Khutbah Jum'at
 

KH DR. Misbachul Munir, MA

Qanaah Bukti Keimanan Seseorang Kepada Allah

21-04-2016 | 10:14:57

Banyak pendapat ulama tentang pengertian dan makna qanaah. Di antaranya pertama, ada ulama memberi pengertian qanaah adalah arridha bimaa duunil kifaayah (ridha, senang, rela terhadap sesuatu yang diterima walaupun belum mencukupi sesuai yang diinginkannya). Ketika kita mendapat anugerah kenikmatan, apapun bentuknya termasuk rizki, lalu kemudian menyadari, menerima dan rela walaupun sebenarnya yang kita inginkan masih banyak. Kedua, ada pula secara singkat mengatakan qanaah adalah arridha bil qismati (ridha dengan pembagian Allah). Orang Jawa mengatakan : nerimo ing pandum (menerima atas bagian yang diterima). Tetapi apapun pengertiannya usaha harus dilakukan. Ketiga, al ijtizaa’ bil yasiir, minal aghraadh al muhtaaj ilaihaa (menganggap cukup apa yang tampak sedikit, yang mestinya masih butuh banyak). Kita sebenarnya butuh banyak, tetapi dengan mendapat yang sedikit itu dianggapnya sudah cukup. Orang Jawa mengatakan : Ora cukup, tapi, dicukup-cukupno. Semua karekter menerima yang disebutkan di atas, adalah sifat mukmin yang sholih. Qanaah memang menjadi karakter, watak dan tabiat orang-orang mukmin sholih. (An Nahl [16] : 97 ) Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

Imam As’ad Khumaid mengatakan : man ‘amilal a’maal as shaalihah wa qaama bimaa faradhallah alaihi wa huwa mu’minun kutubahu wa rusulahu fainnallaaha ta’aalaa ya’iduhu (siapa yang melakukan kebajikan apa saja, dan juga melakukan apa saja yang diwajibkan oleh Allah, dan dia beriman kepada Allah, membenarkan kitab Allah, dan ajaran RasulNya, Allah menjanjikan). Falanuhyiyannahu hayaatan thoyyiban (Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik). Imam Asya’rawi mengatakan : hayaatan thoyyiban (kehidupan yang menyenangkan) itu maknanya : Tashduha al qanaah limaa qasamallahu lahu ar ridhaa bimaa qaddarahu waqadhaahu (diberi hati yang qanaah, gampang menerima terhadap apa saja yang dibagi oleh Allah untuk dia, dan dia akan merasa puas dengan taqdir dan ketentuan Allah).

Jadi, qanaah itu ternyata dibutuhkan sebuah usaha, dalam ayat ini dijelaskan salah satunya cara harus dengan berbuat kebajikan dan dibarengi dengan iman kepada Allah. Iman menjadi kata kunci untuk mendapatkan kebahagiaan. Di dunia, Allah akan memberikan rasa senang dan puas ketika mendapatkan apapun anugerah kepadanya. Kalau disertai “mukmin”, kesenangan dan kebahagiaan itu bukan hanya dirasakan di dunia, teapi hingga berada di dalam kehidupan Akhirat. Karena menurut Asya’rawi mengatakan, bahwa Allah akan mengganti dan akan memberikan imbalan atas kebajikan hambaNya walaupun dia tidak beriman. Tetapi, hanya sebatas dunia saja. Hal ini dipertegas dalam surah As Suura [42] : 20. Barang siapa yang menghendaki Keuntungan di akhirat akan Kami tambah Keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki Keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari Keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.

Maka, jangan heran kalau ada orang yang tidak beriman kemudian berbuat baik, dan Allah membalasnya dengan kegemerlapan dunia, tetapi di akhirat dia tidak akan mendapat imbalan apa-apa. Sehingga, jika ingin mendapatkan kepuasan dunia dan akhirat, maka iman dan amal shalih harus disandingkan. Di samping menyandingkan iman dan amal sholeh, harus ada usaha-usaha yang diperintahkan oleh Allah, dan para ulama’ menyimpulkan banyak cara dalam meraih sifat qanaah ini, agar di dalam hidup ini tidak merasa kurang, tidak merasa panas. Upaya tersebut adalah : Pertama, taqwiyatul iimaan billaah watarwiidul qalbi ‘alal qanaa’atil wal ghinaa ( terus memperkuat keyakinan dan iman kepada Allah, dan melatih hati untuk selalu belajar menerima, dan selalu menganggap cukup).

