Khutbah Jum'at
 

KH Abdul Hamid Abdullah, SH, MSi

Muslim yang Ikhlas

04-04-2015 | 09:54:05

Ikhlas merupakan suatu kata yang tidak asing bagi seorang muslim. Mudah diucapkan, tetapi sulit untuk diamalkan. Sebuah kata yang singkat, namun sangat besar maknanya. Kata yang seandainya seorang muslim kehilangan dalam dirinya, maka akan berakibat fatal bagi kehidupannya, baik kehidupan di dunianya maupun akhiratnya kelak. Itulah arti sebuah keikhlasan. Amal seorang hamba, tidak akan diterima, jika amal tersebut dilakukan tidak ikhlas karena Allah.

Imam Ghozali mengatakan, bahwa ikhlas adalah perbuatan yang bersih yang tujuannya semata-mata mencari ridha Allah. Pekerjaan yang tujuannya semata-mata murni mencari ridha Allah SWT (pelakunya disebut mukhlish). Ibnu Atha’illah dalam Al Hikam mengatakan : “Amal itu kerangka yang mati, dan ruhnya adalah kikhlasan yang ada padanya”. Allah SWT berfirman dalam surah Az Zumar [39] : 2. Yang maknanya : Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.

Keikhlasan merupakan syarat diterimanya suatu amal perbuatan, di samping syarat lain yaitu mengikuti tuntunan Rasulullah SAW. Rasulullah SAW bersabda : innallaaha laa yuqbalu minal ‘amali illaa maa kaana lahu khaalishan wabtaghii bihi wajhahu. (Allah tidak menerima amalan melainkanamalah yang ikhlas dan yang karena untuk mencari ridha Allah (HR Ibnu Majah).

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muslim diceritakan : Ada seorang laki-laki meengunjungi saudaranya di kota lain, maka Allah mengutus malaikat di perjalanannya. Ketika malaikat itu bertemu dengannya, malaikat bertanya : Hendak ke mana engkau? Dia menjawab : “Aku ingin mengunjungi saudaraku yang tinggal di kota ini”. Malaikat itu kembali bertanya : “Apakah engkau memiliki suatu kepentingan yang menguntungkanmu dengannya?”. Orang itu menjawab : “Tidak, hanya saja aku mengunjunginya karena aku mencintainya karena Allah”. Malaikat itupun berkata : “Sesungguhnya aku adalah utusan Allah untuk mengabarkan kepadamu, bahwa sesungguhnya Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu itu Karena Allah”. ( HR Muslim). Hadis ini menjelaskan bahwa tidaklah orang ini mengunjungi saudarnya tersebut kecuali ikhlas hanya karena Allah, maka sebagai balasannya, Allah pun mencintai orang tersebut. Rasulullah SAW juga bersabda : “Tidaklah engkau menafkahi keluargamu yang dengan perbuatan tersebut engkau mengharapkan wajah Allah, maka perbuatanmu itu akan diberi pahala oleh Allah, bahkan sampai sesuap makanan yang engkau letakkan di mulut isterimu” HR Bukhori).

Hanya dengan sesuap makanan yang diberikan suami kepada isterinya , apabila silakukan dengan ikhlas karena Allah, maka Allah akan memberinya pahala. Begitu pula pengabdian seorang isteri kepada suami dan anak-anaknya yang dilakukan dengan ikhlas karena Allah. Bukankah itu semua akan mendapat ganjarang dan balasan yang lebih besar? Sungguh merupakan suatu keberuntungan yang amat besar seandainya kita dapat menghadirkan keikhlasan dalam seluruh gerak-gerik kita dengan niat mengharap ridha Allah.

Dalam sebuah hadis dari Ibnu Umamah Al Bahili, duia berkata : “Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW dan bertanya : “Wahai Rasululllah, bagimana pendapatmu tentang seseorang yang berperang untuk mendapatkan pahala dan agar dia disebut-sebut oleh orang lain?. Maka Rasulullah pun menjawab : Dia tidak mendapatkan apa-apa”. Oran gitupun mengulangi pertanyaannya hingga tiga kali. Raulullah pun menjawab : Dia tidak mendapatkan apa-apa”. Kemudian beliau bersabda : “Sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amalan kecuali apabila amalan itu dilakukan dengan ikhlas karenaNya. HR Abu Daud dan Nasa’i).

