Khutbah Jum'at
 

Drs H. A.Rahman Aziz, M.Si

Refleksi 51 Tahun Pemberontakan G-30-S/PKI

03-10-2016 | 11:14:33

Hari ini tanggal 30 September 2016. Bertepatan dengan hari berkabung nasional bangsa Indonesia, yakni hari pemberontakan Partai komunis Indonesia (PKI) yang kita kenal dengan sebutan Gerakan 30 September (G.30-S/PKI) yang berhasil membunuh 6 orang jenderal dan seorang Perwira menengah Angkatan Darat sekaligus dan dikubur dalam satu sumur tua di daerah Lubang Buaya.
Daerah Lubang Buaya itu berada di dekat lapangan Udara Halim Perdana Kusuma, Jakarta. Peri
stiwa itu terjadi pada 51 tahun yang lalu, yakni pada tanggal 30 September 1965. Karena sudah 51 tahun berlalu, maka orang-orang komunis yang masih pegang teguh ideologinya, yakni komunisme, bersama simpatisannya mungkin menganggap bangsa Indonesia telah lupa bahwa PKI lah yang berontak ingin merebut kekuasaan diawali dengan menculik dan membunuh 6 orang jenderal untuk mendirikan negara Komunis Indonesia.

Lalu mereka menyatakan, bahwa PKI dan simpatisannya adalah korban pembantaian pada tahun 1965/1966 yang dilakukan oleh aparat pemerintah terutama Angkatan Darat bersama masyarakat utamanya umat Islam.

Oleh karena itulah, maka pemerintah harus minta maaf atas pelanggaran Hak Asasi Manusia yang dilakukan terhadap orang-orang PKI, simpatisan serta para keluarganya. Selain itu juga menuntut ganti rugi, kompensasi yang setimpal untuk semua anggota PKI, simpatisan dan keluarganya yang jadi korban.

Memperhatikan usaha yang getol, bahkan sampai melaporkan pemerintah Indonesia kepada Pengadilan Internasional di Den Hag Belanda, maka sebagian masyarakat, terutama yang berusia di bawah 50 tahun ada yang ragu dan bertanya-tanya. Apakah benar PKI itu pemberontak, atau justeru korban pembantaian yang dilakukan pemerintah, sehingga pemerintah harus minta maaf dan harus memberi ganti rugi dan kompensasi kepada mereka.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut marilah sejenak membuka sejarah.

Ternyata sejarah membuktikan bahwa PKI itu telah berusaha merebut kekuasaan dengan jalan mengadakan pemberontakan di Indonesia bukan saja pada tahun 1965, tetapi sudah dimulai sejak tahun 1926 pada waktu dijajah Belanda. Mereka ingin mendirikan Negara Komunis Indonesia.

Tentang pemberontakan PKI ini sejarah Indonesia mencatat :

1. Pemberontakan PKI Tahun 1926/1927
Pada tanggal 12 Nov – 5 Desember 1926 di Banten
Pada tanggal 12-18 November 1926 di Surakarta
Pada tanggal 12 Nov – 15 Desember 1926 di Kediri Jawa Timur
Pada tanggal 1 Januari 1926 – Akhir Februari 1927 di Silungkung Sumatera Barat.

Tokoh-tokohnya banyak yang dipenjara ke Tanah Merah Digul, Irian dan ada juga yang melarikan diri ke luar negeri. Kader utama yang tidak tertangkap antara lain Alimin dan Moeso yang lari ke luar negeri.

2. Pemberontakan PKI tahun 1945/1946
Pata tanggal 17 Agustus 1945 Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan kemerdekaan RI, namun ancaman dan intimidasi dari Jepang masih merupakan kendala yang sangat menghambat jalannya pemerintahan yang baru merdeka.

