Khutbah Jum'at
 

KH Ilhamulloh Sumarkan, M.Ag

Syawwal, Bulan Peningkatan

30-06-2015 | 14:25:07

Cita-cita akhir dalam perjalanan hidup kita adalah meraih surga dan terbebas dari api neraka. Untuk menggapai cita-cita itu Allah telah memberi fasilitas. Fasilitas tersebut adalah kefitrahan. Surga adalah tempat yang suci, sehingga syarat penghuni surga adalah mereka-mereka yang suci. oleh karena itu, Allah telah menentukan kelahiran kita dalam keadaan fitrah (suci). Namun dalam perjalanan hidup manusia, setelah mencapai aqil baligh, manusia bergelut dengan salah dan dosa, bahkan perbuatan-perbuatan yang sesungguhnya akan membuat diri kita bergelimang dengan dosa dan najis yang semua itu menjadi penghalang masuk surga. Tetapi, Allah tetap memberi sarana untuk menyucikannya. Di antaranya adalah seperti ibadah puasa yang telah kita jalani selama satu bulan yang lalu.

Janji Allah jelas, melalui sabda Nabi Muhammad SAW : man shaama ramadhaana iimaanan wahtisaaban ghufiro lahu maa taqaddama min dzanbihi. ( Barang siapa yang puasa Ramadan dengan penuh keimanan dan berharap ridha Allah, maka diampuni dosanya yang telah lalu). Karena itu, sesungguhnya satu sisi adalah kebahagiaan ketika kita telah melewatkan puasa Ramadhan, karena telah bisa menjalani ibadah puasa, diberi umur panjang oleh Allah SWT. Sekarang Ramadhan sudah berlalu, apakah kesucian yang kita raih itu dipertahankan atau justeru sudah dikotori kembali. Ketika sudah mendapati janji Allah fitrah melalui puasa, maka ada ibadah sosial untuk menyempurnakan fitrah itu, di antaranya adalah zakat fitrah yang bertujuan menyucikan jiwa agar kembali kepada fitrah. Nah, sekarang tinggal kita muhasabah kepada diri kita masing-masing, apakah mampu mempertahankan kefitrahan atau tidak.

Rasulullah SAW bersabda : laisa ‘ied liman labisa jadiid, walaakinnal ied liman kaana thaa’atuhu taziid (orang yang kembali kepada fitrah, bukan orang yang pakaiannya baru, tetapi hakekat orang yang kembali fitrah adalah mereka yang taatnya bertambah). Hal ini seiring dengan sebutan bulan “Sawwal” yang berarti “meningkat”. Selama bulan Ramadan telah digembleng, mental kita terfokus untuk meraih pahala sebanyak-banyaknya. Ketika itu, ibadah tidak terasa berat, misalnya untuk berjamaah shalat Maghrib, shalat Isya’, Tarawih, shalat malam, shalat Shubuh selalu dengan berjamaah, dilanjutkan dengan pengajian-pengajian. Semua dijalankan dengan ringan, tanpa ada rasa berat. Setelah di luar Ramadhan, apakah kita masih bisa mempertahankan akifitas yang mulia itu. Apakah setelah selesai Ramadhan masjid-masjid kembali kosong seperti biasanya? Kalau ia, berarti bulan Sawwal yang berarti bulan peningkatan, tetapi amalannya tidak meningkat. Dan berarti dia tidak bisa mempertahankan kefitrahannya.

Tetapi, karena kita bertekat untuk mempertahankan kefitrahan kita, maka walaupun Ramadhan sudah berlalu, tetapi suasana Ramadhan tetap terhunjam dalam hati kita. Kita tetap semangat untuk berangkat ke masjid ketika waktu shalat telah tiba, dan tetap semangat untuk melakukan perintah-perintah Allah yang lainnya. Karena ini adalah pembuktian Ramadhan yang telah kita alami. Allah berfirman dalam surah Ar Ruum [30] : 30. Yang maknanya : “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Maksud Fitrah Allah addalah ciptaan Allah. Manusia diciptakan Allah mempunyai naluri beragama Yaitu agama tauhid. kalau ada manusia tidak beragama tauhid, Maka hal itu tidaklah wajar. mereka tidak beragama tauhid itu hanyalah lantara pengaruh lingkungan.

