Khutbah Jum'at
 

DR H Imam Mawardi, MA

Merdeka dalam Perspektif Islam

18-08-2015 | 11:20:44

Merdeka dari bahasa Sansekerta, Mahardika. Yang makna aslinya adalah ketenteraman, kesejahteraan dan kemakmuran. Kalau negeri ini belum makmur, belum tenteranm, belum sejahtera, maka belum layak menganggap merdeka. Ketika rakyat banyak yang menderita, ketika di mana-mana masih terlihat orang yang tidak sejahtera, barangkali masih dalam proses menuju merdeka dalam makna yang sebenarnya.

Merdeka dalam bahasa Inggris disebut independent (tidak tergantung). Yakni bangsa yang tidak memiliki ketergantungan dengan yang lain. Ketika bangsa yang begitu tergantung dengan bangsa lain, maka dia termasuk bangsa merdeka yang masih terjajah. Yang sesungguhnya merdeka adalah yang mampu dan mau untuk memutuskan nasib sendiri dan siap memberikan yang terbaik bagi rakyat tanpa memiliki ketergantungan dengan negara lain. Dalam bahasa Arab merdeka disebut dengan istiqlaal dari kata qalla (sedikit). Artinya menyedikitkan ketergantungan dengan yang lain. Ketergantungan hanya kepada Allah yang memberikan dan menentukan kehidupan ini.

Ketika orang menyatu ketergantungan kepada Allah, maka Allahlah yang akan menjamin kehidupannya. Jangan pernah takut tidak akan mendapatkan rizki, jangan pernah takut kemudian menjadi orang yang menderita. Karena tidak akan mungkin akan menderita orang yang bergantung kepada Allah SWT.

Hakekat di dalam rukun Islam juga dalam rangka membebaskan diri, dari ketergantungan dan keterikatan. Manusia yang bahagia hanyalah manusia yang tidak memiliki keterikatan kepada selain Allah. Kalau kita terikat dengan pekerjaan kita, maka akan selalu dengan pekerjaan kita itu. Kalau kita terikat dengan orang yang kita cintai, pasti akan selalu mempertimbangkan orang yang kita cintai itu. Kalau kita meletakkan cinta kepada Allah di bawah cinta kepada yang lain, maka orang yang semacam ini tidak akan bisa merasa bahagia yang sebenarnya. (Q. S. At Taubah [09] : 24) Maknanya adalah keterikatan yang hakiki, lagi total, hanya kepada Allah SWT. Dan ternyata rukun Islam itu dalam rangka untuk menghilangkan ketergantukan kita kepada yang lain dan hanyak kepada Allah SWT.

Syahadat, maknanya hanya Allah yang menjadi Tuhan kita. Siapa yang menuhankan selain Allah, menyembah selain Allah, mengharap kepada selain Allah, maka syahadatnya tidak akan jalan. Dan orang yang semacam ini, belum melaksanakan rukun Islam yang pertama. Allah menghendaki dengan syahadat aqidah mantap hanya kepada Allah SWT. Terbebas dari yang lain dan keterikatannya hanya kepada Allah SWT.

Shalat yang ditentukan waktunya. Waktu Shubuh, orang akan berangkat kerja oleh Allah diingatkan untuk ingat kepadaNya. Setelah bekerja di tengah menjalankan pekerjaan itu disuruh Shalat Dhuhur agar ingat kepada Allah, agar tidak terikat kepada perkerjaan, agar tidak mencintai pekerjaan melebihi cintanya kepada Allah SWT. Setelah Dhuhur bekerja lagi, hingga waktu Ashar, dan disuruh Shalat lagi. Untuk mengingatkan jangan hanya kerja yang diutamakan, karena rizki bukan karena pekerjaan, tetapi rizki Aku yang memberikan. Orang kaya bukan karena kerja, orang kaya karena ditentukan oleh Allah, karena banyak orang yang bekerja keras, tetapi tidak kaya juga. Setelah Ashar barangkali kita pulang dari kerja, akan bicara tentang kerja, atau hasil kerja. Belum selesai bicara disuruh untuk shalat Maghrib. Seolah Allah mengatakan jangan bicarakan hasil kerja, hasil kerja urusanKu, bukan urusanmu. Setelah shalat Maghrib lagi santai-santai akan bicara kalkulasi yang siang tadi dikerjakan, belum selesai bicara disuruh shalat Isya’ oleh Allah, biar kita tidak bicara tentang kerja terus. Setelah Isya’ barangkali capek, lalu tidur, hingga menemui waktu Shubuh lagi. Jadi, shalat adalah pembebasan dari keterikatan kita kepada selain Allah. Bukan tidak boleh setia kepada pekerkaan, bukan tidak boleh cinta kepada pekerjaan, tetapi pekerjaan diletakkan di bagian akhir, dan cinta kepada Allah adalah yang pertama dan harus diutamakan.