Kedua, al yaqiin biannar rizqa maktuubun wal insaan fii rahmii ummihi (yakin bahwa rizki sudah diatur oleh Allah, masing-masing orang sudah ada jatahnya, bahkan sejak manusia masih dalam perut ibunya. Allah berfirman dalam surah Huud [11] : 6. Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). Untuk itu, jangan khawatir kalau tidak kebagian rizki dari Allah SWT, karena di manapun kita berada, sealu pada pantauan Allah SWT. Jadi tidak ada istilah rizki nyasar kepada orang lain. Semuanya sudah ditulis di Lauhul Mahfudz. Suatu tempat arsip dokumen yang terjaga secara rapi, dengan sistem backup yang canggih. Sehingga, tidak akan terkontaminasi oleh virus apapun, tidak ada seorang pun yang mampu mengacak-acak, bahkan malaikat sekalipun.

Ketiga, tadabburi aayatil qur’aan laa siyaama maa tatahaddatsu ‘anir rizqi wal intisaal (upayakan sering membaca, mencermati, merenungkan ayat-ayat Allah, terutama yang membahas masalah rizki dan pekerjaan).

Keempat, ma’rifaul hikmatillah fi tafawutil arzaaq wal maratib bainal ibaad (mencermati, bahwa ada hikmah yang sangat besar, kenapa Allah membedakan antara satu dengan yang lain, tentang tingkatan dan martabat rizki seseorang.

Kelima, al ilmu biannar rizqa laa yahdha’u lima kaisil basyar min quwwati dzakaa’ wa kastratil harakah (memahami bahwa rizki itu tidak dapat dihitung atas dasar perhitungan manusia, atau dengan kecerdasan apapun yang dimiliki oleh seseorang). Nyatanya dalam kehidupan ini, seorang profesor belum tentu rizkinya lebih banyak daripada lulusan SD. Orang yang pintar belum tentu rizkinya lebih baik daripada orang yang bodoh. Sehingga, para ulama mengatakan, kalau urusan rizki jangan kamu menghitung dengan perhitungan manusia, dan mengandalkan kecerdasan akal dan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, maka sejak zaman jahiliyah mereka sudah memahami pengertian ini, hingga muncul seorang penyair mengatakan :

Lau kaanatil arzaaqu tajrii ‘alal hijaa # halakna idzan min jahlihinnal bahaaimu (seandainya rizki itu akan berlangsung berdasarkan akal dan kecerdasan seseorang, kalau demikian akan menjadi rusak dan mati semua hewan yang tidak punya kecerdasan).

Keenam, al ilmu bianna aaqibatal ghinaa sarrun wa baalun idzaa lam yakun al iktisaab wasarfu minhu bituruqil masyruu’ah. (memahami bahwa mayoritas kaya itu akan berakibat buruk dan berbahaya, jika proses mendapatkan dan pemanfaatannya tidak sesuai syariat Allah SWT.

Ketujuh, an nadhar fit tafaawut al bashiir bainal ghinaa wal faqiir ‘ala wajhi tahfiit (sering membandingkan bagaimana keterpautan rizki orang kaya dan orang fakir itu dengan mengamati dampak psitif dan negatifnya secara syar’i) sehingga, bisa menilai bahwa harta banyak, ilmu tinggi berakibat positif selam aitu tidak dibarengi iman kepada Alloh SWT.

Banyak yang memiliki harta namun jarang memiliki sifat mulia, yaitu qana’ah (merasa cukup dengan nikmat Allah). Padahal jika seorang muslim meraihnya ia seakan-akan memiliki dunia seisinya. Jika memilikinya, ia tidak tamak pada harta orang lain dan juga selalu ridho dengan ketetapan Allah. Ia pun yakin segala yang ditetapkan oleh Allah, itulah yang terbaik.

