Khutbah Jum'at
 

KH Dzulhilmi Ghozali, Alhafidz

Mengukur Kadar Keimanan

19-12-2016 | 16:14:29

Era pada saat ini merupakan era keterbukaan, era globalisasi. Kita hidup di tengah-tengah kecanggihan teknologi informasi yang mengakibatkan adanya keharusan perubahan sikap di dalam menghadapi segala informasi. Kalau dulu informasi negatif bisa kita hindarkan dengan jalan menjauhkan informasi itu dari lingkungan kita berada, tapi sekarang informasi itu sudah tak terbendung lagi. Mungkin untuk pertama kali kita mampu seleksi informasi yang disajikan oleh media sosial, tapi lama-kelamaan kita menjadi terbiasa untuk menerima informasi itu tanpa seleksi lagi. Belum lagi informasi yang disajikan melalui media elektronika lainnya. Oleh karena itu, sikap kita di dalam menghadapi semua itu, bukanlah menyingkirkan informasi itu, tetapi membentengi diri dari informasi itu dengan jalan menebalkan iman di dada masing-masing. Semakin tebal keimanan kita, maka semakin mampu kita menseleksi informasi yang masuk. Jadi, untuk masa sekarang ini hanya tinggal hati yang mampu bertindak untuk menangkal kemaksiyatan. Kata-kata yang kita lontarkan tidak akan mampu menyingkirkan kemaksiatan yang diakibatkan oleh informasi negative, apalagi tindakan dengan tangan, yang jauh sekali kemungkinannya untuk kita lakukan. Padahal tindakan hati dalam menangkal kemaksiatan itu merupakan sikap yang paling lemah dalam merealisasikan keimanan seseorang. Sebagaimana ditegaskan oleh baginda Rasul Muhammad SAW setelah beliau memberitahukan, bahwa setiap pengikut nabi sesudah jauh dari masanya, akan menentang terhadap ajaran itu sendiri. Mereka akan melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak diperintahkan oleh Nabinya. Mereka akan menganjurkan satu perbuatan yang tidak pernah mereka lakukan. Selanjutnya Rasulullah Saw bersabda : Faman jaahadahum biyadihi wa huwa mu’minun, faman jaahadahum bilisaanihi fahuwa mu’minun, faman jaahadahum biqalbihi fahuwa mu’minun, walaisa waraa’a dzaalika minal iimani habbatul khardalin.(Siapa saja yang mampu berjihad (melawan mereka yang bermaksiyat kepada Allah dan RasuNya), dengan tindakan tangannya (kekuasaannya), maka dialah yang dinyatakan beriman, dan siapa saja yang mampu berjihad menghadapi mereka dengan menggunakan lisannya, (menggunakan kata-katanya), maka mereka masih dianggap beriman (pada dirinya masih terdapat keimanan), dan barang siapa berjihad menghadapi mereka yang bermaksiyat kepada Allah dan RasulNya dengan tindakan hati (merasa menyesal di hatinya), maka diapun tetap dianggap beriman, tetapi tindakan terakhir ini merupakan tindakan paling lemah, yang berarti tingkatan keimanannyapun paling lemah (HR Muslim).

Artinya kalau tindakan terakhir ini pun tidak juga dilakukan, maka di hati orang itu dianggap tidak ada setitik pun keimanan. Setelah kita perhatikan sabda SAW tadi, lalu kita dapat membayangkan betapa lemahnya iman kita selama ini. Kita hanya mampu bertindak dengan tindakan yang paling lemah untuk menghadapi kemaksiatan-kemaksiatan yang ada, paling-paling kita hanya mampu ucapkan : astagfirullahal adziim, sebagai realisasi sikap hati yang merupakan tindakan paling lemah. Sebab lisan kita yang mengucapkan istighfar itu, hanya berucap untuk diri kita sendiri, bukan untuk mencegah mereka, bukan untuk mencegah perbuatan maksiat yang ada. Pada saat sekarang ini dimana media elektronik dan media media lainnya secara terang-terangan mempertontonkan kemaksiatan dan menampilkan adegan-adegan di luar ajaran agama Islam, di luar ajaran syariat Islam, dan lebih tragis lagi adegan-adegan itu justru dipraktekkan oleh saudara-saudara kita seagama, maka seandainya sikap kita yang paling lemah tadi, yaitu sikap hati untuk tidak menerima dan membenci terhadap kemaksiatan tadi, kalau itu tidak dilaksanakan, maka jatuhlah pada sabda Nabi laisa waraa’a dzaalika minal iimani habbatul khardalin (tidak ada setitikpun keimanan). Bagi orang-orang yang dalam kategori tidak ada setitikpun keimanan maka mereka Inilah yang disebut oleh Allah SWT surah Al Baqarah [2] 10.dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.

