Tugas Rasul Penyempurna Akhlak Manusia
  • Meneladani Figur Rosulullah SAW
  • Makna Muhasabah (Evaluasi Diri)
  • Petunjuk Rasulullah Tentang Alam Kubur
  • Islam Dan Terjaganya Perilaku
  • Membentuk Muslim Unggul
  • Ilmu Waris, Bagian Dari Agama dan Setengah Dari Ilmu
  • Menggapai Derajat Dengan Ilmu Pengetahuan
  • Upaya Mewujudkan Khoira Ummat (Umat Tebaik)
  • Amalan-Amalan Dalam Rangka Mengisi Tahun Baru Hijriyah
  • Syukur Menjadi Bangsa Indonesia
  • Spirit Tahun Baru Hijriyah
  • Indikator Haji yang Mabrur
  • Penerapan Nilai-Nilai Islam dalam Peradaban Masa Kini
  • Problematika Umat
  • Seputar Ibadah Haji dan Umrah
  • Kemiskinan dalam Pandangan Islam
  • Muslim Selektif Produktif
  • Syahadat, Makna dan Konsekuensinya
  • Menata Hidup dan Kehidupan Dalam Perspektif Islam
  • Urgensi Mempertahankan Kualitas Ibadah
  • Tasamuh, Ta’awun dan Tadlomun
  • Sillaturrahim Dalam Lebaran
  • Kewajiban Dakwah Dalam Berbagai Situasi dan Kondisi
  • Keluh Kesah Manusia Dalam Hidup
  • Amalan-Amalan Penguat Iman
  • Mempertahankan Aqidah di Tengah Benturan Budaya
  • Antara Hak dan Tanggung Jawab
  • Meyakini Kebenaran Ayat-Ayat Al Qur’an
  • Menjaga Diri dan Keluarga dari Api Neraka
  • Nilai Kehidupan
  • Konsep Islam Mengikis Korupsi
  • Shalat Kematian
  • Mempertanyakan Ukhuwah Kita
  • Tiga Faktor Utama Kebahagiaan
  • Menyelaraskan Perkataan Dengan Perbuatan
  • Mengenal Penyakit Hati
  • Pentingnya Menuntut Ilmu dan Kewajiban Mengamalkannya
  • Lezatnya Iman
  • Prinsip-Prinsip Universal Toleransi Antar Umat Beragama
  • Islam, Ya'luu Walaa Yu'laa 'Alaih
  • Islam, dan Ajaran Jihad
  • Kisah Teladan Sahabat Nabi Muhammad Saw
  • Membumikan Akhlak Mulia Dalam Kehidupan
  • Nabi Isa, Kisah dan Hikmahnya
  • Antara Iman dan Amal Sholih
  • Nabi Muhammad Saw, Figur Teladan Umat
  • Menggapai Derajat Siddiqin
  • Dahsyatnya Kiamat dan Tanda Kedatangannya
  • Makna Muhasabah (Evaluasi Diri)
  • Amalan Ahlus Sunnah Wal Jamaah
  • Berinvestasi Dengan Wakaf
  • Ilmu, Simbol Kejayaan Umat
  • Ijabah Do’a
  • Islam Dan Sistem Ekonomi
  • Menggapai Hidup Berkualitas
  • Muhasabah dan Muroqobah, Jalan Menuju Taqwa
  • Hikmah Memperingati Hari Pahlawan
  • Yang Diridhoi Dan Yang Dimurkai Allah
  • Hikmah Ibadah Haji
  • Esensi Haji Mabrur
  • Pola Hidup Sehat Menurut AlQur'an
  • Berdakwah Dengan Hikmah
  • Komunisme dan Bahaya Komunis
  • Cinta Allah Kepada Hambanya
  • Menjaga Diri Dari Makanan Dan Minuman Yang Haram
  • Wibawa Umat
  • Menuntut Ilmu Tanpa Batas
  • Rahasia Keberkahan Ramadhan
  • Menggapai Puncak Keimanan
  • Mendalami Makna Ukhuwah
  • Amalan Penting Menyambut Bulan Ramadhan
  • Memurnikan Niat, Menyongsong Bulan Ramadhan
  • Menempuh Jalan Lurus, Dunia Hingga Akhirat
  • Makna Isra’ Mi’raj Dalam Kehidupan
  • Kiat Memperbaiki Moralitas Bangsa
  • Membumikan Akhlak Rasulullah Saw
  • Membangun Generasi Rabbany
  • Kisah Nabi Isa Dalam Al-Quran Dan Injil
  • Kepemimpinan Rabbani
  • Sufi Dan Sufisme Di Era Global
  • Menggapai Hidup Bahagia
  • Penyakit Hati Dan Obat Penawarnya