Tiba-tiba terjadi kerusuhan di beberapa kota di Jawa Tengah yang dikenal sebagai peristiwa “Tiga Daerah” yaitu Tegal, Brebes dan Pemalang. Pelakunya adalah kader-kader PKI yang tidak tertangkap dalam gerakan di zaman Belanda 1926/1927. Dan bulan Oktober –Desember 1945 kerusuhan baru bisa diatasi oleh pemerintah.

Bulan Januari 1946 orang-orang komunis di Cirebon yang dipimpin oleh Moh Yusuf mencoba mengambil alih kepemimpinan dan pemerintahan septempat muali tingkat desa, Kecamatan dan kawedanan.

Gerakan Yusuf gagal karena di bulan Februari 1946 dapat ditumpas oleh Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

3. Pemberontakan PKI di Madiun Tahun 1948
Pada Tanggal 18 September 1948, di Komplek pabrik Rejoagung, dini hari terdengar beberapa letupan pistol. Sumber letupan itu disusul dengan bunyi letupan di tempat lain. Bagi pengikut PKI bunyi letupan tersebut merupakan pertanda awal dari perubahan untuk memulai gerakan.

Bersamaan dengan dimulainya gerakan pemberontakan, mak aSumarsono, Supardi dan kawan-kawannya “memproklamasikan” berdirinya Negara Soviet Indonesia, dan pembentukan pemerintahan Front Nasional. Proklamasi diucapkan Supardi, tokoh Pesindo di halaman karesidenan Madiun dan dilanjutkan dengan pengibaran bendera merah. Madiun dinyatakan sebagai daerah yang dibebaskan. Pada pagi hari, melalui Radio Republik Indonesia (selanjutnya disebut Radio Gelora Pemuda oleh kaum FDR) Moeso memproklamirkan pengalihan kekuasaan Negara secara sepihak dan menyatakan berlakunya “Pemerintahan Front Nasional Daerah madiun”.

Tanggal 19 September 1948. Pemerintah RI mengeluarkan pengumuman tentang perebutan kekuasaan oleh PKI di Madiun yang dilakukan dengan menggunakan kesatuan-kesatuan TNI. Alat-alat pemerintahan di dalam kota telah mereka rebut dengan kekuatan senjata dan dengan cara yang tidak sah.

Tanggal, 20 September 1948. Panglima Besar Jenderal Soedirman memerintahkan kepda Angkatan Perang Republik Indonesia untuk menumpas pemberontakan PKI di Madiun.

Tanggal, 30 September 1948. Madiun telah dapat dikuasai kembali oleh TNI. Pembantaian yang dilakukan oleh para pemberontak PKI di Madiun dan sekitarnya. Walau hanya beberapa hari berkuasa, namun sudah banyak sekali pembantaian yang dilakukan, siapa yang dianggap musuh akan dibantai.

Musuh utama mereka adalah pesantren-pesantren, di mana terdapat para kiai dan santri militan yang tahu siapa sebenarnya mereka itu. Dalam peristiwa itu, bupati, patih, Wedana, Kepala Polisi, Komandan Depo, Jaksa, Kiai, Guru, Pimpinan Partai dan organisai besrta para bawahannya beramai-ramai digiring ke suatu tempat, kemudian dijagal di lubang-lubang pembantaian yang telah disiapkan oleh para anggota FDR/PKI.

Di desa Soco, Magetan terdapat dua sumur pembantaian. Lubang yang satu berisi 78 jenazah, lubang kedua berisi 30 jenazah. Sebagian besar adalah kiai, ulama dan tokoh masyarakat.

Di desa Cikrok sebelah selatan Takeran beberapa orang dipukuli lalu dimasukkan ke dalam sumur tua. Kebanyakan mereka masih dalam keadaan hidup, sumur tersebut langsung ditimbun tanah dan bebatuan. Di antara korban kebiadaban PKI ini adalah KH Imam Sofwan, Kiai Zubair dan Kiai Bawani dari pesantren Kebonsari.

