Khutbah Jum'at
 

Prof. DR H Moh Ali Aziz, M.Ag

Musik Bata

06-09-2010 | 16:45:33

”Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan”. (QS At-Taubah [9]: 82)

Pada ayat-ayat sebelum ayat di atas, Allah menjelaskan sifat-sifat orang munafik. Mereka mengatakan, ”Andaikan kami diberi rizki yang banyak, pastilah akan kami sedekahkan sebanyak-benyaknya dan kami menjadi orang-orang yang shaleh”. Setelah keinginan itu dipenuhi Allah, mereka menjadi kikir dan menjauh dariNya. Mereka tertawa riang ketika tidak ikut berjuang bersama Rasulullah, sehingga harta mereka utuh karena tidak ikut membiayai perjuangan dan mereka juga terlepas dari resiko mati di medan perang. Pada ayat di atas Allah memberi ultimatum, jika mereka tetap tertawa dan bersenang-senang dengan sikapnya itu, maka mereka bisa memuaskan tawanya sampai mati. Tapi itu sebenarnya tawa yang singkat dibanding tangisan yang ia rasakan selamanya di akhirat kelak.

Antara tawa dan tangis juga disebutkan oleh Allah pada QS. An-Najm [53]:59-62: ”Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? dan kamu menertawakan dan tidak menangis? dan kamu mengabaikannya? Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia). (QS. An-Najm [53]:59-62) Dalam Tafsir Ibnu Katsir dan At-Thabary dijelaskan maksud ayat ini adalah keheranan Allah kepada orang-orang kafir Quresy. Mengapa mereka tetap heran dengan wahyu Al-Qur’an yang diterima Rasulullah, lalu menertawakan isinya? Mengapa mereka tidak menangis mendengar ancaman siksa Allah untuk para pelaku dosa padahal mereka juga pelaku dosa dan mengapa mereka acuh dengan pesan-pesan al-Qur’an?

Menurut keterangan Imam Bukhari dari riwayat ’Ikrimah dari Ibnu Abbas, ketika empat ayat penutup Surat An-Najm tersebut turun, semua sahabat yang berada dekat Nabi langsung bersujud. Walid bin Al-Mughirah, seorang musyrik yang hadir di tempat itu juga mengambil sekepal tanah untuk ikut bersujud. ”Luar biasa lembut dan dalamnya sentuhan pesan ayat itu” katanya.

Tawa dan Tangis selalu berseberangan akibatnya dalam kehidupan dunia dan akhirat. Siapapun yang banyak tawa di dunia, ia banyak tangisnya di akhirat. Dalam sebuah hadis qudsi, Allah SWT berfirman, ”Aku tidak akan mengumpulkan dua ketakutan dan tidak pula dua rasa aman bagi hambaKu. Jika ia merasa aman dariKu di dunia, Aku akan memberinya rasa takut di hari kiamat. Dan jika ia takut kepadaKu di dunia, akan Aku akan memberinya rasa aman pada hari kiamat” (HQR Ibnul Mubarak dari Al-Hasan). Orang yang banyak tertawa dan hidup permissive (serba boleh) tanpa aturan agama, ia akan menangisi nasibnya di akhirat. Sebaliknya bagi yang sering menangis karena dosa-dosanya, serba hati-hati dalam setiap langkahnya serta merasa terikat dengan hukum-hukum Allah dalam semua langkahnya, ia akan merasakan rasa aman dari siksa Allah dan berbahagia dengan penghormatan yang istimewa dari Allah.