Manusia bukan malaikat, juga bukan binatang, tetapi manusia adalah di antara keduanya. Ketika berpuasa, kita diajarkan untuk menjadi manusia yang fitrah. Ketika itulah diri kita mempunyai unsur ruhaniah atau unsur malaikat, saat itulah akal kita yang dominan. Dan ketika lepas maghrib, maka unsur jasmaniahlah yang dominan, sedang jasmaniah adalah perwakilan dari unsur binatang. Manusia, satu sisi dibekali akal, tetapi satu sisi juga dibekali nafsu. Maka ketika malam hari orang yang berpuasapun, ketika punya hasrat nafsu maka dia dihalalkan untuk berhubungan suami isteri. Dan itu dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Dari Anas bin Malik r.a. bahwa ia berkata, "Tiga orang Sahabat datang ke rumah Rasulullah untuk menanyakan tentang ibadah beliau. Setelah diceritakan kepada mereka tentang ibadah Rasulullah, mereka menganggapnya terlalu sedikit. Sehingga mereka berkata, 'Keadaan kita dengan beliau jauh berbeda, sesungguhnya Allah SWT telah mengampuni dosa-dosa beliau yang lalu dan yang akan datang!'

Maka salah seorang di antara mereka berkata, 'Aku akan shalat malam terus menerus.' Seorang lagi berkata, 'Aku akan berpuasa terus menerus tanpa putus.' Yang lain berkata, 'Aku akan menjauhi kaum wanita dan tidak akan menikah selamanya.' Lalu datanglah Rasulullah saw. menemui mereka, beliau bersabda, "Apakah kalian yang mengucapkan begini dan begitu!" Demi Allah, aku adalah orang yang paling takut dan paling bertakwa kepada Allah! Namun selain berpuasa aku juga berbuka (tidak berpuasa), selain shalat aku juga tidur, dan aku juga menikahi wanita. Barangsiapa yang membenci Sunnahku, maka ia bukan termasuk golonganku," (HR Bukhari dan Muslim).

Sesungguhnya Islam tidak melarang untuk menperturutkan nafsu, tetapi Islam mengatur, kapan saatnya dihalalkan, kapan saat diharamkan. Sama halnya dengan berpuasa, ada saat tidak boleh makan dan saat diperbolehkan makan. Kapan saat tidak boleh berhubungan suami isteri, kapan diperbolehkan. Sehingga, dengan demikian puasa mengajarkan untuk menjadi manusia-manusia dewasa, bukan manusia-manusia yang kanak-kanak. Manusia yang kanak-kanak adalah manusia yang punya kecenderungan melakukan sesuatu berdasarkan suka dan tidak suka, senang dan tidak senang, tanpa berfikir resiko. Sementara orang yang berfikir dewasa tidak mengukur sesuatu dari suka dan tidak suka, tetapi yang menjadi ukurannya adalah baik atau buruk, benar atau salah, boleh atau tidak boleh. Sesungguhnya kalau ukurannya nafsu, menahan lapar dan haus itu tidak menyenangkan, tetapi karena itulah yang terbaik menurut Allah, maka ketika itulah kita melakukannya tidak berdasarkan senang atau tidak senang.

Pengendalian diri itulah yang dinilai tinggi oleh Allah, karena itu manusia dinilai mulia di sisi Allah, bahkan lebih tinggi dibanding malaikat. Karena manusia punya nafsu, tetapi mampu mengendalikannya, seperti Rasulullah SAW. Mampukah kita mempertahankan pelajaran puasa seperti itu? Di situlah akan terukur tingkat kefitrahan kita setelah Ramadhan.

Namun kita mengakui, dalam mengendalikan nafsu, kapan saatnya akal mendominasi, kapan saatnya ruhani yang mendominasi, kadang cenderung liar. Ketika nafsu tidak diperbolehkan oleh agama, kitapun kadang menabraknya. Itulah sebuah kesalahan dan sesuatu yang mengotori kefitrahan kita. Maka, dalam hal ini Allah masih memberi kesempatan untuk tetap suci, sebagaimana dijelaskan dalam surah Ali Imran [3] : 133. Yang maknanya : “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk ora ng-orang yang bertakwa”.