Zakat. Manusia ada kecenderungan untuk senang dengan harta benda. Oleh karena itu, Allah mewajibkan untuk bayar zakat yang maknanya kerelaan. Kamu jangan mencintai harta, karena harta tidak akan bermakna kecuali yang telah kau ikatkan kepadaKu. Banyak orang yang menjadikan harta yang utama, padahal ketika meninggal dunia tidak membawa apapun, selain kain kafan. Maka diperintahkan untuk berzakat. Dan menariknya, tidak ada orang yang gemar zakat menjadi miskin, bahkan ditambah kekayaannya oleh Allah. Karena Allah Maha Tahu bahwa orang yang berzakat itu tidak bergantung kepada harta, tetapi bergantung kepada Allah SWT.

Puasa. Kesenangan manusia makan, minun dan nafsu seksual. Kemudian disuruh untuk menahannya pada siang hari. Tujuannya membebaskan manusia dari penghambaan dirinya dari makanan, minuman dan nafsu seksual.

Haji. Ketika melakukan haji kemudian meninggalkan rumah, meninggalkan keluarga, meninggalkan pekerjaan. Sepertinya Allah hendak mengatakan : semua nanti akan kau tinggalkan, dan yang kamu bawa hanyalah amal kebajikan.

Manusia-manusia yang merdeka, yang akan mengisi kemerdekaan ini dengan baik dan kemaslahatan. Manusia-manusia yang hatinya bersih yang akan mampu membersihkan permainan kotor di negeri ini. Manusia-manusia yang hatinya tenteram yang akan menenteramkan rakyat ini. Manusia-manusia yang betul-betul baik yang bida memperbaiki negeri ini yang mengisi kemerdekaan dengan kebaikan. Kita tidak bisa mengharapkan kebaikan selain kepada orang yang baik. Kita tidak bisa mengharapkan cinta terhadap orang yang tidak pernah mencintai Allah. Kita tidak bisa mengharapkan kebahagiaan kepada orang yang tidak pernah dirinya bahagia. Kita juga tidak bisa mengharapkan pemberian dari orang yang masih mengharapkan pemberian dari orang lain. Merdeka dalam makna yang sesungguhnya adalah merdeka diri, dan merdeka hati.

Kemerdekaan batin penting kita miliki. Baru kita akan mampu untuk mengisi kemerdekaan. Baru menjadi orang-orang terbaik menurut Allah SWT. Manusia terbaik yang diharapkan mengisi kemerdekaan ini adalah sebagaimana dijelaskan dalam surah Ali Imran [3] : 110. Ada tiga hal agar manusia menjadi manusia-manusia pilihan :

Pertama, ta’muruuna bil ma’ruf. Semangat menebar kebaikan. Perbaiki diri dulu, lalu memperbaiki orang lain. Kedua, tanhauna anil munkar. Semangat untuk mencegak kemungkaran. Sebelum melarang orang lain, laranglah dirinya untuk berbuat dhalim kepada orang lain. Ketiga, tu’minuna billah. Beriman kepada Allah. Semua dibungkus karena keikhlasan kepada Allah. Ini yang sangat menentukan bagi kita.

Ada seorang ulama berkata : A’maalu ba’dhin mutaakhiriin aktsaru min katsiirim minal mutaqaddimiin (kalau dari sisi pekerjaan, apa yang dilakukan oleh sebagian orang-orang sekarang ini, jauh lebih banyak dibandingkan yang dilakukan oleh orang-orang terdahulu). Walaakinnahum ashdaqu qalbahum (akan tetapi, orang-orang yang terdahulu, hatinya sangat jujur). Sehingga, yang dilakukan oleh mereka, memiliki bekas yang luar biasa. Memiliki pengaruh dan berkah yang sangat besar. Saya yakin dari sisi kerja, Bung Tomo masih bisa dikalahkan oleh “Bung Tomo-Bung Tomo” jaman sekarang. Saya yakin dari sisi kerja, Bung Hatta dan Bung Karno masih bisa dikalahkan oleh Bung Hata dan Bung Karno jaman sekarang. Tetapi, ketulusan hati mereka untuk negeri ini, untuk memerdekakan Indonesia ini, jauh lebih dibandingkan “Bung Tomo, Bung Hatta dan Bung Karno” saat ini, yang barangkali hanya untuk kepentingan dirinya dan kelompoknya, bukan untuk kepentingan masyarakat umum. Yang membedakan adalah hati, dan hati berhubungan dengan aqidah. Ketiga hal ini di elaborasi oleh Kuntowijoyo dalam bukunya Identitas Politik Umat Islam. Beliau

