Khutbah Jum'at
 

Prof DR H Burhan Jamaluddin, MA

Sufi Dan Sufisme Di Era Global

08-05-2012 | 13:29:31

Sufi dan sufisme, kadang disebut dengan tasawuf, atau thoriqah. Dalam disiplin ilmu disebutkan bahwa tasawuf atau sufisme tujuannya adalah memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Allah SWT. Sehingga disadari benar, bahwa seseorang berada di hadirat Allah SWT. Intisarinya adalah bahwa sufisme kesadaran akan adanya komunikasi, dialog antara roh manusia dengan Allah SWT, dengan cara berkontemplasi, mengasingkan diri dari kehidupan dunia. Yang bisa saja kehidupan dunia itu, menghalangi mereka untuk dekat dengan Allah SWT. Kedekatan dengan Allah itu dapat terwujud dalam berbagai bentuk. Di antaranya dalam ilmu tasawwuf dikenal dengan kata mahabbah, ittihad, huluul, wahdatul wujud, dlsb. Itu adalah hasil akhir dari sebuah perjalanan kaum sufi ketika ingin dekat dan merasa dekat dengan Allah SWT.

Menurut sejarah, bahwa orang yang pertama kali memakai kata sufi, yang sebelumnya memang belum ada, yaitu Abu Hasyim al Kufi dari Iraq, wafat tahun 150 H. Ketika itulah dikenal tasawwuf atau sufisme. Namun para pakar ilmu tasawuf berbeda pendapat dari mana asal usul kata tasawuf ituma. Atau dari mana asal usulnya sufi. Pertama, mengatakan bahwa sufi itu berasalal dari ahlus sufah, yaitu sekelompok orang yang berhijrah dari Makkah ke Madinah bersama Rasulullah SAW. Sesampai di Madinah, alhlus sufah ini rajin beribadah tidak pernah pulang dari masjid Nabawi, mereka tidur di batu-batu dan beralaskan pelana kuda. Dari sinilah menurut pendapat ini , munculnya sebutan sufi. Kedua, mengatakan bahwa sufi adalah berasal dari kata shaafiyun (bersih, jernih, ikhlas). Artinya seorang sufi adalah orang yang berhati jernih, jernih, ikhlas dalam beribadah kepada Allah SWT. Ketiga, sufi berasal dari kata shuuf (kain wol). Tetapi kain wol yang dipakai kaum sufi adalah kain wol kasar, tidak seperti kain wol halus yang berasal dari sutra yang biasa dipakai para penguasa di zaman itu (Bani Umayah). Mereka memakai pakaian wol kasar seperti itu sebagai bentuk protes mereka, atas kehidupan mewah dan berfoya-foyanya penguasa Islam di zaman itu. Walaupun kita tidak bisa memastikan, asal-usul kata sufi itu, lepas dari mana yang benar dari ketiga pendapat tersebut, yang jelas bahwa tasawwuf adalah orang mementingkan pendekatan diri kepada Allah SWT, berusaha semaksimal mungkin bagaimana dekat dengan Allah SWT. Bisa berdialog, bsia bercengkerama dengan Allah SWT. Ruh mereka suci, karena sudah dibersihkan dari pengaruh hawa nafsunya yang mempengaruhi roh itu, ketika masuk dalam tubuh jasmaninya.

Tentang sufisme (ajaran, faham, kehidupan) yang dianut para sufi itu juga diperselisihkan oleh para pakar. Apakah yang dianut mereka benar-benar dari Islam, atau dari luar Islam. Pertama, bahwa aliran sufisme, adalah berasal dari pengaruh Kristen, dengan faham, menjauhi dunia dan hidup mengasingkan diri dalam Biara-Biara. Dalam literatur Arab disebutkan memang terdapat rahib-rahib pemimpin agama Kristen pada saat itu. Karena kalau mereka hidup di kota, tidak bisa dekat dengan tuhannya, maka mereka mengasingkan diri di padang pasir Arabia. Kedua, pengaruh mistik phitagoras. Bahwa ruh manusia bersifat kekal dan berada di dunia sebagai orang asing. Dalam ajaran Islam, ruh memang kekal dan suci. Masuk dalam gerbong tubuh jasmani ini, dan dianggap sebagai orang asing. Dan untuk bisa kembali suci lagi, harus dibersihkan dari pengaruh-pengaruh hawa nafsu jahat yang terdapat dalam jasmani itu. Untuk itu, pengaruh keduaniaan harus ditinggalkan untuk menjadi seorang sufi. Ketiga, aliran sufi berasal dari pengaruh filsafat Hemasiplotinus. Yang mengatakan bahwa ruh berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan. Dengan masuknya ruh ke dalam alam materi, maka ruh menjadi kotor, dan untuk kembali ke asalnya, ruh harus dibersihkan terlebih dahulu. Proses pembersihan itulah, maka aliran ini ada.

