Khutbah Jum'at
 

Drs. H Saiful Jazil, M.Ag

Dusta Merupakan Sumber Malapetaka

27-08-2014 | 14:22:38

Ada seorang sahabat bernama Wahab bin Munabbi. Beliau pernah menceriterakan, bahwa dulu Nabi Isa a.s. pernah punya sahabat yang beragama Yahudi. Kepada sahabatnya ini beliau mengajak bepergian. Sebelum berangkat, Nabi Isa mengatakan : “Wahai saudaraku, aku punya tiga potong roti, dua di antaranya kamu yang membawanya. Dan yang satu, aku bawa sendiri”. Lalu keduanya berjalan, sampai sore hari belum juga sampai ke tujuan. Sehingga, keduanya memutuskan untuk singgah di bawah pohon besar, sambil menunggu datangnya waktu pagi. Keesokannya Nabi Isa berkata : “Wahai saudaraku, aku akan mencari tempat untuk beribadah menghadap kepada Tuhanku, setelah shalat kita baru berangkat, namun terlebih dahulu sarapan dua potong roti yang kamu bawa tadi”.

Singkat cerita, setelah Nabi Isa mencari tempat untuk beribadah, orang Yahudi itu menunggu sambil berfikir dan merenung. Kemudian dalam hatinya berkata : “Kalau kedua roti ini yang akan dimakan terlebih dahulu, berarti Nabi Isa masih punya simpanan satu roti. Oleh karena itu, sebaiknya satu roti aku makan dulu, biar Nabi Musa mendapat satu dan aku mendapat satu”. Akhirnya, setelah Nabi Musa kembali dan meminta mengeluarkan dua roti tadi, orang Yahudi ini mengelak dan berkata : “Mohon maaf, bukankah roti yang kemarin saya bawa itu cuma satu?”. “Loh, kemarin seingat saya, kamu saya suruh membawa dua potong roti” : Jawab Nabi Isa. “Tidak” kata orang Yahudi tadi. “ Buktinya ini hanya ada satu di tanganku”. Nabi Musa berkata : “Ya sudah, kalau begitu yang satu itu kamu makan, dan aku makan yang saya bawa ini”. Usai makan roti, keduanya melanjutkan perjalanan. Di tengah perjalanan, Nabi Isa bertemu dengan orang yang sudah tua yang matanya buta. Nabi Isa memegang orang itu kemudan bertanya : “Bapak mengalami kebutaan seperti ini apa sudah lama?” Dia menjawab : “Saya sudah bertahun-tahun tidak bisa melihat keindahan dunia”. “Seandainya aku berdoa kepada Allah agar kamu sembuh dari kebutaan ini, apa yang akan kamu lakukan?”, kata Nabi Isa. Orang buta berkata : “Saya akan menghabiskan sisa umurku untuk beribadah kepada Allah, sebagai bentuk rasa syukurku karena aku bisa menikmati keindahan dunia ini”. Mendengar penuturan orang itu, kemudian Nabi Isa menegadahkan tangan memohon kepada Allah, lalu tangannya diusapkan di kedua mata orang buta itu. Atas ijin dan kekuasaan Allah, sepontan di buta itu bisa melihat kembali. Inilah sebagian mukjizat Nabi Isa a.s. Melihat kejadian itu, orang Yahudi tadi takjub, dan merasa heran, lalu bertanya kepada Nabi Isa : “ Kok bisa, orang yang sudah buta bertahun-tahun, kamu usap kedua matanya langsung bisa melihat?. Nabi Isa menjawab : “Wahai sahabatku, hari ini Allah masih berkenan untuk menunjukkan kebesaran dan kekuasaanNya kepadamu”. “Terima kasih, Nabi Isa, memang aku baru pertama kali ini aku melihat keajaiban seperti ini” kata orang Yahudi. “Baik, kalau begitu aku mau tanya, mana roti yang satunya yang kamu simpan tadi?. Orang Yahudi menjawab : “Bukankah sudah aku jelaskan tadi, bahwa yang aku titipkan kepadaku tadi hanya satu roti, dan kamu juga mengetahui setelah aku buka bungkusnya hanya ada satu?. “Baiklah, kita lanjutkan perjalanan”, kata Nabi Isa. Hingga sore hari, orang Yahudi ini ditanya oleh Nabi Isa : “Apakah kamu lapar?”