Khutbah Jum'at
 

KH Dzulhilmi Ghozali, Alhafidh

Haji dan Perbaikan Moral Umat

13-11-2014 | 09:35:41

Baru saja jamaah haji kita datang dari Tanah Suci Makkah. Semoga jamaah haji khususnya jamaah Indonesia menjadi haji yang mabrur. Haji mabrur sangat dibutuhkan oleh bangsa kita ini, yang pada akhir-akhir ini mengalami dekadensi moral. Semakin banyak jamaah haji yang mabrur, maka semakin banyak pula peluang untuk mengurangi krisis moral bangsa ini. Sebab cirri khas haji yang mabrur adalah memiliki sikap yang mencerminkan akhlak Al Qur’an yang tinggi. Sehingga, pada saat para haji mabrur itu terjun ke masyarakat, maka meraka dapat mewarnai kehidupan masyarakat dengan akhlak yang mulia itu. Mampu merubah moral-moral yang tidak baik yang terjadi dimasyarakat. Masyarakat Indonesia sekarang ini cenderung bersikap serakah, maunya menang sendiri, tidak mau mengutamakan orang lain. Mereka menggunakan segala cara untuk memperoleh apa yang mereka inginkan, sekalipun harus membunuh saudaranya, membunuh isterinya sendiri, sekalipun harus menyengsarakan orang lain. Itulah akibat dari sikap materialistic yang mewabah di negara kita.

Dibandingkan dengan rukun Islam lainnya, Ibadah haji merupakan ibadah yang berbeda karena dimaknakan ibadah haji merupakan jamuan Allah dan bagi yang melaksanakan ibadah haji merupakan tamu Allah. Oleh karenanya sebagai tamu Allah ibadah haji dilaksanakan dengan berbagai tahapan yang kesemuanya itu memiliki makna yang tersirat dan tersurat. Rangkaian kegiatan yang dijalani oleh Nabi Muhammad SAW ketika menunaikan ritual haji menjadi contoh bagi para sahabat dalam menjalankan ibadah wajib tersebut. Meskipun Nabi hanya melakukan umrah sebanyak empat kali dan haji hanya sekali, rangkaian manasik haji yang beliau contohkan memiliki makna yang sangat substansial. Mereka yang memiliki niat keinginan di dalam hatinya untuk menunaikan ibadah haji merupakan anugerah sekaligus hidayah dari Allah SWT agar dirinya selamat dari jurang kesesatan dan kegelapan hidup. Karena dengan memahami ritual haji Ini merupakan salahsatu upaya agar dirinya dapat selalu melaksanakan perbuatan yang diperintahkan Allah dan meninggalkan apa yang dilarang Allah.

Oleh karena itulah, bagi para Jamaah haji yang mendatangi baitullah dengan niat yang tidak ikhlas dan banyak mengandung riya’ maka mereka tentunya tidak akan memahami makna filosofis dan nilai-nilai agung yang terkandung dalam ritual haji dan tidak menutup kemungkinan akan merasakan kehampaan dalam ibadahnya. Sebaliknya, mereka yang mampu menangkap makna dan nilai-nilai tersebut akan semakin bersemangat dan khusyuk dalam melaksanakannya.

Makna ibadah haji akan terlihat jelas bila ditempatkan dalam perspektif gerakan kemanusiaan yang mengibarkan lambang abadi pesan egaliter sebagai salah satu manifestasi dalam doktrin monoteisme warisan Nabi Ibrahim, sang bapak spiritual dari seluruh agama tauhid.