Dalam hadis ini dijelaskan bahwa seseorang yang berjihad, suatu amalan yang sangat besar nilainya, namun tidak ikhlas dalam amal perbuatannya, maka dia pun tidak mendapatkan balasan apa-apa dari Allah SWT.

Sheikh Ibnu Qayyim mengatakan : “Amal yang dilahirkan tanpa disertai ikhlas dan tanpa mengikuti tuntunan Nabi SAW, bagaikan musafir yang membawa bekal berisi pasir, bekal tersebut hany amemberatkan belaka, namun tidak membawa manfaat apa-apa”. Abdullah bin Mubarok berkata : Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar karena niat, dan betapa banyak pula amal yang besar menjadi kecil hanya karena niat.

Memang keikhlasan merupakan amal pribadi, yang tempatnya di hati dan menjadi rahasia antara hamba dengan Tuhannya. Namun, keikhlasan mempunyai ciri dan tanda yang dapat ditemukan dalam kepribadian orang yang beramal dengan ikhlas. Di antara tanda-tanda dan ciri-ciri tersebut adalah :

1. Hanya mencari ridha Allah, bukan kepentingan duniawi. Orang ikhlas tidak mengharapkan apapun dan dari siapapun, kenikmatan baginya bukan dari mendapatkan, tetapi dari mempersembahkan. Sebaiknya, orang yan gtidak ikhlas akan banyak kecewa dalam hidup, karena banyak berharap darai makhluk.

2. Sama antara ketika dipuji atau dicela. Orang ikhlas dipuji atau dicaci sama saja, asalkan yan gia lakukan benar caranya dan lurus niatnya tidak ingin dipuji dan tidak takut dicaci.

3. Tidak membeda-bedakan amal besar dan kecil. Orang ikhlas tidak sibuk melihat besar-kecilnya amal. Ia hanya sibuk dengan apa yang disukai Allah. Tidak ada yang kecil dihadapan Allah. Yang kecil hanyalah amal yang tidak ikhlas.

4. Bikmat berbuat amal. Orang yang ikhlas, kebahagiaannya bukan dari mendapatkan pujian, namun dari optimalnya amal. Karena itu, orang ikhlas akan tangguh dan istiwamah dalam ibadah.

5. Tidak pernah merasa sempurna. Seorang yang berbuat ikhlas selalu menuduh dirinya serba kurang. Ia tidak pernah merasa sempurna dalam melaksanakan ibadah. Sehingga ia bersaha beramal/beribadah untuk lebih baik dan lebih baik. Inilah yang tersermin ddari sikap para utusan Allah dan ulama salaf.

Menurut ulama sufi, Rabi’ah Al Adawiyah, keikhlasan itu terbagi menjadi 3 derajat. Pertama, beribadah kepada Allah karena mengharap pahala surga dan takut pada siksa neraka. Kedua, beribadah kepada Allah untuk menghormatiNya dan mendekatkan diri padaNya. Ketiga, beribadah kepada Allah demi Dia bukan karena mengharap surgaNya dan bukan karena takut nerakaNya. Yang ketiga inilah derajat ikhlas yang tertinggi. Karena ia merupakan derajat ikhlasnya para siddiqiin yatiu orang yang mencapai keimanan tingkat tinggi.

Dalam ungkapan lain dari ulama sufi sebutkan, bahwa orang yang beribadah karena takut neraka, maka itu keikhlasan seorang budak. Sedangkan yang beribadah karena mengharap surga, maka disebut keikhlasan seorang pedagang.

Seseorang yang telah beramala ikhlas karena Allah, maka kihlasannya tersebut akan mampu mencegah setan untuk menguasai dan menyesatkannya. Allah berfirman tentang perkataan iblis (Q.S. Shaad [38] : 82-83). Yang maknanya :

82. iblis menjawab: "Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya,83. kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.

