Khutbah Jum'at
 

Prof. Dr. H. Indri, M.Ag

Urgensi Musyawarah dalam Setiap Urusan

23-03-2015 | 11:38:54

Musyawarah berasal dari bahasa Arab, syaawarAa, yusyaawiru, yang artinya berembuk. Tradisi musyawarah ini telah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Dari beberapa riwayat menyebutkan, bahwa Rasulullah SAW banyak menggunakan media musyawarah ini dalam memutuskan berbagai urusan. Abu Hurairah r.a. berkata : ma ra aitu ahadan akthara suuratan liashhaabihi min rasulillah saw. (Aku tidak pernah melihat seseorang yang paling banyak bermusyawarah dengan para sahabatnya dari pada Rasulullah SAW). HR Imam Turmudzi.

Salah satu contoh musyawarah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW adalah ketika akan melakukan Perang Badar. Umat Islam pada saat itu mendapat tekanan yang luar biasa oleh Kafir Quraisy, meskipun kaum muslim sudah hijrah ke Madinah. Ancaman demi ancaman terus datang silih berganti. Pada saat itu jumlah kaum muslimin hanya 300 orang, sementera fihak kafir Quraisy lebih dari seribu. Pada saat seperti itulah Rasulullah SAW mengadakan musyawarah antara kaum Ashar dan kaum Muhajirin. Pada saat musyawarah itu disampaikan bahwa tempat menghadapi kaum Kafir Quraisy di Badar. Kemudiaan membuat markas sebelum mata air. Kebanyakan peserta musyawarah menyetujui. Namun ada salah seorang sahabat yang bernama Mundzir bin Amr, tidak menyetujui bermarkas sebelum tiba di mata air. Dia berargumentasi : Ya Rasulullah, kita hendaknya berjaga-jaga, iya kalau kita bisa menang melawan musuh, kalau kita kalah kemudian mundur, kita akan minum dari mana? padahal suasana sekarang panas terik. Atas usulan Mundzir ini, kemudian Rasulullah SAW memutuskan untuk pindah ke depan mata air saja, agar kalau kita terpukul mundur, masih bisa bertahan karena dekat dengan mata air. Inilah salah satu contoh musyawarah yang dilakukan Nabi dalam mengatur strategi perang. Dan pada kenyataannya kaum muslimin pada saat itu mampu memenangkan peperangan walaupun dari sisi jumlah pasukan jauh lebih sedikit dibanding musuh.

Begitu kaum musyrik Makkah kalah dalam perang Badar, mereka menyusun strategi lagi dan memperbanyak jumlah tentara hingga mencapai hampir 10 ribu. Pasukan kaum muslimin juga bertambah mencapai seribu lebih. Maka terjadilah perang lagi di Uhud. Rasulullah SAW dalam perang ini juga mengadakan musyawarah, dan mempunyai ide dalam perang ini, kita tidak usah menjemput mereka di Makkah, tetapi kita bertahan di Madinah saja, karena bagaimanapun Madihan adalah tempat kita. Di samping itu, di sini banyak umat Islam, sehingga akan mendapat banyak bantuan. Namun, lagi-lagi ada yang tidak setuju akan gagasan Nabi ini, terutama yang masih muda-muda yang baru saja memenangkan perang, sehingga semangatnya menggebu-gebu. Dia mengajukan pendapatnya : “Ya Rasulullah, kita jangan bertahan, kita jemput saja mereka seperti perang Badar itu. Akhirnya dengan usulan itu Rasulullah menyetujuinya. Dan berangkatlah mereka hingga di Bukit Uhud mereka bertempur. Pasukan kafir mundur. Mundurnya pasukan kafir, disangka oleh pasukan muslimin mereka kalah, sehingga mereka bergembira, berebut rampasan perang. Pasukan yang di atas bukit turun untuk ikut berebut. Mereka lupa akan strategi yang telah disiapkan oleh Rasulullah dalam musyawarah sebelumnya. Karena mundurnya pasukan kafir hanya strategi, maka mereka kembali lagi menyerang pasukan muslimin, sehingga pasukan muslimin kalang kabut, hingga menurut riwayat hingga gigi beliau patah. Setelah kekalahan dalam perang Uhud itu, Rasulullah SAW merenung, dan berfikir apakah tidak usah bermusyawarah saja, toh ujung-ujungnya akan kalah. Maka, turunlah ayat Al-Qur’an surah Ali Imrah ayat 159. Yang maknanya : Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. Apa yang dilakukan Rasulullah SAW dalam riwayat di atas, juga terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Baik dalam urusan insividu maupun dalam urusan sosial kemasyarakatan. Karena manusia adalah makhluk sosial, yang harus berhubungan dengan kepentingan orang lain, maka kadang-kadang terjadi ketidakcocokan, ketidaksesuaian, ketidaksamaan, bahkan tidak menutup kemungkinan akan terjadi konflik. Sehingga kita saksikan berita di media-media, di mana para elite kita banyak yang berkonflik, bahkan dalam satu kepengurusan parpol ada dua kepemimpinan, ada tandingan-tandingan dlsb.