Terlepas dari beberapa asal usul aliran yang berbeda-beda tersebut, yang jelas banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang mengajarkan bagaimana manusia sebagai hamba bisa mendekatkan diri kepada Allah SWT, dengan cara beribadah, berdzikir dan mengamalkan ajaran-ajaran Islam lainnya. (Misalnya QS. Al Baqarah : 186)

Dalam ayat ini menjelaskan bahwa Allah dekat dengan manusia, mengabulkan permintaan manusia, jika mereka minta kepadaNya. Kata “da’aa” yang biasa kita terjemahkan do’a, kaum shufi memaknainya dengan “berseru, memanggil” agar dekat dengan Allah SWT, menurut ruhani mereka merasakan itu, lalu memanggil Allah SWT, karena begitu dekatnya. Dan sudah tidak perlu do’a lagi, karena menurut mereka doa berarti masih jauh antara manusia dengan Allah SWT. Kaum sufi tidak merasa Allah jauh darinya, bahkan sangat dekat sekali dengan mereka.

Bagaimanapun jalan yang ditempuh oleh kaum sufi cukup panjang dan berbelit. Bahkan para pakar ilmu tasawuf mengatakan, bahwa jalan yang ditempuh kaum sufi untuk bisa dekat dengan Allah SWT itu panjang dan bermacam-macam. Ada yang mengatakan mulai dari taubat terlebih dahulu, kemudian berzuhud, sabar, merendahkan hati, tawakkal, cinta dan ma’rifat. Tahapan-tahapan itu harus dilalui oleh seorang hamba yang ingin dekat dengan Allah SWT.

Tahap taubat. Taubat menurut kaum sufi adalah bukan karena mereka merasa melanggar aturan Allah, tetapi lebih dari itu, jika dia lupa ingat kepada Allah sesaat saja fikiran dan jiwanya, sudah mereka anggap dosa, sehingga dia berusaha berdzikir lagi dan ingat lagi kepada Allah SWT. Tahap Zuhud. Zuhud adalah salah satu jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah, dengan cara meninggalkan dunia dan hidup yang serba manteri di dunia ini. Sebelum menjadi sufi seorang harus melakukan zuhud terlebih dahulu. Oleh karena itu, tidak otomatis seorang zahid menjadi seorang sufi, namun justeru seorang sufi otomatis sudah melampaui kehidupan zuhud. Aliran zuhud ini banyak terdapat di Kuffah, Iraq. Para zahid yang pertama kali, tentu seperti asal usul kaum sufi yakni memakai kain wol yang kasar, sebagai protes terhadap kehidupan mewah, dan berfoya-foya yang dilakukan penguasa waktu itu.

Tahap Mahabbah. Penganut jalan mahabbah ini yang terkenal adalah Rabi’ah Al Adawiyah. Seorang sufi perempuan terkenal. Dia menempuh jalan cinta, untuk dekat dengan Allah SWT. Dia tidak mempunyai kekasih yang lain dari manusia, selain Allah SWT. Dalam sebuah syair dia mengatakan : ”Buah hatiku! hanya Engkaulah yang kukasih, beri ampunlah pembuat doa (aku) ini yang datang ke hadiratMu, Engkaulah harapanku, kebahagiaanku dan kesenanganku, hatiku telah enggan mencintai selain Engkau”. Begitu indah ungkapan rasa cintanya kepada Allah sebagai salah satu jalan yang ditempuh untuk bisa dekat dengan Allah SWT. Oleh karena itulah Rabi’ah Al Adawiyah tidak mau kawin. Bahkan pernah dilamar oleh seseorang, dia menjawab : “Kekasihku adalah Allah SWT”.