Dilihat dari aspek spiritualnya, ibadah haji merupakan puncak taqarrub illahiyyah (upaya pendekatan diri kepada Allah). Sedangkan dilihat dari aspek sosial edukatifnya, ibadah haji merupakan upaya pendekatan kemanusiaan. Dengan demikian dalam pelaksanaan ibadah haji, berpadu dua nilai, yaitu nilai moral spiritual dan nilai sosial. Pelaksanaannya juga diorientasikan untuk menghayati perjuangan Nabi Ibrahim dalam melestarikan monumen ajaran tauhid (monoteisme), yang kemudian dilanjutkan oleh Nabi Muhammad Saw. Maka seseorang yang telah melaksanakan ibadah haji harus mampu menghayati nilai-nilai suci didalamnya, nilai tersebut yakni; pertama nilai persamaan. Jadi hendaknya setiap jamaah haji berharap mendapatkan haji yang mabrur. Hal ini sebagaimana tersurat dalam Hadis Nabi Muhammad SAW bahwa Haji mabrur tidak ada balasannya kecuali surge (HR Muslim). Oleh karenanya perburuan haji yang mabrur mendorong para jamaah untuk mengikuti rangkaian amalan ibadah haji dengan penuh semangat dan keseriusan.

Semua aktivitas tercurahkan dan disinilah titik krusial dari ibadah haji karena dalam satu waktu ibadah haji dikerjakan bersama-sama oleh umat Islam diseluruh dunia. Pertemuan dan perbedaan etnis, suku, bangsa, Negara dengan latar belakang sosio-kultural yang berbeda, adat istiadat, kebiasaan dan pemahaman tentang ibadah haji yang beragama tidak dapat dielakkan. Pertemuan umat islam dalam ibadah haji telah menghilangkan batas-batas nasionalitas, teritorialitas dan etnisitas, semuanya berpusat untuk beribadah kepada Allah SWT. Walaupun dalam pelaksanaan ibadah haji terkadang menimbulkan ketegangan-ketegangan antar sesama jamaah, mengingat ukuran fisik seperti orang asia dan timur tengah atau afrika yang berbeda jauh sehingga orang seketika cenderung menjadi egois dan tidak peduli dengan sesama saudaranya. Sikap-sikap berlebihan dalam penyempitan pandangan dengan membenarkan pemahamannya sendiri dan pemaksaan untuk diikuti orang lain juga sering terjadi.

Oleh karena itulah, terkadang perebutan haji yang mabrur dapat dilakukan orang tanpa melihat bagaimana sikap dan perilaku seharusnya dalam menjalani pelaksanaan tahapan ibadah haji. Semangat untuk mabrur ini sering mengabaikan orang lain di sekelilingnya yang juga berkeinginan menjadi mabrur. Saat tawaf mereka saling berdesakan dan tidak mau mengalah. Demi mencium Hajar Aswad, mereka kerap terjebak dalam aksi saling sikut, mendorong, menginjak, bahkan bertengkar dengan sesama saudara sendiri. Sebuah semangat beribadah tanpa dibarengi dengan pemahaman dan kesadaran dalam jangkauan yang lebih luas (keberagamaan universal) mudah dibelokkan kepada hawa nafsu yang mengakibatkan jamaah akan mengalami kerugian.

Perbaikan moral umat

Setidaknya bagi mereka yang telah melaksanakan ibadah haji ada perubahan perilaku dan moral dalam menjalani kehidupan ini dan mendekatkan diri dalam dimensi moral kemanusiaan, seperti bergaul dengan masyarakat, menebar salam dan memberi pertolongan, sikap tawadhu’, kemurahan, kelembutan, dan perilaku lain yang menunjukkan penyerahan diri Allah SWT dan sikap toleran kepada sesama hamba-Nya.

