Khutbah Jum'at
 

Prof DR H Ahmad Zahro, MA

Menggapai Hidup Bahagia

01-05-2012 | 10:02:50

Siapapun dan apapun jabatan kita, berapapun harta yang kita miliki, di manapun kita berada, sesungguhnya capaian puncak kehidupan adalah kebahagiaan. Siapapun orangnya itulah yang dicari. Bahwa mungkin melalui kekayaan, melalui kedudukan, melalui kesejahteraan, tetapi ending pointnya adalah kebahagiaan. Kebahagiaan adalah kesenangan batin yang bersifat permanen, dan relative dalam jangka panjang. Kebahagiaan adalah sesuatu yang membuat orang serba nyaman dalam menjalani kehidupan. Apakah kaya, atau miskin, apakah dia punya jabatan atau tidak, mereka yang berbahagia, pastilah dia enjoy, rileks, tenang, senang, nyaman dan merasa aman dalam menjalani hidup ini. Dengan demikian bagi orang yang beriman tentu ibadahnya semakin bagus. Akan sangat berbeda orang yang sama-sama beriman bahagia dengan yang tidak, kualitas ibadahnya berbeda. Yang tidak bahagia dalam menjalani ibadah mungkin hanya sekedar atau cuma ikut-ikutan, sehingga terasa kering kehidupannya. Sedang yang bahagia tentu akan mengarah kepada kualitas lebih baik.

Pada awal bulan Maret kemaren lembaga survey dari Canada mengadakan penelitian. Lembaga ini adalah lembaga survey internasional yang diakui kredibilitasnya. Dia mengadakan survey terhadap penduduk di 24 negara. Dengan responden sekitar 18 ribu orang. Lembaga ini ingin mengetahui negara mana yang penduduknya merasa paling bahagia. Dan hasilnya sangat mengejutkan. Karena lembaga ini menyimpulkan, bahwa bangsa yang paling bahagia di dunia ini adalah bangsa Indonesia. Yang lebih mengejutkan lagi, di samping rankingnya nomor satu, nilainya di atas 60%. Ranking kedua India, tetapi di bawah 50%. Ranking ketiga, Meksiko, 40%. Sedang ranking paling bawah adalah Hongaria. Ranking dua dari bawah adalah Korea Selatan. Dan yang amat mencengangkan adalah negera Amerika, Inggris, Prancis, Italia, Jerman, Jepang, termasuk negara-negara yang tidak bahagia, yang prosentasenya di bawah 10%. Padahal kita ketahui bahwa kita bangsa Indonesia mengagumi mereka, meniru mereka, membangga-mbanggakan mereka. Apa yang dia katakanya dan diperbuat, kita tiru agar kita juga dikatakan maju dan modern. Kita merasa bangga kalau sudah meniru apa yang mereka perbuat. Sampai-sampai mereka memakai pakaian nggembel juga ditiru. Padahal dengan survey itu membuktikan, bahwa mereka yang kaya materi, pada umumnya tidak merasa bahagia. Karena pada umumnya orang kaya itu merasa kurang, bahkan di negara-negara yang kaya, banyak kasus bunuh diri. Dan tentu kita tahu, bahwa orang yang bunuh diri itu tentu susah, gelisah, artinya tidak bahagia. Di Jepang banyak kasus bunuh diri. Bahkan di negara Korea, ada seorang pemilik pabrik mobil mati bunuh diri. Di Amerika pernah ada survey membuktikan bahwa angka kematian di sana pernah mencapai 36 persen bunuh diri, jadi kalau ada orang mati sebanyak 100 orang, yang 36 orang mati dengan cara bunuh diri.

