Khutbah Jum'at
 

Drs. KH Abdusshomad Buchori

Konsep Beragama dalam Bingkai Nkri

30-06-2015 | 14:16:44

Indonesia adalah negara yang sangat besar. Menurut beberapa sumber, bahwa negara Indonesia terdiri dari 13.487 pulau besar dan kecil, sekitar 6.000 di antaranya tidak berpenghuni. Jumlah penduduk 245 juta, umat Islam 220 juta. Sehingga mayoritas penduduk Indonesia adalah umat Islam. Tidak boleh ada dikotomi antara umat Islam dengan negara Indonesia tercinta ini. Umat Islam wajib mencintai negeri ini. Negara Indonesia merdeka bukan hadiah dari Belanda, tetapi melalui perjuangan yang luar biasa adalah pejuang-pejuang kita dulu yang tak kenal lelah mengorbankan harta, raga bahkan nyawa. Untuk itu, sebagai umat Islam mari menjadi pelopor dan berperan dalam rangka memakmurkan negeri ini.

Negeri yang makmur, aman dan tenteram seperti ini, karena adanya agama. Tidak mungkin membangun negara tanpa agama, karena agama adalah unsur mutlak dalam membangun karakter bangsa. Itulah kemudian ada sila pertama pancasila, yakni Ketuhanan YMA. Alamsyah Ratu Perwira Negara, pernah mengatakan, bahwa pancasila adalah hadiah terbesar umat Islam. Betapa tidak, negara ini mayoritas umat Islam, tetapi tidak menuntut agar dijadikan negara Islam. Seharusnya kalau tidak menjadi negara Islam, mestinya Islam menjadi agama Negara.

Kalau kita cermati, yang membangun negeri ini adalah masyarakat. Dan masyarakat Indonesia mayoritas Islam. Masjid, musholla, lembaga sosial, pondok pesentren, rumah sakit, semua dibangun oleh masyarakat. Pemerintah tidak mungkin bisa membangun semua. Jadi, civil sociaty dibangun oleh masyarakat, sedang pemerintah mendukung.

Untuk itu, saya setuju dengan beberapa orang yang mengusulkan hendaknya pemerintah jangan hanya membantu para politisi dan partai-partai politik dengan dukungan anggaran yang sangat besar, tetapi juga harus membantu organisasi massa yang punya andil besar dalam membangun bangsa dan negara. Siapa yang mengajar ngaji anak-anak kita? Siapa yang menjadi imam di masjid-masjid, musholla-musholla? Siapa yang mengajari anak-anak kita menjaga kerukunan? Mereka adalah para Kiai, ustadz-ustadz, guru ngaji, di mana mereka melakukan itu dengan ikhlas. Mereka itulah yang punya andil besar dalam membangun negeri ini. Maka, pemerintah seharusnya tidak boleh memandang sebelah mata. Pemerintah harus memperhatikan mereka. Mereka tidak mendapat gaji dari pemerintah, mereka hanya mengandalkan usaha-usaha kecil-kecilan, buka toko kecil-kecilan, yang akhir-akhir ini tergusur dengan adanya swalayan-swalayan yang sudah merambah ke desa-desa. Untuk itu, pemerintah harus mencegah agar kapitalisme jangan sampai hinggap di negeri ini, kalau tidak akan menggusur orang-orang yang membangun bangsa ini. Orang yang sudah kaya jangan dibiarkan untuk menumpuk kekayaannya dengan berlebihan, menguasai lahan ribuan hektar, air dikuasai, hutan dikuasai, gunung dikuasai. Karena dengan demikian akan timbul kesenjangan sosial, maka akan dimungkinkan muncul radikalisme. Ingatkan mereka, bahwa hidup di dunia hanya sementara, dan mereka akan menuju hidup yang kekal, yakni negeri akhirat.

