Masjid Nasional Al Akbar Surabaya
Petunjuk Praktis Muallaf
Sekalipun memeluk agama Islam itu sangat mudah, namun ada baiknya ditempuh prosedur yang sistematis agar diperoleh performa optimal. Untuk itu diperlukan tahapan sebagai berikut :
1. Persiapan Mental
2. Persiapan Administrasi
3. Prosesi Ikrar
4. Pengenalan Dasar Keislaman
5. Merawat Keimanan
6. Keterangan lain

1. Persiapan Mental
Beragama merupakan hak bagi setiap manusia sebagai wujud kesadaran diri. Siapa pun tidak boleh memaksakan agama kepada orang lain. Sungguh amat naif jika seseorang melakukan peribadatan tanpa didasari keyakinan dan keikhlasan, karena keterpaksaan psikologis, moral maupun material.
Sebagai orang yang akan mengarungi keyakinan baru haruslah memahami prinsip-prinsip ajarannya, apalagi kalau ajaran itu merupakan pedoman hidup yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Adalah mustahil apabila seseorang menentukan pilihan suatu ajaran, sedang ia sendiri tidak tahu tentang ajaran itu.
Untuk mengenal Islam sebagai pedoman hidup tentu harus menyediakan waktu lama dan sarana penunjang yang memadai. Islam harus dipelajari melalui lembaga atau orang yang mempunyai pengetahuan cukup tentang ke-Islaman. Kurangnya informasi tentang Islam yang perlu disampaikan oleh nara sumber, dapat menyebabkan salah persepsi, bahkan dapat menimbulkan antipati terhadap Islam. Karena itu memilih lembaga atau personil yang akan dijadikan sebagai nara sumber menjadi penting.

Masjid Nasional al-Akbar Surabaya memberi keleluasaan kepada calon pemeluk Islam untuk memilih lembaga mana saja atau personil siapa saja yang dianggap cocok. Namun demikian Direktorat Tarbiyah Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya menyediakan fasilitas bimbingan agama untuk para muallaf baik pagi, siang, sore ataupun pada malam hari, yang dapat dipilih oleh para muallaf.

Di sisi lain, calon muallaf sebelum memutuskan untuk masuk Islam dan meninggalkan agama lamanya, tentu timbul pergolakan dalam hati. Sebagai orang yang akan berpisah dengan agama dan keyakinan yang selama ini dianutnya, tentu harus siap mental, bahwa agama yang dianut selama ini akan dilepaskannya dan akan diganti dengan kenyakinan baru yang tentunya berbeda dengan yang lama. Para calon pemeluk Islam harus menyadari benar bahwa agama yang lama akan segera dilepaskan dan akan berada dalam dunia baru. Karena itu, pemeluk baru Islam tersebut tidak diperkenankan masih memegang keyakinan lama yang secara formal telah ditinggalkannya. Hal ini penting untuk dicamkan, karena apa artinya memeluk Islam sedang hatinya masih berkeyakinan lama, sehingga akan mempengaruhi mentalnya dan ini berbahaya. Oleh karena itu untuk menghindarinya dia harus memilih salah satu yang dianggap benar dan segera meninggalkan yang dianggap salah. Karenanya tidak ada jalan lain kecuali mendalami agama barunya dan meninggalkan agama lamanya.
Agama harus dihayati sepenuh hati, dipegang dan dijaga sekuat tenaga jangan terlepas sampai akhir hayat, sebagaimana firman Allah Swt. “Janganlah kamu meninggal kecuali dalam dalam keadaan beragama Islam”.