Anas RA bercerita, Rasulullah SAW pernah menyampaikan khutbah luar biasa yang belum pernah saya dengar sebelumnya. Beliau berkhutbah, ’Lau ta’lamuna ma a’lam ladlahiktum qalilan walabakaitum katsira” (Andaikan kalian mengetahui apa yang telah saya ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis”. Anas menceritakan, ”maka para sahabat Rasulullah SAW menutup muka sambil menangis terisak-isak” (HR Bukhari Muslim)

Assamarqandi menambahkan alasan mengapa kita tidak boleh banyak tertawa. Pertama, kita mempunyai dosa, dan kita tidak tahu Allah berkenan mengampuninya atau tidak. Kedua, kita telah melakukan sejumlah ibadah, tapi tidak ada jaminan bahwa Ibadah itu diterima Allah. Ketiga, kita bisa mengetahui masa lalu, tapi tidak tahu waktu berikutnya yang penuh spekulasi antara keimanan dan kekafiran. Keempat, di akhirat hanya ada surga dan neraka, sedangkan kita tidak tahu tempat kita di antara keduanya. Kelima, sampai hari ini kita tidak tahu apakah Allah ridla atau murka kepada kita.

Menurut Assamarqandi pula, banyak tertawa di samping menandakan seseorang sedang lupa akhirat, juga menyebabkan turunnya derajat keilmuan agamanya atau semakin menunjukkan kebodohan, jika ia memang orang bodoh.

Umar bin Khattab berkata, ”Siapa yang banyak tertawa, akan hilang wibawanya. Siapa yang suka bergurau, ia tidak akan dihargai orang. Siapa yang membiasakan suatu perbuatan, ia akan dikenal dengan perbuatannya itu. Siapa yang banyak bicara, sangat mungkin banyak salahnya. Siapa yang sering melakukan kesalahan, tipislah rasa malunya. Siapa yang tipis rasa malunya, tipis pula kehati-hatian beragamanya (wara’). Siapa yang tipis kehati-hatian beragamanya, matilah hatinya. Siapa yang telah mati hatinya, nerakalah yang paling layak tempat kembalinya”. Sebaliknya, orang yang sering menangis, ia akan dijauhkan dari siksa Allah. Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, ”Orang yang pernah menangis karena takut Allah tidak akan masuk neraka sehingga air susu kembali masuk ke dalam tetek. Dan debu yang menempel karena berjuang di jalan Allah tidak akan bisa berkumpul dengan asap neraka jahannam” (HR Turmudzy). Oleh sebab itu Abdullah bin ’Amr bin al-’Ash memberi nasehat, ”Menangislah untuk akhiratmu. Jika tidak bisa, maka lakukan dengan segela cara sampai berhasil menangis”. ”Air mata takwa adalah lampu di alam kubur dan racun hewan pemakan jasad di dalamnya” kata Imam Al-Ghazali.

Agama kita bukan melarang tertawa. Sebab tertawa itu sehat. Nabi juga beberapa kali tertawa. Akan tetapi, jika berlebihan, maka itu tidak sehat, karena akan menjadikan lupa persiapan menuju akhirat. Banyak tertawa merusak keseriusan kita dalam menyelesaikan suatu tugas. Kalau kita melihat wajah kita di berbagai media elektronik, porsi kita untuk tertawa sudah melebihi dosis, sehingga acara apa saja harus disertai tawa. Dengan bahasa yang agak ekstrim, kita sudah menjadi bagsa yang ”cengengesan”. Kapan bangsa kita lebih menyukai berpikir serius dan berkreasi, sehingga lahir karya-karya besar yang mengharumkan bangsa kita di mata dunia.

Tawa berbeda dengan senyum. Kita justeru dianjurkan oleh Rasulullah SAW. ”Senyummu adalah sedekahmu”. Senyum adalah simbol syukur dan ridla kita kepada Allah atas suka dan duka yang kita alami. Senyum juga menghangatkan persahabatan. Dengan senyum, jiwa sehat dan persaudaraan lebih erat. Abu Dzarrin RA berkata, Rasulullah berpesan kepada saya ”Jangan sekali-kali meremehkan suatu kebaikan walaupun dengan bermuka manis bila bertemu dengan saudaramu” (HR Muslim).