fiiquluubihim maradzun (dalam hati mereka ada penyakit). Dikatakan sakit, sebab orang yang dianggap sehat, adalah orang yang mengenal Allah SWT, orang yang takut kepada Allah, orang yang cinta kepada Allah. Oleh karena itu, agar mereka dapat sembuh dari penyakitnya, maka dia harus menjalani pengobatan dengan jalan mengenal kembali kepada Allah. Yang tentu saja untuk mengenal kembali kepada Allah, maka dia harus memohon ampun kepada Allah SWT. Sesuai petunjuk Rasulullah SAW : عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : "إن المؤمن إذا أذنب ذنباً كانت نكتةٌ سوداء في قلبه. فإن تاب ونَزَع

واستغفر صُقِل منها، وإن زاد زادت حتى يغلَّف بها قلبه، فذلك الران الذي ذكر الله في كتابه: ) كلا، بل ران على قلوبهم (. رواه الترمذي، وصحَّحه، والنسائي وابن ماجه وابن حبان في صحيحه، والحاكم.

Sesungguhnya seorang mu'min tatkala melakukan satu bentuk dosa, maka diberikan satu titik hitam pada hatinya. apabila ia bertaubat, meninggalkan dosa tersebut, dan memohon ampun, maka hatinya mengkilap kembali. sekiranya ia bertambah melakukan dosa, titik hitam itu juga bertambah, hingga akhirnya menutupi hatinya. inilah penutup yang dimaksudkan oleh Allah (sekali-kali tidak-demikian-, sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hatinya. (HR Turmudzi).

Dari sabda Nabi ini, bisa kita ambil pengertian, bahwa orang yang berdosa itu berakibat hatinya menjadi kotor, akan tetapi kekotoran hati itu dapat lenyap tanpa bekas, tergantung pada upaya dirinya untuk bertaubat kepada Allah swt. Dan tentu saja upaya seseorang itu ada yang maksimal, ada pula yang setengah-setengah dan bertingkat antara yang satu dengan yang lainnya. Sehingga, dapat digambarkan hati manusia dilihat dari noda yang menempel di hati mereka sesuai sabda Nabi Muhammad SAW dibagi menjadi empat bagian, pertama, (alqalbul ajrat) hati yang sempurna. Dalam hari ini tampak halus seperti ada lampu yang bersinar. Hati seperti inilah yang digambarkan sebagai seorang mukmin sejati. Kedua, al qalbul aghlaf (hati yang tertutup). Hati yang tertutup dan terikat oleh tutupnya itu sendiri. Hati yang seperti inilah yang digambarkan sebagai hati orang kafir. Hati yang sulit sekali untuk dibuka untuk mendapatkan petunjuk dari Allah SWT. Ketiga, al qalbul manqush (hati yang terbalik). Hati yang digambarkan sebagai hati orang munafiq. Di tau terhadap kebenaran, tetapi selalu mengingkari terhadap kebenaran itu sendiri. Keempat, alqalbul mushoffah (hati yang terlapisi oleh noda). Hati jenis terakhir ini digambarkan sebagai hati orang yang masih beriman tetapi sudah terlapisi oleh noda kemunafikan. Seperti orang yang setuju kepada kemaksiyatan dan kemungkaran. Iman yang ada pada hati orang seperti ini digambarkan seperti tanah yang ditumbuhi sayuran, di mana sayuran itu menjadi tumbuh memanjang karena disirami oleh air yang baik. Tetapi dalam hati ini terdapat noda kemunafikan yang digambarkan sebagai borok yang akan semakin melebar karena adanya nanah dan darah. Maka, apabila keimanan yang ada pada hati itu lebih kuat daripada kemunafikan, maka menanglah keimanannya, sebaliknya, jika noda kemunafikan yang kuat, maka noda keimanan akan menjadi kalah. Padahal untuk saat ini jenis hati yang keempat inilah yang paling banyak menimpa kita umat islam. Mudah-mudahan Allah selalu memberikan bimbingan kepada kita semua, sehingga selamat di dunia maupun akhirat.