Tidak mungkin terciptanya kita (manusia) tanpa adanya makna. Harusnya ada makna atau tujuan yang harus dilakukan oleh manusia. Benda-benda ciptaan manusia memiliki makna. Baju untuk melindungi tubuh, mesin cetak untuk mencetak berbagai buku dan mobil untuk mempercepat transportasi. Bahkan, alat buatan manusia yang tidak sesempurna manusia itu memiliki makna. Lantas apakah manusia itu sendiri tidak memiliki makna hidup sedangkan alat-alat tersebut memiliki makna? Jika kehidupan setelah mati tidak ada, lantas apa bedanya orang baik dan jahat, pembunuh dan yang dibunuh, pezina dan yang terhormat, koruptor dan orang jujur? Sungguh beruntungnya para koruptor, pezina, peminum, kapitalis curang karena hidup mereka penuh dengan kesenangan. Para pengusaha besar curang, bahagia dengan banyak harta tapi merugikan para pengusaha kecil dan merusak perekonomian banyak masyarakat. Tidak sedikit kita mendengar ada seorang yang bersenang-senang dengan mirasnya dan mati karena minum miras berlebihan. Tidak sedikit para koruptor yang hidup bebas dengan hartanya. Setelah para koruptor, kapitalis curang dan peminum miras itu mati maka tidak ada apa-apa. Mereka hanya mati dan tidak ada lagi setelah itu. Mereka memperoleh banyak keuntungan dan kesenangan dari kejahatannya dan setelah mati semuanya selesai. Kalau begitu lebih enak mati karena bersenang-senang dalam pesta miras daripada ditembak oleh penjajah. Beruntungnya karena tidak ada pertanggung jawaban yang harus mereka berikan saat mereka mati.

Jika kehidupan setelah mati tidak ada, maka sungguh kasihan dan menyedihkan orang-orang jujur, orang yang menjaga diri dan para pahlawan yang lelah berjuang. Banyak di antara mereka yang hidup dalam kesengsaraan perjuangan demi bangsa lalu mati tidak mendapatkan apa-apa. Banyak para pahlawan yang hidup sengsara memperjuangkan hidup orang banyak dan mati ditembak penjajah tanpa merasakan nikmatnya hidup. Walau mendapatkan penghargaan tapi bukankah penghargaan yang dicantumkan kepada mereka tidak ada artinya bagi mereka karena mereka sudah mati? Hanya orang bodoh yang ingin menjadi pahlawan yang hidup tersiksa dalam siksaan para penjajah. Mereka tidak memperoleh manisnya buah perjuangan karena setelah mereka mati maka tidak ada apa-apa lagi setelahnya. Jika kehidupan setelah mati tidak ada maka begitu tidak adilnya dunia ini.

Dan iman bisa memberi makna hidup. (Q.S. Al Anfaal [8] : 24). Hidup akan bisa berarti jika ada iman, karena hidup yang tidak membawa iman tidak akan ada tujuan dalam hidup ini. Karena itu, sebagai umat Islam mari kita tingkatkan kualitas diri, membangun keluarga, membangun masyarakat. Kita bersihkan diri untuk menjadi muslim yang paripurna, muslim yang memiliki iman yang mantab, bermental baja, berakhlak mulia, memiliki ilmu pengetahuan, memiliki skill yang terampil, mengusai teknologi dalam bidang-bidang tertentu, memiliki fisik yang kuat, tanggunjawab penuh, peka terhadap problematika sosial.

Kita dengarkan anjuran pemerintah, kalau benar kita ikuti, kalau salah dikoreksi, diingatkan. Kalau diingatkan tidak mau, bahkan mempertahankan salah, maka boleh kita tentang. Sebab dalam konsep Islam, laa thaa’ata limakhluuqin fi ma’shiyatil kholiq (tidak boleh taat kepada siapapun kecuali kepada Allah ).