  • Peranan Masjid Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Umat
  • Batas-Batas Toleransi Antar Umat Beragama
  • Bulan Kemuliaan Antara Islam Dan Jawa
  • Politik, Antara Norma Dan Realita
  • Aqidah Dan Akhlaq Seorang Pemimpin
  • Rasulullah Tauladan Sepanjang Zaman
  • Mengapa Syi'ah Bermasalah
  • Keunggulan Syariat Allah Swt
  • Hikmah Dzikrul Maut
  • Kiat Mengikis Tradisi Khurofat
  • Istiqomah Tahun 2012
  • Membangun Surga Dalam Keluarga
  • Menggapai Rahmat Allah
  • Hijrah, Upaya Mempertahankan Aqidah
  • Kewajiban Dakwah Bagi Setiap Muslim
  • Dakwah di Tengah Kemajemukan Umat
  • Islam Mengutamakan Kualitas Bukan Kuantitas
  • Menuju Arah Pendidikan Yang Ideal
  • Sucikan Harta Dengan Berderma
  • Terapi Penyakit Hati
  • Strategi Menghadapi Ghozwul Fikri
  • Hakekat Konsep Jihad Dalam Perspektif Islam
  • Urgensi Mengenal Produk Halal dan Baik
  • Mempertahankan Fithrah Manusia
  • Kembali Kepada Allah
  • Merenungi Alam Raya
  • Memperkokoh Ukhuwah Islamiyah
  • Merefleksikan Puasa Ramadhan
  • Tantangan Da'wah di Era Global
  • Kewajiban Memberantas Kemungkaran
  • Persiapan Menghadapi Puasa Ramadhan
  • Islam Agama Nasehat
  • Hak Terhadap Allah, Terhadap Diri Sendiri Dan Terhadap Sesama
  • Kontektualisasi Pemahaman Isra’ Mi’raj
  • Hidup Damai Dengan Islam
  • Doa, Senjata Orang Beriman
  • Kedudukan Wanita Dalam Perspektif Islam
  • Mengikis Budaya Korupsi
  • Cuci Otak
  • Menggapai Rahmat Dengan Taubat
  • Keseimbangan Investasi Dunia Akhirat
  • Urgensi Mendahulukan Kualitas Atas Kuantitas Dalam Beramal
  • Manusia-Manusia Unik Dalam Alqur’an
  • Amar Makruf Nahi Mungkar
  • Memupuk Kepedulian Sosial
  • Pilar-Pilar Kejayaan Islam
  • Keunggulan Ajaran Islam
  • Keagungan Akhlak Rasulullah Saw
  • Rasululloh Sebagai Uswah
  • Keteladanan Kisah Nabi Nuh As
  • Keutamaan Shalat Lail
  • Niat Pangkal Seluruh Aktivitas
  • Membentuk Keshalihan Ritual dan Sosial
  • Dunia Sebagai Ladang Akhirat
  • Muhasabah Tahun Baru
  • Batas-batas Toleransi Antar Umat Beragama
  • Do’a, Perisai Mukmin
  • Islam Agama Seluruh Nabi dan Rasul
  • Mengenang Kembali Makna Hijriyah
  • Risywah, Macam dan Bahayanya
  • Iman Sebagai Kekuatan Moral
  • Bahagia Saat Orang Lain Bahagia
  • Islam Kenikmatan Yang Agung dan Sempurna
  • Penyakit Sosial dalam Sorotan Syariat
  • Manusia Makhluk Fitri
  • Kiat Mencapai Derajat Taqwa
  • Riya’, Penyakit Amal Kebajikan
  • Membentuk Kesehatan Jasmani dan Rohani
  • Mengantisipasi Aliran Sesat
  • Urgensi Membaca dan mengamalkan Al-Qur’an
  • Musik Bata
  • Sedekah yang Barakah
  • Nilai Pendidikan Ramadhan
  • Dr. H. Imam Mawardi, MA
  • Nikah, Hakikat dan Urgensinya
  • Pengendalian Hawa Nafsu
  • Memberantas Kebodohan
  • Menggapai Hidup Barakah
  • Profil Manusia Bertaqwa
  • Akhlaq Mahmudah dan Akhlaq Madzmumah
  • Menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
  • Urgensi Ukhuwah Islamiyah
  • Syirik, Macam dan Bahayanya
  • Bersihkan Harta dan Hati untuk Bangun Negeri
  • Menghadapi Ujian Tahta Harta Dan Wanita