2. Persiapan Administrasi
a. Sesungguhnya bila seseorang telah mengucap syahadatain (dua kalimat syahadat) yaitu Asyhadu An laa ilaaha illallaahwa asyhadu anna Muhammadar rasuulullah walaupun tanpa dicatat atau dibukukan oleh suatu lembaga, maka dia adalah masuk Islam.

b. Namun secara formal agar ke-Islaman seseorang itu diketahui masyarakat dan diakui pemerintah, sehingga dapat dicantumkan dalam identitas diri, maka semestinya ucapan syahadatain tersebut diikrarkan (dinyatakan) di depan ulama’ dan para saksi untuk kemudian diberi sertifikat sebagai tanda bukti.
Untuk itu, Masjid Nasional al-Akbar Surabaya (MAS) menentukan syarat-syarat sebagai berikut :

1. Mengisi formulir yang telah disediakan oleh petugas ikrar di MAS
2. Menyerahkan Foto Copy KTP ( Paspor bagi WNA) 1 lembar
3. Menyerahkan Pas Foto ukuran 3x4 2 lembar (sebaiknya berwarna)
4. Sudah dikhitan (bagi laki-laki)
5. Menghadirkan 2 (dua) orang saksi muslim
Setelah persayaratan tersebut dipenuhi, maka proses ikrar bisa dilaksanakan.

3. Prosesi Persyahadatan
Prosesi ikrar syahadat inilah sebenarnya inti dari upacara pengislaman. Adapun tahapannya adalah sebagai berikut :
a. Memastikan sudah mandi beserta keramas.
b. Pemeriksaan surat-surat (data administrasi) calon muslim oleh petugas MAS
c. Memastikan keberadaan dua saksi yang telah ditulis dalam naskah.
d. Pembukaan acara oleh petugas
e. Pengenalan identitas calon muslim kepada jamaah oleh pembimbing
f. Penjelasan singkat pembimbing dari Masjid Nasional al-Akbar Surabaya tentang hakekat Syahadatain (dua kalimah syahadat).
g. Setelah calon muslim memahami, barulah dipersilahkan mengucapkan syahadatain (dua kaliamah syahadat) yang disaksikan oleh jamaah.
h. Pembacaaan doa oleh pembimbing yang diikuti oleh semua jamaah.
i. Penandatanganan naskah ikrar mulai oleh muallaf, kedua saksi dan pembimbing.
j. Dengan demikian sudah menjadi muslim baru (muallaf) dan diwajibkan mandi besar sesuai ajaran Islam.

4. Pengenalan Dasar Ke-Islaman (Pembinaan)
Ikrar syahadat merupakan pintu gerbang untuk memasuki agama Islam. Sebagai orang yang baru masuk Islam perlu mengetahui apa yang ada dalam Islam, sehingga akan memberi manfaat baginya. Semakin banyak pengetahuan yang diperoleh akan semakin banyak manfaat yang diambilnya.

Di samping itu, muallaf perlu mengetahui aturan-aturan yang ditetapkan dalam Islam, tidak hanya karena ingin memperoleh legitimasi formal berupa piagam, namun lebih dari itu adalah ilmu dan penerapannya mutlak dimiliki oleh muallaf. Karena status muallaf itu sudah sama dengan muslim lainnya, maka ia harus mengetahui kewajiban maupun hal-hal yang tidak boleh dikerjakannya.

Untuk itu setelah melalui tahapan prosesi ikrar syahadatain, muallaf diwajibkan untuk mengikuti Pengenalan Dasar Ke-Islaman yang dilaksanakan oleh Direktorat Tarbiyah/AEC. Pengenalan Dasar Ke-Islaman ini dilakukan secara privat dan waktunya menyesuaikan. Adapun materinya meliputi :
a. Pengenalan aqidah Islam
b. Pengenalan akhlak Islam
c. Thaharah dalam Islam
d. Teori dan praktek shalat
e. Pengenalan tentang zakat, puasa dan haji

Tujuan pengenalan Dasar Ke-Islaman kepada muallaf di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya adalah memberi pembekalan dasar kepada muallaf dalam mempelajari dan mengamalkan Islam. Di samping itu, juga untuk memotivasi dalam mempelajari Islam, sehingga Islam yang telah menjadi pilihannya benar-benar dirasakan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini juga dapat dilakukan dengan berguru kepada seorang guru agama, dapat pula belajar dengan teman seiman yang dianggap banyak tahu tentang Islam, atau dapat pula dengan memperbanyak membaca buku-buku Islami.

Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya memberi wadah untuk mempelajari ilmu keagamaan mulai dari tingkat dasar sampai lanjutan, yakni Lembaga Kajian Islam dan Al-Qur’an (LKIQ) MAS yang dikelola oleh Direktorat Tarbiyah/AEC MAS, yang meliputi :
1. Baca Al-Qur’an (Pemula)
2. Tartil Al-Qur’an (Lanjutan)
3. Terjemah/Tafsir Al-Qur’an
4. Shalat Dan Hukum Islam/Fiqih
Kajian dilaksanakan setiap hari, waktu menyesuaikan dengan kelonggaran calon santri, baik pagi, siang, sore maupun malam.

5. Keterangan Lain
a. Di antara muallaf, ada yang kemudian melangsungkan pernikahan (secara Islami). Secara formal hal ini memang sah-sah saja. Namun perlu difahami bahwa hakikat bersyahadat itu adalah pengakuan yang tulus terhadap kebenaran Islam yang dalam hal ini tidak ada hubungannya dengan pernikahan. Orang boleh bersyahadat kapan saja dan di mana saja. Sedang perkawinan ada aturan tersendiri. Untuk itu jangan ada niat pada diri muallaf, bahwa ia masuk Islam hanya untuk perkawinan (mengawini muslimah), karena itu akan menjadikan masuknya Islam sia-sia saja bahkan menjadi citra buruk di kemudian hari, yakni masuk Islam hanya untuk main-main saja dan Islam seakan-akan hanya dipermainkan untuk kepentingan pribadi (na’udzubillah).

b. Mayoritas orang yang akan masuk Islam di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya selalu menanyakan berapa biaya administrasinya?
Perlu dijelaskan bahwa berdasarkan ajaran Islam, muallaf termasuk 8 ashnaf (golongan yang berhak memperoleh zakat), maka MAS memberikan hak mereka yang direalisasikan berupa :

1. Tidak memungut biaya administrasi apapun.
2. Memberikan buku bacaan untuk menambah wawasan tentang Islam
3. Membina para muallaf tanpa dipungut biaya.

c. Perlu diketahui, apabila seseorang telah mengucapkan dua kalimat syahadat secara ikhlas, berarti dia sudah berada dalam dunia kerohanian yang baru. Dengan demikian apa yang mereka lakukan sebelumnya di luar Islam telah terhapus dengan sendirinya, dan dia bersih dari dosa terhadap Allah. Hanya yang berkaitan dengan sesama manusia dia masih harus menyelesaikan urusannya dengan orang yang bersangkutan. Karena itu, orang yang bersyahadat hendaknya dapat menjaga diri dari dosa-dosa baru yang sejak itu mulai dicatat (direkam) dimasukkan ke dalam “disket”, apa yang ia kerjakan, baik ataupun buruk. Pertugas pencatat itu adalah Malaikat yang tidak mungkin dibohongi atau ditipu. Kelak di hari kiamat (hari pengadilan dan pembalasan) akan diperlihatkan catatan tersebut dan akan dimintai pertanggungjawaban. Bila lebih banyak perbuatan buruknya akan dimasukkan ke Neraka dan bila banyak perbuatan baiknya akan dimasukkan ke dalam Surga.

d. Mungkin sebagian dari calon muallaf ingin mengganti, menambah atau mengurangi namanya, dipersilahkan sendiri atau meminta bantuan kepada penuntun syahadat. Perlu diketahui bahwa penggantian nama tersebut tidak wajib. Biasanya penggantian nama hanyalah sekedar panggilan saja, namun secara administrasi dapat saja memakai nama yang lama. Yang harus dihilangkan biasanya adalah babtisnya saja.

e. Ada juga yang terjadi dalam suatu keluarga suami dan isteri, atau suami saja, atau isteri saja yang ingin masuk Islam, yang tentu proses pernikahan sebelumnya tidak dilangsungkan secara Islami, maka sesaat setelah proses Ikrar dapat minta dinikahkan oleh penuntun ikrar. Karena hakekatnya pernikahan mereka menurut pandangan Islam tidak sah dan harus diulang. Namun sebelumnya harus berkoordinasi dahulu dengan (pencatat administrasi pada tahap pertama yang lalu agar dipersiapkan hal-hal yang dibutuhkan).