Dari survey itu ternyata, rata-rata yang mengaku bahagia adalah orang yang tingkat ekonominya menengah ke bawah. Atau bisa dikatakan orang miskin. Begitu juga di negara lain. Kita patut bersyukur kepada Allah SWT, di mana negara yang mayoritas penduduknya Islam ini, bahkan komunitas muslim terbesar di dunia ini adalah yang paling bahagia. Apapun, dan bagaimanapun yang terjadi dalam kehidupan. Yang jelas, bahagia atau tidak, indikasinya bukan jabatan, bukan kekayaan, tetapi sikap hidup. Oleh karena itu, marilah kita perbaiki, kita evaluasi, sikap hidup kita, supaya bisa merasa bahagia. Karena itulah yang sesungguhnya kita cari dalam hidup ini. Yang ideal kaya dan bahagia, tetapi yang seperti ini tidak banyak. Kalau bisa jangan miskin tidak bahagia. Islam tidak menganjurkan miskin atau kaya, tetapi Islam menganjurkan berbagi (ith’aamul miskiin).

Setelah saya telisik, saya renungkan terhadap hasil survey tersebut, saya menemukan dua poin yang menjadi bangsa Indonesia bahagia.

Pertama, bangsa Indonesia yang mayoritas muslim ini punya karakter sosial Qanaah (menerima apa adanya). Umumnya orang Indonesia qanaah, tidak gampang mengeluh, nriman, seleh,apapun yang terjadi. Sehingga apapun yang terjadi jika itu sudah terjadi, maka diterima dengan rela. Mengapa bisa menerima? Karena bertaqwa, berTuhan, mempunyai kesadaran agama. Untuk itu, saya mengajak untuk bisa mempunyai karakter seperti ini. Contoh simpelnya, jika suatu saat kita tidak punya uang, maka jika kita menerima atau tidak menerima, tetap tidak punya uang. Karena sama-sama tidak mempunyai uang, maka akan menguntungkan jika bersikap menerima dengan lapang dada, kemudian berusaha, daripada berkeluh kesah, sambat, ngresulo, yang ujungnya akan meyiksa diri sendiri. Memang tetap tidak punya uang, tetapi hati ini akan ridho, lapang, legowo. Dan inilah yang dinamakan hati yang bahagia. Begitu juga jika pada suatu saat terkena musibah, sakit dlsb. Jadi menanamkan jiwa qanaah (menerima apa adanya) dalam kondisi menyenangkan atau tidak menyenangkan, hendaknya diterima.

Kedua, bangsa Indonesia yang mayoritas muslim ini punya karakter sosial Syukur. Bahkan ada anekdot, kalau ada orang kakinya terantuk kerikil, dia katakana : “Alhamdulillah hanya terantuk”. Kalau kemudian berdarah dia masih mengatakan : “Alhamdulillah hanya berdarah”. Kalau kemudian menjadi luka, dia masih juga mengatakan : “Alhamdulillah hanya luka”. Kalau dia jatuh kemudian kakinya patah, dia juga masih mengatakan : “Alhamdulillah hanya patah”. Bahkan sampai parah pun dia masih juga ada kata syukurnya. Walaupun ini cuma anekdot, tetapi ini pantas menjadi karakter bangsa Indonesia. Sikap seperti inilah dalam rangka memupuk rasa syukur, di mana ini merupakan puncak kebahagiaan. Di dunia ini, orang yang paling bahagia adalah orang yang pandai bersyukur. Bukan yang paling tinggi pangkatnya, bukan yang paling banyak hartanya, bukan yang paling ganteng atau cantik. Allah SWT menjanjikan orang yang pandai bersyukur akan ditambah nikmat yang ada padanya. (QS Ibrahim : 7).Yang maknanya : “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

Dua tahun lalu ada eksperimen di Amerika. Eksperimen ini memperlakukan sebanyak 60 orang penderita sakit jantung dalam stadium yang sama. 60 orang ini dibagi dua. 30 orang pertama, diobati dengan medis murni. Dan 60 kedua disamping diobati dengan medis seperti kelompok pertama, juga diberi tambahan motivasi untuk bersyukur. Artinya diberi pengertian agar mereka bersyukur atas sakit yang diderita. Dikatakan kepada mereka : “Yang anda derita kan jantung, tetapi anggota badan ada kan tidak, seperti mata, telinga, kaki, kepala dll kan tetap sehat, kenapa yang anda ingat hanya yang sakit, sementara anggota badan yang lain yang tidak sakit tidak diingat-ingat? maka dari itu anda perlu bersyukur, coba anda bayangkan jika seluruh anggota badan anda sakit semua”. Jadi, intinya disuruh mengingat-ingat anggota badan yang sehat, agar di lupa akan jantungnya yang sakit. Dan ternyata hasilnya cukup menakjubkan, yang diobati murni medis, yang sembuh hanya 1/3, sedang yang diberi tambahan motivasi yang sembuh lebih 2/3. Dengan demikian sikap mental inilah sesungguhnya bisa menjadikan obat sekaligus pencegah sakit.