Itulah, dalam kehidupan sosial tidak akan terlepas dari perbedaan-perbedaan. Dan Islam mengajarkan cara untuk menghilangkan pebedaan, ketidak seseuaian, konflik dlsb tersebut adalah dengan jalan musyawarah.

Bagaimana cara bermusyawarah yang benar menurut ajaran Islam? Cara bermusyawarah menurut Isla adalah sebagaimana dijelaskan dalam surah Ali Imran : 159 tersebut, pertama, linta lahum (bersikap lemah lembut). Dalam bermusyawarah ide yang disampaikan dengan cara lemah lembut. Menghindari kata yang kasar dan sikap yang keras kepala. Tidak ngotot mempertahankan pendapatnya sendiri. Tetapi, didasarkan pada kepentingan bersama. Kedua, fa’fu anhum (beri maaf kepada mereka). Tidak ada manusia di bumi ini yang tidak mempunyai kesalahan, kekhilafan. Dilakukan dengan hati yang lapang, tidak emosional, apalagi dendam. Karena kalau hati sudah dendam, maka yang rasional bisa menjadi tidak rasional, sebaliknya yang tidak rasional menjadi rasional. Yang baik bisa menjadi buruk dan yang buruk juga akan bisa menjadi baik. Yang dulunya cinta akan bisa menjadi benci. Ketiga, was taghfir lahum (dan mintakan ampun untuk mereka). Orang yang berseberangan dengan dengan kita, doakan dia agar dia diampuni oleh Allah SWT, sehingga tidak terjadi ngotot dengan pendapatnya, tidak menggunakan hati dendam dalam bermusyawarah. Keempat, faidzaa azamta fatawakkal alallah (apabila sudah memberi keputusan, maka bertawakkal kepada Allah). Kalau keputusan sudah diperoleh, manis atau pahit, serahkan kepada Allah SWT.

Dengan musyawarah, akan mendapat banyak manfaat yang diperoleh. Menurut Ali bin Abi Thalib, pernah menyatakan, bahwa musyawarah mempunyai tujuh keutamaan. Pertama, mendapat solusi yang tepat. Karena musyawarah adalah kesepakatan bersama, tidak berdasar keinginan dan kemauan individu, sehingga akan memperoleh solusi terbaik.

Kedua, akan mendapat ide yang cemerlang. Masing-masing anggota musyawarah akan menyampaikan ide-idenya, dan dipilih pendapat yang paling bagus, yang tepat dan bisa diaplikasikan.

Ketiga, akan terhindar dari kesalahan. Musyawawah adalah pendapat kolektif, maka yang dihasilkan pasti benar. Rasulullah SAW bersabda : laa yajtami’u ummatii ‘alaa khathain (tidak mungkin umatku bersepakat terhadap kesalahan). Akan menghasilkan yang benar, karena kalau salah akan dikoreksi oleh yang lain.

Keempat, terjaga dari celaan. Karena hasil kesepakatan bersama, maka tidak bisa mencela antara satu dengan yang lain. Tetapi kalau berasal dari satu orang saja, kalau salah akan dicela, kalau benar mungkin dipuji, mungkin juga tidak.