. “Betul, bahkan sangat lapar sekali”, jawab orang Yahudi. Nabi Isa memanggil seekor rusa, setelah mendekat, disembelihnya, lalu berkata : “Mari kita makan daging rusa ini bersama-sama”. Setelah keduanya makan hingga kenyang, namun tidak sampai habis. Nabi Isa berkata : “Kamu kumpulkan sisa daging dan tulangnya kemudian bungkus menggunakan kulitnya”. “Baiklah”, jawab orang Yahudi. Setelah terkumpul, Nabi Isa memegangnya dan berkata : “Wahai Rusa, sekarang bangunlah kembali !,”. Seketika itu, atas ijin dan kekuasaan Allah, rusa itu kembali utuh dan hidup, lalu disuruh oleh Nabi Isa untuk pergi. Ini termasuk mukjizat Nabi Isa yang bisa menghidupkan makhluk yang sudah mati. Peristiwa ini juga sangat menakjubkan orang Yahudi sahabat Nabi Isa itu, seraya bertanya : “Nabi Isa, kok bisa rusa yang sudah disembelih dan dimakan dagingnya bisa hidup kembali?”. Nabi Isa menjawab : “Iya, Allah SWT yang kedua kalinya ingin menunjukkan kekuasaan dan kebesarannya kepada kita, untuk itu, aku ingin bertanya lagi, mana satu roti yang kamu simpan tadi?. Dia menjawab : “Wahai Nabi Isa, mengapa kamu dengan seorang teman, masih tidak percaya, masih menanyakan terus tentang itu, bukan aku sudah menceritakan, kalau aku hanya engkau amanati satu roti”. “Okelah, kalau kamu tidak merasa membawa, kita lanjutkan saja perjalanan kita”, jawab Nabi Isa.

Kemudian keduanya berjalan dan berjalan. Belum sampai ke tempat yang dituju, matahari sudah terbenam. Lalu keduanya memutuskan untuk berhenti dan mencari tempat untuk berteduh dan bermalam, di sana terlihat sebuah gubug lalu keduanya mendatanginya. Begitu sampai ke gubug, keduanya dikejutkan dengan isi dalam gubug tersebut, yakni tiga bongkah emas. Begitu terkejutnya, si orang Yahudi bertanya : “Ini milik siapa?”. “Ini sengaja dianugerahkan oleh Allah untuk kita berdua”, jawab Nabi Isa. “ Lalu bagaimana cara membaginya, padahal kita hanya berdua, sedang emas ini ada tiga?” tanya si orang Yahudi kemudian. Nabi Isa menjawab “ Harus dibagi secara adil, satu bongkah untuk aku dan yang satu lagi untuk kamu”. “Lalu, yang satunya lagi untuk siapa?”, tanya si orang Yahudi penasaran. “Yang satu untuk orang yang telah menyimpan roti tadi”, jawab Nabi Isa. Mendengar penjelasan Nabi Isa itu, si orang Yahudi itu, baru mengaku kepada Nabi Isa, bahwa roti yang satu itu dialah yang membawa dan memakannya. “Oh begitu, kenapa baru sekarang kamu mengaku, padahal dari tadi aku menanyakan tentang hal itu?”. Si orang Yahudi itu terdiam, dengan penuh harapan bisa mendapatkan emas bagiannya.