Khutbah sebelumnya :

  • Menjadi Umat yang Terbaik
  • Urgensi Pemurnian Aqidah Dalam Membangun Bangsa
  • Kejujuran Kunci Kesuksesan
  • Menjadi Umat Nabi Muhammad yang Hakiki
  • KERUKUNAN UMAT BERAGAMA, PILAR NEGARA RI
  • Menyelesaikan Perbedaan
  • Mengukur Kadar Keimanan
  • KH Agoes Ali Masyhuri
  • Ukhuwah Demi Muruu’ah (Martabat)
  • Kecerdasan Spiritual
  • Hijrah, Momentum Mempererat Persaudaraan
  • Refleksi 51 Tahun Pemberontakan G-30-S/PKI
  • Urgensi Tauhid dalam Mengangkat Derajat & Martabat Muslimin
  • Kecintaan Sesama, Bukti Cinta Kepada Allah
  • Syukur dan Bahagia
  • Singa dalam Senyap
  • Berteknologi Tanpa Iman
  • Hakekat Pahlawan
  • Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan
  • Menggapai Bahagia, Hubungkan Bumi dengan Langit
  • Kehidupan Dunia Sementara
  • Takabbur dan Tawadhu’
  • Pasar dalam Islam
  • Memberi Tanpa Menyakiti
  • Ramadhan, Bulan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
  • Hakikat Ibadah
  • Meraih Derajat Muttaqiin
  • Merindukan Ramadhan
  • Jihad Akbar Bukan Sembarang Jihad
  • Merajut Ukhuwah Islamiyah
  • Debu Takwa Pembebas Derita
  • Isra’ Mi’raj Momentum Evaluasi Shalat
  • Keutamaan Shadaqah
  • Ikhtiar, Do’a dan Tawakkal
  • Qanaah Bukti Keimanan Seseorang Kepada Allah
  • Mengemban Amanat Agama
  • Ujian, Bukti Cinta Allah kepada Hambanya
  • Menuju Kecintaan Kepada Allah Swt
  • Masa dan Manusia
  • Segera Bertaubat sebelum Terlambat
  • Kesehatan Jasmani dan Rohani
  • Memaafkan dan Mendamaikan
  • Mengungkap Hikmah Shabar
  • Membangun Bangsa dengan Imtaq dan Iptek
  • Meningkatkan Iman Dan Taqwa di Tahun 2016
  • Fadhilah Membahagiakan Orang Lain
  • Bukti Cinta Rasulullah Kepada Umatnya
  • Strategi Umat Islam Menghadapi Tantangan Global
  • Lemah Lembut dan Murah Hati
  • Keserasian Aqidah, Syariah dan Akhlak
  • Dzikirnya Orang yang Cerdik Cendikia
  • Budi Pekerti yang Luhur
  • Persatuan, Modal Kesuksesan Bangsa
  • Pentingnya Belajar dari Sejarah
  • Mewaspadai Golongan Ekstrim
  • Menemukan “Ibrahim” Era Baru
  • Amalan Subtansional
  • Bermuamalah dengan Non Muslim
  • Merdeka dalam Perspektif Islam
  • Mempertahankan Persaudaraan dalam Bingkai Iman
  • Petunjuk Allah dalam Menghadapi Cobaan Hidup
  • Amalan Penting Pasca Ramadhan
  • Wakaf dan Kesejahteraan Umat
  • Jiwa Yang Fitrah, Kunci Kebahagiaan Dunia Akhirat
  • 5 Wasiat Menuju Pribadi Unggul
  • Syawwal, Bulan Peningkatan
  • Puasa, Makna dan Filosofinya
  • Berbenah Diri Menyambut Bulan Suci
  • Konsep Beragama dalam Bingkai Nkri
  • Pedoman Pergaulan dalam Rumah Tangga
  • Makna Shalat, Historis dan Filosofis
  • Essensi Shalat dalam Kehidupan