Kelima, terhindar dari kekecewaan. Keputusan akhir dari musyawarah, akan diterima dengan lapang dada oleh semua fihak, sehingga tidak seorang pun yang merasa terkecewakan, tidak seorang pun yang merasa tersakiti hatinya.

Keenam, mempersatikan banyak hati. Boleh otaknya berbeda-beda, tetapi hatinya bersatu. Kalau hati bersatu, maka akan selamanya bersatu. Inilah yang di dalam Al-Qur’an di sebut ukhuwwah islamiyah (bersatu padu dalam Islam). Yang menyatukan adalah hati, bukan otak. Bermusyawarah berawal dari otak, ide cemerlang, tetapi berakhir dengan kesatuan hati nurani.

Ketujuh, karena mengikuti ajaran Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW.

Khutbah sebelumnya :

  • Menjadi Umat yang Terbaik
  • Urgensi Pemurnian Aqidah Dalam Membangun Bangsa
  • Kejujuran Kunci Kesuksesan
  • Menjadi Umat Nabi Muhammad yang Hakiki
  • KERUKUNAN UMAT BERAGAMA, PILAR NEGARA RI
  • Menyelesaikan Perbedaan
  • Mengukur Kadar Keimanan
  • KH Agoes Ali Masyhuri
  • Ukhuwah Demi Muruu’ah (Martabat)
  • Kecerdasan Spiritual
  • Hijrah, Momentum Mempererat Persaudaraan
  • Refleksi 51 Tahun Pemberontakan G-30-S/PKI
  • Urgensi Tauhid dalam Mengangkat Derajat & Martabat Muslimin
  • Kecintaan Sesama, Bukti Cinta Kepada Allah
  • Syukur dan Bahagia
  • Singa dalam Senyap
  • Berteknologi Tanpa Iman
  • Hakekat Pahlawan
  • Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan
  • Menggapai Bahagia, Hubungkan Bumi dengan Langit
  • Kehidupan Dunia Sementara
  • Takabbur dan Tawadhu’
  • Pasar dalam Islam
  • Memberi Tanpa Menyakiti
  • Ramadhan, Bulan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
  • Hakikat Ibadah
  • Meraih Derajat Muttaqiin
  • Merindukan Ramadhan
  • Jihad Akbar Bukan Sembarang Jihad
  • Merajut Ukhuwah Islamiyah
  • Debu Takwa Pembebas Derita
  • Isra’ Mi’raj Momentum Evaluasi Shalat
  • Keutamaan Shadaqah
  • Ikhtiar, Do’a dan Tawakkal
  • Qanaah Bukti Keimanan Seseorang Kepada Allah
  • Mengemban Amanat Agama
  • Ujian, Bukti Cinta Allah kepada Hambanya
  • Menuju Kecintaan Kepada Allah Swt
  • Masa dan Manusia
  • Segera Bertaubat sebelum Terlambat
  • Kesehatan Jasmani dan Rohani
  • Memaafkan dan Mendamaikan
  • Mengungkap Hikmah Shabar
  • Membangun Bangsa dengan Imtaq dan Iptek
  • Meningkatkan Iman Dan Taqwa di Tahun 2016
  • Fadhilah Membahagiakan Orang Lain
  • Bukti Cinta Rasulullah Kepada Umatnya
  • Strategi Umat Islam Menghadapi Tantangan Global
  • Lemah Lembut dan Murah Hati
  • Keserasian Aqidah, Syariah dan Akhlak
  • Dzikirnya Orang yang Cerdik Cendikia
  • Budi Pekerti yang Luhur
  • Persatuan, Modal Kesuksesan Bangsa
  • Pentingnya Belajar dari Sejarah
  • Mewaspadai Golongan Ekstrim
  • Menemukan “Ibrahim” Era Baru
  • Amalan Subtansional
  • Bermuamalah dengan Non Muslim
  • Merdeka dalam Perspektif Islam