Jadi sufisme di era klasik adalah semacam uzlah (mengasingkan diri dari gemerlapnya dunia), karena menganggap bahwa dunia akan menghalangi mereka untuk dekat dengan Allah SWT. Bagaimana dengan sufisme di era global? Para pakar menganggap, bahwa tidak tepat kalau cara klasik itu diterapkan di era seperti sekarang ini. Sebab mereka beranggapan bahwa dunia tidak perlu dihindari atau dijauhi, tetapi bagaimana bisa mengelola dunia ini sehingga ada keseimbangan antara ukhrawi dan duniawi. Oleh karena itu, sufi di era global tidak harus mengasingkan diri, tetapi tetap berbaur dengan masyarakat dan tetap ber amar ma’ruf nahi munkar. wallahu a’alam.

Khutbah sebelumnya :

  • Menjadi Umat yang Terbaik
  • Urgensi Pemurnian Aqidah Dalam Membangun Bangsa
  • Kejujuran Kunci Kesuksesan
  • Menjadi Umat Nabi Muhammad yang Hakiki
  • KERUKUNAN UMAT BERAGAMA, PILAR NEGARA RI
  • Menyelesaikan Perbedaan
  • Mengukur Kadar Keimanan
  • KH Agoes Ali Masyhuri
  • Ukhuwah Demi Muruu’ah (Martabat)
  • Kecerdasan Spiritual
  • Hijrah, Momentum Mempererat Persaudaraan
  • Refleksi 51 Tahun Pemberontakan G-30-S/PKI
  • Urgensi Tauhid dalam Mengangkat Derajat & Martabat Muslimin
  • Kecintaan Sesama, Bukti Cinta Kepada Allah
  • Syukur dan Bahagia
  • Singa dalam Senyap
  • Berteknologi Tanpa Iman
  • Hakekat Pahlawan
  • Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan
  • Menggapai Bahagia, Hubungkan Bumi dengan Langit
  • Kehidupan Dunia Sementara
  • Takabbur dan Tawadhu’
  • Pasar dalam Islam
  • Memberi Tanpa Menyakiti
  • Ramadhan, Bulan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
  • Hakikat Ibadah
  • Meraih Derajat Muttaqiin
  • Merindukan Ramadhan
  • Jihad Akbar Bukan Sembarang Jihad
  • Merajut Ukhuwah Islamiyah
  • Debu Takwa Pembebas Derita
  • Isra’ Mi’raj Momentum Evaluasi Shalat
  • Keutamaan Shadaqah
  • Ikhtiar, Do’a dan Tawakkal
  • Qanaah Bukti Keimanan Seseorang Kepada Allah
  • Mengemban Amanat Agama
  • Ujian, Bukti Cinta Allah kepada Hambanya
  • Menuju Kecintaan Kepada Allah Swt
  • Masa dan Manusia
  • Segera Bertaubat sebelum Terlambat
  • Kesehatan Jasmani dan Rohani
  • Memaafkan dan Mendamaikan
  • Mengungkap Hikmah Shabar
  • Membangun Bangsa dengan Imtaq dan Iptek
  • Meningkatkan Iman Dan Taqwa di Tahun 2016
  • Fadhilah Membahagiakan Orang Lain
  • Bukti Cinta Rasulullah Kepada Umatnya
  • Strategi Umat Islam Menghadapi Tantangan Global
  • Lemah Lembut dan Murah Hati
  • Keserasian Aqidah, Syariah dan Akhlak
  • Dzikirnya Orang yang Cerdik Cendikia
  • Budi Pekerti yang Luhur
  • Persatuan, Modal Kesuksesan Bangsa
  • Pentingnya Belajar dari Sejarah
  • Mewaspadai Golongan Ekstrim
  • Menemukan “Ibrahim” Era Baru
  • Amalan Subtansional
  • Bermuamalah dengan Non Muslim
  • Merdeka dalam Perspektif Islam
  • Mempertahankan Persaudaraan dalam Bingkai Iman