Begitu banyak sumur dan lubang pembantaian di Madiun dan sekitarnya. Di Takeran, Gorang Gareng, Soco, Cigrok, Magetan, Dungus, Kresek sebagai saksi bisu yang masih sanggup membuat rasa ngeri dan dan bulu kuduk berdiri, terbayang kebiadaban dan kebengisan orang-orang komunis.

4. Pemberontakan PKI tahun 1965 Orang-orang komunis menculik dan membantai enam orang jenderal dan seornag perwira pertama sekaligus. Mereka dimasukkan ke dlaam sebuah sumur tua di daerah Lubang Buaya dekat Lanud halim Perdana Kusuma, Jakarta (1 Oktober 1965).
Penculikan Danrem 072 dan Kepala Staff Korem 072 Daerah Istimewa Yogyakarta.

Pada tanggal 2 Oktober 1965, Kolonel Katamso Danrem 072 dan Letnan Kolonel Sugiyono diculik dari rumahnya masing-masing, oleh gerombolan G-30-S PKI di bawah pimpinan Pembantu Lettu Sumardi.

Setelah keduanya dianiaya dan gugur, kemudian dimasukkan ke dalam lubang kubur yang sama yang telah disiapkan di ujung selatan asrama Bataliyon L di dekat selokan air.

Dewan revolusi PKI membantai 62 orang pemuda Ansor di desa Cemethuk, Kecamatan Cluring, Kabupaten banyuwangi. Mereka dimasukkan ke dalam tiga lubang sumur. Sumur pertama diisi 11 orang, sumur kedua 11 orang dan sumur ketiga 40 orang.

Peristiwa ini terjadi pada tanggal 18 Oktober 1965.

Kasus pemberontakan PKI di Indonesia menunjukkan, pemimpin PKI konsisten melaksanakan perebutan kekuasaan. Ideologi komunis mencita0citakan masyarakat komunis tanpa kelas yang capai dengan makar untuk perbutan kekuasaan dengan kekerasan, serta monopoli kekuasaan dalam semua bidang (Kompas, Rabu, 27 Juli 2016, hal 6-Opini).

Dengan demikian terjawab sudah bahwa PKI bukanlah korban, tetapi mereka adalah pemberontak yang sangat kejam dan tidak berperikemanusiaan.

Sesungguhnya 9 tahun setelah pemberontakan PKI di Madiun yang mendirikan negara Soviet di Madiun yang dapat ditumpaspemerintah, maka pada tanggal 8-11 September 1957, Alim Ulama Indonesia mengadakan Muktamar di Palembang. Adapun keputusan Alim ulama’ pada saat itu adalah :

1. Ideologi .ajaran Komunis adalah kufur hukumnya, dan haram bagi umat Islam menganutnya.

2. Memperingatkan kepada pemerintah RI agar bersikap waspada terhadap gerakan aksi subversif asing yang membantu perjuangan kaum Komunis.Atheis Indonesia.

3. Mendesak kepada presiden RI untuk mengeluarkan dekrit menyatakan PKI dan mantel organisasinya sebagai partai terlarang di Indonesia.

Namun, peringatan alim ulama se Indonesia tersebut kurang diperhatikan oleh Pemerintah. Dan 8 tahun setelah peringatan tersebut, terjadilah pemberontakan PKI lagi pada 30 September 1965 itu. Maka bukan hal yang tidak mungkin jika pemerintah dan kita semua lengah dan kurang waspada, mereka orang-orang komunis akan bergerak dan mencoba merebut kekuasaan lagi dengan berbagai macam cara. Mereka bisa saja bersembunyi di balik HAM, SARA dll, dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Mereka tidak mengenal gagal, karena kegagalan menurut mereka keberhasilan yang tertunda.