  • Penghargaan untuk Merubah Masa Depan
  • Beri Upah Pekerja, Sebelum Keringat Menetes
  • Keseimbangan Materi dan Nurani
  • Orang-Orang yang Jauh dari Hidayah Allah
  • Ayat-ayat Allah di Alam Semesta
  • Islam Kaafah dalam Berbangsa dan Bernegara
  • Muslim yang Ikhlas
  • Ancaman Orang yang Mengabaikan Zakat
  • Dampak Kesehatan Jiwa Terhadap Kesehatan Jasmani
  • Urgensi Musyawarah dalam Setiap Urusan
  • Pedoman Memilih Pemimpin Menurut Pandangan Islam
  • Keluhuran Akhlak Jaminan Kejayaan Bangsa
  • Empat Pilar Akhlaq Mulia
  • Jihad Melawan Hawa Nafsu
  • Sifat Orang Kafir
  • Berhati-Hati dengan Tipudaya Dunia
  • Unjuk Rasa dalam Islam
  • Refleksi di Tahun Baru
  • Mengenal Hadis-Hadis Israiliyaat
  • Fleksibelitas dalam Hukum Islam
  • Teladan Rasulullah dalam Intrepreneurship
  • Mewujudkan Islam Kaaffah (Menyeluruh)
  • Membangun Masyarakat Bermartabat, Mewujudkan Negara Damai Sejahtera
  • Hidup Mulia dengan Islam
  • Haji dan Perbaikan Moral Umat
  • Urgensi Bersahabat dengan Orang yang Shalih
  • Menyongsong Era Baru Kepemimpinan Nasional
  • Ekonomi Islam dan Konvensional
  • Menegakkan dan Memelihara Keutamaan Islam
  • Memupuk Jiwa Berkurban
  • Dunia Adalah Ladang Akhirat
  • Kemerdekaan yang Hakiki
  • Urgensi Mengajak Kepada Kebaikan
  • Manusia Adalah Makhluk Fitri
  • Dusta Merupakan Sumber Malapetaka
  • Mempersiapkan Diri Menghadapi Bulan Suci
  • Menjaga Diri Dengan Yang Halal
  • Menimba Hikmah Kisah Nabi Isa a.s.
  • Akibat Orang Yang Menukar Ayat-Ayat Allah
  • Manajemen Dakwah Efektif Aplikatif
  • Kedekatan Manusia di Sisi Allah Swt
  • Membangun Karakter Asmaul Husna
  • Keutamaan Jihad Dengan Harta
  • Keteladanan Rasulullah Saw
  • Kearifan Lokal Dalam Perspektif Islam
  • Mendalami Makna Ukhuwah
  • Peran Ulama’ Dalam Kehidupan Bernegara
  • Islam Agama Universal
  • Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an
  • Tugas Rasul Penyempurna Akhlak Manusia
  • Meneladani Figur Rosulullah SAW
  • Makna Muhasabah (Evaluasi Diri)
  • Petunjuk Rasulullah Tentang Alam Kubur
  • Islam Dan Terjaganya Perilaku
  • Membentuk Muslim Unggul
  • Ilmu Waris, Bagian Dari Agama dan Setengah Dari Ilmu
  • Menggapai Derajat Dengan Ilmu Pengetahuan
  • Upaya Mewujudkan Khoira Ummat (Umat Tebaik)
  • Amalan-Amalan Dalam Rangka Mengisi Tahun Baru Hijriyah
  • Syukur Menjadi Bangsa Indonesia
  • Spirit Tahun Baru Hijriyah
  • Indikator Haji yang Mabrur
  • Penerapan Nilai-Nilai Islam dalam Peradaban Masa Kini
  • Problematika Umat
  • Seputar Ibadah Haji dan Umrah
  • Kemiskinan dalam Pandangan Islam
  • Muslim Selektif Produktif
  • Syahadat, Makna dan Konsekuensinya