  • Petunjuk Allah dalam Menghadapi Cobaan Hidup
  • Amalan Penting Pasca Ramadhan
  • Wakaf dan Kesejahteraan Umat
  • Jiwa Yang Fitrah, Kunci Kebahagiaan Dunia Akhirat
  • 5 Wasiat Menuju Pribadi Unggul
  • Syawwal, Bulan Peningkatan
  • Puasa, Makna dan Filosofinya
  • Berbenah Diri Menyambut Bulan Suci
  • Konsep Beragama dalam Bingkai Nkri
  • Pedoman Pergaulan dalam Rumah Tangga
  • Makna Shalat, Historis dan Filosofis
  • Essensi Shalat dalam Kehidupan
  • Penghargaan untuk Merubah Masa Depan
  • Beri Upah Pekerja, Sebelum Keringat Menetes
  • Keseimbangan Materi dan Nurani
  • Orang-Orang yang Jauh dari Hidayah Allah
  • Ayat-ayat Allah di Alam Semesta
  • Islam Kaafah dalam Berbangsa dan Bernegara
  • Muslim yang Ikhlas
  • Ancaman Orang yang Mengabaikan Zakat
  • Dampak Kesehatan Jiwa Terhadap Kesehatan Jasmani
  • Urgensi Musyawarah dalam Setiap Urusan
  • Pedoman Memilih Pemimpin Menurut Pandangan Islam
  • Keluhuran Akhlak Jaminan Kejayaan Bangsa
  • Empat Pilar Akhlaq Mulia
  • Jihad Melawan Hawa Nafsu
  • Sifat Orang Kafir
  • Berhati-Hati dengan Tipudaya Dunia
  • Unjuk Rasa dalam Islam
  • Refleksi di Tahun Baru
  • Mengenal Hadis-Hadis Israiliyaat
  • Fleksibelitas dalam Hukum Islam
  • Teladan Rasulullah dalam Intrepreneurship
  • Mewujudkan Islam Kaaffah (Menyeluruh)
  • Membangun Masyarakat Bermartabat, Mewujudkan Negara Damai Sejahtera
  • Hidup Mulia dengan Islam
  • Haji dan Perbaikan Moral Umat
  • Urgensi Bersahabat dengan Orang yang Shalih
  • Menyongsong Era Baru Kepemimpinan Nasional
  • Ekonomi Islam dan Konvensional
  • Menegakkan dan Memelihara Keutamaan Islam
  • Memupuk Jiwa Berkurban
  • Dunia Adalah Ladang Akhirat
  • Kemerdekaan yang Hakiki
  • Urgensi Mengajak Kepada Kebaikan
  • Manusia Adalah Makhluk Fitri
  • Dusta Merupakan Sumber Malapetaka
  • Mempersiapkan Diri Menghadapi Bulan Suci
  • Menjaga Diri Dengan Yang Halal
  • Menimba Hikmah Kisah Nabi Isa a.s.
  • Akibat Orang Yang Menukar Ayat-Ayat Allah
  • Manajemen Dakwah Efektif Aplikatif
  • Kedekatan Manusia di Sisi Allah Swt
  • Membangun Karakter Asmaul Husna
  • Keutamaan Jihad Dengan Harta
  • Keteladanan Rasulullah Saw
  • Kearifan Lokal Dalam Perspektif Islam
  • Mendalami Makna Ukhuwah
  • Peran Ulama’ Dalam Kehidupan Bernegara
  • Islam Agama Universal
  • Akhlak Rasulullah adalah Al-Qur’an
  • Tugas Rasul Penyempurna Akhlak Manusia
  • Meneladani Figur Rosulullah SAW
  • Makna Muhasabah (Evaluasi Diri)
  • Petunjuk Rasulullah Tentang Alam Kubur
  • Islam Dan Terjaganya Perilaku
  • Membentuk Muslim Unggul
  • Ilmu Waris, Bagian Dari Agama dan Setengah Dari Ilmu
  • Menggapai Derajat Dengan Ilmu Pengetahuan
  • Upaya Mewujudkan Khoira Ummat (Umat Tebaik)
  • Amalan-Amalan Dalam Rangka Mengisi Tahun Baru Hijriyah
  • Syukur Menjadi Bangsa Indonesia