Khutbah sebelumnya :

  • Menjadi Umat yang Terbaik
  • Urgensi Pemurnian Aqidah Dalam Membangun Bangsa
  • Kejujuran Kunci Kesuksesan
  • Menjadi Umat Nabi Muhammad yang Hakiki
  • KERUKUNAN UMAT BERAGAMA, PILAR NEGARA RI
  • Menyelesaikan Perbedaan
  • Mengukur Kadar Keimanan
  • KH Agoes Ali Masyhuri
  • Ukhuwah Demi Muruu’ah (Martabat)
  • Kecerdasan Spiritual
  • Hijrah, Momentum Mempererat Persaudaraan
  • Refleksi 51 Tahun Pemberontakan G-30-S/PKI
  • Urgensi Tauhid dalam Mengangkat Derajat & Martabat Muslimin
  • Kecintaan Sesama, Bukti Cinta Kepada Allah
  • Syukur dan Bahagia
  • Singa dalam Senyap
  • Berteknologi Tanpa Iman
  • Hakekat Pahlawan
  • Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan
  • Menggapai Bahagia, Hubungkan Bumi dengan Langit
  • Kehidupan Dunia Sementara
  • Takabbur dan Tawadhu’
  • Pasar dalam Islam
  • Memberi Tanpa Menyakiti
  • Ramadhan, Bulan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
  • Hakikat Ibadah
  • Meraih Derajat Muttaqiin
  • Merindukan Ramadhan
  • Jihad Akbar Bukan Sembarang Jihad
  • Merajut Ukhuwah Islamiyah
  • Debu Takwa Pembebas Derita
  • Isra’ Mi’raj Momentum Evaluasi Shalat
  • Keutamaan Shadaqah
  • Ikhtiar, Do’a dan Tawakkal
  • Qanaah Bukti Keimanan Seseorang Kepada Allah
  • Mengemban Amanat Agama
  • Ujian, Bukti Cinta Allah kepada Hambanya
  • Menuju Kecintaan Kepada Allah Swt
  • Masa dan Manusia
  • Segera Bertaubat sebelum Terlambat
  • Kesehatan Jasmani dan Rohani
  • Memaafkan dan Mendamaikan
  • Mengungkap Hikmah Shabar
  • Membangun Bangsa dengan Imtaq dan Iptek
  • Meningkatkan Iman Dan Taqwa di Tahun 2016
  • Fadhilah Membahagiakan Orang Lain
  • Bukti Cinta Rasulullah Kepada Umatnya
  • Strategi Umat Islam Menghadapi Tantangan Global
  • Lemah Lembut dan Murah Hati
  • Keserasian Aqidah, Syariah dan Akhlak
  • Dzikirnya Orang yang Cerdik Cendikia
  • Budi Pekerti yang Luhur
  • Persatuan, Modal Kesuksesan Bangsa
  • Pentingnya Belajar dari Sejarah
  • Mewaspadai Golongan Ekstrim
  • Menemukan “Ibrahim” Era Baru
  • Amalan Subtansional
  • Bermuamalah dengan Non Muslim
  • Merdeka dalam Perspektif Islam
  • Mempertahankan Persaudaraan dalam Bingkai Iman
  • Petunjuk Allah dalam Menghadapi Cobaan Hidup
  • Amalan Penting Pasca Ramadhan
  • Wakaf dan Kesejahteraan Umat
  • Jiwa Yang Fitrah, Kunci Kebahagiaan Dunia Akhirat
  • 5 Wasiat Menuju Pribadi Unggul
  • Syawwal, Bulan Peningkatan
  • Puasa, Makna dan Filosofinya
  • Berbenah Diri Menyambut Bulan Suci
  • Konsep Beragama dalam Bingkai Nkri
  • Pedoman Pergaulan dalam Rumah Tangga
  • Makna Shalat, Historis dan Filosofis
  • Essensi Shalat dalam Kehidupan