Khutbah sebelumnya :

  • Menjadi Umat yang Terbaik
  • Urgensi Pemurnian Aqidah Dalam Membangun Bangsa
  • Kejujuran Kunci Kesuksesan
  • Menjadi Umat Nabi Muhammad yang Hakiki
  • KERUKUNAN UMAT BERAGAMA, PILAR NEGARA RI
  • Menyelesaikan Perbedaan
  • Mengukur Kadar Keimanan
  • KH Agoes Ali Masyhuri
  • Ukhuwah Demi Muruu’ah (Martabat)
  • Kecerdasan Spiritual
  • Hijrah, Momentum Mempererat Persaudaraan
  • Refleksi 51 Tahun Pemberontakan G-30-S/PKI
  • Urgensi Tauhid dalam Mengangkat Derajat & Martabat Muslimin
  • Kecintaan Sesama, Bukti Cinta Kepada Allah
  • Syukur dan Bahagia
  • Singa dalam Senyap
  • Berteknologi Tanpa Iman
  • Hakekat Pahlawan
  • Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan
  • Menggapai Bahagia, Hubungkan Bumi dengan Langit
  • Kehidupan Dunia Sementara
  • Takabbur dan Tawadhu’
  • Pasar dalam Islam
  • Memberi Tanpa Menyakiti
  • Ramadhan, Bulan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
  • Hakikat Ibadah
  • Meraih Derajat Muttaqiin
  • Merindukan Ramadhan
  • Jihad Akbar Bukan Sembarang Jihad
  • Merajut Ukhuwah Islamiyah
  • Debu Takwa Pembebas Derita
  • Isra’ Mi’raj Momentum Evaluasi Shalat
  • Keutamaan Shadaqah
  • Ikhtiar, Do’a dan Tawakkal
  • Qanaah Bukti Keimanan Seseorang Kepada Allah
  • Mengemban Amanat Agama
  • Ujian, Bukti Cinta Allah kepada Hambanya
  • Menuju Kecintaan Kepada Allah Swt
  • Masa dan Manusia
  • Segera Bertaubat sebelum Terlambat
  • Kesehatan Jasmani dan Rohani
  • Memaafkan dan Mendamaikan
  • Mengungkap Hikmah Shabar
  • Membangun Bangsa dengan Imtaq dan Iptek
  • Meningkatkan Iman Dan Taqwa di Tahun 2016
  • Fadhilah Membahagiakan Orang Lain
  • Bukti Cinta Rasulullah Kepada Umatnya
  • Strategi Umat Islam Menghadapi Tantangan Global
  • Lemah Lembut dan Murah Hati
  • Keserasian Aqidah, Syariah dan Akhlak
  • Dzikirnya Orang yang Cerdik Cendikia
  • Budi Pekerti yang Luhur
  • Persatuan, Modal Kesuksesan Bangsa
  • Pentingnya Belajar dari Sejarah
  • Mewaspadai Golongan Ekstrim
  • Menemukan “Ibrahim” Era Baru
  • Amalan Subtansional
  • Bermuamalah dengan Non Muslim
  • Merdeka dalam Perspektif Islam
  • Mempertahankan Persaudaraan dalam Bingkai Iman
  • Petunjuk Allah dalam Menghadapi Cobaan Hidup
  • Amalan Penting Pasca Ramadhan
  • Wakaf dan Kesejahteraan Umat
  • Jiwa Yang Fitrah, Kunci Kebahagiaan Dunia Akhirat
  • 5 Wasiat Menuju Pribadi Unggul
  • Syawwal, Bulan Peningkatan
  • Puasa, Makna dan Filosofinya
  • Berbenah Diri Menyambut Bulan Suci
  • Konsep Beragama dalam Bingkai Nkri
  • Pedoman Pergaulan dalam Rumah Tangga
  • Makna Shalat, Historis dan Filosofis
  • Essensi Shalat dalam Kehidupan