Tangisan bukan tanda kecengengan jika tangisan itu menyangkut akhirat. Rasulullah dan para sahabat pejuang tidak pernah gentar dan takut dalam pertempuran, sekalipun menghadapi musuh yang tidak seimbang. Tidak ada satupun nabi panakut atau peragu. Tapi takut luar biasa disertai isakan tangis ketika mengingat persiapan menghadap Allah. Mudah-mudahan tidak ada satupun jamaah di masjid ini yang belum pernah menangis sama sekali selama ramadlan ini. Jika ada, masih ada waktu-waktu istimewa khususnya lailatul qadar untuk itu. Kita tingkatkan introspeksi kita dan terus berlatih Musik Bata (Murah Senyum, Irit Ketawa dan Banyak Tangis).

Khutbah sebelumnya :

  • Menjadi Umat yang Terbaik
  • Urgensi Pemurnian Aqidah Dalam Membangun Bangsa
  • Kejujuran Kunci Kesuksesan
  • Menjadi Umat Nabi Muhammad yang Hakiki
  • KERUKUNAN UMAT BERAGAMA, PILAR NEGARA RI
  • Menyelesaikan Perbedaan
  • Mengukur Kadar Keimanan
  • KH Agoes Ali Masyhuri
  • Ukhuwah Demi Muruu’ah (Martabat)
  • Kecerdasan Spiritual
  • Hijrah, Momentum Mempererat Persaudaraan
  • Refleksi 51 Tahun Pemberontakan G-30-S/PKI
  • Urgensi Tauhid dalam Mengangkat Derajat & Martabat Muslimin
  • Kecintaan Sesama, Bukti Cinta Kepada Allah
  • Syukur dan Bahagia
  • Singa dalam Senyap
  • Berteknologi Tanpa Iman
  • Hakekat Pahlawan
  • Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan
  • Menggapai Bahagia, Hubungkan Bumi dengan Langit
  • Kehidupan Dunia Sementara
  • Takabbur dan Tawadhu’
  • Pasar dalam Islam
  • Memberi Tanpa Menyakiti
  • Ramadhan, Bulan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
  • Hakikat Ibadah
  • Meraih Derajat Muttaqiin
  • Merindukan Ramadhan
  • Jihad Akbar Bukan Sembarang Jihad
  • Merajut Ukhuwah Islamiyah
  • Debu Takwa Pembebas Derita
  • Isra’ Mi’raj Momentum Evaluasi Shalat
  • Keutamaan Shadaqah
  • Ikhtiar, Do’a dan Tawakkal
  • Qanaah Bukti Keimanan Seseorang Kepada Allah
  • Mengemban Amanat Agama
  • Ujian, Bukti Cinta Allah kepada Hambanya
  • Menuju Kecintaan Kepada Allah Swt
  • Masa dan Manusia
  • Segera Bertaubat sebelum Terlambat
  • Kesehatan Jasmani dan Rohani
  • Memaafkan dan Mendamaikan
  • Mengungkap Hikmah Shabar
  • Membangun Bangsa dengan Imtaq dan Iptek
  • Meningkatkan Iman Dan Taqwa di Tahun 2016
  • Fadhilah Membahagiakan Orang Lain
  • Bukti Cinta Rasulullah Kepada Umatnya
  • Strategi Umat Islam Menghadapi Tantangan Global
  • Lemah Lembut dan Murah Hati
  • Keserasian Aqidah, Syariah dan Akhlak
  • Dzikirnya Orang yang Cerdik Cendikia
  • Budi Pekerti yang Luhur
  • Persatuan, Modal Kesuksesan Bangsa
  • Pentingnya Belajar dari Sejarah
  • Mewaspadai Golongan Ekstrim
  • Menemukan “Ibrahim” Era Baru
  • Amalan Subtansional
  • Bermuamalah dengan Non Muslim
  • Merdeka dalam Perspektif Islam
  • Mempertahankan Persaudaraan dalam Bingkai Iman