  • Penghargaan untuk Merubah Masa Depan
  • Beri Upah Pekerja, Sebelum Keringat Menetes
  • Keseimbangan Materi dan Nurani
  • Orang-Orang yang Jauh dari Hidayah Allah
  • Ayat-ayat Allah di Alam Semesta
  • Islam Kaafah dalam Berbangsa dan Bernegara
  • Muslim yang Ikhlas
  • Ancaman Orang yang Mengabaikan Zakat
  • Dampak Kesehatan Jiwa Terhadap Kesehatan Jasmani
  • Urgensi Musyawarah dalam Setiap Urusan
  • Pedoman Memilih Pemimpin Menurut Pandangan Islam
  • Keluhuran Akhlak Jaminan Kejayaan Bangsa
  • Empat Pilar Akhlaq Mulia
  • Jihad Melawan Hawa Nafsu
  • Sifat Orang Kafir
  • Berhati-Hati dengan Tipudaya Dunia
  • Unjuk Rasa dalam Islam
  • Refleksi di Tahun Baru
  • Mengenal Hadis-Hadis Israiliyaat
  • Fleksibelitas dalam Hukum Islam
  • Teladan Rasulullah dalam Intrepreneurship
  • Mewujudkan Islam Kaaffah (Menyeluruh)
  • Membangun Masyarakat Bermartabat, Mewujudkan Negara Damai Sejahtera
  • Hidup Mulia dengan Islam
  • Haji dan Perbaikan Moral Umat
  • Urgensi Bersahabat dengan Orang yang Shalih
  • Menyongsong Era Baru Kepemimpinan Nasional
  • Ekonomi Islam dan Konvensional
  • Menegakkan dan Memelihara Keutamaan Islam
  • Memupuk Jiwa Berkurban
  • Dunia Adalah Ladang Akhirat
  • Kemerdekaan yang Hakiki
  • Urgensi Mengajak Kepada Kebaikan
  • Manusia Adalah Makhluk Fitri
  • Dusta Merupakan Sumber Malapetaka
  • Mempersiapkan Diri Menghadapi Bulan Suci
  • Menjaga Diri Dengan Yang Halal
  • Menimba Hikmah Kisah Nabi Isa a.s.
  • Akibat Orang Yang Menukar Ayat-Ayat Allah
  • Manajemen Dakwah Efektif Aplikatif
  • Kedekatan Manusia di Sisi Allah Swt
  • Membangun Karakter Asmaul Husna
  • Keutamaan Jihad Dengan Harta
  • Keteladanan Rasulullah Saw
  • Kearifan Lokal Dalam Perspektif Islam
  • Mendalami Makna Ukhuwah
  • Peran Ulama’ Dalam Kehidupan Bernegara
  • Islam Agama Universal
  • Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an
  • Tugas Rasul Penyempurna Akhlak Manusia
  • Meneladani Figur Rosulullah SAW
  • Makna Muhasabah (Evaluasi Diri)
  • Petunjuk Rasulullah Tentang Alam Kubur
  • Islam Dan Terjaganya Perilaku
  • Membentuk Muslim Unggul
  • Ilmu Waris, Bagian Dari Agama dan Setengah Dari Ilmu
  • Menggapai Derajat Dengan Ilmu Pengetahuan
  • Upaya Mewujudkan Khoira Ummat (Umat Tebaik)
  • Amalan-Amalan Dalam Rangka Mengisi Tahun Baru Hijriyah
  • Syukur Menjadi Bangsa Indonesia
  • Spirit Tahun Baru Hijriyah
  • Indikator Haji yang Mabrur
  • Penerapan Nilai-Nilai Islam dalam Peradaban Masa Kini
  • Problematika Umat
  • Seputar Ibadah Haji dan Umrah
  • Kemiskinan dalam Pandangan Islam
  • Muslim Selektif Produktif
  • Syahadat, Makna dan Konsekuensinya