  • Mempertahankan Persaudaraan dalam Bingkai Iman
  • Petunjuk Allah dalam Menghadapi Cobaan Hidup
  • Amalan Penting Pasca Ramadhan
  • Wakaf dan Kesejahteraan Umat
  • Jiwa Yang Fitrah, Kunci Kebahagiaan Dunia Akhirat
  • 5 Wasiat Menuju Pribadi Unggul
  • Syawwal, Bulan Peningkatan
  • Puasa, Makna dan Filosofinya
  • Berbenah Diri Menyambut Bulan Suci
  • Konsep Beragama dalam Bingkai Nkri
  • Pedoman Pergaulan dalam Rumah Tangga
  • Makna Shalat, Historis dan Filosofis
  • Essensi Shalat dalam Kehidupan
  • Penghargaan untuk Merubah Masa Depan
  • Beri Upah Pekerja, Sebelum Keringat Menetes
  • Keseimbangan Materi dan Nurani
  • Orang-Orang yang Jauh dari Hidayah Allah
  • Ayat-ayat Allah di Alam Semesta
  • Islam Kaafah dalam Berbangsa dan Bernegara
  • Muslim yang Ikhlas
  • Ancaman Orang yang Mengabaikan Zakat
  • Dampak Kesehatan Jiwa Terhadap Kesehatan Jasmani
  • Urgensi Musyawarah dalam Setiap Urusan
  • Pedoman Memilih Pemimpin Menurut Pandangan Islam
  • Keluhuran Akhlak Jaminan Kejayaan Bangsa
  • Empat Pilar Akhlaq Mulia
  • Jihad Melawan Hawa Nafsu
  • Sifat Orang Kafir
  • Berhati-Hati dengan Tipudaya Dunia
  • Unjuk Rasa dalam Islam
  • Refleksi di Tahun Baru
  • Mengenal Hadis-Hadis Israiliyaat
  • Fleksibelitas dalam Hukum Islam
  • Teladan Rasulullah dalam Intrepreneurship
  • Mewujudkan Islam Kaaffah (Menyeluruh)
  • Membangun Masyarakat Bermartabat, Mewujudkan Negara Damai Sejahtera
  • Hidup Mulia dengan Islam
  • Haji dan Perbaikan Moral Umat
  • Urgensi Bersahabat dengan Orang yang Shalih
  • Menyongsong Era Baru Kepemimpinan Nasional
  • Ekonomi Islam dan Konvensional
  • Menegakkan dan Memelihara Keutamaan Islam
  • Memupuk Jiwa Berkurban
  • Dunia Adalah Ladang Akhirat
  • Kemerdekaan yang Hakiki
  • Urgensi Mengajak Kepada Kebaikan
  • Manusia Adalah Makhluk Fitri
  • Dusta Merupakan Sumber Malapetaka
  • Mempersiapkan Diri Menghadapi Bulan Suci
  • Menjaga Diri Dengan Yang Halal
  • Menimba Hikmah Kisah Nabi Isa a.s.
  • Akibat Orang Yang Menukar Ayat-Ayat Allah
  • Manajemen Dakwah Efektif Aplikatif
  • Kedekatan Manusia di Sisi Allah Swt
  • Membangun Karakter Asmaul Husna
  • Keutamaan Jihad Dengan Harta
  • Keteladanan Rasulullah Saw
  • Kearifan Lokal Dalam Perspektif Islam
  • Mendalami Makna Ukhuwah
  • Peran Ulama’ Dalam Kehidupan Bernegara
  • Islam Agama Universal
  • Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an
  • Tugas Rasul Penyempurna Akhlak Manusia
  • Meneladani Figur Rosulullah SAW
  • Makna Muhasabah (Evaluasi Diri)
  • Petunjuk Rasulullah Tentang Alam Kubur
  • Islam Dan Terjaganya Perilaku
  • Membentuk Muslim Unggul
  • Ilmu Waris, Bagian Dari Agama dan Setengah Dari Ilmu
  • Menggapai Derajat Dengan Ilmu Pengetahuan
  • Upaya Mewujudkan Khoira Ummat (Umat Tebaik)
  • Amalan-Amalan Dalam Rangka Mengisi Tahun Baru Hijriyah