MENGENAL DASAR-DASAR AJARAN ISLAM

1. Iman Kepada Allah sebagai Tuhan
Iman mengandung arti = percaya, setia, aman, melindungi dan menempatkan (sesuatu) pada tempat yang (aman). Orang yang beriman dinamakan mukmin, sedang lawannya adalah orang yang mengingkari rukun iman disebut kafir. Iman merupakan kunci ke-Islaman seseorang yang dalam perwujudannya disimbolkan dengan mengucapkan dua kalimat syahadat.

Berbicara soal iman tak mungkin bisa melepaskan diri dari masalah keyakinan. Iman sebagai perbuatan hati dibangun atas dasar pengetahuan yang telah diperoleh seseorang yang tidak lagi dimasuki keraguan. Iman harus berdiri di atas keyakinan yang kuat. Oleh karena itu sama sekali bukan angan-angan kosong. Ia merupakan nur (cahaya) yang dijadikan Allah SWT dalam hati hamba-hambaNya, sehingga dengan keyakinan itu dapat jelas baginya segala hal yang haq maupun yang bathil bahkan yang ghaib. Yakin adalah ketetapan ilmu yang tidak berputar-putar, tidak terombang-ambing, dan tidak berubah-ubah dalam hati. Iman apabila telah sampai pada taraf yakin, tidak akan goyah, berubah atau terombang-ambing. Namun iman dapat bertambah dan berkurang, sejalan dengan amal shaleh yang
Iman adalah hal paling urgen dalam ajaran Islam dan paling berat bobotnya, karena kehidupan orang Islam berputar di porosnya dan akan terbentuk dengannya.
Beriman kepada Allah dalam arti membenarkan eksistensiNya, bahwa Allah Pencipta langit dan bumi, bahwa Allah mengetahui alam ghaib dan alam nyata, Tuhan segala sesuatu dan sekaligus pemiliknya, tiada yang berhak disembah kecuai Dia, Yang maha tinggi, sempurna dan terhindar dari sifat kekurangan.

Sebagai bukti adalah keberadaan alam, beragam makhluk yang kesemuanya bersaksi atas keberadaan penciptannya yaitu Allah. Menurut pandangan akal mustahil keberadaan sesuatu tanpa pencipta, itu sama mustahilnya seperti keberadaan makanan yang tanpa ada yang memasaknya, atau keberadaan permadani di atas tanah tanpa ada yang menggelarnya. Dan kalau begitu pula bagaimana keberadaan alam yang begitu luas ini, langit dengan orbit-orbit di sekitarnya, matahari, bulan, bintang –bintang semua berbeda bentuk, ukuran, dimensi dan poros edarnya ? bagaimana keberadaan bumi dengan segala isinya manusia, jin, hewan, disamping ras manusia yang berbeda-beda, individu-individu yang berbeda warna, bahasa, pengetahuan, pemahaman, hamparan lautan yang sangat luas dengan berbagai asesorisnya, pepohonan yang beraneka warna dan jenisnya, buah-buahan yang beraneka macam ragam dan rasanya. Yang keseluruhannya ini mustahil kalau tidak ada yang menciptakannya, dan tidak lain adalah Allah SWT.