Dari sini kita tahu bahwa, kejujuran yang ditunjukkan si orang Yahudi ini motivasinya, bukan karena Allah, tetapi semata-mata karena ingin mengusai semua harta benda. Ingin mendapatkan bagian harta yang lebih banyak. Oleh karena itulah, kemudian Nabi Isa mengatakan : ”Baik, karena kamu sudah mengaku, maka semuanya menjadi milikmu, tetapi kita berpisah di sini, aku akan melanjutkan perjalananku, dan kamu saya persilahkan untuk mencari alat untuk mengangkut tiga bongkah emas ini”. Setelah ditinggal pergi Nabi Isa, si Yahudi sibuk mencari tempat untuk mengangkut emas itu. tiba-tiba datanglah tiga orang musafir, yang juga ingin singgah di gubug itu. Melihat ada orang yang sibuk mengemas tiga bongkah emas itu, ketiga orang tadi merebut dengan paksa, lalu terjadi pertengkaran hebat, yang menjurus perkelaian, hingga mengakibatkan tewasnya si orang Yahudi itu.

Lalu ketiga orang tersebut membagi emas itu masing-masing satu bongkah. Karena merasa capek dan lapar ketiganya sepakat untuk membagi tugas. Satu orang mendapat tugas mencari makanan ke luar, sedang dua orang tetap di gubug itu untuk menjaga emas. Setelah satu orang pergi untuk mencari makanan, timbullah niat jahat dari kedua orang yang menjaga emas itu. Keduanya sepakat untuk membunuh satu orang yang mendapat tugas mencari makanan tadi setelah dia datang, sehingga kedua orang itu hanya membagi tiga bongkah emas itu berdua saja, sehingga bagiannya menjadi satu setengah. Begitu juga, satu orang yang mencari makanan itu juga punya niat jahat, dia ingin membunuh kedua temannya yang menjaga emas di gubug itu, dengan cara mencampur makanannya dengan racun. Sekenario berjalan, orang yang mencari makanan begitu datang langsung dibunuh, setelah itu keduanya makan makanan hasil dari seorang temannya tadi, tidak tahu kalau sudah dicampur dengan racun, mereka memakan dengan lahap dan tidak lama kemudian keduanya mati.

Bukan karena kisahnya kemudian kami sampaikan pada siang hari ini, tetapi karena pelajaran yang dapat diambil dari kisah itu yang saya ingin sampaikan. Karena di negeri ini baru saja melaksanakan pilihan presiden. Ada yang ironis yang kita saksikan bersama, bahwa kedua-duanya mengklaim sebagai pemenang, padahal dasar mereka hanya perhitungan sementara. Yang itu bisa direkayasa berdasarkan kepentingan pribadi dari masing-masing calon. Kalau itu dibangun atas dasar kebohongan atau ketidakjujuran, jangan harap negara kita akan bangkit, apalagi menjadi negeri yang gemah ripah lohjinawi. Karena sumber malapetaka, daru dulu hingga sekarang, adalah kebohongan dan ketidakjujuran. Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya kejujuran itu, menghantarkan pelakunya kepada kebajikan, dan sungguh kebenaran itu akan mengantarkan pelakukan kepada surga, orang yang terbiasa berbuat jujur, maka di sisi Allah akan tercatat sebagai hambaNya yang jujur. Dan sungguh dusta itu akan membawa pelakunya kepada kehancuran, kejahatan. Dan kejahatan akan menghantarkan pelakunya kepada neraka. Orang yang terbiasa berkata dusta, akan tercatat di sisi Allah sebagai hambaNya yang pembuhong.

Mudah-mudahan semua bisa menahan diri. Dan semoga di negeri ini mendapat pemimpin yang jujur dan adil sehingga negeri ini menjadi negeri yang makmur, selalu dinaungi Rahmat dan Ridho Allah SWT.