mengatakan : Satu yang harus dimiliki manusia-manusia terbaik, semangat emansipatoris (bersama-sama untuk memberikan kebaikan). Semangat liberatoris (membebaskan orang lain dari derita). Jangan membuat orang lain menderita, dan itu dimulai dari diri sendiri. Manusia yang baik, dia akan baik kepada orang lain. Dia pantang untuk menipu orang lain. Pantang membuat rugi dan menyiksa orang lain. Karena membuat derita orang lain, harus difahami akan membuat dirinya sendiri menderita pada waktu yang lain.

Dalam hidup ini ada kaidah “dauraan” (perputaran). Apa yang kita lakukan saat ini, akan menimpa kita nanti pada suatu saat. Orang yang membahagiakan orang lain saat ini, dia saat yang lain dia akan dibahagiakan Allah dengan caraNya. Dan sebaliknya, orang yang membuat orang lain gelisah, sedih, sakit hati, menderita, pada waktunya akan kembali kepada dirinya sendiri. (QS Al Isra’ [17] : 7).

Khutbah sebelumnya :

  • Menjadi Umat yang Terbaik
  • Urgensi Pemurnian Aqidah Dalam Membangun Bangsa
  • Kejujuran Kunci Kesuksesan
  • Menjadi Umat Nabi Muhammad yang Hakiki
  • KERUKUNAN UMAT BERAGAMA, PILAR NEGARA RI
  • Menyelesaikan Perbedaan
  • Mengukur Kadar Keimanan
  • KH Agoes Ali Masyhuri
  • Ukhuwah Demi Muruu’ah (Martabat)
  • Kecerdasan Spiritual
  • Hijrah, Momentum Mempererat Persaudaraan
  • Refleksi 51 Tahun Pemberontakan G-30-S/PKI
  • Urgensi Tauhid dalam Mengangkat Derajat & Martabat Muslimin
  • Kecintaan Sesama, Bukti Cinta Kepada Allah
  • Syukur dan Bahagia
  • Singa dalam Senyap
  • Berteknologi Tanpa Iman
  • Hakekat Pahlawan
  • Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan
  • Menggapai Bahagia, Hubungkan Bumi dengan Langit
  • Kehidupan Dunia Sementara
  • Takabbur dan Tawadhu’
  • Pasar dalam Islam
  • Memberi Tanpa Menyakiti
  • Ramadhan, Bulan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
  • Hakikat Ibadah
  • Meraih Derajat Muttaqiin
  • Merindukan Ramadhan
  • Jihad Akbar Bukan Sembarang Jihad
  • Merajut Ukhuwah Islamiyah
  • Debu Takwa Pembebas Derita
  • Isra’ Mi’raj Momentum Evaluasi Shalat
  • Keutamaan Shadaqah
  • Ikhtiar, Do’a dan Tawakkal
  • Qanaah Bukti Keimanan Seseorang Kepada Allah
  • Mengemban Amanat Agama
  • Ujian, Bukti Cinta Allah kepada Hambanya
  • Menuju Kecintaan Kepada Allah Swt
  • Masa dan Manusia
  • Segera Bertaubat sebelum Terlambat
  • Kesehatan Jasmani dan Rohani
  • Memaafkan dan Mendamaikan
  • Mengungkap Hikmah Shabar
  • Membangun Bangsa dengan Imtaq dan Iptek
  • Meningkatkan Iman Dan Taqwa di Tahun 2016
  • Fadhilah Membahagiakan Orang Lain
  • Bukti Cinta Rasulullah Kepada Umatnya
  • Strategi Umat Islam Menghadapi Tantangan Global
  • Lemah Lembut dan Murah Hati
  • Keserasian Aqidah, Syariah dan Akhlak
  • Dzikirnya Orang yang Cerdik Cendikia
  • Budi Pekerti yang Luhur
  • Persatuan, Modal Kesuksesan Bangsa
  • Pentingnya Belajar dari Sejarah