Adanya hukum timbal balik, ada pula yang mengatakan hukum karma, yang dalam Islam disebut dengan sunnatullah (nature of low), yakni ketentuan-ketentuan alam pada makhluk dan pengembangan semua makhluk hidup di alam raya ini. Semua makhkluk hidup tunduk pada ketentuan-ketentuan tersebut, terkait dengannya, dan tidak keluar daripadanya dalam kondisi apa pun. Manusia misalnya, spermanya menempel pada rahim, kemudian tahapan-tahapan ajaib berlangsung padanya dan tidak ada yang melakukan intervensi di dalamnya kecuali Allah SWT, tiba-tiba sperma tersebut keluar menjadi manusia sempurna. Ini pada pembentukan dan penciptaan manusia. Seperti itu pula pada perkembangan manusia dari bayi dan anak-anak menjadi besar dan dewasa, lalu tua.
Mekanisme dan sistem yang berlaku pada manusia dan hewan ini juga berlaku pada pohon dan tumbuh-tumbuhan. Hal yang sama berlaku pada orbit bintang dan benda angkasa, semuanya tunduk pada ketentuan-ketentuan yang ia tidak bisa berkelit sedikit pun daripadanya, dan tidak keluar dari relnya. Jika terjadi penyimpangan atau sejumlah bintang keluar dari orbitnya, maka dunia ini akan hancur dan kehidupan ini akan tamat riwayatnya (kiamat).

2. Iman Kepada Allah sebagai Pencipta dan Pengatur segala sesuatu
Sistem penciptaan dan pembentukan seperti itu tidak ada yang sanggup melakukannya kecuali Allah SWT. Apapun bentuknya hasil penciptaan tersebut kecil atau besar, lembut bahkan sehelai rambut di badan manusia atau badan hewan semuanya adalah ciptaanNya.
Kesendirian Allah dalam memberi rizki merupakan bukti Allah sebagai pengatur dan Pencipta. Sebab tidak ada satu hewan pun yang berjalan di atas bumi atau berenang di air atau bersembunyi di rerumputan, melainkan Allah SWT adalah pemberi rizki-Nya dan memberi petunjuk tehnis untuk mendapatkannya dan cara memanfaatkannya.

Mulai dari semut yang termasuk hewan yang terkecil hingga manusia yangmerupakan makhluk yang paling sempurna dan paling maju, semuanya membutuhkan Allah SWT.dalam pembentukan dan rizkinya. Hanya Allah Ta’ala saja yang menciptakannya, membentuknya, memberinya makan, dan memberinya rizki.
Manusia bahwa, bahw manusia, dan makhluk hidup lainnya di dunia ini pada hakekatnya tidak memiliki apa-apa. Buktinya, ketika pertama kali keluar ke alam raya ini semua orang dalam keadaan telanjang, kepalanya tidak bertopi, dan kakinya pun telanjang tanpa sandal atau sepatu. Begitu juga kelak ketika keluar dari dunia dalam keadaan tidak memiliki apa-apa selain kain kafan yang menutupi badannya, maka bagaimana dapat dikatakan bahwa manusialah pada hakikatnya pemilik dunia ini ?. Jika manusia yang nota bene makhluk yang paling mulia tidak dapat dikatakan sebagai pemilik dunia ini, maka siapakah pemiliknya?. Pemiliknya adalah Allah SWT sendiri tanpa mitra dan tanpa perlu diragukan.

3. Nabi Muhammad
Nabi Muhammmad adalah nabi yang lahir tatkala umat manusia dalam kegelapan dan kehilangan pegangan hidup. Lahir dari keluarga sederhana di kota Makkah. Muhammad membawa perubahan besar dalam sejarah peradaban dunia. Perubahan yang dibawa oleh Nabi Muhammad meliputi segala segi kehidupan dan merupakan sukses terbesar yang paling menakjubkan dalam sejarah dunia. Dia bangkitkan umatnya dari lembah kebodohan untuk mengemban tugas suci, yakni membawakan risalahnya kepada seluruh umat manusia.