Ada makna yang tersirat dalam ayat ini, “bersegeralah untuk meraih maghfirah dan bersegera meraih surga”. Kata maghfirah dihubungkan dengan surga. Ini memberikan pelajaran bahwa siapapun tidak akan mungkin bisa masuk surga kecuali dia mendapat maghfirah Allah SWT, baik dosa secara syar’i (melanggar hukum-hukum Allah) atau dosa akhlaqi, karena tidak sanggup mempertanggungjawabkan nikmat-nikmat Allah.

Allah berfirman dalam surah Al Jaatsiyah [45] : 29-30, yang maknanya : “Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh Maka Tuhan mereka memasukkan mereka ke dalam rahmat-Nya (surga). Itulah keberuntungan yang nyata”.

Rahmah adalah surga. Siapapun tidak akan mungkin masuk surga jika tidak mendapat rahmah dan maghfirah (ampunan) Allah SWT. Semoga setelah melakukan ibadah di bulan puasa kita mampu mempertahankannya, agar sewaktu-waktu dipanggil oleh Allah kita tetap dalam kondisi suci.

Khutbah sebelumnya :

  • Menjadi Umat yang Terbaik
  • Urgensi Pemurnian Aqidah Dalam Membangun Bangsa
  • Kejujuran Kunci Kesuksesan
  • Menjadi Umat Nabi Muhammad yang Hakiki
  • KERUKUNAN UMAT BERAGAMA, PILAR NEGARA RI
  • Menyelesaikan Perbedaan
  • Mengukur Kadar Keimanan
  • KH Agoes Ali Masyhuri
  • Ukhuwah Demi Muruu’ah (Martabat)
  • Kecerdasan Spiritual
  • Hijrah, Momentum Mempererat Persaudaraan
  • Refleksi 51 Tahun Pemberontakan G-30-S/PKI
  • Urgensi Tauhid dalam Mengangkat Derajat & Martabat Muslimin
  • Kecintaan Sesama, Bukti Cinta Kepada Allah
  • Syukur dan Bahagia
  • Singa dalam Senyap
  • Berteknologi Tanpa Iman
  • Hakekat Pahlawan
  • Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan
  • Menggapai Bahagia, Hubungkan Bumi dengan Langit
  • Kehidupan Dunia Sementara
  • Takabbur dan Tawadhu’
  • Pasar dalam Islam
  • Memberi Tanpa Menyakiti
  • Ramadhan, Bulan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
  • Hakikat Ibadah
  • Meraih Derajat Muttaqiin
  • Merindukan Ramadhan
  • Jihad Akbar Bukan Sembarang Jihad
  • Merajut Ukhuwah Islamiyah
  • Debu Takwa Pembebas Derita
  • Isra’ Mi’raj Momentum Evaluasi Shalat
  • Keutamaan Shadaqah
  • Ikhtiar, Do’a dan Tawakkal
  • Qanaah Bukti Keimanan Seseorang Kepada Allah
  • Mengemban Amanat Agama
  • Ujian, Bukti Cinta Allah kepada Hambanya
  • Menuju Kecintaan Kepada Allah Swt
  • Masa dan Manusia
  • Segera Bertaubat sebelum Terlambat
  • Kesehatan Jasmani dan Rohani
  • Memaafkan dan Mendamaikan
  • Mengungkap Hikmah Shabar
  • Membangun Bangsa dengan Imtaq dan Iptek
  • Meningkatkan Iman Dan Taqwa di Tahun 2016
  • Fadhilah Membahagiakan Orang Lain
  • Bukti Cinta Rasulullah Kepada Umatnya
  • Strategi Umat Islam Menghadapi Tantangan Global
  • Lemah Lembut dan Murah Hati
  • Keserasian Aqidah, Syariah dan Akhlak
  • Dzikirnya Orang yang Cerdik Cendikia
  • Budi Pekerti yang Luhur
  • Persatuan, Modal Kesuksesan Bangsa
  • Pentingnya Belajar dari Sejarah