  • Petunjuk Allah dalam Menghadapi Cobaan Hidup
  • Amalan Penting Pasca Ramadhan
  • Wakaf dan Kesejahteraan Umat
  • Jiwa Yang Fitrah, Kunci Kebahagiaan Dunia Akhirat
  • 5 Wasiat Menuju Pribadi Unggul
  • Syawwal, Bulan Peningkatan
  • Puasa, Makna dan Filosofinya
  • Berbenah Diri Menyambut Bulan Suci
  • Konsep Beragama dalam Bingkai Nkri
  • Pedoman Pergaulan dalam Rumah Tangga
  • Makna Shalat, Historis dan Filosofis
  • Essensi Shalat dalam Kehidupan
  • Penghargaan untuk Merubah Masa Depan
  • Beri Upah Pekerja, Sebelum Keringat Menetes
  • Keseimbangan Materi dan Nurani
  • Orang-Orang yang Jauh dari Hidayah Allah
  • Ayat-ayat Allah di Alam Semesta
  • Islam Kaafah dalam Berbangsa dan Bernegara
  • Muslim yang Ikhlas
  • Ancaman Orang yang Mengabaikan Zakat
  • Dampak Kesehatan Jiwa Terhadap Kesehatan Jasmani
  • Urgensi Musyawarah dalam Setiap Urusan
  • Pedoman Memilih Pemimpin Menurut Pandangan Islam
  • Keluhuran Akhlak Jaminan Kejayaan Bangsa
  • Empat Pilar Akhlaq Mulia
  • Jihad Melawan Hawa Nafsu
  • Sifat Orang Kafir
  • Berhati-Hati dengan Tipudaya Dunia
  • Unjuk Rasa dalam Islam
  • Refleksi di Tahun Baru
  • Mengenal Hadis-Hadis Israiliyaat
  • Fleksibelitas dalam Hukum Islam
  • Teladan Rasulullah dalam Intrepreneurship
  • Mewujudkan Islam Kaaffah (Menyeluruh)
  • Membangun Masyarakat Bermartabat, Mewujudkan Negara Damai Sejahtera
  • Hidup Mulia dengan Islam
  • Haji dan Perbaikan Moral Umat
  • Urgensi Bersahabat dengan Orang yang Shalih
  • Menyongsong Era Baru Kepemimpinan Nasional
  • Ekonomi Islam dan Konvensional
  • Menegakkan dan Memelihara Keutamaan Islam
  • Memupuk Jiwa Berkurban
  • Dunia Adalah Ladang Akhirat
  • Kemerdekaan yang Hakiki
  • Urgensi Mengajak Kepada Kebaikan
  • Manusia Adalah Makhluk Fitri
  • Dusta Merupakan Sumber Malapetaka
  • Mempersiapkan Diri Menghadapi Bulan Suci
  • Menjaga Diri Dengan Yang Halal
  • Menimba Hikmah Kisah Nabi Isa a.s.
  • Akibat Orang Yang Menukar Ayat-Ayat Allah
  • Manajemen Dakwah Efektif Aplikatif
  • Kedekatan Manusia di Sisi Allah Swt
  • Membangun Karakter Asmaul Husna
  • Keutamaan Jihad Dengan Harta
  • Keteladanan Rasulullah Saw
  • Kearifan Lokal Dalam Perspektif Islam
  • Mendalami Makna Ukhuwah
  • Peran Ulama’ Dalam Kehidupan Bernegara
  • Islam Agama Universal
  • Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an
  • Tugas Rasul Penyempurna Akhlak Manusia
  • Meneladani Figur Rosulullah SAW
  • Makna Muhasabah (Evaluasi Diri)
  • Petunjuk Rasulullah Tentang Alam Kubur
  • Islam Dan Terjaganya Perilaku
  • Membentuk Muslim Unggul
  • Ilmu Waris, Bagian Dari Agama dan Setengah Dari Ilmu
  • Menggapai Derajat Dengan Ilmu Pengetahuan
  • Upaya Mewujudkan Khoira Ummat (Umat Tebaik)
  • Amalan-Amalan Dalam Rangka Mengisi Tahun Baru Hijriyah
  • Syukur Menjadi Bangsa Indonesia