Dari ’Ubaidillah bin Mihshan Al Anshary dari Nabi SAW bersabda :“Barangsiapa di antara kalian mendapatkan rasa aman di rumahnya (pada diri, keluarga dan masyarakatnya), diberikan kesehatan badan, dan memiliki makanan pokok pada hari itu di rumahnya, maka seakan-akan dunia telah terkumpul pada dirinya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah).

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Yang namanya kaya bukanlah dengan memiliki banyak harta, akan tetapi yang namanya kaya adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ibnu Majah).

Khutbah sebelumnya :

  • Menjadi Umat yang Terbaik
  • Urgensi Pemurnian Aqidah Dalam Membangun Bangsa
  • Kejujuran Kunci Kesuksesan
  • Menjadi Umat Nabi Muhammad yang Hakiki
  • KERUKUNAN UMAT BERAGAMA, PILAR NEGARA RI
  • Menyelesaikan Perbedaan
  • Mengukur Kadar Keimanan
  • KH Agoes Ali Masyhuri
  • Ukhuwah Demi Muruu’ah (Martabat)
  • Kecerdasan Spiritual
  • Hijrah, Momentum Mempererat Persaudaraan
  • Refleksi 51 Tahun Pemberontakan G-30-S/PKI
  • Urgensi Tauhid dalam Mengangkat Derajat & Martabat Muslimin
  • Kecintaan Sesama, Bukti Cinta Kepada Allah
  • Syukur dan Bahagia
  • Singa dalam Senyap
  • Berteknologi Tanpa Iman
  • Hakekat Pahlawan
  • Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan
  • Menggapai Bahagia, Hubungkan Bumi dengan Langit
  • Kehidupan Dunia Sementara
  • Takabbur dan Tawadhu’
  • Pasar dalam Islam
  • Memberi Tanpa Menyakiti
  • Ramadhan, Bulan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
  • Hakikat Ibadah
  • Meraih Derajat Muttaqiin
  • Merindukan Ramadhan
  • Jihad Akbar Bukan Sembarang Jihad
  • Merajut Ukhuwah Islamiyah
  • Debu Takwa Pembebas Derita
  • Isra’ Mi’raj Momentum Evaluasi Shalat
  • Keutamaan Shadaqah
  • Ikhtiar, Do’a dan Tawakkal
  • Qanaah Bukti Keimanan Seseorang Kepada Allah
  • Mengemban Amanat Agama
  • Ujian, Bukti Cinta Allah kepada Hambanya
  • Menuju Kecintaan Kepada Allah Swt
  • Masa dan Manusia
  • Segera Bertaubat sebelum Terlambat
  • Kesehatan Jasmani dan Rohani
  • Memaafkan dan Mendamaikan
  • Mengungkap Hikmah Shabar
  • Membangun Bangsa dengan Imtaq dan Iptek
  • Meningkatkan Iman Dan Taqwa di Tahun 2016
  • Fadhilah Membahagiakan Orang Lain
  • Bukti Cinta Rasulullah Kepada Umatnya
  • Strategi Umat Islam Menghadapi Tantangan Global
  • Lemah Lembut dan Murah Hati
  • Keserasian Aqidah, Syariah dan Akhlak
  • Dzikirnya Orang yang Cerdik Cendikia
  • Budi Pekerti yang Luhur
  • Persatuan, Modal Kesuksesan Bangsa
  • Pentingnya Belajar dari Sejarah
  • Mewaspadai Golongan Ekstrim
  • Menemukan “Ibrahim” Era Baru
  • Amalan Subtansional
  • Bermuamalah dengan Non Muslim
  • Merdeka dalam Perspektif Islam
  • Mempertahankan Persaudaraan dalam Bingkai Iman
  • Petunjuk Allah dalam Menghadapi Cobaan Hidup