  • Mewaspadai Golongan Ekstrim
  • Menemukan “Ibrahim” Era Baru
  • Amalan Subtansional
  • Bermuamalah dengan Non Muslim
  • Merdeka dalam Perspektif Islam
  • Mempertahankan Persaudaraan dalam Bingkai Iman
  • Petunjuk Allah dalam Menghadapi Cobaan Hidup
  • Amalan Penting Pasca Ramadhan
  • Wakaf dan Kesejahteraan Umat
  • Jiwa Yang Fitrah, Kunci Kebahagiaan Dunia Akhirat
  • 5 Wasiat Menuju Pribadi Unggul
  • Syawwal, Bulan Peningkatan
  • Puasa, Makna dan Filosofinya
  • Berbenah Diri Menyambut Bulan Suci
  • Konsep Beragama dalam Bingkai Nkri
  • Pedoman Pergaulan dalam Rumah Tangga
  • Makna Shalat, Historis dan Filosofis
  • Essensi Shalat dalam Kehidupan
  • Penghargaan untuk Merubah Masa Depan
  • Beri Upah Pekerja, Sebelum Keringat Menetes
  • Keseimbangan Materi dan Nurani
  • Orang-Orang yang Jauh dari Hidayah Allah
  • Ayat-ayat Allah di Alam Semesta
  • Islam Kaafah dalam Berbangsa dan Bernegara
  • Muslim yang Ikhlas
  • Ancaman Orang yang Mengabaikan Zakat
  • Dampak Kesehatan Jiwa Terhadap Kesehatan Jasmani
  • Urgensi Musyawarah dalam Setiap Urusan
  • Pedoman Memilih Pemimpin Menurut Pandangan Islam
  • Keluhuran Akhlak Jaminan Kejayaan Bangsa
  • Empat Pilar Akhlaq Mulia
  • Jihad Melawan Hawa Nafsu
  • Sifat Orang Kafir
  • Berhati-Hati dengan Tipudaya Dunia
  • Unjuk Rasa dalam Islam
  • Refleksi di Tahun Baru
  • Mengenal Hadis-Hadis Israiliyaat
  • Fleksibelitas dalam Hukum Islam
  • Teladan Rasulullah dalam Intrepreneurship
  • Mewujudkan Islam Kaaffah (Menyeluruh)
  • Membangun Masyarakat Bermartabat, Mewujudkan Negara Damai Sejahtera
  • Hidup Mulia dengan Islam
  • Haji dan Perbaikan Moral Umat
  • Urgensi Bersahabat dengan Orang yang Shalih
  • Menyongsong Era Baru Kepemimpinan Nasional
  • Ekonomi Islam dan Konvensional
  • Menegakkan dan Memelihara Keutamaan Islam
  • Memupuk Jiwa Berkurban
  • Dunia Adalah Ladang Akhirat
  • Kemerdekaan yang Hakiki
  • Urgensi Mengajak Kepada Kebaikan
  • Manusia Adalah Makhluk Fitri
  • Dusta Merupakan Sumber Malapetaka
  • Mempersiapkan Diri Menghadapi Bulan Suci
  • Menjaga Diri Dengan Yang Halal
  • Menimba Hikmah Kisah Nabi Isa a.s.
  • Akibat Orang Yang Menukar Ayat-Ayat Allah
  • Manajemen Dakwah Efektif Aplikatif
  • Kedekatan Manusia di Sisi Allah Swt
  • Membangun Karakter Asmaul Husna
  • Keutamaan Jihad Dengan Harta
  • Keteladanan Rasulullah Saw
  • Kearifan Lokal Dalam Perspektif Islam
  • Mendalami Makna Ukhuwah
  • Peran Ulama’ Dalam Kehidupan Bernegara
  • Islam Agama Universal
  • Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an
  • Tugas Rasul Penyempurna Akhlak Manusia
  • Meneladani Figur Rosulullah SAW
  • Makna Muhasabah (Evaluasi Diri)
  • Petunjuk Rasulullah Tentang Alam Kubur
  • Islam Dan Terjaganya Perilaku
  • Membentuk Muslim Unggul
  • Ilmu Waris, Bagian Dari Agama dan Setengah Dari Ilmu
  • Menggapai Derajat Dengan Ilmu Pengetahuan