  • Spirit Tahun Baru Hijriyah
  • Indikator Haji yang Mabrur
  • Penerapan Nilai-Nilai Islam dalam Peradaban Masa Kini
  • Problematika Umat
  • Seputar Ibadah Haji dan Umrah
  • Kemiskinan dalam Pandangan Islam
  • Muslim Selektif Produktif
  • Syahadat, Makna dan Konsekuensinya
  • Menata Hidup dan Kehidupan Dalam Perspektif Islam
  • Urgensi Mempertahankan Kualitas Ibadah
  • Tasamuh, Ta’awun dan Tadlomun
  • Sillaturrahim Dalam Lebaran
  • Kewajiban Dakwah Dalam Berbagai Situasi dan Kondisi
  • Keluh Kesah Manusia Dalam Hidup
  • Amalan-Amalan Penguat Iman
  • Mempertahankan Aqidah di Tengah Benturan Budaya
  • Antara Hak dan Tanggung Jawab
  • Meyakini Kebenaran Ayat-Ayat Al Qur’an
  • Menjaga Diri dan Keluarga dari Api Neraka
  • Nilai Kehidupan
  • Konsep Islam Mengikis Korupsi
  • Shalat Kematian
  • Mempertanyakan Ukhuwah Kita
  • Tiga Faktor Utama Kebahagiaan
  • Menyelaraskan Perkataan Dengan Perbuatan
  • Mengenal Penyakit Hati
  • Pentingnya Menuntut Ilmu dan Kewajiban Mengamalkannya
  • Lezatnya Iman
  • Prinsip-Prinsip Universal Toleransi Antar Umat Beragama
  • Islam, Ya'luu Walaa Yu'laa 'Alaih
  • Islam, dan Ajaran Jihad
  • Kisah Teladan Sahabat Nabi Muhammad Saw
  • Membumikan Akhlak Mulia Dalam Kehidupan
  • Nabi Isa, Kisah dan Hikmahnya
  • Antara Iman dan Amal Sholih
  • Nabi Muhammad Saw, Figur Teladan Umat
  • Menggapai Derajat Siddiqin
  • Dahsyatnya Kiamat dan Tanda Kedatangannya
  • Makna Muhasabah (Evaluasi Diri)
  • Amalan Ahlus Sunnah Wal Jamaah
  • Berinvestasi Dengan Wakaf
  • Ilmu, Simbol Kejayaan Umat
  • Ijabah Do’a
  • Islam Dan Sistem Ekonomi
  • Menggapai Hidup Berkualitas
  • Muhasabah dan Muroqobah, Jalan Menuju Taqwa
  • Hikmah Memperingati Hari Pahlawan
  • Yang Diridhoi Dan Yang Dimurkai Allah
  • Hikmah Ibadah Haji
  • Esensi Haji Mabrur
  • Pola Hidup Sehat Menurut AlQur'an
  • Berdakwah Dengan Hikmah
  • Komunisme dan Bahaya Komunis
  • Cinta Allah Kepada Hambanya
  • Menjaga Diri Dari Makanan Dan Minuman Yang Haram
  • Wibawa Umat
  • Menuntut Ilmu Tanpa Batas
  • Rahasia Keberkahan Ramadhan
  • Menggapai Puncak Keimanan
  • Mendalami Makna Ukhuwah
  • Amalan Penting Menyambut Bulan Ramadhan
  • Memurnikan Niat, Menyongsong Bulan Ramadhan
  • Menempuh Jalan Lurus, Dunia Hingga Akhirat
  • Makna Isra’ Mi’raj Dalam Kehidupan
  • Kiat Memperbaiki Moralitas Bangsa
  • Membumikan Akhlak Rasulullah Saw
  • Membangun Generasi Rabbany
  • Kisah Nabi Isa Dalam Al-Quran Dan Injil
  • Kepemimpinan Rabbani
  • Sufi Dan Sufisme Di Era Global
  • Menggapai Hidup Bahagia
  • Penyakit Hati Dan Obat Penawarnya
  • Peranan Masjid Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Umat
  • Batas-Batas Toleransi Antar Umat Beragama
  • Bulan Kemuliaan Antara Islam Dan Jawa
  • Politik, Antara Norma Dan Realita