  • Menata Hidup dan Kehidupan Dalam Perspektif Islam
  • Urgensi Mempertahankan Kualitas Ibadah
  • Tasamuh, Ta’awun dan Tadlomun
  • Sillaturrahim Dalam Lebaran
  • Kewajiban Dakwah Dalam Berbagai Situasi dan Kondisi
  • Keluh Kesah Manusia Dalam Hidup
  • Amalan-Amalan Penguat Iman
  • Mempertahankan Aqidah di Tengah Benturan Budaya
  • Antara Hak dan Tanggung Jawab
  • Meyakini Kebenaran Ayat-Ayat Al Qur’an
  • Menjaga Diri dan Keluarga dari Api Neraka
  • Nilai Kehidupan
  • Konsep Islam Mengikis Korupsi
  • Shalat Kematian
  • Mempertanyakan Ukhuwah Kita
  • Tiga Faktor Utama Kebahagiaan
  • Menyelaraskan Perkataan Dengan Perbuatan
  • Mengenal Penyakit Hati
  • Pentingnya Menuntut Ilmu dan Kewajiban Mengamalkannya
  • Lezatnya Iman
  • Prinsip-Prinsip Universal Toleransi Antar Umat Beragama
  • Islam, Ya'luu Walaa Yu'laa 'Alaih
  • Islam, dan Ajaran Jihad
  • Kisah Teladan Sahabat Nabi Muhammad Saw
  • Membumikan Akhlak Mulia Dalam Kehidupan
  • Nabi Isa, Kisah dan Hikmahnya
  • Antara Iman dan Amal Sholih
  • Nabi Muhammad Saw, Figur Teladan Umat
  • Menggapai Derajat Siddiqin
  • Dahsyatnya Kiamat dan Tanda Kedatangannya
  • Makna Muhasabah (Evaluasi Diri)
  • Amalan Ahlus Sunnah Wal Jamaah
  • Berinvestasi Dengan Wakaf
  • Ilmu, Simbol Kejayaan Umat
  • Ijabah Do’a
  • Islam Dan Sistem Ekonomi
  • Menggapai Hidup Berkualitas
  • Muhasabah dan Muroqobah, Jalan Menuju Taqwa
  • Hikmah Memperingati Hari Pahlawan
  • Yang Diridhoi Dan Yang Dimurkai Allah
  • Hikmah Ibadah Haji
  • Esensi Haji Mabrur
  • Pola Hidup Sehat Menurut AlQur'an
  • Berdakwah Dengan Hikmah
  • Komunisme dan Bahaya Komunis
  • Cinta Allah Kepada Hambanya
  • Menjaga Diri Dari Makanan Dan Minuman Yang Haram
  • Wibawa Umat
  • Menuntut Ilmu Tanpa Batas
  • Rahasia Keberkahan Ramadhan
  • Menggapai Puncak Keimanan
  • Mendalami Makna Ukhuwah
  • Amalan Penting Menyambut Bulan Ramadhan
  • Memurnikan Niat, Menyongsong Bulan Ramadhan
  • Menempuh Jalan Lurus, Dunia Hingga Akhirat
  • Makna Isra’ Mi’raj Dalam Kehidupan
  • Kiat Memperbaiki Moralitas Bangsa
  • Membumikan Akhlak Rasulullah Saw
  • Membangun Generasi Rabbany
  • Kisah Nabi Isa Dalam Al-Quran Dan Injil
  • Kepemimpinan Rabbani
  • Sufi Dan Sufisme Di Era Global
  • Menggapai Hidup Bahagia
  • Penyakit Hati Dan Obat Penawarnya
  • Peranan Masjid Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Umat
  • Batas-Batas Toleransi Antar Umat Beragama
  • Bulan Kemuliaan Antara Islam Dan Jawa
  • Politik, Antara Norma Dan Realita
  • Aqidah Dan Akhlaq Seorang Pemimpin
  • Rasulullah Tauladan Sepanjang Zaman
  • Mengapa Syi'ah Bermasalah
  • Keunggulan Syariat Allah Swt
  • Hikmah Dzikrul Maut