  • Menata Hidup dan Kehidupan Dalam Perspektif Islam
  • Urgensi Mempertahankan Kualitas Ibadah
  • Tasamuh, Ta’awun dan Tadlomun
  • Sillaturrahim Dalam Lebaran
  • Kewajiban Dakwah Dalam Berbagai Situasi dan Kondisi
  • Keluh Kesah Manusia Dalam Hidup
  • Amalan-Amalan Penguat Iman
  • Mempertahankan Aqidah di Tengah Benturan Budaya
  • Antara Hak dan Tanggung Jawab
  • Meyakini Kebenaran Ayat-Ayat Al Qur’an
  • Menjaga Diri dan Keluarga dari Api Neraka
  • Nilai Kehidupan
  • Konsep Islam Mengikis Korupsi
  • Shalat Kematian
  • Mempertanyakan Ukhuwah Kita
  • Tiga Faktor Utama Kebahagiaan
  • Menyelaraskan Perkataan Dengan Perbuatan
  • Mengenal Penyakit Hati
  • Pentingnya Menuntut Ilmu dan Kewajiban Mengamalkannya
  • Lezatnya Iman
  • Prinsip-Prinsip Universal Toleransi Antar Umat Beragama
  • Islam, Ya'luu Walaa Yu'laa 'Alaih
  • Islam, dan Ajaran Jihad
  • Kisah Teladan Sahabat Nabi Muhammad Saw
  • Membumikan Akhlak Mulia Dalam Kehidupan
  • Nabi Isa, Kisah dan Hikmahnya
  • Antara Iman dan Amal Sholih
  • Nabi Muhammad Saw, Figur Teladan Umat
  • Menggapai Derajat Siddiqin
  • Dahsyatnya Kiamat dan Tanda Kedatangannya
  • Makna Muhasabah (Evaluasi Diri)
  • Amalan Ahlus Sunnah Wal Jamaah
  • Berinvestasi Dengan Wakaf
  • Ilmu, Simbol Kejayaan Umat
  • Ijabah Do’a
  • Islam Dan Sistem Ekonomi
  • Menggapai Hidup Berkualitas
  • Muhasabah dan Muroqobah, Jalan Menuju Taqwa
  • Hikmah Memperingati Hari Pahlawan
  • Yang Diridhoi Dan Yang Dimurkai Allah
  • Hikmah Ibadah Haji
  • Esensi Haji Mabrur
  • Pola Hidup Sehat Menurut AlQur'an
  • Berdakwah Dengan Hikmah
  • Komunisme dan Bahaya Komunis
  • Cinta Allah Kepada Hambanya
  • Menjaga Diri Dari Makanan Dan Minuman Yang Haram
  • Wibawa Umat
  • Menuntut Ilmu Tanpa Batas
  • Rahasia Keberkahan Ramadhan
  • Menggapai Puncak Keimanan
  • Mendalami Makna Ukhuwah
  • Amalan Penting Menyambut Bulan Ramadhan
  • Memurnikan Niat, Menyongsong Bulan Ramadhan
  • Menempuh Jalan Lurus, Dunia Hingga Akhirat
  • Makna Isra’ Mi’raj Dalam Kehidupan
  • Kiat Memperbaiki Moralitas Bangsa
  • Membumikan Akhlak Rasulullah Saw
  • Membangun Generasi Rabbany
  • Kisah Nabi Isa Dalam Al-Quran Dan Injil
  • Kepemimpinan Rabbani
  • Sufi Dan Sufisme Di Era Global
  • Menggapai Hidup Bahagia
  • Penyakit Hati Dan Obat Penawarnya
  • Peranan Masjid Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Umat
  • Batas-Batas Toleransi Antar Umat Beragama
  • Bulan Kemuliaan Antara Islam Dan Jawa
  • Politik, Antara Norma Dan Realita
  • Aqidah Dan Akhlaq Seorang Pemimpin
  • Rasulullah Tauladan Sepanjang Zaman
  • Mengapa Syi'ah Bermasalah
  • Keunggulan Syariat Allah Swt
  • Hikmah Dzikrul Maut