  • Penghargaan untuk Merubah Masa Depan
  • Beri Upah Pekerja, Sebelum Keringat Menetes
  • Keseimbangan Materi dan Nurani
  • Orang-Orang yang Jauh dari Hidayah Allah
  • Ayat-ayat Allah di Alam Semesta
  • Islam Kaafah dalam Berbangsa dan Bernegara
  • Muslim yang Ikhlas
  • Ancaman Orang yang Mengabaikan Zakat
  • Dampak Kesehatan Jiwa Terhadap Kesehatan Jasmani
  • Urgensi Musyawarah dalam Setiap Urusan
  • Pedoman Memilih Pemimpin Menurut Pandangan Islam
  • Keluhuran Akhlak Jaminan Kejayaan Bangsa
  • Empat Pilar Akhlaq Mulia
  • Jihad Melawan Hawa Nafsu
  • Sifat Orang Kafir
  • Berhati-Hati dengan Tipudaya Dunia
  • Unjuk Rasa dalam Islam
  • Refleksi di Tahun Baru
  • Mengenal Hadis-Hadis Israiliyaat
  • Fleksibelitas dalam Hukum Islam
  • Teladan Rasulullah dalam Intrepreneurship
  • Mewujudkan Islam Kaaffah (Menyeluruh)
  • Membangun Masyarakat Bermartabat, Mewujudkan Negara Damai Sejahtera
  • Hidup Mulia dengan Islam
  • Haji dan Perbaikan Moral Umat
  • Urgensi Bersahabat dengan Orang yang Shalih
  • Menyongsong Era Baru Kepemimpinan Nasional
  • Ekonomi Islam dan Konvensional
  • Menegakkan dan Memelihara Keutamaan Islam
  • Memupuk Jiwa Berkurban
  • Dunia Adalah Ladang Akhirat
  • Kemerdekaan yang Hakiki
  • Urgensi Mengajak Kepada Kebaikan
  • Manusia Adalah Makhluk Fitri
  • Dusta Merupakan Sumber Malapetaka
  • Mempersiapkan Diri Menghadapi Bulan Suci
  • Menjaga Diri Dengan Yang Halal
  • Menimba Hikmah Kisah Nabi Isa a.s.
  • Akibat Orang Yang Menukar Ayat-Ayat Allah
  • Manajemen Dakwah Efektif Aplikatif
  • Kedekatan Manusia di Sisi Allah Swt
  • Membangun Karakter Asmaul Husna
  • Keutamaan Jihad Dengan Harta
  • Keteladanan Rasulullah Saw
  • Kearifan Lokal Dalam Perspektif Islam
  • Mendalami Makna Ukhuwah
  • Peran Ulama’ Dalam Kehidupan Bernegara
  • Islam Agama Universal
  • Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an
  • Tugas Rasul Penyempurna Akhlak Manusia
  • Meneladani Figur Rosulullah SAW
  • Makna Muhasabah (Evaluasi Diri)
  • Petunjuk Rasulullah Tentang Alam Kubur
  • Islam Dan Terjaganya Perilaku
  • Membentuk Muslim Unggul
  • Ilmu Waris, Bagian Dari Agama dan Setengah Dari Ilmu
  • Menggapai Derajat Dengan Ilmu Pengetahuan
  • Upaya Mewujudkan Khoira Ummat (Umat Tebaik)
  • Amalan-Amalan Dalam Rangka Mengisi Tahun Baru Hijriyah
  • Syukur Menjadi Bangsa Indonesia
  • Spirit Tahun Baru Hijriyah
  • Indikator Haji yang Mabrur
  • Penerapan Nilai-Nilai Islam dalam Peradaban Masa Kini
  • Problematika Umat
  • Seputar Ibadah Haji dan Umrah
  • Kemiskinan dalam Pandangan Islam
  • Muslim Selektif Produktif
  • Syahadat, Makna dan Konsekuensinya