Karena banyak kita temui saat ini, banyak mereka yang telah melaksanakan ibadah haji namun moral dan perilakunyanya kurang mencerminkan bahwa yang bersangkutan telah menyandang gelar haji, bahkan yang bersangkutan melakukan pembohongan yang sudah menjadi rutinitas dalam kehidupannya, menebar janji-janji kosong dikarenakan untuk kepentingan sesuatu yang sesungguhnya dirinya tidak sanggup untuk melakukan janjinya tersebut. Namun untuk mencapai kepentingannya, maka dia berusaha melakukannya walau dirinya pernah melaksanakan tahapan ibadah haji. Kita hanya bisa menduga-duga, tapi tidak bisa memastikan. Yang pasti adalah bahwa negeri ini tidak tampak perubahannya dengan semakin banyaknya orang-orang yang berangkat haji. Meski demikian, ada baiknya jika usaha untuk menjadi mabrur tetap menjadi optimisme sebagaimana optimisme kita kepada masa depan bangsa ini.

Optimisme haji mabrur ini bisa diuapayakan melalui dua cara yaitu; pertama, adanya kelurusan niat. Meski haji itu ibadah yang prestisius, artinya secara sosial dapat meningkatkan status, namun keberadaannya selayaknya tidak diberikan peluang untuk menggoda niat suci dan orientasi haji itu. Inilah sebuah pelajaran sekaligus peringatan saat orang yang berhaji itu memakai pakaian ihram. Sebuah instruksi yang tegas untuk meninggalkan segala bentuk kepentingan duniawi. Dan ini teruji di dalam niat dan orientasi orang-orang yang berhaji.

Kedua, menghindari kemaksiatan. Haji mabrur adalah haji yang tidak bercampur dengan kemaksiatan. Ayat yang disebutkan di atas meniscayakan seseorang yang berhaji untuk menjaga hajinya dari segala bentuk kemaksiatan, mulai dari proses pendaftaran sampai pulang dengan status sebagai hujaj. Bentuk kemaksiatan begitu beragam dan ada dimana-mana. Jika tidak diwaspadai ia bisa menjadi virus yang merusak manfaat dan fungsi haji.

Maksiat itu bisa berupa uang haram yang digunakan untuk ongkos haji, manipulasi data administrasi, memotong antrian jama'ah lain, rebutan untuk menjadi pembimbing dan petugas haji, melalaikan pelayanan yang menjadi tugas panitia haji, marah dan berbantah soal pelayanan yang bermasalah, mendzalimi orang lain sekedar untuk mencium hajar aswad, menggunjing terhadap perbedaan dan keunikan orang lain, dan masih banyak lagi. Kemaksiatan ibarat ranjau yang bertebaran di sepanjang proses persiapan dan pelaksanaan haji. Banyak orang tidak sadar bahwa ia telah menginjak ranjau kemaksiatan itu. Akibatnya, hajinya mardud dengan indikasi tiadanya perubahan terhadap orang tersebut sepulang haji. Yang lebih memprihatinkan lagi, lebih banyak lagi yang tidak sadar kalau hajinya mardud. Yang tinggal hanyalah status haji yang bermanfaat ketika orang lain memanggilnya bapak haji, atau sekedar untuk mengislamkan nama ketika sedang mencalonkan diri jadi anggota DPR atau ikut pilkada. Akhirnya, haji hanya memberi manfaat untuk identitas sosial dan politik saja. Jika dugaan ini yang benar, maka wajar kalau bangsa ini tidak banyak berharap terjadinya perubahan.

Dari sinilah introspeksi dan evaluasi haji, bukan hanya soal teknis pelayanan, tapi lebih menekankan pada niat, sikap dan prilaku berhaji, menjadi penting yang fungsi dan harapan utamanya adalah mengejar optimisme kemabruran yang dapat menjadi pintu perubahan buat bangsa ini. Sebuah bangsa yang sudah mulai lelah dengan keterpurukan.