Khutbah sebelumnya :

  • Menjadi Umat yang Terbaik
  • Urgensi Pemurnian Aqidah Dalam Membangun Bangsa
  • Kejujuran Kunci Kesuksesan
  • Menjadi Umat Nabi Muhammad yang Hakiki
  • KERUKUNAN UMAT BERAGAMA, PILAR NEGARA RI
  • Menyelesaikan Perbedaan
  • Mengukur Kadar Keimanan
  • KH Agoes Ali Masyhuri
  • Ukhuwah Demi Muruu’ah (Martabat)
  • Kecerdasan Spiritual
  • Hijrah, Momentum Mempererat Persaudaraan
  • Refleksi 51 Tahun Pemberontakan G-30-S/PKI
  • Urgensi Tauhid dalam Mengangkat Derajat & Martabat Muslimin
  • Kecintaan Sesama, Bukti Cinta Kepada Allah
  • Syukur dan Bahagia
  • Singa dalam Senyap
  • Berteknologi Tanpa Iman
  • Hakekat Pahlawan
  • Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan
  • Menggapai Bahagia, Hubungkan Bumi dengan Langit
  • Kehidupan Dunia Sementara
  • Takabbur dan Tawadhu’
  • Pasar dalam Islam
  • Memberi Tanpa Menyakiti
  • Ramadhan, Bulan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
  • Hakikat Ibadah
  • Meraih Derajat Muttaqiin
  • Merindukan Ramadhan
  • Jihad Akbar Bukan Sembarang Jihad
  • Merajut Ukhuwah Islamiyah
  • Debu Takwa Pembebas Derita
  • Isra’ Mi’raj Momentum Evaluasi Shalat
  • Keutamaan Shadaqah
  • Ikhtiar, Do’a dan Tawakkal
  • Qanaah Bukti Keimanan Seseorang Kepada Allah
  • Mengemban Amanat Agama
  • Ujian, Bukti Cinta Allah kepada Hambanya
  • Menuju Kecintaan Kepada Allah Swt
  • Masa dan Manusia
  • Segera Bertaubat sebelum Terlambat
  • Kesehatan Jasmani dan Rohani
  • Memaafkan dan Mendamaikan
  • Mengungkap Hikmah Shabar
  • Membangun Bangsa dengan Imtaq dan Iptek
  • Meningkatkan Iman Dan Taqwa di Tahun 2016
  • Fadhilah Membahagiakan Orang Lain
  • Bukti Cinta Rasulullah Kepada Umatnya
  • Strategi Umat Islam Menghadapi Tantangan Global
  • Lemah Lembut dan Murah Hati
  • Keserasian Aqidah, Syariah dan Akhlak
  • Dzikirnya Orang yang Cerdik Cendikia
  • Budi Pekerti yang Luhur
  • Persatuan, Modal Kesuksesan Bangsa
  • Pentingnya Belajar dari Sejarah
  • Mewaspadai Golongan Ekstrim
  • Menemukan “Ibrahim” Era Baru
  • Amalan Subtansional
  • Bermuamalah dengan Non Muslim
  • Merdeka dalam Perspektif Islam
  • Mempertahankan Persaudaraan dalam Bingkai Iman
  • Petunjuk Allah dalam Menghadapi Cobaan Hidup
  • Amalan Penting Pasca Ramadhan
  • Wakaf dan Kesejahteraan Umat
  • Jiwa Yang Fitrah, Kunci Kebahagiaan Dunia Akhirat
  • 5 Wasiat Menuju Pribadi Unggul
  • Syawwal, Bulan Peningkatan
  • Puasa, Makna dan Filosofinya
  • Berbenah Diri Menyambut Bulan Suci
  • Konsep Beragama dalam Bingkai Nkri
  • Pedoman Pergaulan dalam Rumah Tangga
  • Makna Shalat, Historis dan Filosofis
  • Essensi Shalat dalam Kehidupan