  • Syukur Menjadi Bangsa Indonesia
  • Spirit Tahun Baru Hijriyah
  • Indikator Haji yang Mabrur
  • Penerapan Nilai-Nilai Islam dalam Peradaban Masa Kini
  • Problematika Umat
  • Seputar Ibadah Haji dan Umrah
  • Kemiskinan dalam Pandangan Islam
  • Muslim Selektif Produktif
  • Syahadat, Makna dan Konsekuensinya
  • Menata Hidup dan Kehidupan Dalam Perspektif Islam
  • Urgensi Mempertahankan Kualitas Ibadah
  • Tasamuh, Ta’awun dan Tadlomun
  • Sillaturrahim Dalam Lebaran
  • Kewajiban Dakwah Dalam Berbagai Situasi dan Kondisi
  • Keluh Kesah Manusia Dalam Hidup
  • Amalan-Amalan Penguat Iman
  • Mempertahankan Aqidah di Tengah Benturan Budaya
  • Antara Hak dan Tanggung Jawab
  • Meyakini Kebenaran Ayat-Ayat Al Qur’an
  • Menjaga Diri dan Keluarga dari Api Neraka
  • Nilai Kehidupan
  • Konsep Islam Mengikis Korupsi
  • Shalat Kematian
  • Mempertanyakan Ukhuwah Kita
  • Tiga Faktor Utama Kebahagiaan
  • Menyelaraskan Perkataan Dengan Perbuatan
  • Mengenal Penyakit Hati
  • Pentingnya Menuntut Ilmu dan Kewajiban Mengamalkannya
  • Lezatnya Iman
  • Prinsip-Prinsip Universal Toleransi Antar Umat Beragama
  • Islam, Ya'luu Walaa Yu'laa 'Alaih
  • Islam, dan Ajaran Jihad
  • Kisah Teladan Sahabat Nabi Muhammad Saw
  • Membumikan Akhlak Mulia Dalam Kehidupan
  • Nabi Isa, Kisah dan Hikmahnya
  • Antara Iman dan Amal Sholih
  • Nabi Muhammad Saw, Figur Teladan Umat
  • Menggapai Derajat Siddiqin
  • Dahsyatnya Kiamat dan Tanda Kedatangannya
  • Makna Muhasabah (Evaluasi Diri)
  • Amalan Ahlus Sunnah Wal Jamaah
  • Berinvestasi Dengan Wakaf
  • Ilmu, Simbol Kejayaan Umat
  • Ijabah Do’a
  • Islam Dan Sistem Ekonomi
  • Menggapai Hidup Berkualitas
  • Muhasabah dan Muroqobah, Jalan Menuju Taqwa
  • Hikmah Memperingati Hari Pahlawan
  • Yang Diridhoi Dan Yang Dimurkai Allah
  • Hikmah Ibadah Haji
  • Esensi Haji Mabrur
  • Pola Hidup Sehat Menurut AlQur'an
  • Berdakwah Dengan Hikmah
  • Komunisme dan Bahaya Komunis
  • Cinta Allah Kepada Hambanya
  • Menjaga Diri Dari Makanan Dan Minuman Yang Haram
  • Wibawa Umat
  • Menuntut Ilmu Tanpa Batas
  • Rahasia Keberkahan Ramadhan
  • Menggapai Puncak Keimanan
  • Mendalami Makna Ukhuwah
  • Amalan Penting Menyambut Bulan Ramadhan
  • Memurnikan Niat, Menyongsong Bulan Ramadhan
  • Menempuh Jalan Lurus, Dunia Hingga Akhirat
  • Makna Isra’ Mi’raj Dalam Kehidupan
  • Kiat Memperbaiki Moralitas Bangsa
  • Membumikan Akhlak Rasulullah Saw
  • Membangun Generasi Rabbany
  • Kisah Nabi Isa Dalam Al-Quran Dan Injil
  • Kepemimpinan Rabbani
  • Sufi Dan Sufisme Di Era Global
  • Menggapai Hidup Bahagia
  • Penyakit Hati Dan Obat Penawarnya
  • Peranan Masjid Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Umat
  • Batas-Batas Toleransi Antar Umat Beragama
  • Bulan Kemuliaan Antara Islam Dan Jawa
  • Politik, Antara Norma Dan Realita