Memang agama tidak dilarang di Indonesia, tetapi agama harus didefinisikan dengan benar. Jangan sampai seluruh kepercayaan menjadi agama. Dalam fatwa MUI syarat agama di samping ada kepercayaan, harus punya Tuhan, mempunyai Rasul, mempunyai kitab suci, ada sistem ibadah yang teratur. Oleh karena itu, saya setuju dengan konsep tri kerukunan. Kerukunan intern umat beragama, kerukunan antar umat beragama dan kerukunan antar umat beragama dengan pemerintah. Kerukunan di sini adalah orangnya dirukunkan dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. Bukan mencampuradukkan ritual ajaran agamanya. Karena akhir-akhir ini ada trend mencampuraduk ritual ajaran agama dengan dalih kerukunan beragama. Misalnya orang Islam dipaksa untuk hadir di majelis-majelis dan tempat peribadatan non muslim. Buka puasa di gereja. (Q.S. Al Baqarah [2] : 42).

Banyak orang menyebut bahwa Indonesia merupakan negara kemajemukan atau kebhinekaan. Saya ingin tegaskan, bahwa kebhinekaan itu merupakan realita, dan bukan pluralisme agama. Karena pluralisme itu mencampuradukkan ajaran agama. Menerjemahkan tasamuh (toleransi) melampaui batas, hingga seolah-olah kita harus mengakui kebenaran agama lain, hal tersebut merupakan kesalahan tauhid, sehingga harus dikoreksi. Silakan orang Kristen mengadakan acara di Gereja, kita tidak boleh melarang mereka. Silakan mereka mengadakan Natalan di Gereja, kita tidak boleh mengganggu mereka. Umat Islam mengadakan shalat Tarawih tidak perlu mengundang Pastor. Mengadakan istighotsah tidak usah mengundang Biksu. Tetapi kerja bakti membersihkan jalan, boleh bersama-sama, membangun negara bisa bersama-sama, mengatur ekonomi, berpolitik, dimungkinkan untuk bersama-sama.

Berangkat dari semangat mempertahankan NKRI, maka upaya pemerintah untuk tetap menjaga kerukunan antar umat beragama bersepakat antara menteri agama dengan menteri dalam negeri no 8 dan 9 tahun 2006, tentang membangun tempat ibadah. Dalam peraturan tersebut menjelaskan bahwa, ketentuan membangun tampat peribadatan harus mempunyai jamaah minimal 90 orang yang berdomisili di wilayah tersebut dibuktikan dengan KTP. Aturan ini berlaku untuk semua agama di Indonesia. Sehingga, kalau suatu wilayah yang tidak mempunyai jamaah kurang dari 90 orang, maka sulit untuk membangun tempat ibadah. Saya diberitahu oleh ketua MUI di Papua, bahwa sampai sekarang sulit membangun Masjid Raya di Papua, karena umat Islam di sana minoritas.

Umat Islam sudah sangat toleran terhadap agama lain. Di Surabaya saja yang mayoritas muslim sudah berdiri 400 gereja. Karena itu, kalau Bapak-bapak membaca koran atau internet kasus di Jawa Barat, yang namanya Yasmin, tidak dikeluarkan ijin oleh wali kota, karena tidak punya pendukung. Tetapi mereka mengadakan kebaktian di trotoar, lalu di ekspose oleh wartawan, sehingga menjadi berita nasional. Kemudian JIL melaporkan ke PBB, sehingga Indonesia disudutkan di forum internasional, seolah kita tidak toleran kepada mereka. Padahal semua itu mereka sendiri yang membuat skenario global untuk menjatuhkan martabat Indonesia di luar negeri.

Mari kita maknai pancasila dengan benar, sehingga tidak akan ada benturan-benturan di antara bangsa sendiri, atau bahkan sesama muslim sendiri. Kepada minoritas kita tidak boleh sewenang-wenang, mereka kita lindungi, sepanjang mereka tidak melanggar aturan hukum yang berlaku.