Muhammad adalah nabi terakhir sebagai penutup nabi-nabi sebelumnya, sebagai pembawa agama terakhir sekaligus penyempurna syari’at sebelumnya. Tugas utamanya adalah memperbaiki akhlak dan membimbingnya menjadi manusia yang beradab dan mulia. Sehingga tercipta kedamaian dan kemaslahatan dalam mengarungi hidup di dunia, sebagai jembatan menuju kehidupan yang bahagia secara haqiqi di akhirat.

Sifat ajaran Nabi Muhammad SAW adalah intelektual dan spiritual. Prinsipnya adalah mengarahkan manusia kepada kebenaran, kebaikan, kemajuan dan keberhasilan. Ajarannya mampu memberikan kemerdekaan berfikir dan namun tetap selaras dengan kehendak hati nurani yang suci, serta tanpa adanya pemaksaan yang menekan perasaan. Itulah ajaran terbaik yang pernah ada di muka bumi, khususnya di bidang kepemimpinan dan akhlak. Semua sesuai dengan suara hati ; begitu cocok dengan martabat dan harkat manusia; sangat menjunjung tinggi hati dan pikiran manusia; sekaligus membersihkan belenggu yang senantiasa membuat manusia menjadi buta kebenaran.

4. Islam
Islam berasal dari bahas Arab. Ia mengandung makna yang luas antara lain « menyerahkan diri (kepada Allah), ketaatan dan kepatuhan, melepaskan diri dari segala penyakit lahir dan batin, kedamaian dan keamanan.

Menyerahkan diri dalam arti mentaatiNya secara mutlak secara reserve. Seorang muslim (pemeluk agama Islam) tidak boleh tunduk kepada suatu peraturan apabila peraturan itu berlawanan dengan peraturan Allah. Jika ada peraturan yang dibuat manusia kemudian peraturan itu bertentangan dengan Allah maka seorang muslim harus mengutamakan peraturan Allah. Demikian pula halnya jika mencintai sesuatu yang berakibat melanggar peraturan Allah, maka cinta yang seperti itu harus ditinggalkan, karena mencintai Allah dalam Islam adalah segala-galanya. Seorang muslim boleh saja mentaati sesuatu asal tidak melanggar cintanya kepada Allah. Bila seorang muslim telah dapat melakukan hal itu, berarti ia telah menjadi muslim yang baik dan kaffah (total).

Islam akan melepaskan diri seorang dari penyakit lahir dan batin, menurut (DR. Sholeh, 2000). Seseorang yang menerapkan ajaran Islam dengan sempurna pasti akan mengurangi secara perlahan potensi terjangkitnya penyakit, karena gaya hidup yang Islami memungkinkan untuk menghindari itu semua.
Islam juga bermakna damai dan Islam senantiasa mengajarkan perdamaian, bukan permusuhan. Bila terjadi perselisihan antara dua pihak atau lebih, Islam menganjurkan untuk bermusyawarah untuk mencapai kedamaian, bukan peperangan. Peperangan pisik baru boleh ditempuh jika dalam rangka membela diri untuk mempertahankan hak dan kebenaran. Dalam arti lain bahwa peperangan tidak akan terjadi jika orang Islam itu tidak diganggu.

Sebelum Nabi Muhammad SAW diutus, umat manusia hidup dalam keadaan gelap gulita tidak mengenal akhlak dan hukum. Keadaanya hampir menjerumuskan mereka ke dalam kehancuran total. Mereka menyembah berhala dan patung yang mereka ciptakan sendiri. Kebiasaan mereka juga sudah sangat menyesatkan, misalnya membunuh anak-anak perempuan karena mereka dianggap membawa sial, berperang terus menerus antar kabilah yang satu dengan yang lain, berjudi minum khamr berzina dll. Dalam kondisi inilah Allah mengutus Nabi Muhammad SAW untuk memperbaiki akhlak mereka.

Islam diturunkan sebagai pedoman agar manusia dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk serta yang hak dan yang batil.