Di samping itu amal yang ikhlas juga memiliki berbagai faidah keutamaan. Ikhlas akan membuat hidup seseorang selalu bahagia jauh dari kekecewaan dan sakit hati. Karena ia sadar bahwa ia beramal bukan mengharap balasan dari manusia yang kerap mengecewakan. Kalaupun dikecewakan, ia tidak akan berhenti dari beramal dan terus mengabdikan hidupnya hanya untuk mencari ridha Allah SWT.

Khutbah sebelumnya :

  • Menjadi Umat yang Terbaik
  • Urgensi Pemurnian Aqidah Dalam Membangun Bangsa
  • Kejujuran Kunci Kesuksesan
  • Menjadi Umat Nabi Muhammad yang Hakiki
  • KERUKUNAN UMAT BERAGAMA, PILAR NEGARA RI
  • Menyelesaikan Perbedaan
  • Mengukur Kadar Keimanan
  • KH Agoes Ali Masyhuri
  • Ukhuwah Demi Muruu’ah (Martabat)
  • Kecerdasan Spiritual
  • Hijrah, Momentum Mempererat Persaudaraan
  • Refleksi 51 Tahun Pemberontakan G-30-S/PKI
  • Urgensi Tauhid dalam Mengangkat Derajat & Martabat Muslimin
  • Kecintaan Sesama, Bukti Cinta Kepada Allah
  • Syukur dan Bahagia
  • Singa dalam Senyap
  • Berteknologi Tanpa Iman
  • Hakekat Pahlawan
  • Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan
  • Menggapai Bahagia, Hubungkan Bumi dengan Langit
  • Kehidupan Dunia Sementara
  • Takabbur dan Tawadhu’
  • Pasar dalam Islam
  • Memberi Tanpa Menyakiti
  • Ramadhan, Bulan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
  • Hakikat Ibadah
  • Meraih Derajat Muttaqiin
  • Merindukan Ramadhan
  • Jihad Akbar Bukan Sembarang Jihad
  • Merajut Ukhuwah Islamiyah
  • Debu Takwa Pembebas Derita
  • Isra’ Mi’raj Momentum Evaluasi Shalat
  • Keutamaan Shadaqah
  • Ikhtiar, Do’a dan Tawakkal
  • Qanaah Bukti Keimanan Seseorang Kepada Allah
  • Mengemban Amanat Agama
  • Ujian, Bukti Cinta Allah kepada Hambanya
  • Menuju Kecintaan Kepada Allah Swt
  • Masa dan Manusia
  • Segera Bertaubat sebelum Terlambat
  • Kesehatan Jasmani dan Rohani
  • Memaafkan dan Mendamaikan
  • Mengungkap Hikmah Shabar
  • Membangun Bangsa dengan Imtaq dan Iptek
  • Meningkatkan Iman Dan Taqwa di Tahun 2016
  • Fadhilah Membahagiakan Orang Lain
  • Bukti Cinta Rasulullah Kepada Umatnya
  • Strategi Umat Islam Menghadapi Tantangan Global
  • Lemah Lembut dan Murah Hati
  • Keserasian Aqidah, Syariah dan Akhlak
  • Dzikirnya Orang yang Cerdik Cendikia
  • Budi Pekerti yang Luhur
  • Persatuan, Modal Kesuksesan Bangsa
  • Pentingnya Belajar dari Sejarah
  • Mewaspadai Golongan Ekstrim
  • Menemukan “Ibrahim” Era Baru
  • Amalan Subtansional
  • Bermuamalah dengan Non Muslim
  • Merdeka dalam Perspektif Islam
  • Mempertahankan Persaudaraan dalam Bingkai Iman
  • Petunjuk Allah dalam Menghadapi Cobaan Hidup
  • Amalan Penting Pasca Ramadhan
  • Wakaf dan Kesejahteraan Umat
  • Jiwa Yang Fitrah, Kunci Kebahagiaan Dunia Akhirat