  • Mewaspadai Golongan Ekstrim
  • Menemukan “Ibrahim” Era Baru
  • Amalan Subtansional
  • Bermuamalah dengan Non Muslim
  • Merdeka dalam Perspektif Islam
  • Mempertahankan Persaudaraan dalam Bingkai Iman
  • Petunjuk Allah dalam Menghadapi Cobaan Hidup
  • Amalan Penting Pasca Ramadhan
  • Wakaf dan Kesejahteraan Umat
  • Jiwa Yang Fitrah, Kunci Kebahagiaan Dunia Akhirat
  • 5 Wasiat Menuju Pribadi Unggul
  • Syawwal, Bulan Peningkatan
  • Puasa, Makna dan Filosofinya
  • Berbenah Diri Menyambut Bulan Suci
  • Konsep Beragama dalam Bingkai Nkri
  • Pedoman Pergaulan dalam Rumah Tangga
  • Makna Shalat, Historis dan Filosofis
  • Essensi Shalat dalam Kehidupan
  • Penghargaan untuk Merubah Masa Depan
  • Beri Upah Pekerja, Sebelum Keringat Menetes
  • Keseimbangan Materi dan Nurani
  • Orang-Orang yang Jauh dari Hidayah Allah
  • Ayat-ayat Allah di Alam Semesta
  • Islam Kaafah dalam Berbangsa dan Bernegara
  • Muslim yang Ikhlas
  • Ancaman Orang yang Mengabaikan Zakat
  • Dampak Kesehatan Jiwa Terhadap Kesehatan Jasmani
  • Urgensi Musyawarah dalam Setiap Urusan
  • Pedoman Memilih Pemimpin Menurut Pandangan Islam
  • Keluhuran Akhlak Jaminan Kejayaan Bangsa
  • Empat Pilar Akhlaq Mulia
  • Jihad Melawan Hawa Nafsu
  • Sifat Orang Kafir
  • Berhati-Hati dengan Tipudaya Dunia
  • Unjuk Rasa dalam Islam
  • Refleksi di Tahun Baru
  • Mengenal Hadis-Hadis Israiliyaat
  • Fleksibelitas dalam Hukum Islam
  • Teladan Rasulullah dalam Intrepreneurship
  • Mewujudkan Islam Kaaffah (Menyeluruh)
  • Membangun Masyarakat Bermartabat, Mewujudkan Negara Damai Sejahtera
  • Hidup Mulia dengan Islam
  • Haji dan Perbaikan Moral Umat
  • Urgensi Bersahabat dengan Orang yang Shalih
  • Menyongsong Era Baru Kepemimpinan Nasional
  • Ekonomi Islam dan Konvensional
  • Menegakkan dan Memelihara Keutamaan Islam
  • Memupuk Jiwa Berkurban
  • Dunia Adalah Ladang Akhirat
  • Kemerdekaan yang Hakiki
  • Urgensi Mengajak Kepada Kebaikan
  • Manusia Adalah Makhluk Fitri
  • Dusta Merupakan Sumber Malapetaka
  • Mempersiapkan Diri Menghadapi Bulan Suci
  • Menjaga Diri Dengan Yang Halal
  • Menimba Hikmah Kisah Nabi Isa a.s.
  • Akibat Orang Yang Menukar Ayat-Ayat Allah
  • Manajemen Dakwah Efektif Aplikatif
  • Kedekatan Manusia di Sisi Allah Swt
  • Membangun Karakter Asmaul Husna
  • Keutamaan Jihad Dengan Harta
  • Keteladanan Rasulullah Saw
  • Kearifan Lokal Dalam Perspektif Islam
  • Mendalami Makna Ukhuwah
  • Peran Ulama’ Dalam Kehidupan Bernegara
  • Islam Agama Universal
  • Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an
  • Tugas Rasul Penyempurna Akhlak Manusia
  • Meneladani Figur Rosulullah SAW
  • Makna Muhasabah (Evaluasi Diri)
  • Petunjuk Rasulullah Tentang Alam Kubur
  • Islam Dan Terjaganya Perilaku
  • Membentuk Muslim Unggul
  • Ilmu Waris, Bagian Dari Agama dan Setengah Dari Ilmu
  • Menggapai Derajat Dengan Ilmu Pengetahuan