  • Kiat Mengikis Tradisi Khurofat
  • Istiqomah Tahun 2012
  • Membangun Surga Dalam Keluarga
  • Menggapai Rahmat Allah
  • Hijrah, Upaya Mempertahankan Aqidah
  • Kewajiban Dakwah Bagi Setiap Muslim
  • Dakwah di Tengah Kemajemukan Umat
  • Islam Mengutamakan Kualitas Bukan Kuantitas
  • Menuju Arah Pendidikan Yang Ideal
  • Sucikan Harta Dengan Berderma
  • Terapi Penyakit Hati
  • Strategi Menghadapi Ghozwul Fikri
  • Hakekat Konsep Jihad Dalam Perspektif Islam
  • Urgensi Mengenal Produk Halal dan Baik
  • Mempertahankan Fithrah Manusia
  • Kembali Kepada Allah
  • Merenungi Alam Raya
  • Memperkokoh Ukhuwah Islamiyah
  • Merefleksikan Puasa Ramadhan
  • Tantangan Da'wah di Era Global
  • Kewajiban Memberantas Kemungkaran
  • Persiapan Menghadapi Puasa Ramadhan
  • Islam Agama Nasehat
  • Hak Terhadap Allah, Terhadap Diri Sendiri Dan Terhadap Sesama
  • Kontektualisasi Pemahaman Isra’ Mi’raj
  • Hidup Damai Dengan Islam
  • Doa, Senjata Orang Beriman
  • Kedudukan Wanita Dalam Perspektif Islam
  • Mengikis Budaya Korupsi
  • Cuci Otak
  • Menggapai Rahmat Dengan Taubat
  • Keseimbangan Investasi Dunia Akhirat
  • Urgensi Mendahulukan Kualitas Atas Kuantitas Dalam Beramal
  • Manusia-Manusia Unik Dalam Alqur’an
  • Amar Makruf Nahi Mungkar
  • Memupuk Kepedulian Sosial
  • Pilar-Pilar Kejayaan Islam
  • Keunggulan Ajaran Islam
  • Keagungan Akhlak Rasulullah Saw
  • Rasululloh Sebagai Uswah
  • Keteladanan Kisah Nabi Nuh As
  • Keutamaan Shalat Lail
  • Niat Pangkal Seluruh Aktivitas
  • Membentuk Keshalihan Ritual dan Sosial
  • Dunia Sebagai Ladang Akhirat
  • Muhasabah Tahun Baru
  • Batas-batas Toleransi Antar Umat Beragama
  • Do’a, Perisai Mukmin
  • Islam Agama Seluruh Nabi dan Rasul
  • Mengenang Kembali Makna Hijriyah
  • Risywah, Macam dan Bahayanya
  • Iman Sebagai Kekuatan Moral
  • Bahagia Saat Orang Lain Bahagia
  • Islam Kenikmatan Yang Agung dan Sempurna
  • Penyakit Sosial dalam Sorotan Syariat
  • Manusia Makhluk Fitri
  • Kiat Mencapai Derajat Taqwa
  • Riya’, Penyakit Amal Kebajikan
  • Membentuk Kesehatan Jasmani dan Rohani
  • Mengantisipasi Aliran Sesat
  • Urgensi Membaca dan mengamalkan Al-Qur’an
  • Musik Bata
  • Sedekah yang Barakah
  • Nilai Pendidikan Ramadhan
  • Dr. H. Imam Mawardi, MA
  • Nikah, Hakikat dan Urgensinya
  • Pengendalian Hawa Nafsu
  • Memberantas Kebodohan
  • Menggapai Hidup Barakah
  • Profil Manusia Bertaqwa
  • Akhlaq Mahmudah dan Akhlaq Madzmumah
  • Menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
  • Urgensi Ukhuwah Islamiyah
  • Syirik, Macam dan Bahayanya
  • Bersihkan Harta dan Hati untuk Bangun Negeri
  • Menghadapi Ujian Tahta Harta Dan Wanita