  • Penghargaan untuk Merubah Masa Depan
  • Beri Upah Pekerja, Sebelum Keringat Menetes
  • Keseimbangan Materi dan Nurani
  • Orang-Orang yang Jauh dari Hidayah Allah
  • Ayat-ayat Allah di Alam Semesta
  • Islam Kaafah dalam Berbangsa dan Bernegara
  • Muslim yang Ikhlas
  • Ancaman Orang yang Mengabaikan Zakat
  • Dampak Kesehatan Jiwa Terhadap Kesehatan Jasmani
  • Urgensi Musyawarah dalam Setiap Urusan
  • Pedoman Memilih Pemimpin Menurut Pandangan Islam
  • Keluhuran Akhlak Jaminan Kejayaan Bangsa
  • Empat Pilar Akhlaq Mulia
  • Jihad Melawan Hawa Nafsu
  • Sifat Orang Kafir
  • Berhati-Hati dengan Tipudaya Dunia
  • Unjuk Rasa dalam Islam
  • Refleksi di Tahun Baru
  • Mengenal Hadis-Hadis Israiliyaat
  • Fleksibelitas dalam Hukum Islam
  • Teladan Rasulullah dalam Intrepreneurship
  • Mewujudkan Islam Kaaffah (Menyeluruh)
  • Membangun Masyarakat Bermartabat, Mewujudkan Negara Damai Sejahtera
  • Hidup Mulia dengan Islam
  • Haji dan Perbaikan Moral Umat
  • Urgensi Bersahabat dengan Orang yang Shalih
  • Menyongsong Era Baru Kepemimpinan Nasional
  • Ekonomi Islam dan Konvensional
  • Menegakkan dan Memelihara Keutamaan Islam
  • Memupuk Jiwa Berkurban
  • Dunia Adalah Ladang Akhirat
  • Kemerdekaan yang Hakiki
  • Urgensi Mengajak Kepada Kebaikan
  • Manusia Adalah Makhluk Fitri
  • Dusta Merupakan Sumber Malapetaka
  • Mempersiapkan Diri Menghadapi Bulan Suci
  • Menjaga Diri Dengan Yang Halal
  • Menimba Hikmah Kisah Nabi Isa a.s.
  • Akibat Orang Yang Menukar Ayat-Ayat Allah
  • Manajemen Dakwah Efektif Aplikatif
  • Kedekatan Manusia di Sisi Allah Swt
  • Membangun Karakter Asmaul Husna
  • Keutamaan Jihad Dengan Harta
  • Keteladanan Rasulullah Saw
  • Kearifan Lokal Dalam Perspektif Islam
  • Mendalami Makna Ukhuwah
  • Peran Ulama’ Dalam Kehidupan Bernegara
  • Islam Agama Universal
  • Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an
  • Tugas Rasul Penyempurna Akhlak Manusia
  • Meneladani Figur Rosulullah SAW
  • Makna Muhasabah (Evaluasi Diri)
  • Petunjuk Rasulullah Tentang Alam Kubur
  • Islam Dan Terjaganya Perilaku
  • Membentuk Muslim Unggul
  • Ilmu Waris, Bagian Dari Agama dan Setengah Dari Ilmu
  • Menggapai Derajat Dengan Ilmu Pengetahuan
  • Upaya Mewujudkan Khoira Ummat (Umat Tebaik)
  • Amalan-Amalan Dalam Rangka Mengisi Tahun Baru Hijriyah
  • Syukur Menjadi Bangsa Indonesia
  • Spirit Tahun Baru Hijriyah
  • Indikator Haji yang Mabrur
  • Penerapan Nilai-Nilai Islam dalam Peradaban Masa Kini
  • Problematika Umat
  • Seputar Ibadah Haji dan Umrah
  • Kemiskinan dalam Pandangan Islam
  • Muslim Selektif Produktif
  • Syahadat, Makna dan Konsekuensinya