  • Upaya Mewujudkan Khoira Ummat (Umat Tebaik)
  • Amalan-Amalan Dalam Rangka Mengisi Tahun Baru Hijriyah
  • Syukur Menjadi Bangsa Indonesia
  • Spirit Tahun Baru Hijriyah
  • Indikator Haji yang Mabrur
  • Penerapan Nilai-Nilai Islam dalam Peradaban Masa Kini
  • Problematika Umat
  • Seputar Ibadah Haji dan Umrah
  • Kemiskinan dalam Pandangan Islam
  • Muslim Selektif Produktif
  • Syahadat, Makna dan Konsekuensinya
  • Menata Hidup dan Kehidupan Dalam Perspektif Islam
  • Urgensi Mempertahankan Kualitas Ibadah
  • Tasamuh, Ta’awun dan Tadlomun
  • Sillaturrahim Dalam Lebaran
  • Kewajiban Dakwah Dalam Berbagai Situasi dan Kondisi
  • Keluh Kesah Manusia Dalam Hidup
  • Amalan-Amalan Penguat Iman
  • Mempertahankan Aqidah di Tengah Benturan Budaya
  • Antara Hak dan Tanggung Jawab
  • Meyakini Kebenaran Ayat-Ayat Al Qur’an
  • Menjaga Diri dan Keluarga dari Api Neraka
  • Nilai Kehidupan
  • Konsep Islam Mengikis Korupsi
  • Shalat Kematian
  • Mempertanyakan Ukhuwah Kita
  • Tiga Faktor Utama Kebahagiaan
  • Menyelaraskan Perkataan Dengan Perbuatan
  • Mengenal Penyakit Hati
  • Pentingnya Menuntut Ilmu dan Kewajiban Mengamalkannya
  • Lezatnya Iman
  • Prinsip-Prinsip Universal Toleransi Antar Umat Beragama
  • Islam, Ya'luu Walaa Yu'laa 'Alaih
  • Islam, dan Ajaran Jihad
  • Kisah Teladan Sahabat Nabi Muhammad Saw
  • Membumikan Akhlak Mulia Dalam Kehidupan
  • Nabi Isa, Kisah dan Hikmahnya
  • Antara Iman dan Amal Sholih
  • Nabi Muhammad Saw, Figur Teladan Umat
  • Menggapai Derajat Siddiqin
  • Dahsyatnya Kiamat dan Tanda Kedatangannya
  • Makna Muhasabah (Evaluasi Diri)
  • Amalan Ahlus Sunnah Wal Jamaah
  • Berinvestasi Dengan Wakaf
  • Ilmu, Simbol Kejayaan Umat
  • Ijabah Do’a
  • Islam Dan Sistem Ekonomi
  • Menggapai Hidup Berkualitas
  • Muhasabah dan Muroqobah, Jalan Menuju Taqwa
  • Hikmah Memperingati Hari Pahlawan
  • Yang Diridhoi Dan Yang Dimurkai Allah
  • Hikmah Ibadah Haji
  • Esensi Haji Mabrur
  • Pola Hidup Sehat Menurut AlQur'an
  • Berdakwah Dengan Hikmah
  • Komunisme dan Bahaya Komunis
  • Cinta Allah Kepada Hambanya
  • Menjaga Diri Dari Makanan Dan Minuman Yang Haram
  • Wibawa Umat
  • Menuntut Ilmu Tanpa Batas
  • Rahasia Keberkahan Ramadhan
  • Menggapai Puncak Keimanan
  • Mendalami Makna Ukhuwah
  • Amalan Penting Menyambut Bulan Ramadhan
  • Memurnikan Niat, Menyongsong Bulan Ramadhan
  • Menempuh Jalan Lurus, Dunia Hingga Akhirat
  • Makna Isra’ Mi’raj Dalam Kehidupan
  • Kiat Memperbaiki Moralitas Bangsa
  • Membumikan Akhlak Rasulullah Saw
  • Membangun Generasi Rabbany
  • Kisah Nabi Isa Dalam Al-Quran Dan Injil
  • Kepemimpinan Rabbani
  • Sufi Dan Sufisme Di Era Global
  • Menggapai Hidup Bahagia
  • Penyakit Hati Dan Obat Penawarnya
  • Peranan Masjid Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Umat
  • Batas-Batas Toleransi Antar Umat Beragama
  • Bulan Kemuliaan Antara Islam Dan Jawa