  • Menata Hidup dan Kehidupan Dalam Perspektif Islam
  • Urgensi Mempertahankan Kualitas Ibadah
  • Tasamuh, Ta’awun dan Tadlomun
  • Sillaturrahim Dalam Lebaran
  • Kewajiban Dakwah Dalam Berbagai Situasi dan Kondisi
  • Keluh Kesah Manusia Dalam Hidup
  • Amalan-Amalan Penguat Iman
  • Mempertahankan Aqidah di Tengah Benturan Budaya
  • Antara Hak dan Tanggung Jawab
  • Meyakini Kebenaran Ayat-Ayat Al Qur’an
  • Menjaga Diri dan Keluarga dari Api Neraka
  • Nilai Kehidupan
  • Konsep Islam Mengikis Korupsi
  • Shalat Kematian
  • Mempertanyakan Ukhuwah Kita
  • Tiga Faktor Utama Kebahagiaan
  • Menyelaraskan Perkataan Dengan Perbuatan
  • Mengenal Penyakit Hati
  • Pentingnya Menuntut Ilmu dan Kewajiban Mengamalkannya
  • Lezatnya Iman
  • Prinsip-Prinsip Universal Toleransi Antar Umat Beragama
  • Islam, Ya'luu Walaa Yu'laa 'Alaih
  • Islam, dan Ajaran Jihad
  • Kisah Teladan Sahabat Nabi Muhammad Saw
  • Membumikan Akhlak Mulia Dalam Kehidupan
  • Nabi Isa, Kisah dan Hikmahnya
  • Antara Iman dan Amal Sholih
  • Nabi Muhammad Saw, Figur Teladan Umat
  • Menggapai Derajat Siddiqin
  • Dahsyatnya Kiamat dan Tanda Kedatangannya
  • Makna Muhasabah (Evaluasi Diri)
  • Amalan Ahlus Sunnah Wal Jamaah
  • Berinvestasi Dengan Wakaf
  • Ilmu, Simbol Kejayaan Umat
  • Ijabah Do’a
  • Islam Dan Sistem Ekonomi
  • Menggapai Hidup Berkualitas
  • Muhasabah dan Muroqobah, Jalan Menuju Taqwa
  • Hikmah Memperingati Hari Pahlawan
  • Yang Diridhoi Dan Yang Dimurkai Allah
  • Hikmah Ibadah Haji
  • Esensi Haji Mabrur
  • Pola Hidup Sehat Menurut AlQur'an
  • Berdakwah Dengan Hikmah
  • Komunisme dan Bahaya Komunis
  • Cinta Allah Kepada Hambanya
  • Menjaga Diri Dari Makanan Dan Minuman Yang Haram
  • Wibawa Umat
  • Menuntut Ilmu Tanpa Batas
  • Rahasia Keberkahan Ramadhan
  • Menggapai Puncak Keimanan
  • Mendalami Makna Ukhuwah
  • Amalan Penting Menyambut Bulan Ramadhan
  • Memurnikan Niat, Menyongsong Bulan Ramadhan
  • Menempuh Jalan Lurus, Dunia Hingga Akhirat
  • Makna Isra’ Mi’raj Dalam Kehidupan
  • Kiat Memperbaiki Moralitas Bangsa
  • Membumikan Akhlak Rasulullah Saw
  • Membangun Generasi Rabbany
  • Kisah Nabi Isa Dalam Al-Quran Dan Injil
  • Kepemimpinan Rabbani
  • Sufi Dan Sufisme Di Era Global
  • Menggapai Hidup Bahagia
  • Penyakit Hati Dan Obat Penawarnya
  • Peranan Masjid Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Umat
  • Batas-Batas Toleransi Antar Umat Beragama
  • Bulan Kemuliaan Antara Islam Dan Jawa
  • Politik, Antara Norma Dan Realita
  • Aqidah Dan Akhlaq Seorang Pemimpin
  • Rasulullah Tauladan Sepanjang Zaman
  • Mengapa Syi'ah Bermasalah
  • Keunggulan Syariat Allah Swt
  • Hikmah Dzikrul Maut