  • Amalan Penting Pasca Ramadhan
  • Wakaf dan Kesejahteraan Umat
  • Jiwa Yang Fitrah, Kunci Kebahagiaan Dunia Akhirat
  • 5 Wasiat Menuju Pribadi Unggul
  • Syawwal, Bulan Peningkatan
  • Puasa, Makna dan Filosofinya
  • Berbenah Diri Menyambut Bulan Suci
  • Konsep Beragama dalam Bingkai Nkri
  • Pedoman Pergaulan dalam Rumah Tangga
  • Makna Shalat, Historis dan Filosofis
  • Essensi Shalat dalam Kehidupan
  • Penghargaan untuk Merubah Masa Depan
  • Beri Upah Pekerja, Sebelum Keringat Menetes
  • Keseimbangan Materi dan Nurani
  • Orang-Orang yang Jauh dari Hidayah Allah
  • Ayat-ayat Allah di Alam Semesta
  • Islam Kaafah dalam Berbangsa dan Bernegara
  • Muslim yang Ikhlas
  • Ancaman Orang yang Mengabaikan Zakat
  • Dampak Kesehatan Jiwa Terhadap Kesehatan Jasmani
  • Urgensi Musyawarah dalam Setiap Urusan
  • Pedoman Memilih Pemimpin Menurut Pandangan Islam
  • Keluhuran Akhlak Jaminan Kejayaan Bangsa
  • Empat Pilar Akhlaq Mulia
  • Jihad Melawan Hawa Nafsu
  • Sifat Orang Kafir
  • Berhati-Hati dengan Tipudaya Dunia
  • Unjuk Rasa dalam Islam
  • Refleksi di Tahun Baru
  • Mengenal Hadis-Hadis Israiliyaat
  • Fleksibelitas dalam Hukum Islam
  • Teladan Rasulullah dalam Intrepreneurship
  • Mewujudkan Islam Kaaffah (Menyeluruh)
  • Membangun Masyarakat Bermartabat, Mewujudkan Negara Damai Sejahtera
  • Hidup Mulia dengan Islam
  • Haji dan Perbaikan Moral Umat
  • Urgensi Bersahabat dengan Orang yang Shalih
  • Menyongsong Era Baru Kepemimpinan Nasional
  • Ekonomi Islam dan Konvensional
  • Menegakkan dan Memelihara Keutamaan Islam
  • Memupuk Jiwa Berkurban
  • Dunia Adalah Ladang Akhirat
  • Kemerdekaan yang Hakiki
  • Urgensi Mengajak Kepada Kebaikan
  • Manusia Adalah Makhluk Fitri
  • Dusta Merupakan Sumber Malapetaka
  • Mempersiapkan Diri Menghadapi Bulan Suci
  • Menjaga Diri Dengan Yang Halal
  • Menimba Hikmah Kisah Nabi Isa a.s.
  • Akibat Orang Yang Menukar Ayat-Ayat Allah
  • Manajemen Dakwah Efektif Aplikatif
  • Kedekatan Manusia di Sisi Allah Swt
  • Membangun Karakter Asmaul Husna
  • Keutamaan Jihad Dengan Harta
  • Keteladanan Rasulullah Saw
  • Kearifan Lokal Dalam Perspektif Islam
  • Mendalami Makna Ukhuwah
  • Peran Ulama’ Dalam Kehidupan Bernegara
  • Islam Agama Universal
  • Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an
  • Tugas Rasul Penyempurna Akhlak Manusia
  • Meneladani Figur Rosulullah SAW
  • Makna Muhasabah (Evaluasi Diri)
  • Petunjuk Rasulullah Tentang Alam Kubur
  • Islam Dan Terjaganya Perilaku
  • Membentuk Muslim Unggul
  • Ilmu Waris, Bagian Dari Agama dan Setengah Dari Ilmu
  • Menggapai Derajat Dengan Ilmu Pengetahuan
  • Upaya Mewujudkan Khoira Ummat (Umat Tebaik)
  • Amalan-Amalan Dalam Rangka Mengisi Tahun Baru Hijriyah
  • Syukur Menjadi Bangsa Indonesia
  • Spirit Tahun Baru Hijriyah