Khutbah sebelumnya :

  • Menjadi Umat yang Terbaik
  • Urgensi Pemurnian Aqidah Dalam Membangun Bangsa
  • Kejujuran Kunci Kesuksesan
  • Menjadi Umat Nabi Muhammad yang Hakiki
  • KERUKUNAN UMAT BERAGAMA, PILAR NEGARA RI
  • Menyelesaikan Perbedaan
  • Mengukur Kadar Keimanan
  • KH Agoes Ali Masyhuri
  • Ukhuwah Demi Muruu’ah (Martabat)
  • Kecerdasan Spiritual
  • Hijrah, Momentum Mempererat Persaudaraan
  • Refleksi 51 Tahun Pemberontakan G-30-S/PKI
  • Urgensi Tauhid dalam Mengangkat Derajat & Martabat Muslimin
  • Kecintaan Sesama, Bukti Cinta Kepada Allah
  • Syukur dan Bahagia
  • Singa dalam Senyap
  • Berteknologi Tanpa Iman
  • Hakekat Pahlawan
  • Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan
  • Menggapai Bahagia, Hubungkan Bumi dengan Langit
  • Kehidupan Dunia Sementara
  • Takabbur dan Tawadhu’
  • Pasar dalam Islam
  • Memberi Tanpa Menyakiti
  • Ramadhan, Bulan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
  • Hakikat Ibadah
  • Meraih Derajat Muttaqiin
  • Merindukan Ramadhan
  • Jihad Akbar Bukan Sembarang Jihad
  • Merajut Ukhuwah Islamiyah
  • Debu Takwa Pembebas Derita
  • Isra’ Mi’raj Momentum Evaluasi Shalat
  • Keutamaan Shadaqah
  • Ikhtiar, Do’a dan Tawakkal
  • Qanaah Bukti Keimanan Seseorang Kepada Allah
  • Mengemban Amanat Agama
  • Ujian, Bukti Cinta Allah kepada Hambanya
  • Menuju Kecintaan Kepada Allah Swt
  • Masa dan Manusia
  • Segera Bertaubat sebelum Terlambat
  • Kesehatan Jasmani dan Rohani
  • Memaafkan dan Mendamaikan
  • Mengungkap Hikmah Shabar
  • Membangun Bangsa dengan Imtaq dan Iptek
  • Meningkatkan Iman Dan Taqwa di Tahun 2016
  • Fadhilah Membahagiakan Orang Lain
  • Bukti Cinta Rasulullah Kepada Umatnya
  • Strategi Umat Islam Menghadapi Tantangan Global
  • Lemah Lembut dan Murah Hati
  • Keserasian Aqidah, Syariah dan Akhlak
  • Dzikirnya Orang yang Cerdik Cendikia
  • Budi Pekerti yang Luhur
  • Persatuan, Modal Kesuksesan Bangsa
  • Pentingnya Belajar dari Sejarah
  • Mewaspadai Golongan Ekstrim
  • Menemukan “Ibrahim” Era Baru
  • Amalan Subtansional
  • Bermuamalah dengan Non Muslim
  • Merdeka dalam Perspektif Islam
  • Mempertahankan Persaudaraan dalam Bingkai Iman
  • Petunjuk Allah dalam Menghadapi Cobaan Hidup
  • Amalan Penting Pasca Ramadhan
  • Wakaf dan Kesejahteraan Umat
  • Jiwa Yang Fitrah, Kunci Kebahagiaan Dunia Akhirat
  • 5 Wasiat Menuju Pribadi Unggul
  • Syawwal, Bulan Peningkatan
  • Puasa, Makna dan Filosofinya
  • Berbenah Diri Menyambut Bulan Suci
  • Konsep Beragama dalam Bingkai Nkri
  • Pedoman Pergaulan dalam Rumah Tangga
  • Makna Shalat, Historis dan Filosofis
  • Essensi Shalat dalam Kehidupan