  • Spirit Tahun Baru Hijriyah
  • Indikator Haji yang Mabrur
  • Penerapan Nilai-Nilai Islam dalam Peradaban Masa Kini
  • Problematika Umat
  • Seputar Ibadah Haji dan Umrah
  • Kemiskinan dalam Pandangan Islam
  • Muslim Selektif Produktif
  • Syahadat, Makna dan Konsekuensinya
  • Menata Hidup dan Kehidupan Dalam Perspektif Islam
  • Urgensi Mempertahankan Kualitas Ibadah
  • Tasamuh, Ta’awun dan Tadlomun
  • Sillaturrahim Dalam Lebaran
  • Kewajiban Dakwah Dalam Berbagai Situasi dan Kondisi
  • Keluh Kesah Manusia Dalam Hidup
  • Amalan-Amalan Penguat Iman
  • Mempertahankan Aqidah di Tengah Benturan Budaya
  • Antara Hak dan Tanggung Jawab
  • Meyakini Kebenaran Ayat-Ayat Al Qur’an
  • Menjaga Diri dan Keluarga dari Api Neraka
  • Nilai Kehidupan
  • Konsep Islam Mengikis Korupsi
  • Shalat Kematian
  • Mempertanyakan Ukhuwah Kita
  • Tiga Faktor Utama Kebahagiaan
  • Menyelaraskan Perkataan Dengan Perbuatan
  • Mengenal Penyakit Hati
  • Pentingnya Menuntut Ilmu dan Kewajiban Mengamalkannya
  • Lezatnya Iman
  • Prinsip-Prinsip Universal Toleransi Antar Umat Beragama
  • Islam, Ya'luu Walaa Yu'laa 'Alaih
  • Islam, dan Ajaran Jihad
  • Kisah Teladan Sahabat Nabi Muhammad Saw
  • Membumikan Akhlak Mulia Dalam Kehidupan
  • Nabi Isa, Kisah dan Hikmahnya
  • Antara Iman dan Amal Sholih
  • Nabi Muhammad Saw, Figur Teladan Umat
  • Menggapai Derajat Siddiqin
  • Dahsyatnya Kiamat dan Tanda Kedatangannya
  • Makna Muhasabah (Evaluasi Diri)
  • Amalan Ahlus Sunnah Wal Jamaah
  • Berinvestasi Dengan Wakaf
  • Ilmu, Simbol Kejayaan Umat
  • Ijabah Do’a
  • Islam Dan Sistem Ekonomi
  • Menggapai Hidup Berkualitas
  • Muhasabah dan Muroqobah, Jalan Menuju Taqwa
  • Hikmah Memperingati Hari Pahlawan
  • Yang Diridhoi Dan Yang Dimurkai Allah
  • Hikmah Ibadah Haji
  • Esensi Haji Mabrur
  • Pola Hidup Sehat Menurut AlQur'an
  • Berdakwah Dengan Hikmah
  • Komunisme dan Bahaya Komunis
  • Cinta Allah Kepada Hambanya
  • Menjaga Diri Dari Makanan Dan Minuman Yang Haram
  • Wibawa Umat
  • Menuntut Ilmu Tanpa Batas
  • Rahasia Keberkahan Ramadhan
  • Menggapai Puncak Keimanan
  • Mendalami Makna Ukhuwah
  • Amalan Penting Menyambut Bulan Ramadhan
  • Memurnikan Niat, Menyongsong Bulan Ramadhan
  • Menempuh Jalan Lurus, Dunia Hingga Akhirat
  • Makna Isra’ Mi’raj Dalam Kehidupan
  • Kiat Memperbaiki Moralitas Bangsa
  • Membumikan Akhlak Rasulullah Saw
  • Membangun Generasi Rabbany
  • Kisah Nabi Isa Dalam Al-Quran Dan Injil
  • Kepemimpinan Rabbani
  • Sufi Dan Sufisme Di Era Global
  • Menggapai Hidup Bahagia
  • Penyakit Hati Dan Obat Penawarnya
  • Peranan Masjid Dalam Meningkatkan Kesejahteraan Umat
  • Batas-Batas Toleransi Antar Umat Beragama
  • Bulan Kemuliaan Antara Islam Dan Jawa
  • Politik, Antara Norma Dan Realita
  • Aqidah Dan Akhlaq Seorang Pemimpin