5. Al-Qur’an
Al-Qur’an adalah kitab suci yang diwahyukan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW yang mengandung petunjuk-petunjuk kehidupan bagi umat manusia. Di dalamya terkumpul wahyu ilahi yang menjadi petunjuk, pedoman dan pelajaran bagi siapa yang mempercayai dan mengamalkannya.

Al-Qur’an merupakan kitab suci yang terakhir yang isinyamencakup segala pokok-pokok syari’at yang terdapat dalam kitab-kitab suci yang diturunkan sebelumnya. Karena itu, setiap orang yang mempercayai Al-Qur’an akan bertambah cinta kepadanya, cinta untuk membacanya, untuk mempelajari dan memahaminya serta pula untuk mengamalkan dan mengajarkannya sampai merata rahmatnya dirasakan dan dicamkan oleh penghuni alam semesta ini. Mendengarkan bacaan Al-Qur’an dengan baik, dapat menghibur perasaan sedih, menenangkan jiwa yang gelisah dan melunakkan hati yang keras, seta mendatangkan petunjuk. Itulah yang dimaksud dengan rahmat Allah, yang diberikan kepada orang yang mendengarkan bacaan Al-Qur’an dengan baik.

Al-qur’an diturunkan untuk menjadi pegangan buat mereka yang ingin mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Tidak diturunkan hanya kepada satu umat atau satu abad saja tetapi untuk seluruh umat manusia dan sepanjang masa. Karena itu luas ajaran-ajarannya adalah sama luasnya dengan umat manusia.

Al-Qur’an mengajarkan supaya manusia tetap suci, tetapi tidak dengan jalan dikebiri. Manusia harus berbakti kepada tuhannya, tetapi jangan menjadi rahib. Manusia harus berendah hati, tetapi jangan melupakan harga diri. Manusia dapat menggunakan hak-haknya, tetapi dengan tidak mengganggu hak-hak orang lain. Manusia diwajibkan mensiarkan agama, tetapi dengan cara yang bijaksana.

6. Akhlak
Akhlak ialah institusi yang bersemayan di hati sebagai sumber segala tindakan baik yang benar maupun yang salah. Menurut tabiatnya, institusi tersebut siap menerima pengaruh pembinaan yang baik, atau pembinaan yang salah. Jika institusi tersebut dibina untuk memilih keutamaan, kebenaran, cinta kebaikan, cinta keindahan, dan benci keburukan, maka itu menjadi trade mark-nya dan perbuatan-perbuatan baik muncul dari padanya dengan mudah. Itulah akhlak yang baik, misalnya akhlak lemah lembut, akhlak sabar, akhlak dermawan, akhlak berani, akhlak adil, akhlak berbuat baik dan lain sebagainya sebagai penyempurna diri.

Islam menghendaki agar sifat-sifat yang ditanamkan pada manusia dipertunjukkan dengan syarat, yaitu sifat-sifat itu hendaknya diterapkan pada waktu-waktu yang tepat. Dikehendakinya sifat suka memberi maaf, tetapi sebaliknya dikehendaki pula supaya kejahatan dihukum dengan hukuman yang setimpal. Sifat memberi maaf jangan sampai menggampangkan timbulnya kejahatan. Itu semua agar manusia itu jujur dan berani menerangkan yang benar, sekalipun perkataan yang benar itu pada awalnya akan membawa dia dalam kesulitan. Ia menghendakai agar manusia itu selalu berbuat lebih baik, sekalipun terhadap orang yang pernah berbuat jahat terhadapnya.

Islam mengajarkan manusia bagaimana berinteraksi dengan Allah sebagai tuhannya, dengan sesama manusia, sesama makhluk lainnya serta lingkungan yang ada di sekitarnya. Semakin kuat iman seseorang kepada Allah, akan semakin cerdas dalam berinteraksi, sehingga buahnya adalah amal shalih yang mampu memperbaiki hati, akhlak, urusan dunia dan akhirat. Mereka mempunyai prinsip-prinsip mendasar dalam menyambut kesenangan dan kegembiraan, bahkan juga datangnya keguncangan, kegundahan dan kesedihan.