  • Penghargaan untuk Merubah Masa Depan
  • Beri Upah Pekerja, Sebelum Keringat Menetes
  • Keseimbangan Materi dan Nurani
  • Orang-Orang yang Jauh dari Hidayah Allah
  • Ayat-ayat Allah di Alam Semesta
  • Islam Kaafah dalam Berbangsa dan Bernegara
  • Muslim yang Ikhlas
  • Ancaman Orang yang Mengabaikan Zakat
  • Dampak Kesehatan Jiwa Terhadap Kesehatan Jasmani
  • Urgensi Musyawarah dalam Setiap Urusan
  • Pedoman Memilih Pemimpin Menurut Pandangan Islam
  • Keluhuran Akhlak Jaminan Kejayaan Bangsa
  • Empat Pilar Akhlaq Mulia
  • Jihad Melawan Hawa Nafsu
  • Sifat Orang Kafir
  • Berhati-Hati dengan Tipudaya Dunia
  • Unjuk Rasa dalam Islam
  • Refleksi di Tahun Baru
  • Mengenal Hadis-Hadis Israiliyaat
  • Fleksibelitas dalam Hukum Islam
  • Teladan Rasulullah dalam Intrepreneurship
  • Mewujudkan Islam Kaaffah (Menyeluruh)
  • Membangun Masyarakat Bermartabat, Mewujudkan Negara Damai Sejahtera
  • Hidup Mulia dengan Islam
  • Haji dan Perbaikan Moral Umat
  • Urgensi Bersahabat dengan Orang yang Shalih
  • Menyongsong Era Baru Kepemimpinan Nasional
  • Ekonomi Islam dan Konvensional
  • Menegakkan dan Memelihara Keutamaan Islam
  • Memupuk Jiwa Berkurban
  • Dunia Adalah Ladang Akhirat
  • Kemerdekaan yang Hakiki
  • Urgensi Mengajak Kepada Kebaikan
  • Manusia Adalah Makhluk Fitri
  • Dusta Merupakan Sumber Malapetaka
  • Mempersiapkan Diri Menghadapi Bulan Suci
  • Menjaga Diri Dengan Yang Halal
  • Menimba Hikmah Kisah Nabi Isa a.s.
  • Akibat Orang Yang Menukar Ayat-Ayat Allah
  • Manajemen Dakwah Efektif Aplikatif
  • Kedekatan Manusia di Sisi Allah Swt
  • Membangun Karakter Asmaul Husna
  • Keutamaan Jihad Dengan Harta
  • Keteladanan Rasulullah Saw
  • Kearifan Lokal Dalam Perspektif Islam
  • Mendalami Makna Ukhuwah
  • Peran Ulama’ Dalam Kehidupan Bernegara
  • Islam Agama Universal
  • Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an
  • Tugas Rasul Penyempurna Akhlak Manusia
  • Meneladani Figur Rosulullah SAW
  • Makna Muhasabah (Evaluasi Diri)
  • Petunjuk Rasulullah Tentang Alam Kubur
  • Islam Dan Terjaganya Perilaku
  • Membentuk Muslim Unggul
  • Ilmu Waris, Bagian Dari Agama dan Setengah Dari Ilmu
  • Menggapai Derajat Dengan Ilmu Pengetahuan
  • Upaya Mewujudkan Khoira Ummat (Umat Tebaik)
  • Amalan-Amalan Dalam Rangka Mengisi Tahun Baru Hijriyah
  • Syukur Menjadi Bangsa Indonesia
  • Spirit Tahun Baru Hijriyah
  • Indikator Haji yang Mabrur
  • Penerapan Nilai-Nilai Islam dalam Peradaban Masa Kini
  • Problematika Umat
  • Seputar Ibadah Haji dan Umrah
  • Kemiskinan dalam Pandangan Islam
  • Muslim Selektif Produktif
  • Syahadat, Makna dan Konsekuensinya