  • Indikator Haji yang Mabrur
  • Penerapan Nilai-Nilai Islam dalam Peradaban Masa Kini
  • Problematika Umat
  • Seputar Ibadah Haji dan Umrah
  • Kemiskinan dalam Pandangan Islam
  • Muslim Selektif Produktif
  • Syahadat, Makna dan Konsekuensinya
  • Menata Hidup dan Kehidupan Dalam Perspektif Islam
  • Urgensi Mempertahankan Kualitas Ibadah
  • Tasamuh, Ta’awun dan Tadlomun
  • Sillaturrahim Dalam Lebaran
  • Kewajiban Dakwah Dalam Berbagai Situasi dan Kondisi
  • Keluh Kesah Manusia Dalam Hidup
  • Amalan-Amalan Penguat Iman
  • Mempertahankan Aqidah di Tengah Benturan Budaya
  • Antara Hak dan Tanggung Jawab
  • Meyakini Kebenaran Ayat-Ayat Al Qur’an
  • Menjaga Diri dan Keluarga dari Api Neraka
  • Nilai Kehidupan
  • Konsep Islam Mengikis Korupsi
  • Shalat Kematian
  • Mempertanyakan Ukhuwah Kita
  • Tiga Faktor Utama Kebahagiaan
  • Menyelaraskan Perkataan Dengan Perbuatan
  • Mengenal Penyakit Hati
  • Pentingnya Menuntut Ilmu dan Kewajiban Mengamalkannya
  • Lezatnya Iman
  • Prinsip-Prinsip Universal Toleransi Antar Umat Beragama
  • Islam, Ya'luu Walaa Yu'laa 'Alaih
  • Islam, dan Ajaran Jihad
  • Kisah Teladan Sahabat Nabi Muhammad Saw
  • Membumikan Akhlak Mulia Dalam Kehidupan
  • Nabi Isa, Kisah dan Hikmahnya
  • Antara Iman dan Amal Sholih
  • Nabi Muhammad Saw, Figur Teladan Umat
  • Menggapai Derajat Siddiqin
  • Dahsyatnya Kiamat dan Tanda Kedatangannya
  • Makna Muhasabah (Evaluasi Diri)
  • Amalan Ahlus Sunnah Wal Jamaah
  • Berinvestasi Dengan Wakaf
  • Ilmu, Simbol Kejayaan Umat
  • Ijabah Do’a
  • Islam Dan Sistem Ekonomi
  • Menggapai Hidup Berkualitas
  • Muhasabah dan Muroqobah, Jalan Menuju Taqwa
  • Hikmah Memperingati Hari Pahlawan
  • Yang Diridhoi Dan Yang Dimurkai Allah
  • Hikmah Ibadah Haji
  • Esensi Haji Mabrur
  • Pola Hidup Sehat Menurut AlQur'an
  • Berdakwah Dengan Hikmah
  • Komunisme dan Bahaya Komunis
  • Cinta Allah Kepada Hambanya
  • Menjaga Diri Dari Makanan Dan Minuman Yang Haram
  • Wibawa Umat
  • Menuntut Ilmu Tanpa Batas
  • Rahasia Keberkahan Ramadhan
  • Menggapai Puncak Keimanan
  • Mendalami Makna Ukhuwah
  • Amalan Penting Menyambut Bulan Ramadhan
  • Memurnikan Niat, Menyongsong Bulan Ramadhan
  • Menempuh Jalan Lurus, Dunia Hingga Akhirat
  • Makna Isra’ Mi’raj Dalam Kehidupan
  • Kiat Memperbaiki Moralitas Bangsa
  • Membumikan Akhlak Rasulullah Saw
  • Membangun Generasi Rabbany
  • Kisah Nabi Isa Dalam Al-Quran Dan Injil
  • Kepemimpinan Rabbani
  • Sufi Dan Sufisme Di Era Global
  • Menggapai Hidup Bahagia
  • Penyakit Hati Dan Obat Penawarnya
  • Peranan Masjid Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Umat
  • Batas-Batas Toleransi Antar Umat Beragama
  • Bulan Kemuliaan Antara Islam Dan Jawa
  • Politik, Antara Norma Dan Realita
  • Aqidah Dan Akhlaq Seorang Pemimpin