  • Upaya Mewujudkan Khoira Ummat (Umat Tebaik)
  • Amalan-Amalan Dalam Rangka Mengisi Tahun Baru Hijriyah
  • Syukur Menjadi Bangsa Indonesia
  • Spirit Tahun Baru Hijriyah
  • Indikator Haji yang Mabrur
  • Penerapan Nilai-Nilai Islam dalam Peradaban Masa Kini
  • Problematika Umat
  • Seputar Ibadah Haji dan Umrah
  • Kemiskinan dalam Pandangan Islam
  • Muslim Selektif Produktif
  • Syahadat, Makna dan Konsekuensinya
  • Menata Hidup dan Kehidupan Dalam Perspektif Islam
  • Urgensi Mempertahankan Kualitas Ibadah
  • Tasamuh, Ta’awun dan Tadlomun
  • Sillaturrahim Dalam Lebaran
  • Kewajiban Dakwah Dalam Berbagai Situasi dan Kondisi
  • Keluh Kesah Manusia Dalam Hidup
  • Amalan-Amalan Penguat Iman
  • Mempertahankan Aqidah di Tengah Benturan Budaya
  • Antara Hak dan Tanggung Jawab
  • Meyakini Kebenaran Ayat-Ayat Al Qur’an
  • Menjaga Diri dan Keluarga dari Api Neraka
  • Nilai Kehidupan
  • Konsep Islam Mengikis Korupsi
  • Shalat Kematian
  • Mempertanyakan Ukhuwah Kita
  • Tiga Faktor Utama Kebahagiaan
  • Menyelaraskan Perkataan Dengan Perbuatan
  • Mengenal Penyakit Hati
  • Pentingnya Menuntut Ilmu dan Kewajiban Mengamalkannya
  • Lezatnya Iman
  • Prinsip-Prinsip Universal Toleransi Antar Umat Beragama
  • Islam, Ya'luu Walaa Yu'laa 'Alaih
  • Islam, dan Ajaran Jihad
  • Kisah Teladan Sahabat Nabi Muhammad Saw
  • Membumikan Akhlak Mulia Dalam Kehidupan
  • Nabi Isa, Kisah dan Hikmahnya
  • Antara Iman dan Amal Sholih
  • Nabi Muhammad Saw, Figur Teladan Umat
  • Menggapai Derajat Siddiqin
  • Dahsyatnya Kiamat dan Tanda Kedatangannya
  • Makna Muhasabah (Evaluasi Diri)
  • Amalan Ahlus Sunnah Wal Jamaah
  • Berinvestasi Dengan Wakaf
  • Ilmu, Simbol Kejayaan Umat
  • Ijabah Do’a
  • Islam Dan Sistem Ekonomi
  • Menggapai Hidup Berkualitas
  • Muhasabah dan Muroqobah, Jalan Menuju Taqwa
  • Hikmah Memperingati Hari Pahlawan
  • Yang Diridhoi Dan Yang Dimurkai Allah
  • Hikmah Ibadah Haji
  • Esensi Haji Mabrur
  • Pola Hidup Sehat Menurut AlQur'an
  • Berdakwah Dengan Hikmah
  • Komunisme dan Bahaya Komunis
  • Cinta Allah Kepada Hambanya
  • Menjaga Diri Dari Makanan Dan Minuman Yang Haram
  • Wibawa Umat
  • Menuntut Ilmu Tanpa Batas
  • Rahasia Keberkahan Ramadhan
  • Menggapai Puncak Keimanan
  • Mendalami Makna Ukhuwah
  • Amalan Penting Menyambut Bulan Ramadhan
  • Memurnikan Niat, Menyongsong Bulan Ramadhan
  • Menempuh Jalan Lurus, Dunia Hingga Akhirat
  • Makna Isra’ Mi’raj Dalam Kehidupan
  • Kiat Memperbaiki Moralitas Bangsa
  • Membumikan Akhlak Rasulullah Saw
  • Membangun Generasi Rabbany
  • Kisah Nabi Isa Dalam Al-Quran Dan Injil
  • Kepemimpinan Rabbani
  • Sufi Dan Sufisme Di Era Global
  • Menggapai Hidup Bahagia
  • Penyakit Hati Dan Obat Penawarnya
  • Peranan Masjid Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Umat
  • Batas-Batas Toleransi Antar Umat Beragama
  • Bulan Kemuliaan Antara Islam Dan Jawa