  • 5 Wasiat Menuju Pribadi Unggul
  • Syawwal, Bulan Peningkatan
  • Puasa, Makna dan Filosofinya
  • Berbenah Diri Menyambut Bulan Suci
  • Konsep Beragama dalam Bingkai Nkri
  • Pedoman Pergaulan dalam Rumah Tangga
  • Makna Shalat, Historis dan Filosofis
  • Essensi Shalat dalam Kehidupan
  • Penghargaan untuk Merubah Masa Depan
  • Beri Upah Pekerja, Sebelum Keringat Menetes
  • Keseimbangan Materi dan Nurani
  • Orang-Orang yang Jauh dari Hidayah Allah
  • Ayat-ayat Allah di Alam Semesta
  • Islam Kaafah dalam Berbangsa dan Bernegara
  • Muslim yang Ikhlas
  • Ancaman Orang yang Mengabaikan Zakat
  • Dampak Kesehatan Jiwa Terhadap Kesehatan Jasmani
  • Urgensi Musyawarah dalam Setiap Urusan
  • Pedoman Memilih Pemimpin Menurut Pandangan Islam
  • Keluhuran Akhlak Jaminan Kejayaan Bangsa
  • Empat Pilar Akhlaq Mulia
  • Jihad Melawan Hawa Nafsu
  • Sifat Orang Kafir
  • Berhati-Hati dengan Tipudaya Dunia
  • Unjuk Rasa dalam Islam
  • Refleksi di Tahun Baru
  • Mengenal Hadis-Hadis Israiliyaat
  • Fleksibelitas dalam Hukum Islam
  • Teladan Rasulullah dalam Intrepreneurship
  • Mewujudkan Islam Kaaffah (Menyeluruh)
  • Membangun Masyarakat Bermartabat, Mewujudkan Negara Damai Sejahtera
  • Hidup Mulia dengan Islam
  • Haji dan Perbaikan Moral Umat
  • Urgensi Bersahabat dengan Orang yang Shalih
  • Menyongsong Era Baru Kepemimpinan Nasional
  • Ekonomi Islam dan Konvensional
  • Menegakkan dan Memelihara Keutamaan Islam
  • Memupuk Jiwa Berkurban
  • Dunia Adalah Ladang Akhirat
  • Kemerdekaan yang Hakiki
  • Urgensi Mengajak Kepada Kebaikan
  • Manusia Adalah Makhluk Fitri
  • Dusta Merupakan Sumber Malapetaka
  • Mempersiapkan Diri Menghadapi Bulan Suci
  • Menjaga Diri Dengan Yang Halal
  • Menimba Hikmah Kisah Nabi Isa a.s.
  • Akibat Orang Yang Menukar Ayat-Ayat Allah
  • Manajemen Dakwah Efektif Aplikatif
  • Kedekatan Manusia di Sisi Allah Swt
  • Membangun Karakter Asmaul Husna
  • Keutamaan Jihad Dengan Harta
  • Keteladanan Rasulullah Saw
  • Kearifan Lokal Dalam Perspektif Islam
  • Mendalami Makna Ukhuwah
  • Peran Ulama’ Dalam Kehidupan Bernegara
  • Islam Agama Universal
  • Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an
  • Tugas Rasul Penyempurna Akhlak Manusia
  • Meneladani Figur Rosulullah SAW
  • Makna Muhasabah (Evaluasi Diri)
  • Petunjuk Rasulullah Tentang Alam Kubur
  • Islam Dan Terjaganya Perilaku
  • Membentuk Muslim Unggul
  • Ilmu Waris, Bagian Dari Agama dan Setengah Dari Ilmu
  • Menggapai Derajat Dengan Ilmu Pengetahuan
  • Upaya Mewujudkan Khoira Ummat (Umat Tebaik)
  • Amalan-Amalan Dalam Rangka Mengisi Tahun Baru Hijriyah
  • Syukur Menjadi Bangsa Indonesia
  • Spirit Tahun Baru Hijriyah
  • Indikator Haji yang Mabrur
  • Penerapan Nilai-Nilai Islam dalam Peradaban Masa Kini