  • Menata Hidup dan Kehidupan Dalam Perspektif Islam
  • Urgensi Mempertahankan Kualitas Ibadah
  • Tasamuh, Ta’awun dan Tadlomun
  • Sillaturrahim Dalam Lebaran
  • Kewajiban Dakwah Dalam Berbagai Situasi dan Kondisi
  • Keluh Kesah Manusia Dalam Hidup
  • Amalan-Amalan Penguat Iman
  • Mempertahankan Aqidah di Tengah Benturan Budaya
  • Antara Hak dan Tanggung Jawab
  • Meyakini Kebenaran Ayat-Ayat Al Qur’an
  • Menjaga Diri dan Keluarga dari Api Neraka
  • Nilai Kehidupan
  • Konsep Islam Mengikis Korupsi
  • Shalat Kematian
  • Mempertanyakan Ukhuwah Kita
  • Tiga Faktor Utama Kebahagiaan
  • Menyelaraskan Perkataan Dengan Perbuatan
  • Mengenal Penyakit Hati
  • Pentingnya Menuntut Ilmu dan Kewajiban Mengamalkannya
  • Lezatnya Iman
  • Prinsip-Prinsip Universal Toleransi Antar Umat Beragama
  • Islam, Ya'luu Walaa Yu'laa 'Alaih
  • Islam, dan Ajaran Jihad
  • Kisah Teladan Sahabat Nabi Muhammad Saw
  • Membumikan Akhlak Mulia Dalam Kehidupan
  • Nabi Isa, Kisah dan Hikmahnya
  • Antara Iman dan Amal Sholih
  • Nabi Muhammad Saw, Figur Teladan Umat
  • Menggapai Derajat Siddiqin
  • Dahsyatnya Kiamat dan Tanda Kedatangannya
  • Makna Muhasabah (Evaluasi Diri)
  • Amalan Ahlus Sunnah Wal Jamaah
  • Berinvestasi Dengan Wakaf
  • Ilmu, Simbol Kejayaan Umat
  • Ijabah Do’a
  • Islam Dan Sistem Ekonomi
  • Menggapai Hidup Berkualitas
  • Muhasabah dan Muroqobah, Jalan Menuju Taqwa
  • Hikmah Memperingati Hari Pahlawan
  • Yang Diridhoi Dan Yang Dimurkai Allah
  • Hikmah Ibadah Haji
  • Esensi Haji Mabrur
  • Pola Hidup Sehat Menurut AlQur'an
  • Berdakwah Dengan Hikmah
  • Komunisme dan Bahaya Komunis
  • Cinta Allah Kepada Hambanya
  • Menjaga Diri Dari Makanan Dan Minuman Yang Haram
  • Wibawa Umat
  • Menuntut Ilmu Tanpa Batas
  • Rahasia Keberkahan Ramadhan
  • Menggapai Puncak Keimanan
  • Mendalami Makna Ukhuwah
  • Amalan Penting Menyambut Bulan Ramadhan
  • Memurnikan Niat, Menyongsong Bulan Ramadhan
  • Menempuh Jalan Lurus, Dunia Hingga Akhirat
  • Makna Isra’ Mi’raj Dalam Kehidupan
  • Kiat Memperbaiki Moralitas Bangsa
  • Membumikan Akhlak Rasulullah Saw
  • Membangun Generasi Rabbany
  • Kisah Nabi Isa Dalam Al-Quran Dan Injil
  • Kepemimpinan Rabbani
  • Sufi Dan Sufisme Di Era Global
  • Menggapai Hidup Bahagia
  • Penyakit Hati Dan Obat Penawarnya
  • Peranan Masjid Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Umat
  • Batas-Batas Toleransi Antar Umat Beragama
  • Bulan Kemuliaan Antara Islam Dan Jawa
  • Politik, Antara Norma Dan Realita
  • Aqidah Dan Akhlaq Seorang Pemimpin
  • Rasulullah Tauladan Sepanjang Zaman
  • Mengapa Syi'ah Bermasalah
  • Keunggulan Syariat Allah Swt
  • Hikmah Dzikrul Maut