  • Politik, Antara Norma Dan Realita
  • Aqidah Dan Akhlaq Seorang Pemimpin
  • Rasulullah Tauladan Sepanjang Zaman
  • Mengapa Syi'ah Bermasalah
  • Keunggulan Syariat Allah Swt
  • Hikmah Dzikrul Maut
  • Kiat Mengikis Tradisi Khurofat
  • Istiqomah Tahun 2012
  • Membangun Surga Dalam Keluarga
  • Menggapai Rahmat Allah
  • Hijrah, Upaya Mempertahankan Aqidah
  • Kewajiban Dakwah Bagi Setiap Muslim
  • Dakwah di Tengah Kemajemukan Umat
  • Islam Mengutamakan Kualitas Bukan Kuantitas
  • Menuju Arah Pendidikan Yang Ideal
  • Sucikan Harta Dengan Berderma
  • Terapi Penyakit Hati
  • Strategi Menghadapi Ghozwul Fikri
  • Hakekat Konsep Jihad Dalam Perspektif Islam
  • Urgensi Mengenal Produk Halal dan Baik
  • Mempertahankan Fithrah Manusia
  • Kembali Kepada Allah
  • Merenungi Alam Raya
  • Memperkokoh Ukhuwah Islamiyah
  • Merefleksikan Puasa Ramadhan
  • Tantangan Da'wah di Era Global
  • Kewajiban Memberantas Kemungkaran
  • Persiapan Menghadapi Puasa Ramadhan
  • Islam Agama Nasehat
  • Hak Terhadap Allah, Terhadap Diri Sendiri Dan Terhadap Sesama
  • Kontektualisasi Pemahaman Isra’ Mi’raj
  • Hidup Damai Dengan Islam
  • Doa, Senjata Orang Beriman
  • Kedudukan Wanita Dalam Perspektif Islam
  • Mengikis Budaya Korupsi
  • Cuci Otak
  • Menggapai Rahmat Dengan Taubat
  • Keseimbangan Investasi Dunia Akhirat
  • Urgensi Mendahulukan Kualitas Atas Kuantitas Dalam Beramal
  • Manusia-Manusia Unik Dalam Alqur’an
  • Amar Makruf Nahi Mungkar
  • Memupuk Kepedulian Sosial
  • Pilar-Pilar Kejayaan Islam
  • Keunggulan Ajaran Islam
  • Keagungan Akhlak Rasulullah Saw
  • Rasululloh Sebagai Uswah
  • Keteladanan Kisah Nabi Nuh As
  • Keutamaan Shalat Lail
  • Niat Pangkal Seluruh Aktivitas
  • Membentuk Keshalihan Ritual dan Sosial
  • Dunia Sebagai Ladang Akhirat
  • Muhasabah Tahun Baru
  • Batas-batas Toleransi Antar Umat Beragama
  • Do’a, Perisai Mukmin
  • Islam Agama Seluruh Nabi dan Rasul
  • Mengenang Kembali Makna Hijriyah
  • Risywah, Macam dan Bahayanya
  • Iman Sebagai Kekuatan Moral
  • Bahagia Saat Orang Lain Bahagia
  • Islam Kenikmatan Yang Agung dan Sempurna
  • Penyakit Sosial dalam Sorotan Syariat
  • Manusia Makhluk Fitri
  • Kiat Mencapai Derajat Taqwa
  • Riya’, Penyakit Amal Kebajikan
  • Membentuk Kesehatan Jasmani dan Rohani
  • Mengantisipasi Aliran Sesat
  • Urgensi Membaca dan mengamalkan Al-Qur’an
  • Musik Bata
  • Sedekah yang Barakah
  • Nilai Pendidikan Ramadhan
  • Dr. H. Imam Mawardi, MA
  • Nikah, Hakikat dan Urgensinya
  • Pengendalian Hawa Nafsu
  • Memberantas Kebodohan
  • Menggapai Hidup Barakah
  • Profil Manusia Bertaqwa
  • Akhlaq Mahmudah dan Akhlaq Madzmumah
  • Menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
  • Urgensi Ukhuwah Islamiyah
  • Syirik, Macam dan Bahayanya
  • Bersihkan Harta dan Hati untuk Bangun Negeri
  • Menghadapi Ujian Tahta Harta Dan Wanita