  • Aqidah Dan Akhlaq Seorang Pemimpin
  • Rasulullah Tauladan Sepanjang Zaman
  • Mengapa Syi'ah Bermasalah
  • Keunggulan Syariat Allah Swt
  • Hikmah Dzikrul Maut
  • Kiat Mengikis Tradisi Khurofat
  • Istiqomah Tahun 2012
  • Membangun Surga Dalam Keluarga
  • Menggapai Rahmat Allah
  • Hijrah, Upaya Mempertahankan Aqidah
  • Kewajiban Dakwah Bagi Setiap Muslim
  • Dakwah di Tengah Kemajemukan Umat
  • Islam Mengutamakan Kualitas Bukan Kuantitas
  • Menuju Arah Pendidikan Yang Ideal
  • Sucikan Harta Dengan Berderma
  • Terapi Penyakit Hati
  • Strategi Menghadapi Ghozwul Fikri
  • Hakekat Konsep Jihad Dalam Perspektif Islam
  • Urgensi Mengenal Produk Halal dan Baik
  • Mempertahankan Fithrah Manusia
  • Kembali Kepada Allah
  • Merenungi Alam Raya
  • Memperkokoh Ukhuwah Islamiyah
  • Merefleksikan Puasa Ramadhan
  • Tantangan Da'wah di Era Global
  • Kewajiban Memberantas Kemungkaran
  • Persiapan Menghadapi Puasa Ramadhan
  • Islam Agama Nasehat
  • Hak Terhadap Allah, Terhadap Diri Sendiri Dan Terhadap Sesama
  • Kontektualisasi Pemahaman Isra’ Mi’raj
  • Hidup Damai Dengan Islam
  • Doa, Senjata Orang Beriman
  • Kedudukan Wanita Dalam Perspektif Islam
  • Mengikis Budaya Korupsi
  • Cuci Otak
  • Menggapai Rahmat Dengan Taubat
  • Keseimbangan Investasi Dunia Akhirat
  • Urgensi Mendahulukan Kualitas Atas Kuantitas Dalam Beramal
  • Manusia-Manusia Unik Dalam Alqur’an
  • Amar Makruf Nahi Mungkar
  • Memupuk Kepedulian Sosial
  • Pilar-Pilar Kejayaan Islam
  • Keunggulan Ajaran Islam
  • Keagungan Akhlak Rasulullah Saw
  • Rasululloh Sebagai Uswah
  • Keteladanan Kisah Nabi Nuh As
  • Keutamaan Shalat Lail
  • Niat Pangkal Seluruh Aktivitas
  • Membentuk Keshalihan Ritual dan Sosial
  • Dunia Sebagai Ladang Akhirat
  • Muhasabah Tahun Baru
  • Batas-batas Toleransi Antar Umat Beragama
  • Do’a, Perisai Mukmin
  • Islam Agama Seluruh Nabi dan Rasul
  • Mengenang Kembali Makna Hijriyah
  • Risywah, Macam dan Bahayanya
  • Iman Sebagai Kekuatan Moral
  • Bahagia Saat Orang Lain Bahagia
  • Islam Kenikmatan Yang Agung dan Sempurna
  • Penyakit Sosial dalam Sorotan Syariat
  • Manusia Makhluk Fitri
  • Kiat Mencapai Derajat Taqwa
  • Riya’, Penyakit Amal Kebajikan
  • Membentuk Kesehatan Jasmani dan Rohani
  • Mengantisipasi Aliran Sesat
  • Urgensi Membaca dan mengamalkan Al-Qur’an
  • Musik Bata
  • Sedekah yang Barakah
  • Nilai Pendidikan Ramadhan
  • Dr. H. Imam Mawardi, MA
  • Nikah, Hakikat dan Urgensinya
  • Pengendalian Hawa Nafsu
  • Memberantas Kebodohan
  • Menggapai Hidup Barakah
  • Profil Manusia Bertaqwa
  • Akhlaq Mahmudah dan Akhlaq Madzmumah
  • Menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
  • Urgensi Ukhuwah Islamiyah
  • Syirik, Macam dan Bahayanya
  • Bersihkan Harta dan Hati untuk Bangun Negeri
  • Menghadapi Ujian Tahta Harta Dan Wanita