  • Menata Hidup dan Kehidupan Dalam Perspektif Islam
  • Urgensi Mempertahankan Kualitas Ibadah
  • Tasamuh, Ta’awun dan Tadlomun
  • Sillaturrahim Dalam Lebaran
  • Kewajiban Dakwah Dalam Berbagai Situasi dan Kondisi
  • Keluh Kesah Manusia Dalam Hidup
  • Amalan-Amalan Penguat Iman
  • Mempertahankan Aqidah di Tengah Benturan Budaya
  • Antara Hak dan Tanggung Jawab
  • Meyakini Kebenaran Ayat-Ayat Al Qur’an
  • Menjaga Diri dan Keluarga dari Api Neraka
  • Nilai Kehidupan
  • Konsep Islam Mengikis Korupsi
  • Shalat Kematian
  • Mempertanyakan Ukhuwah Kita
  • Tiga Faktor Utama Kebahagiaan
  • Menyelaraskan Perkataan Dengan Perbuatan
  • Mengenal Penyakit Hati
  • Pentingnya Menuntut Ilmu dan Kewajiban Mengamalkannya
  • Lezatnya Iman
  • Prinsip-Prinsip Universal Toleransi Antar Umat Beragama
  • Islam, Ya'luu Walaa Yu'laa 'Alaih
  • Islam, dan Ajaran Jihad
  • Kisah Teladan Sahabat Nabi Muhammad Saw
  • Membumikan Akhlak Mulia Dalam Kehidupan
  • Nabi Isa, Kisah dan Hikmahnya
  • Antara Iman dan Amal Sholih
  • Nabi Muhammad Saw, Figur Teladan Umat
  • Menggapai Derajat Siddiqin
  • Dahsyatnya Kiamat dan Tanda Kedatangannya
  • Makna Muhasabah (Evaluasi Diri)
  • Amalan Ahlus Sunnah Wal Jamaah
  • Berinvestasi Dengan Wakaf
  • Ilmu, Simbol Kejayaan Umat
  • Ijabah Do’a
  • Islam Dan Sistem Ekonomi
  • Menggapai Hidup Berkualitas
  • Muhasabah dan Muroqobah, Jalan Menuju Taqwa
  • Hikmah Memperingati Hari Pahlawan
  • Yang Diridhoi Dan Yang Dimurkai Allah
  • Hikmah Ibadah Haji
  • Esensi Haji Mabrur
  • Pola Hidup Sehat Menurut AlQur'an
  • Berdakwah Dengan Hikmah
  • Komunisme dan Bahaya Komunis
  • Cinta Allah Kepada Hambanya
  • Menjaga Diri Dari Makanan Dan Minuman Yang Haram
  • Wibawa Umat
  • Menuntut Ilmu Tanpa Batas
  • Rahasia Keberkahan Ramadhan
  • Menggapai Puncak Keimanan
  • Mendalami Makna Ukhuwah
  • Amalan Penting Menyambut Bulan Ramadhan
  • Memurnikan Niat, Menyongsong Bulan Ramadhan
  • Menempuh Jalan Lurus, Dunia Hingga Akhirat
  • Makna Isra’ Mi’raj Dalam Kehidupan
  • Kiat Memperbaiki Moralitas Bangsa
  • Membumikan Akhlak Rasulullah Saw
  • Membangun Generasi Rabbany
  • Kisah Nabi Isa Dalam Al-Quran Dan Injil
  • Kepemimpinan Rabbani
  • Sufi Dan Sufisme Di Era Global
  • Menggapai Hidup Bahagia
  • Penyakit Hati Dan Obat Penawarnya
  • Peranan Masjid Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Umat
  • Batas-Batas Toleransi Antar Umat Beragama
  • Bulan Kemuliaan Antara Islam Dan Jawa
  • Politik, Antara Norma Dan Realita
  • Aqidah Dan Akhlaq Seorang Pemimpin
  • Rasulullah Tauladan Sepanjang Zaman
  • Mengapa Syi'ah Bermasalah
  • Keunggulan Syariat Allah Swt
  • Hikmah Dzikrul Maut