Khutbah sebelumnya :

  • Menjadi Umat yang Terbaik
  • Urgensi Pemurnian Aqidah Dalam Membangun Bangsa
  • Kejujuran Kunci Kesuksesan
  • Menjadi Umat Nabi Muhammad yang Hakiki
  • KERUKUNAN UMAT BERAGAMA, PILAR NEGARA RI
  • Menyelesaikan Perbedaan
  • Mengukur Kadar Keimanan
  • KH Agoes Ali Masyhuri
  • Ukhuwah Demi Muruu’ah (Martabat)
  • Kecerdasan Spiritual
  • Hijrah, Momentum Mempererat Persaudaraan
  • Refleksi 51 Tahun Pemberontakan G-30-S/PKI
  • Urgensi Tauhid dalam Mengangkat Derajat & Martabat Muslimin
  • Kecintaan Sesama, Bukti Cinta Kepada Allah
  • Syukur dan Bahagia
  • Singa dalam Senyap
  • Berteknologi Tanpa Iman
  • Hakekat Pahlawan
  • Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan
  • Menggapai Bahagia, Hubungkan Bumi dengan Langit
  • Kehidupan Dunia Sementara
  • Takabbur dan Tawadhu’
  • Pasar dalam Islam
  • Memberi Tanpa Menyakiti
  • Ramadhan, Bulan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
  • Hakikat Ibadah
  • Meraih Derajat Muttaqiin
  • Merindukan Ramadhan
  • Jihad Akbar Bukan Sembarang Jihad
  • Merajut Ukhuwah Islamiyah
  • Debu Takwa Pembebas Derita
  • Isra’ Mi’raj Momentum Evaluasi Shalat
  • Keutamaan Shadaqah
  • Ikhtiar, Do’a dan Tawakkal
  • Qanaah Bukti Keimanan Seseorang Kepada Allah
  • Mengemban Amanat Agama
  • Ujian, Bukti Cinta Allah kepada Hambanya
  • Menuju Kecintaan Kepada Allah Swt
  • Masa dan Manusia
  • Segera Bertaubat sebelum Terlambat
  • Kesehatan Jasmani dan Rohani
  • Memaafkan dan Mendamaikan
  • Mengungkap Hikmah Shabar
  • Membangun Bangsa dengan Imtaq dan Iptek
  • Meningkatkan Iman Dan Taqwa di Tahun 2016
  • Fadhilah Membahagiakan Orang Lain
  • Bukti Cinta Rasulullah Kepada Umatnya
  • Strategi Umat Islam Menghadapi Tantangan Global
  • Lemah Lembut dan Murah Hati
  • Keserasian Aqidah, Syariah dan Akhlak
  • Dzikirnya Orang yang Cerdik Cendikia
  • Budi Pekerti yang Luhur
  • Persatuan, Modal Kesuksesan Bangsa
  • Pentingnya Belajar dari Sejarah
  • Mewaspadai Golongan Ekstrim
  • Menemukan “Ibrahim” Era Baru
  • Amalan Subtansional
  • Bermuamalah dengan Non Muslim
  • Merdeka dalam Perspektif Islam
  • Mempertahankan Persaudaraan dalam Bingkai Iman
  • Petunjuk Allah dalam Menghadapi Cobaan Hidup
  • Amalan Penting Pasca Ramadhan
  • Wakaf dan Kesejahteraan Umat
  • Jiwa Yang Fitrah, Kunci Kebahagiaan Dunia Akhirat
  • 5 Wasiat Menuju Pribadi Unggul
  • Syawwal, Bulan Peningkatan
  • Puasa, Makna dan Filosofinya
  • Berbenah Diri Menyambut Bulan Suci
  • Konsep Beragama dalam Bingkai Nkri
  • Pedoman Pergaulan dalam Rumah Tangga
  • Makna Shalat, Historis dan Filosofis
  • Essensi Shalat dalam Kehidupan