  • Problematika Umat
  • Seputar Ibadah Haji dan Umrah
  • Kemiskinan dalam Pandangan Islam
  • Muslim Selektif Produktif
  • Syahadat, Makna dan Konsekuensinya
  • Menata Hidup dan Kehidupan Dalam Perspektif Islam
  • Urgensi Mempertahankan Kualitas Ibadah
  • Tasamuh, Ta’awun dan Tadlomun
  • Sillaturrahim Dalam Lebaran
  • Kewajiban Dakwah Dalam Berbagai Situasi dan Kondisi
  • Keluh Kesah Manusia Dalam Hidup
  • Amalan-Amalan Penguat Iman
  • Mempertahankan Aqidah di Tengah Benturan Budaya
  • Antara Hak dan Tanggung Jawab
  • Meyakini Kebenaran Ayat-Ayat Al Qur’an
  • Menjaga Diri dan Keluarga dari Api Neraka
  • Nilai Kehidupan
  • Konsep Islam Mengikis Korupsi
  • Shalat Kematian
  • Mempertanyakan Ukhuwah Kita
  • Tiga Faktor Utama Kebahagiaan
  • Menyelaraskan Perkataan Dengan Perbuatan
  • Mengenal Penyakit Hati
  • Pentingnya Menuntut Ilmu dan Kewajiban Mengamalkannya
  • Lezatnya Iman
  • Prinsip-Prinsip Universal Toleransi Antar Umat Beragama
  • Islam, Ya'luu Walaa Yu'laa 'Alaih
  • Islam, dan Ajaran Jihad
  • Kisah Teladan Sahabat Nabi Muhammad Saw
  • Membumikan Akhlak Mulia Dalam Kehidupan
  • Nabi Isa, Kisah dan Hikmahnya
  • Antara Iman dan Amal Sholih
  • Nabi Muhammad Saw, Figur Teladan Umat
  • Menggapai Derajat Siddiqin
  • Dahsyatnya Kiamat dan Tanda Kedatangannya
  • Makna Muhasabah (Evaluasi Diri)
  • Amalan Ahlus Sunnah Wal Jamaah
  • Berinvestasi Dengan Wakaf
  • Ilmu, Simbol Kejayaan Umat
  • Ijabah Do’a
  • Islam Dan Sistem Ekonomi
  • Menggapai Hidup Berkualitas
  • Muhasabah dan Muroqobah, Jalan Menuju Taqwa
  • Hikmah Memperingati Hari Pahlawan
  • Yang Diridhoi Dan Yang Dimurkai Allah
  • Hikmah Ibadah Haji
  • Esensi Haji Mabrur
  • Pola Hidup Sehat Menurut AlQur'an
  • Berdakwah Dengan Hikmah
  • Komunisme dan Bahaya Komunis
  • Cinta Allah Kepada Hambanya
  • Menjaga Diri Dari Makanan Dan Minuman Yang Haram
  • Wibawa Umat
  • Menuntut Ilmu Tanpa Batas
  • Rahasia Keberkahan Ramadhan
  • Menggapai Puncak Keimanan
  • Mendalami Makna Ukhuwah
  • Amalan Penting Menyambut Bulan Ramadhan
  • Memurnikan Niat, Menyongsong Bulan Ramadhan
  • Menempuh Jalan Lurus, Dunia Hingga Akhirat
  • Makna Isra’ Mi’raj Dalam Kehidupan
  • Kiat Memperbaiki Moralitas Bangsa
  • Membumikan Akhlak Rasulullah Saw
  • Membangun Generasi Rabbany
  • Kisah Nabi Isa Dalam Al-Quran Dan Injil
  • Kepemimpinan Rabbani
  • Sufi Dan Sufisme Di Era Global
  • Menggapai Hidup Bahagia
  • Penyakit Hati Dan Obat Penawarnya
  • Peranan Masjid Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Umat
  • Batas-Batas Toleransi Antar Umat Beragama
  • Bulan Kemuliaan Antara Islam Dan Jawa
  • Politik, Antara Norma Dan Realita
  • Aqidah Dan Akhlaq Seorang Pemimpin
  • Rasulullah Tauladan Sepanjang Zaman