  • Kiat Mengikis Tradisi Khurofat
  • Istiqomah Tahun 2012
  • Membangun Surga Dalam Keluarga
  • Menggapai Rahmat Allah
  • Hijrah, Upaya Mempertahankan Aqidah
  • Kewajiban Dakwah Bagi Setiap Muslim
  • Dakwah di Tengah Kemajemukan Umat
  • Islam Mengutamakan Kualitas Bukan Kuantitas
  • Menuju Arah Pendidikan Yang Ideal
  • Sucikan Harta Dengan Berderma
  • Terapi Penyakit Hati
  • Strategi Menghadapi Ghozwul Fikri
  • Hakekat Konsep Jihad Dalam Perspektif Islam
  • Urgensi Mengenal Produk Halal dan Baik
  • Mempertahankan Fithrah Manusia
  • Kembali Kepada Allah
  • Merenungi Alam Raya
  • Memperkokoh Ukhuwah Islamiyah
  • Merefleksikan Puasa Ramadhan
  • Tantangan Da'wah di Era Global
  • Kewajiban Memberantas Kemungkaran
  • Persiapan Menghadapi Puasa Ramadhan
  • Islam Agama Nasehat
  • Hak Terhadap Allah, Terhadap Diri Sendiri Dan Terhadap Sesama
  • Kontektualisasi Pemahaman Isra’ Mi’raj
  • Hidup Damai Dengan Islam
  • Doa, Senjata Orang Beriman
  • Kedudukan Wanita Dalam Perspektif Islam
  • Mengikis Budaya Korupsi
  • Cuci Otak
  • Menggapai Rahmat Dengan Taubat
  • Keseimbangan Investasi Dunia Akhirat
  • Urgensi Mendahulukan Kualitas Atas Kuantitas Dalam Beramal
  • Manusia-Manusia Unik Dalam Alqur’an
  • Amar Makruf Nahi Mungkar
  • Memupuk Kepedulian Sosial
  • Pilar-Pilar Kejayaan Islam
  • Keunggulan Ajaran Islam
  • Keagungan Akhlak Rasulullah Saw
  • Rasululloh Sebagai Uswah
  • Keteladanan Kisah Nabi Nuh As
  • Keutamaan Shalat Lail
  • Niat Pangkal Seluruh Aktivitas
  • Membentuk Keshalihan Ritual dan Sosial
  • Dunia Sebagai Ladang Akhirat
  • Muhasabah Tahun Baru
  • Batas-batas Toleransi Antar Umat Beragama
  • Do’a, Perisai Mukmin
  • Islam Agama Seluruh Nabi dan Rasul
  • Mengenang Kembali Makna Hijriyah
  • Risywah, Macam dan Bahayanya
  • Iman Sebagai Kekuatan Moral
  • Bahagia Saat Orang Lain Bahagia
  • Islam Kenikmatan Yang Agung dan Sempurna
  • Penyakit Sosial dalam Sorotan Syariat
  • Manusia Makhluk Fitri
  • Kiat Mencapai Derajat Taqwa
  • Riya’, Penyakit Amal Kebajikan
  • Membentuk Kesehatan Jasmani dan Rohani
  • Mengantisipasi Aliran Sesat
  • Urgensi Membaca dan mengamalkan Al-Qur’an
  • Musik Bata
  • Sedekah yang Barakah
  • Nilai Pendidikan Ramadhan
  • Dr. H. Imam Mawardi, MA
  • Nikah, Hakikat dan Urgensinya
  • Pengendalian Hawa Nafsu
  • Memberantas Kebodohan
  • Menggapai Hidup Barakah
  • Profil Manusia Bertaqwa
  • Akhlaq Mahmudah dan Akhlaq Madzmumah
  • Menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
  • Urgensi Ukhuwah Islamiyah
  • Syirik, Macam dan Bahayanya
  • Bersihkan Harta dan Hati untuk Bangun Negeri
  • Menghadapi Ujian Tahta Harta Dan Wanita