  • Penghargaan untuk Merubah Masa Depan
  • Beri Upah Pekerja, Sebelum Keringat Menetes
  • Keseimbangan Materi dan Nurani
  • Orang-Orang yang Jauh dari Hidayah Allah
  • Ayat-ayat Allah di Alam Semesta
  • Islam Kaafah dalam Berbangsa dan Bernegara
  • Muslim yang Ikhlas
  • Ancaman Orang yang Mengabaikan Zakat
  • Dampak Kesehatan Jiwa Terhadap Kesehatan Jasmani
  • Urgensi Musyawarah dalam Setiap Urusan
  • Pedoman Memilih Pemimpin Menurut Pandangan Islam
  • Keluhuran Akhlak Jaminan Kejayaan Bangsa
  • Empat Pilar Akhlaq Mulia
  • Jihad Melawan Hawa Nafsu
  • Sifat Orang Kafir
  • Berhati-Hati dengan Tipudaya Dunia
  • Unjuk Rasa dalam Islam
  • Refleksi di Tahun Baru
  • Mengenal Hadis-Hadis Israiliyaat
  • Fleksibelitas dalam Hukum Islam
  • Teladan Rasulullah dalam Intrepreneurship
  • Mewujudkan Islam Kaaffah (Menyeluruh)
  • Membangun Masyarakat Bermartabat, Mewujudkan Negara Damai Sejahtera
  • Hidup Mulia dengan Islam
  • Haji dan Perbaikan Moral Umat
  • Urgensi Bersahabat dengan Orang yang Shalih
  • Menyongsong Era Baru Kepemimpinan Nasional
  • Ekonomi Islam dan Konvensional
  • Menegakkan dan Memelihara Keutamaan Islam
  • Memupuk Jiwa Berkurban
  • Dunia Adalah Ladang Akhirat
  • Kemerdekaan yang Hakiki
  • Urgensi Mengajak Kepada Kebaikan
  • Manusia Adalah Makhluk Fitri
  • Dusta Merupakan Sumber Malapetaka
  • Mempersiapkan Diri Menghadapi Bulan Suci
  • Menjaga Diri Dengan Yang Halal
  • Menimba Hikmah Kisah Nabi Isa a.s.
  • Akibat Orang Yang Menukar Ayat-Ayat Allah
  • Manajemen Dakwah Efektif Aplikatif
  • Kedekatan Manusia di Sisi Allah Swt
  • Membangun Karakter Asmaul Husna
  • Keutamaan Jihad Dengan Harta
  • Keteladanan Rasulullah Saw
  • Kearifan Lokal Dalam Perspektif Islam
  • Mendalami Makna Ukhuwah
  • Peran Ulama’ Dalam Kehidupan Bernegara
  • Islam Agama Universal
  • Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an
  • Tugas Rasul Penyempurna Akhlak Manusia
  • Meneladani Figur Rosulullah SAW
  • Makna Muhasabah (Evaluasi Diri)
  • Petunjuk Rasulullah Tentang Alam Kubur
  • Islam Dan Terjaganya Perilaku
  • Membentuk Muslim Unggul
  • Ilmu Waris, Bagian Dari Agama dan Setengah Dari Ilmu
  • Menggapai Derajat Dengan Ilmu Pengetahuan
  • Upaya Mewujudkan Khoira Ummat (Umat Tebaik)
  • Amalan-Amalan Dalam Rangka Mengisi Tahun Baru Hijriyah
  • Syukur Menjadi Bangsa Indonesia
  • Spirit Tahun Baru Hijriyah
  • Indikator Haji yang Mabrur
  • Penerapan Nilai-Nilai Islam dalam Peradaban Masa Kini
  • Problematika Umat
  • Seputar Ibadah Haji dan Umrah
  • Kemiskinan dalam Pandangan Islam
  • Muslim Selektif Produktif
  • Syahadat, Makna dan Konsekuensinya