  • Kiat Mengikis Tradisi Khurofat
  • Istiqomah Tahun 2012
  • Membangun Surga Dalam Keluarga
  • Menggapai Rahmat Allah
  • Hijrah, Upaya Mempertahankan Aqidah
  • Kewajiban Dakwah Bagi Setiap Muslim
  • Dakwah di Tengah Kemajemukan Umat
  • Islam Mengutamakan Kualitas Bukan Kuantitas
  • Menuju Arah Pendidikan Yang Ideal
  • Sucikan Harta Dengan Berderma
  • Terapi Penyakit Hati
  • Strategi Menghadapi Ghozwul Fikri
  • Hakekat Konsep Jihad Dalam Perspektif Islam
  • Urgensi Mengenal Produk Halal dan Baik
  • Mempertahankan Fithrah Manusia
  • Kembali Kepada Allah
  • Merenungi Alam Raya
  • Memperkokoh Ukhuwah Islamiyah
  • Merefleksikan Puasa Ramadhan
  • Tantangan Da'wah di Era Global
  • Kewajiban Memberantas Kemungkaran
  • Persiapan Menghadapi Puasa Ramadhan
  • Islam Agama Nasehat
  • Hak Terhadap Allah, Terhadap Diri Sendiri Dan Terhadap Sesama
  • Kontektualisasi Pemahaman Isra’ Mi’raj
  • Hidup Damai Dengan Islam
  • Doa, Senjata Orang Beriman
  • Kedudukan Wanita Dalam Perspektif Islam
  • Mengikis Budaya Korupsi
  • Cuci Otak
  • Menggapai Rahmat Dengan Taubat
  • Keseimbangan Investasi Dunia Akhirat
  • Urgensi Mendahulukan Kualitas Atas Kuantitas Dalam Beramal
  • Manusia-Manusia Unik Dalam Alqur’an
  • Amar Makruf Nahi Mungkar
  • Memupuk Kepedulian Sosial
  • Pilar-Pilar Kejayaan Islam
  • Keunggulan Ajaran Islam
  • Keagungan Akhlak Rasulullah Saw
  • Rasululloh Sebagai Uswah
  • Keteladanan Kisah Nabi Nuh As
  • Keutamaan Shalat Lail
  • Niat Pangkal Seluruh Aktivitas
  • Membentuk Keshalihan Ritual dan Sosial
  • Dunia Sebagai Ladang Akhirat
  • Muhasabah Tahun Baru
  • Batas-batas Toleransi Antar Umat Beragama
  • Do’a, Perisai Mukmin
  • Islam Agama Seluruh Nabi dan Rasul
  • Mengenang Kembali Makna Hijriyah
  • Risywah, Macam dan Bahayanya
  • Iman Sebagai Kekuatan Moral
  • Bahagia Saat Orang Lain Bahagia
  • Islam Kenikmatan Yang Agung dan Sempurna
  • Penyakit Sosial dalam Sorotan Syariat
  • Manusia Makhluk Fitri
  • Kiat Mencapai Derajat Taqwa
  • Riya’, Penyakit Amal Kebajikan
  • Membentuk Kesehatan Jasmani dan Rohani
  • Mengantisipasi Aliran Sesat
  • Urgensi Membaca dan mengamalkan Al-Qur’an
  • Musik Bata
  • Sedekah yang Barakah
  • Nilai Pendidikan Ramadhan
  • Dr. H. Imam Mawardi, MA
  • Nikah, Hakikat dan Urgensinya
  • Pengendalian Hawa Nafsu
  • Memberantas Kebodohan
  • Menggapai Hidup Barakah
  • Profil Manusia Bertaqwa
  • Akhlaq Mahmudah dan Akhlaq Madzmumah
  • Menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
  • Urgensi Ukhuwah Islamiyah
  • Syirik, Macam dan Bahayanya
  • Bersihkan Harta dan Hati untuk Bangun Negeri
  • Menghadapi Ujian Tahta Harta Dan Wanita