  • Politik, Antara Norma Dan Realita
  • Aqidah Dan Akhlaq Seorang Pemimpin
  • Rasulullah Tauladan Sepanjang Zaman
  • Mengapa Syi'ah Bermasalah
  • Keunggulan Syariat Allah Swt
  • Hikmah Dzikrul Maut
  • Kiat Mengikis Tradisi Khurofat
  • Istiqomah Tahun 2012
  • Membangun Surga Dalam Keluarga
  • Menggapai Rahmat Allah
  • Hijrah, Upaya Mempertahankan Aqidah
  • Kewajiban Dakwah Bagi Setiap Muslim
  • Dakwah di Tengah Kemajemukan Umat
  • Islam Mengutamakan Kualitas Bukan Kuantitas
  • Menuju Arah Pendidikan Yang Ideal
  • Sucikan Harta Dengan Berderma
  • Terapi Penyakit Hati
  • Strategi Menghadapi Ghozwul Fikri
  • Hakekat Konsep Jihad Dalam Perspektif Islam
  • Urgensi Mengenal Produk Halal dan Baik
  • Mempertahankan Fithrah Manusia
  • Kembali Kepada Allah
  • Merenungi Alam Raya
  • Memperkokoh Ukhuwah Islamiyah
  • Merefleksikan Puasa Ramadhan
  • Tantangan Da'wah di Era Global
  • Kewajiban Memberantas Kemungkaran
  • Persiapan Menghadapi Puasa Ramadhan
  • Islam Agama Nasehat
  • Hak Terhadap Allah, Terhadap Diri Sendiri Dan Terhadap Sesama
  • Kontektualisasi Pemahaman Isra’ Mi’raj
  • Hidup Damai Dengan Islam
  • Doa, Senjata Orang Beriman
  • Kedudukan Wanita Dalam Perspektif Islam
  • Mengikis Budaya Korupsi
  • Cuci Otak
  • Menggapai Rahmat Dengan Taubat
  • Keseimbangan Investasi Dunia Akhirat
  • Urgensi Mendahulukan Kualitas Atas Kuantitas Dalam Beramal
  • Manusia-Manusia Unik Dalam Alqur’an
  • Amar Makruf Nahi Mungkar
  • Memupuk Kepedulian Sosial
  • Pilar-Pilar Kejayaan Islam
  • Keunggulan Ajaran Islam
  • Keagungan Akhlak Rasulullah Saw
  • Rasululloh Sebagai Uswah
  • Keteladanan Kisah Nabi Nuh As
  • Keutamaan Shalat Lail
  • Niat Pangkal Seluruh Aktivitas
  • Membentuk Keshalihan Ritual dan Sosial
  • Dunia Sebagai Ladang Akhirat
  • Muhasabah Tahun Baru
  • Batas-batas Toleransi Antar Umat Beragama
  • Do’a, Perisai Mukmin
  • Islam Agama Seluruh Nabi dan Rasul
  • Mengenang Kembali Makna Hijriyah
  • Risywah, Macam dan Bahayanya
  • Iman Sebagai Kekuatan Moral
  • Bahagia Saat Orang Lain Bahagia
  • Islam Kenikmatan Yang Agung dan Sempurna
  • Penyakit Sosial dalam Sorotan Syariat
  • Manusia Makhluk Fitri
  • Kiat Mencapai Derajat Taqwa
  • Riya’, Penyakit Amal Kebajikan
  • Membentuk Kesehatan Jasmani dan Rohani
  • Mengantisipasi Aliran Sesat
  • Urgensi Membaca dan mengamalkan Al-Qur’an
  • Musik Bata
  • Sedekah yang Barakah
  • Nilai Pendidikan Ramadhan
  • Dr. H. Imam Mawardi, MA
  • Nikah, Hakikat dan Urgensinya
  • Pengendalian Hawa Nafsu
  • Memberantas Kebodohan
  • Menggapai Hidup Barakah
  • Profil Manusia Bertaqwa
  • Akhlaq Mahmudah dan Akhlaq Madzmumah
  • Menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
  • Urgensi Ukhuwah Islamiyah
  • Syirik, Macam dan Bahayanya
  • Bersihkan Harta dan Hati untuk Bangun Negeri
  • Menghadapi Ujian Tahta Harta Dan Wanita