  • Menata Hidup dan Kehidupan Dalam Perspektif Islam
  • Urgensi Mempertahankan Kualitas Ibadah
  • Tasamuh, Ta’awun dan Tadlomun
  • Sillaturrahim Dalam Lebaran
  • Kewajiban Dakwah Dalam Berbagai Situasi dan Kondisi
  • Keluh Kesah Manusia Dalam Hidup
  • Amalan-Amalan Penguat Iman
  • Mempertahankan Aqidah di Tengah Benturan Budaya
  • Antara Hak dan Tanggung Jawab
  • Meyakini Kebenaran Ayat-Ayat Al Qur’an
  • Menjaga Diri dan Keluarga dari Api Neraka
  • Nilai Kehidupan
  • Konsep Islam Mengikis Korupsi
  • Shalat Kematian
  • Mempertanyakan Ukhuwah Kita
  • Tiga Faktor Utama Kebahagiaan
  • Menyelaraskan Perkataan Dengan Perbuatan
  • Mengenal Penyakit Hati
  • Pentingnya Menuntut Ilmu dan Kewajiban Mengamalkannya
  • Lezatnya Iman
  • Prinsip-Prinsip Universal Toleransi Antar Umat Beragama
  • Islam, Ya'luu Walaa Yu'laa 'Alaih
  • Islam, dan Ajaran Jihad
  • Kisah Teladan Sahabat Nabi Muhammad Saw
  • Membumikan Akhlak Mulia Dalam Kehidupan
  • Nabi Isa, Kisah dan Hikmahnya
  • Antara Iman dan Amal Sholih
  • Nabi Muhammad Saw, Figur Teladan Umat
  • Menggapai Derajat Siddiqin
  • Dahsyatnya Kiamat dan Tanda Kedatangannya
  • Makna Muhasabah (Evaluasi Diri)
  • Amalan Ahlus Sunnah Wal Jamaah
  • Berinvestasi Dengan Wakaf
  • Ilmu, Simbol Kejayaan Umat
  • Ijabah Do’a
  • Islam Dan Sistem Ekonomi
  • Menggapai Hidup Berkualitas
  • Muhasabah dan Muroqobah, Jalan Menuju Taqwa
  • Hikmah Memperingati Hari Pahlawan
  • Yang Diridhoi Dan Yang Dimurkai Allah
  • Hikmah Ibadah Haji
  • Esensi Haji Mabrur
  • Pola Hidup Sehat Menurut AlQur'an
  • Berdakwah Dengan Hikmah
  • Komunisme dan Bahaya Komunis
  • Cinta Allah Kepada Hambanya
  • Menjaga Diri Dari Makanan Dan Minuman Yang Haram
  • Wibawa Umat
  • Menuntut Ilmu Tanpa Batas
  • Rahasia Keberkahan Ramadhan
  • Menggapai Puncak Keimanan
  • Mendalami Makna Ukhuwah
  • Amalan Penting Menyambut Bulan Ramadhan
  • Memurnikan Niat, Menyongsong Bulan Ramadhan
  • Menempuh Jalan Lurus, Dunia Hingga Akhirat
  • Makna Isra’ Mi’raj Dalam Kehidupan
  • Kiat Memperbaiki Moralitas Bangsa
  • Membumikan Akhlak Rasulullah Saw
  • Membangun Generasi Rabbany
  • Kisah Nabi Isa Dalam Al-Quran Dan Injil
  • Kepemimpinan Rabbani
  • Sufi Dan Sufisme Di Era Global
  • Menggapai Hidup Bahagia
  • Penyakit Hati Dan Obat Penawarnya
  • Peranan Masjid Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Umat
  • Batas-Batas Toleransi Antar Umat Beragama
  • Bulan Kemuliaan Antara Islam Dan Jawa
  • Politik, Antara Norma Dan Realita
  • Aqidah Dan Akhlaq Seorang Pemimpin
  • Rasulullah Tauladan Sepanjang Zaman
  • Mengapa Syi'ah Bermasalah
  • Keunggulan Syariat Allah Swt
  • Hikmah Dzikrul Maut