  • Rasulullah Tauladan Sepanjang Zaman
  • Mengapa Syi'ah Bermasalah
  • Keunggulan Syariat Allah Swt
  • Hikmah Dzikrul Maut
  • Kiat Mengikis Tradisi Khurofat
  • Istiqomah Tahun 2012
  • Membangun Surga Dalam Keluarga
  • Menggapai Rahmat Allah
  • Hijrah, Upaya Mempertahankan Aqidah
  • Kewajiban Dakwah Bagi Setiap Muslim
  • Dakwah di Tengah Kemajemukan Umat
  • Islam Mengutamakan Kualitas Bukan Kuantitas
  • Menuju Arah Pendidikan Yang Ideal
  • Sucikan Harta Dengan Berderma
  • Terapi Penyakit Hati
  • Strategi Menghadapi Ghozwul Fikri
  • Hakekat Konsep Jihad Dalam Perspektif Islam
  • Urgensi Mengenal Produk Halal dan Baik
  • Mempertahankan Fithrah Manusia
  • Kembali Kepada Allah
  • Merenungi Alam Raya
  • Memperkokoh Ukhuwah Islamiyah
  • Merefleksikan Puasa Ramadhan
  • Tantangan Da'wah di Era Global
  • Kewajiban Memberantas Kemungkaran
  • Persiapan Menghadapi Puasa Ramadhan
  • Islam Agama Nasehat
  • Hak Terhadap Allah, Terhadap Diri Sendiri Dan Terhadap Sesama
  • Kontektualisasi Pemahaman Isra’ Mi’raj
  • Hidup Damai Dengan Islam
  • Doa, Senjata Orang Beriman
  • Kedudukan Wanita Dalam Perspektif Islam
  • Mengikis Budaya Korupsi
  • Cuci Otak
  • Menggapai Rahmat Dengan Taubat
  • Keseimbangan Investasi Dunia Akhirat
  • Urgensi Mendahulukan Kualitas Atas Kuantitas Dalam Beramal
  • Manusia-Manusia Unik Dalam Alqur’an
  • Amar Makruf Nahi Mungkar
  • Memupuk Kepedulian Sosial
  • Pilar-Pilar Kejayaan Islam
  • Keunggulan Ajaran Islam
  • Keagungan Akhlak Rasulullah Saw
  • Rasululloh Sebagai Uswah
  • Keteladanan Kisah Nabi Nuh As
  • Keutamaan Shalat Lail
  • Niat Pangkal Seluruh Aktivitas
  • Membentuk Keshalihan Ritual dan Sosial
  • Dunia Sebagai Ladang Akhirat
  • Muhasabah Tahun Baru
  • Batas-batas Toleransi Antar Umat Beragama
  • Do’a, Perisai Mukmin
  • Islam Agama Seluruh Nabi dan Rasul
  • Mengenang Kembali Makna Hijriyah
  • Risywah, Macam dan Bahayanya
  • Iman Sebagai Kekuatan Moral
  • Bahagia Saat Orang Lain Bahagia
  • Islam Kenikmatan Yang Agung dan Sempurna
  • Penyakit Sosial dalam Sorotan Syariat
  • Manusia Makhluk Fitri
  • Kiat Mencapai Derajat Taqwa
  • Riya’, Penyakit Amal Kebajikan
  • Membentuk Kesehatan Jasmani dan Rohani
  • Mengantisipasi Aliran Sesat
  • Urgensi Membaca dan mengamalkan Al-Qur’an
  • Musik Bata
  • Sedekah yang Barakah
  • Nilai Pendidikan Ramadhan
  • Dr. H. Imam Mawardi, MA
  • Nikah, Hakikat dan Urgensinya
  • Pengendalian Hawa Nafsu
  • Memberantas Kebodohan
  • Menggapai Hidup Barakah
  • Profil Manusia Bertaqwa
  • Akhlaq Mahmudah dan Akhlaq Madzmumah
  • Menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
  • Urgensi Ukhuwah Islamiyah
  • Syirik, Macam dan Bahayanya
  • Bersihkan Harta dan Hati untuk Bangun Negeri
  • Menghadapi Ujian Tahta Harta Dan Wanita