  • Kiat Mengikis Tradisi Khurofat
  • Istiqomah Tahun 2012
  • Membangun Surga Dalam Keluarga
  • Menggapai Rahmat Allah
  • Hijrah, Upaya Mempertahankan Aqidah
  • Kewajiban Dakwah Bagi Setiap Muslim
  • Dakwah di Tengah Kemajemukan Umat
  • Islam Mengutamakan Kualitas Bukan Kuantitas
  • Menuju Arah Pendidikan Yang Ideal
  • Sucikan Harta Dengan Berderma
  • Terapi Penyakit Hati
  • Strategi Menghadapi Ghozwul Fikri
  • Hakekat Konsep Jihad Dalam Perspektif Islam
  • Urgensi Mengenal Produk Halal dan Baik
  • Mempertahankan Fithrah Manusia
  • Kembali Kepada Allah
  • Merenungi Alam Raya
  • Memperkokoh Ukhuwah Islamiyah
  • Merefleksikan Puasa Ramadhan
  • Tantangan Da'wah di Era Global
  • Kewajiban Memberantas Kemungkaran
  • Persiapan Menghadapi Puasa Ramadhan
  • Islam Agama Nasehat
  • Hak Terhadap Allah, Terhadap Diri Sendiri Dan Terhadap Sesama
  • Kontektualisasi Pemahaman Isra’ Mi’raj
  • Hidup Damai Dengan Islam
  • Doa, Senjata Orang Beriman
  • Kedudukan Wanita Dalam Perspektif Islam
  • Mengikis Budaya Korupsi
  • Cuci Otak
  • Menggapai Rahmat Dengan Taubat
  • Keseimbangan Investasi Dunia Akhirat
  • Urgensi Mendahulukan Kualitas Atas Kuantitas Dalam Beramal
  • Manusia-Manusia Unik Dalam Alqur’an
  • Amar Makruf Nahi Mungkar
  • Memupuk Kepedulian Sosial
  • Pilar-Pilar Kejayaan Islam
  • Keunggulan Ajaran Islam
  • Keagungan Akhlak Rasulullah Saw
  • Rasululloh Sebagai Uswah
  • Keteladanan Kisah Nabi Nuh As
  • Keutamaan Shalat Lail
  • Niat Pangkal Seluruh Aktivitas
  • Membentuk Keshalihan Ritual dan Sosial
  • Dunia Sebagai Ladang Akhirat
  • Muhasabah Tahun Baru
  • Batas-batas Toleransi Antar Umat Beragama
  • Do’a, Perisai Mukmin
  • Islam Agama Seluruh Nabi dan Rasul
  • Mengenang Kembali Makna Hijriyah
  • Risywah, Macam dan Bahayanya
  • Iman Sebagai Kekuatan Moral
  • Bahagia Saat Orang Lain Bahagia
  • Islam Kenikmatan Yang Agung dan Sempurna
  • Penyakit Sosial dalam Sorotan Syariat
  • Manusia Makhluk Fitri
  • Kiat Mencapai Derajat Taqwa
  • Riya’, Penyakit Amal Kebajikan
  • Membentuk Kesehatan Jasmani dan Rohani
  • Mengantisipasi Aliran Sesat
  • Urgensi Membaca dan mengamalkan Al-Qur’an
  • Musik Bata
  • Sedekah yang Barakah
  • Nilai Pendidikan Ramadhan
  • Dr. H. Imam Mawardi, MA
  • Nikah, Hakikat dan Urgensinya
  • Pengendalian Hawa Nafsu
  • Memberantas Kebodohan
  • Menggapai Hidup Barakah
  • Profil Manusia Bertaqwa
  • Akhlaq Mahmudah dan Akhlaq Madzmumah
  • Menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
  • Urgensi Ukhuwah Islamiyah
  • Syirik, Macam dan Bahayanya
  • Bersihkan Harta dan Hati untuk Bangun Negeri
  • Menghadapi Ujian Tahta Harta Dan Wanita