  • Kiat Mengikis Tradisi Khurofat
  • Istiqomah Tahun 2012
  • Membangun Surga Dalam Keluarga
  • Menggapai Rahmat Allah
  • Hijrah, Upaya Mempertahankan Aqidah
  • Kewajiban Dakwah Bagi Setiap Muslim
  • Dakwah di Tengah Kemajemukan Umat
  • Islam Mengutamakan Kualitas Bukan Kuantitas
  • Menuju Arah Pendidikan Yang Ideal
  • Sucikan Harta Dengan Berderma
  • Terapi Penyakit Hati
  • Strategi Menghadapi Ghozwul Fikri
  • Hakekat Konsep Jihad Dalam Perspektif Islam
  • Urgensi Mengenal Produk Halal dan Baik
  • Mempertahankan Fithrah Manusia
  • Kembali Kepada Allah
  • Merenungi Alam Raya
  • Memperkokoh Ukhuwah Islamiyah
  • Merefleksikan Puasa Ramadhan
  • Tantangan Da'wah di Era Global
  • Kewajiban Memberantas Kemungkaran
  • Persiapan Menghadapi Puasa Ramadhan
  • Islam Agama Nasehat
  • Hak Terhadap Allah, Terhadap Diri Sendiri Dan Terhadap Sesama
  • Kontektualisasi Pemahaman Isra’ Mi’raj
  • Hidup Damai Dengan Islam
  • Doa, Senjata Orang Beriman
  • Kedudukan Wanita Dalam Perspektif Islam
  • Mengikis Budaya Korupsi
  • Cuci Otak
  • Menggapai Rahmat Dengan Taubat
  • Keseimbangan Investasi Dunia Akhirat
  • Urgensi Mendahulukan Kualitas Atas Kuantitas Dalam Beramal
  • Manusia-Manusia Unik Dalam Alqur’an
  • Amar Makruf Nahi Mungkar
  • Memupuk Kepedulian Sosial
  • Pilar-Pilar Kejayaan Islam
  • Keunggulan Ajaran Islam
  • Keagungan Akhlak Rasulullah Saw
  • Rasululloh Sebagai Uswah
  • Keteladanan Kisah Nabi Nuh As
  • Keutamaan Shalat Lail
  • Niat Pangkal Seluruh Aktivitas
  • Membentuk Keshalihan Ritual dan Sosial
  • Dunia Sebagai Ladang Akhirat
  • Muhasabah Tahun Baru
  • Batas-batas Toleransi Antar Umat Beragama
  • Do’a, Perisai Mukmin
  • Islam Agama Seluruh Nabi dan Rasul
  • Mengenang Kembali Makna Hijriyah
  • Risywah, Macam dan Bahayanya
  • Iman Sebagai Kekuatan Moral
  • Bahagia Saat Orang Lain Bahagia
  • Islam Kenikmatan Yang Agung dan Sempurna
  • Penyakit Sosial dalam Sorotan Syariat
  • Manusia Makhluk Fitri
  • Kiat Mencapai Derajat Taqwa
  • Riya’, Penyakit Amal Kebajikan
  • Membentuk Kesehatan Jasmani dan Rohani
  • Mengantisipasi Aliran Sesat
  • Urgensi Membaca dan mengamalkan Al-Qur’an
  • Musik Bata
  • Sedekah yang Barakah
  • Nilai Pendidikan Ramadhan
  • Dr. H. Imam Mawardi, MA
  • Nikah, Hakikat dan Urgensinya
  • Pengendalian Hawa Nafsu
  • Memberantas Kebodohan
  • Menggapai Hidup Barakah
  • Profil Manusia Bertaqwa
  • Akhlaq Mahmudah dan Akhlaq Madzmumah
  • Menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
  • Urgensi Ukhuwah Islamiyah
  • Syirik, Macam dan Bahayanya
  • Bersihkan Harta dan Hati untuk Bangun Negeri
  • Menghadapi Ujian Tahta Harta Dan Wanita