  • Kiat Mengikis Tradisi Khurofat
  • Istiqomah Tahun 2012
  • Membangun Surga Dalam Keluarga
  • Menggapai Rahmat Allah
  • Hijrah, Upaya Mempertahankan Aqidah
  • Kewajiban Dakwah Bagi Setiap Muslim
  • Dakwah di Tengah Kemajemukan Umat
  • Islam Mengutamakan Kualitas Bukan Kuantitas
  • Menuju Arah Pendidikan Yang Ideal
  • Sucikan Harta Dengan Berderma
  • Terapi Penyakit Hati
  • Strategi Menghadapi Ghozwul Fikri
  • Hakekat Konsep Jihad Dalam Perspektif Islam
  • Urgensi Mengenal Produk Halal dan Baik
  • Mempertahankan Fithrah Manusia
  • Kembali Kepada Allah
  • Merenungi Alam Raya
  • Memperkokoh Ukhuwah Islamiyah
  • Merefleksikan Puasa Ramadhan
  • Tantangan Da'wah di Era Global
  • Kewajiban Memberantas Kemungkaran
  • Persiapan Menghadapi Puasa Ramadhan
  • Islam Agama Nasehat
  • Hak Terhadap Allah, Terhadap Diri Sendiri Dan Terhadap Sesama
  • Kontektualisasi Pemahaman Isra’ Mi’raj
  • Hidup Damai Dengan Islam
  • Doa, Senjata Orang Beriman
  • Kedudukan Wanita Dalam Perspektif Islam
  • Mengikis Budaya Korupsi
  • Cuci Otak
  • Menggapai Rahmat Dengan Taubat
  • Keseimbangan Investasi Dunia Akhirat
  • Urgensi Mendahulukan Kualitas Atas Kuantitas Dalam Beramal
  • Manusia-Manusia Unik Dalam Alqur’an
  • Amar Makruf Nahi Mungkar
  • Memupuk Kepedulian Sosial
  • Pilar-Pilar Kejayaan Islam
  • Keunggulan Ajaran Islam
  • Keagungan Akhlak Rasulullah Saw
  • Rasululloh Sebagai Uswah
  • Keteladanan Kisah Nabi Nuh As
  • Keutamaan Shalat Lail
  • Niat Pangkal Seluruh Aktivitas
  • Membentuk Keshalihan Ritual dan Sosial
  • Dunia Sebagai Ladang Akhirat
  • Muhasabah Tahun Baru
  • Batas-batas Toleransi Antar Umat Beragama
  • Do’a, Perisai Mukmin
  • Islam Agama Seluruh Nabi dan Rasul
  • Mengenang Kembali Makna Hijriyah
  • Risywah, Macam dan Bahayanya
  • Iman Sebagai Kekuatan Moral
  • Bahagia Saat Orang Lain Bahagia
  • Islam Kenikmatan Yang Agung dan Sempurna
  • Penyakit Sosial dalam Sorotan Syariat
  • Manusia Makhluk Fitri
  • Kiat Mencapai Derajat Taqwa
  • Riya’, Penyakit Amal Kebajikan
  • Membentuk Kesehatan Jasmani dan Rohani
  • Mengantisipasi Aliran Sesat
  • Urgensi Membaca dan mengamalkan Al-Qur’an
  • Musik Bata
  • Sedekah yang Barakah
  • Nilai Pendidikan Ramadhan
  • Dr. H. Imam Mawardi, MA
  • Nikah, Hakikat dan Urgensinya
  • Pengendalian Hawa Nafsu
  • Memberantas Kebodohan
  • Menggapai Hidup Barakah
  • Profil Manusia Bertaqwa
  • Akhlaq Mahmudah dan Akhlaq Madzmumah
  • Menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
  • Urgensi Ukhuwah Islamiyah
  • Syirik, Macam dan Bahayanya
  • Bersihkan Harta dan Hati untuk Bangun Negeri
  • Menghadapi Ujian Tahta Harta Dan Wanita