  • Rasulullah Tauladan Sepanjang Zaman
  • Mengapa Syi'ah Bermasalah
  • Keunggulan Syariat Allah Swt
  • Hikmah Dzikrul Maut
  • Kiat Mengikis Tradisi Khurofat
  • Istiqomah Tahun 2012
  • Membangun Surga Dalam Keluarga
  • Menggapai Rahmat Allah
  • Hijrah, Upaya Mempertahankan Aqidah
  • Kewajiban Dakwah Bagi Setiap Muslim
  • Dakwah di Tengah Kemajemukan Umat
  • Islam Mengutamakan Kualitas Bukan Kuantitas
  • Menuju Arah Pendidikan Yang Ideal
  • Sucikan Harta Dengan Berderma
  • Terapi Penyakit Hati
  • Strategi Menghadapi Ghozwul Fikri
  • Hakekat Konsep Jihad Dalam Perspektif Islam
  • Urgensi Mengenal Produk Halal dan Baik
  • Mempertahankan Fithrah Manusia
  • Kembali Kepada Allah
  • Merenungi Alam Raya
  • Memperkokoh Ukhuwah Islamiyah
  • Merefleksikan Puasa Ramadhan
  • Tantangan Da'wah di Era Global
  • Kewajiban Memberantas Kemungkaran
  • Persiapan Menghadapi Puasa Ramadhan
  • Islam Agama Nasehat
  • Hak Terhadap Allah, Terhadap Diri Sendiri Dan Terhadap Sesama
  • Kontektualisasi Pemahaman Isra’ Mi’raj
  • Hidup Damai Dengan Islam
  • Doa, Senjata Orang Beriman
  • Kedudukan Wanita Dalam Perspektif Islam
  • Mengikis Budaya Korupsi
  • Cuci Otak
  • Menggapai Rahmat Dengan Taubat
  • Keseimbangan Investasi Dunia Akhirat
  • Urgensi Mendahulukan Kualitas Atas Kuantitas Dalam Beramal
  • Manusia-Manusia Unik Dalam Alqur’an
  • Amar Makruf Nahi Mungkar
  • Memupuk Kepedulian Sosial
  • Pilar-Pilar Kejayaan Islam
  • Keunggulan Ajaran Islam
  • Keagungan Akhlak Rasulullah Saw
  • Rasululloh Sebagai Uswah
  • Keteladanan Kisah Nabi Nuh As
  • Keutamaan Shalat Lail
  • Niat Pangkal Seluruh Aktivitas
  • Membentuk Keshalihan Ritual dan Sosial
  • Dunia Sebagai Ladang Akhirat
  • Muhasabah Tahun Baru
  • Batas-batas Toleransi Antar Umat Beragama
  • Do’a, Perisai Mukmin
  • Islam Agama Seluruh Nabi dan Rasul
  • Mengenang Kembali Makna Hijriyah
  • Risywah, Macam dan Bahayanya
  • Iman Sebagai Kekuatan Moral
  • Bahagia Saat Orang Lain Bahagia
  • Islam Kenikmatan Yang Agung dan Sempurna
  • Penyakit Sosial dalam Sorotan Syariat
  • Manusia Makhluk Fitri
  • Kiat Mencapai Derajat Taqwa
  • Riya’, Penyakit Amal Kebajikan
  • Membentuk Kesehatan Jasmani dan Rohani
  • Mengantisipasi Aliran Sesat
  • Urgensi Membaca dan mengamalkan Al-Qur’an
  • Musik Bata
  • Sedekah yang Barakah
  • Nilai Pendidikan Ramadhan
  • Dr. H. Imam Mawardi, MA
  • Nikah, Hakikat dan Urgensinya
  • Pengendalian Hawa Nafsu
  • Memberantas Kebodohan
  • Menggapai Hidup Barakah
  • Profil Manusia Bertaqwa
  • Akhlaq Mahmudah dan Akhlaq Madzmumah
  • Menegakkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
  • Urgensi Ukhuwah Islamiyah
  • Syirik, Macam dan Bahayanya
  • Bersihkan Harta dan Hati untuk Bangun Negeri
  • Menghadapi Ujian Tahta Harta Dan Wanita