  • Mengapa Syi'ah Bermasalah
  • Keunggulan Syariat Allah Swt
  • Hikmah Dzikrul Maut
  • Kiat Mengikis Tradisi Khurofat
  • Istiqomah Tahun 2012
  • Membangun Surga Dalam Keluarga
  • Menggapai Rahmat Allah
  • Hijrah, Upaya Mempertahankan Aqidah
  • Kewajiban Dakwah Bagi Setiap Muslim
  • Dakwah di Tengah Kemajemukan Umat
  • Islam Mengutamakan Kualitas Bukan Kuantitas
  • Menuju Arah Pendidikan Yang Ideal
  • Sucikan Harta Dengan Berderma
  • Terapi Penyakit Hati
  • Strategi Menghadapi Ghozwul Fikri
  • Hakekat Konsep Jihad Dalam Perspektif Islam
  • Urgensi Mengenal Produk Halal dan Baik
  • Mempertahankan Fithrah Manusia
  • Kembali Kepada Allah
  • Merenungi Alam Raya
  • Memperkokoh Ukhuwah Islamiyah
  • Merefleksikan Puasa Ramadhan
  • Tantangan Da'wah di Era Global
  • Kewajiban Memberantas Kemungkaran
  • Persiapan Menghadapi Puasa Ramadhan
  • Islam Agama Nasehat
  • Hak Terhadap Allah, Terhadap Diri Sendiri Dan Terhadap Sesama
  • Kontektualisasi Pemahaman Isra’ Mi’raj
  • Hidup Damai Dengan Islam
  • Doa, Senjata Orang Beriman
  • Kedudukan Wanita Dalam Perspektif Islam
  • Mengikis Budaya Korupsi
  • Cuci Otak
  • Menggapai Rahmat Dengan Taubat
  • Keseimbangan Investasi Dunia Akhirat
  • Urgensi Mendahulukan Kualitas Atas Kuantitas Dalam Beramal
  • Manusia-Manusia Unik Dalam Alqur’an
  • Amar Makruf Nahi Mungkar
  • Memupuk Kepedulian Sosial
  • Pilar-Pilar Kejayaan Islam
  • Keunggulan Ajaran Islam
  • Keagungan Akhlak Rasulullah Saw
  • Rasululloh Sebagai Uswah
  • Keteladanan Kisah Nabi Nuh As
  • Keutamaan Shalat Lail
  • Niat Pangkal Seluruh Aktivitas
  • Membentuk Keshalihan Ritual dan Sosial
  • Dunia Sebagai Ladang Akhirat
  • Muhasabah Tahun Baru
  • Batas-batas Toleransi Antar Umat Beragama
  • Do’a, Perisai Mukmin
  • Islam Agama Seluruh Nabi dan Rasul
  • Mengenang Kembali Makna Hijriyah
  • Risywah, Macam dan Bahayanya
  • Iman Sebagai Kekuatan Moral
  • Bahagia Saat Orang Lain Bahagia
  • Islam Kenikmatan Yang Agung dan Sempurna
  • Penyakit Sosial dalam Sorotan Syariat
  • Manusia Makhluk Fitri
  • Kiat Mencapai Derajat Taqwa
  • Riya’, Penyakit Amal Kebajikan
  • Membentuk Kesehatan Jasmani dan Rohani
  • Mengantisipasi Aliran Sesat
  • Urgensi Membaca dan mengamalkan Al-Qur’an
  • Musik Bata
  • Sedekah yang Barakah
  • Nilai Pendidikan Ramadhan
  • Dr. H. Imam Mawardi, MA
  • Nikah, Hakikat dan Urgensinya
  • Pengendalian Hawa Nafsu
  • Memberantas Kebodohan
  • Menggapai Hidup Barakah
  • Profil Manusia Bertaqwa
  • Akhlaq Mahmudah dan Akhlaq Madzmumah
  • Menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
  • Urgensi Ukhuwah Islamiyah
  • Syirik, Macam dan Bahayanya
  • Bersihkan Harta dan Hati untuk Bangun Negeri
  • Menghadapi Ujian Tahta Harta Dan Wanita