  • Aqidah Dan Akhlaq Seorang Pemimpin
  • Rasulullah Tauladan Sepanjang Zaman
  • Mengapa Syi'ah Bermasalah
  • Keunggulan Syariat Allah Swt
  • Hikmah Dzikrul Maut
  • Kiat Mengikis Tradisi Khurofat
  • Istiqomah Tahun 2012
  • Membangun Surga Dalam Keluarga
  • Menggapai Rahmat Allah
  • Hijrah, Upaya Mempertahankan Aqidah
  • Kewajiban Dakwah Bagi Setiap Muslim
  • Dakwah di Tengah Kemajemukan Umat
  • Islam Mengutamakan Kualitas Bukan Kuantitas
  • Menuju Arah Pendidikan Yang Ideal
  • Sucikan Harta Dengan Berderma
  • Terapi Penyakit Hati
  • Strategi Menghadapi Ghozwul Fikri
  • Hakekat Konsep Jihad Dalam Perspektif Islam
  • Urgensi Mengenal Produk Halal dan Baik
  • Mempertahankan Fithrah Manusia
  • Kembali Kepada Allah
  • Merenungi Alam Raya
  • Memperkokoh Ukhuwah Islamiyah
  • Merefleksikan Puasa Ramadhan
  • Tantangan Da'wah di Era Global
  • Kewajiban Memberantas Kemungkaran
  • Persiapan Menghadapi Puasa Ramadhan
  • Islam Agama Nasehat
  • Hak Terhadap Allah, Terhadap Diri Sendiri Dan Terhadap Sesama
  • Kontektualisasi Pemahaman Isra’ Mi’raj
  • Hidup Damai Dengan Islam
  • Doa, Senjata Orang Beriman
  • Kedudukan Wanita Dalam Perspektif Islam
  • Mengikis Budaya Korupsi
  • Cuci Otak
  • Menggapai Rahmat Dengan Taubat
  • Keseimbangan Investasi Dunia Akhirat
  • Urgensi Mendahulukan Kualitas Atas Kuantitas Dalam Beramal
  • Manusia-Manusia Unik Dalam Alqur’an
  • Amar Makruf Nahi Mungkar
  • Memupuk Kepedulian Sosial
  • Pilar-Pilar Kejayaan Islam
  • Keunggulan Ajaran Islam
  • Keagungan Akhlak Rasulullah Saw
  • Rasululloh Sebagai Uswah
  • Keteladanan Kisah Nabi Nuh As
  • Keutamaan Shalat Lail
  • Niat Pangkal Seluruh Aktivitas
  • Membentuk Keshalihan Ritual dan Sosial
  • Dunia Sebagai Ladang Akhirat
  • Muhasabah Tahun Baru
  • Batas-batas Toleransi Antar Umat Beragama
  • Do’a, Perisai Mukmin
  • Islam Agama Seluruh Nabi dan Rasul
  • Mengenang Kembali Makna Hijriyah
  • Risywah, Macam dan Bahayanya
  • Iman Sebagai Kekuatan Moral
  • Bahagia Saat Orang Lain Bahagia
  • Islam Kenikmatan Yang Agung dan Sempurna
  • Penyakit Sosial dalam Sorotan Syariat
  • Manusia Makhluk Fitri
  • Kiat Mencapai Derajat Taqwa
  • Riya’, Penyakit Amal Kebajikan
  • Membentuk Kesehatan Jasmani dan Rohani
  • Mengantisipasi Aliran Sesat
  • Urgensi Membaca dan mengamalkan Al-Qur’an
  • Musik Bata
  • Sedekah yang Barakah
  • Nilai Pendidikan Ramadhan
  • Dr. H. Imam Mawardi, MA
  • Nikah, Hakikat dan Urgensinya
  • Pengendalian Hawa Nafsu
  • Memberantas Kebodohan
  • Menggapai Hidup Barakah
  • Profil Manusia Bertaqwa
  • Akhlaq Mahmudah dan Akhlaq Madzmumah
  • Menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
  • Urgensi Ukhuwah Islamiyah
  • Syirik, Macam dan Bahayanya
  • Bersihkan Harta dan Hati untuk Bangun Negeri
  • Menghadapi Ujian Tahta Harta Dan Wanita